BangkitnyaTeaterBonekaLokaldanFigurdiBaliknya

January 14, 2019Qubicle Art
Teater boneka di Indonesia belum mati, para seniman di Yogyakarta jadi pelopor yang menghidupkannya kembali.

Berapa kali kita menonton pertunjukan teater hingga saat ini? Mungkin lebih dari lima kali, tapi bagaimana dengan teater boneka? Bisa jadi tak sebanyak itu, dan ini bukan berarti kurangnya apresiasi dan ketertarikan terhadap teater boneka, melainkan masih terbatasnya jumlah pertunjukan yang dipentaskan di Indonesia.

Jika bicara soal bentuk pertunjukan yang menggunakan boneka di Indonesia, biasanya selalu dikaitkan dengan wayang, baik itu wayang golek maupun wayang potehi yang bahkan sudah ada sejak 3000 tahun lampau. Usia yang cukup tua mengingat bentuk kesenian ini terasa masih sejalan dengan selera penikmat seni masa kini.

Di luar negeri, teater boneka atau puppetry juga sudah berumur lebih dari 3000 tahun, diawali dengan penemuan boneka dari tanah liat dalam sebuah makam di Mesir, dan jika kita mencoba mengetik “puppetry” dalam mesin pencarian Google, hasilnya ada 4.930.000 artikel yang mana sebagian besarnya membahas puppetry di luar negeri, hanya sebagian kecil yang membahasnya dari Indonesia. But from small beginnings come great things, dan Papermoon Puppet Theatre dari Yogyakarta berangkat dari kelompok kecil yang membawa nama puppetry di ranah lokal mulai dikenal dunia.

Surat ke Langit dari Papermoon Puppet Theater  (Foto: Instagram @papermoonpuppet)

Bermula dari Tanah Jawa

Upaya menghidupkan puppetry di Indonesia, bisa dibilang kini berangkat dari Pulau Jawa. Papermoon Puppet Theatre adalah pelopor yang berperan besar membangkitkan apresiasi warlok (warga lokal) terhadap pertunjukan berbentuk teater boneka. Apresiasi ini juga menandakan pergeseran stigma bahwa “teater boneka hanya bisa dinikmati anak-anak” menjadi “teater boneka juga bisa digemari orang dewasa”.

Dalam perjalanannya selama belasan tahun, Maria Tri Sulistyani (Ria) sebagai pendiri, sutradara, sekaligus penulis naskah, manajer dan direktur Papermoon Puppet Theatre juga setuju akan hal ini, “Kami menemukan bahwa boneka adalah media yang digemari oleh tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa karena boneka adalah media yang reseptif dan bisa diterima semua orang. Kita bisa membawakan cerita dengan tema apa pun dengan media teater boneka,” ujarnya.

  Pendiri Papermoon Puppet Theater, Maria Tri Sulistyani  (Foto: Instagram @riapapermoon)

Tak hanya kerap menyelenggarakan berbagai pementasan di Indonesia, Papermoon Puppet Theatre sudah membawa nama Indonesia lewat berbagai pementasan di berbagai belahan dunia, sebut saja Skotlandia, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, India, Korea Selatan, Australia, Singapura, Belanda. dan masih banyak lagi.

Salah satu usaha Ria dan sang suami, Iwan Effendi dalam memperluas pasar teater boneka di Indonesia adalah menggagas Pesta Boneka; festival boneka bertaraf internasional/puppet biennale yang pesertanya adalah kelompok puppetry terkenal dari seluruh dunia. Pesta boneka sudah digagasnya sejak tahun 2008 dan tahun ini sudah memasuki volume keenam.  

  Puppet by Jae and Friends dari Thailand di Pesta Boneka Volume 6 (Foto: Instagram @pesta_boneka)  

Lewat Pesta Boneka, Ria berharap suatu hari akan banyak bibit yang bermunculan di tanah air, “Maka ajang ini kami gunakan juga sebagai ajang memberi kesempatan bagi seniman lokal untuk mencoba membuat pementasan teater boneka, meski mereka berasal dari disiplin yang berbeda,” ujarnya.

Semenjak Papermoon Puppet Theatre sukses merebut animo masyarakat, perlahan mulai muncul kelompok lainnya dari Yogyakarta juga, seperti Flying Balloons Puppet yang terbentuk pada 2015. Flying Balloons Puppet kerap mementaskan lakon dengan pesan moral untuk lingkungan.

Sayangnya, hingga kini, pergerakan dari daerah lain selain Yogyakarta tampaknya belum banyak bermunculan, padahal jika melihat peluangnya untuk dibawa ekspansi ke luar negeri, sangatlah mungkin hal ini dilakukan karena teater jenis ini merupakan media yang tepat untuk memainkan rasa penikmatnya, meski tanpa aksara.

(Foto: Instagram @papermoonpuppet)

Kunci Berkembangnya Teater Boneka

Lantas bagaimana cara agar perkembangan puppetry di Indonesia bisa sejalan dengan perkembangannya di luar, atau bahkan bisa senada dengan perkembangan bentuk seni lainnya? Menurut Ria ada tiga cara: pertama, dibutuhkan passion dan ketekunan pelakunya. Bagaimana puppetry yang sering dianggap kurang cool karena identik dengan proses persiapan pertunjukan yang sangat panjang (di mana aktornya harus dibuat dulu sebelum latihan dimulai) bisa benar-benar dijalankan secara konsisten oleh pelakunya.

Kedua, kesempatan. Masih banyak orang yang belum mendapat kesempatan untuk bisa mengapresiasi menonton pentas puppetry, dan untuk membuka kesempatan ini, ajang-ajang seperti Pesta Boneka bisa jadi salah satu cara yang tak boleh dilewatkan.

Lalu hal yang ketiga adalah bisa melihat peluang untuk bekerjasama. Hal ini bisa dalam bentuk apa pun. Ruang atau tempat untuk presentasi pementasan misalnya atau bahkan komunitas untuk menggali cerita. “Sebaiknya jangan takut untuk berkarya walau dengan dana terbatas. Mulailah dari yang kecil dan jangan langsung berpikir besar dulu,” ujar Ria.  

(Foto: Singaporeartmuseum.sg)

Meski masih banyak tantangan yang harus dihadapi para calon puppeteer baru yang sedang berjuang di Indonesia, sepertinya sebuah kutipan yang dipercaya Ria sejak awal berdirinya Papermoon Puppet Theatre bisa dijadikan motivasi untuk memajukan teater boneka di tanah air; “Never stop playing means never stop learning”. 


Oleh: Andhini Puteri 

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US