DuaWajahSegardariSeniKolaseSurabaya

August 13, 2019Qubicle Art
Nama Septian Dwi Satria dan Rafifyth adalah salah dua seniman kolase yang moncer di usia belia, mari berkenalan lebih jauh bersama mereka.

Wajah seni visual Surabaya tampak merekah hari ini. Beberapa penerus tongkat estafet seni rupa kota pahlawan mulai bergeliat menunjukan potensinya masing-masing. Salah satu yang paling signifikan adalah di dunia kolase. Kolase, adalah sebuah aliran seni rupa dua dimensi yang pertama kali dilahirkan di Venice, Italia, pada abad 17. Proses artistik dalam kolase mencampur adukan berbagai medium, yang kemudian disusun, dan dikonstruksi menjadi sebuah bentuk "baru".

Nama Septian Dwi Satria dan Rafifyth adalah salah dua seniman kolase yang moncer di usia belia. Karya-karya bernas kedua seniman muda ini, kerap berkelindan di sosial media, yang sengaja mereka gubah menjadi galeri terbuka. Sederet nama band pernah mempercayakan karya musiknya untuk diinterpretasi menjadi sebuah sajian visual. Qubicle menemui dua seniman muda itu dan berbincang-bincang seputar proses kekaryaan dan harapan-harapan yang mereka simpan untuk masa depan karir berkesenian mereka.

Septian Dwi Satria [kiri] dan Rafif Taufani (Rafifyth) [kanan] (foto: Instagram)

Hai Rafif dan Septian, bisa diceritakan bagaimana proses pertemuan kalian dengan seni kolase ini?

[S] Septian: Mulanya, saya kenal kolase di tahun 2014. Saya tidak tahu bahwa metode kolase sebelum saya menghadiri Pasar Seni ITB di tahun itu. Saya memulai kolase lewat brosur-brosur kampus, dan sampah-sampah kertas yang bergambar. Saya masih belum menggunakan gunting, jadi asal gabungin saja. Dan gak ditempel, tapi saya foto waktu itu. Dan setelahnya saya mengeksplorasi bahan visual saya lewat cover-cover kaset PlayStation yang memang dulu menjamur.

Titik balik saya menekuni karya kolase adalah saat saya dihubungi oleh Cut and Rescue, untuk submit karya dan bikin Zine. Waktu untuk Cut and Rescue masih di volume 3. Jadi saya dikabari itu pada suatu siang, nah setelahnya saya langsung cabut dari kampus, dan cari majalah di pasar loak. Jadi waktu itu belum banyak melihat referensi, asal jadi bikin aja.

  Contoh karya Septian (foto: Instagram)  

[R] Rafif: Kolase pertama kali aku Taunya dari awal 2015. Saat itu sedang belajar ilustrasi karena "buntu" aja ga ada kerjaan. Itu juga awalnya saya utak-atik Photoshop lantas nemu kolase via behance.net. Awalnya juga skeptis dan engga ngeh, ini kolase maksudnya gimana? Pas iseng-iseng cari tau, ternyata banyak yang harus dipelajari. Nah, awalnya bikin juga asal-asalan iseng upload ke Instagram Taunya banyak yang suka dan feedback-nya positif. Walau banyak yang bilang terusin saya masih skeptis dan mau belajar lagi. Alhasil seperti sekarang saya bikin terus sampe lupa kalo awalnya gak seneng.

Beberapa karya Rafif (foto: Instagram)

Menurut kalian, ada nggak sih album musik yang menggunakan metode kolase, yang kemudian membuat kalian berdua menjadi makin tertarik?

[S] Nah, yang paling berkesan menurutku adalah album Insomniac-nya Greenday. Lewat album itu aku merasa bahwa kolase juga harus ada konsep dasarnya. Ya meskipun juga tidak dengan demikian membatasi pola kekaryaan kita, ya.

[R] Kalau aku sih Sgt. Pepper Lonely Heart Club-nya The Beatles. Mereka di album itu memajang wajah seluruh musisi yang cukup influential dari seluruh dunia. Bagiku, itu adalah sebuah sikap yang berani.

Kalian sudah pernah melakukan interpretasi visual lewat medium kolase kepada band apa aja?

[S] Kalau aku lumayan sering, sih. Karena memang aku lebih banyak beririsan dengan musisi kali ya? Yang pernah kukerjain visualnya adalah Danilla, Under The Big Bright Yellow Sun, Bin Idris, Sinleto, dan banyak lagi. Lumayan banyak sih. Tapi yang paling monumental adalah waktu mengerjakan Bin Idris. Bagiku, itu adalah sebuah titik balik. Karena, itu juga merupakan karya tugas akhirku. Dan pada saat itu pula aku menemukan pola baru, yaitu dengan teksture woodcut, yang kemudian menjadi identitas dari kekaryaanku.

Karya Septian untuk Bin Idris (foto: Dok. Rafif)

[R] Aku sih belum banyak. Paling bandnya teman-teman sendiri. Dari luar kota mungkin Beautiful Garbage. Band dari Bekasi. Kalau enggak salah, aku menginterpretasi lagunya yang berjudul Televisi.

Apasih yang membuat kalian merasa medium kolase lebih cocok untuk pola kekaryaan kalian, daripada medium lain?

[S] Karena kolase adalah satu-satunya medium kesenian yang gak ribet dalam perkara bentuk. Kita bisa mengeksplorasi dari mana saja. Bahkan, kita juga dapat mendekonstruksi temuan visual dari berbagai sumber, dan kemudian kita olah dan melahirkan sebuah karya anyar. Dan, saya juga memiliki kesiapan jika karya saya, didekonstruksi oleh seniman lain.

Bagaimana sih, cara kalian melakukan eksplorasi pola atau bentuk dari kolase?

[S] Aku merasa bahwa ada sebuah urgensi untuk mencari temuan-temuan baru ya, di proses kekaryaanku. Setelah woodcut, sekarang aku tengah mencoba eksplorasi kolase dengan medium anyar. Aku mencoba transfer visual pamflet-pamflet yang berada di ruang publik, seperti sedot WC, badut panggilan, dan berbagai visual lain yang terserak di jalanan, kedalam karyaku.

Metode ini cukup rumit, karena kemungkinan gagal cukup besar. Namun aku justru tertantang untuk mengolah ‘sampah visual’ dan kegagalan itu, menjadi sebuah bentuk medium kolase yang baru. Baik secara tekstur, ataupun tampilan visual.

[R] Untuk saat ini, aku justru mencoba style-style baru, agar enggak kekurung pada foto-foto vintage. Sebisa mungkin pakai foto apapun bisa dikolasekan, bahkan foto sampah sekalipun. Malah sekarang nih aku lagi proses bikin karya kolase yang materinya dari fotoku, dan foto yang kuambil sendiri.

Karya Rafif (foto (foto: Dok. Rafif)

Hak cipta sempat menjadi perbicangan serius di kalangan seniman-seniman kolase. Bagaimana kalian menyikapi urusan hak cipta dalam kolase?

[S] Menurutku, selama aku mengolah dari bentuk awal. Baik aku akan mendekonstruksinya, atau pun merekonstruksi ulang, menurutku, itu sudah menjadi temuan visual baru dan tidak lagi terkait hak cipta. Saya mengamini pola kekaryaan steal and modify.

[R] Nah, kalau menurutku ini penting sih. Soal hak cipta aku sendiri mencari foto dengan license CC atau common creative, yang hak ciptanya boleh dicomot asal tidak memakai bentuk asli dari foto, alias sudah dimodif. Sebenarnya banyak kok websitenya. Cuman, emang lebih enak produksi foto sendiri.

Lalu bagaimana sih tren kolase di Surabaya hari ini?

[S] Saya merasa tren kolase di Surabaya cukup "kering". Meskipun mulai banyak seniman-seniman kolase yang bermunculan, tapi jumlahnya tidak begitu banyak. Namun saya menyiasati hal itu dengan membentuk jejaring bersama seniman kolase lainnya di Collage.id. Lewat platform tersebut, aku bisa bertukar gagasan dengan kawan-kawan di luar Surabaya.

[R] Untuk Surabaya seperti biasa, sepi. Saya belum lihat atau nge-reach collagist lain selain Septian dan Arsyad di kota pahlawan ini.

Apa sih band yang pengen kalian banget kerjain visualnya?

[S] Tentu saja band yang selama ini kerap menemani saya saat sedang membuat karya: Beach House.

[R] Saya pingin banget bisa garap band luar semacem SPINN atau The Night Café. Kalau lokal saya sih pinginnya .feast , Netral, Grrrl Gang, Heals, Kelompok Penerbang Roket. Sama ini sih saya pingin banget bisa garap grup dangdut kayak rambut jagung (tertawa).


Oleh: Kristian Tanjung

Editor: Adam Pribadi

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US