FaktadiBalikJeritanTheScreamKaryaEdvardMunch

April 12, 2019Qubicle Art
The Scream (1893) meneriakkan sebuah mahakarya, cari tahu lebih dalam tentang lukisan ciptaan Edvard Munch ini melalui 5 fakta berikut.

Kedua tangan menyentuh kepala, mulut terbuka lebar, dan mata melotot—seorang sosok yang menjerit di atas jembatan terlukis dengan gaya ekpresionisme. Skrik, Der Schrei der Natur, The Scream of Nature, Jeritan, atau paling dikenal dengan judul The Scream adalah lukisan ciptaan Edvard Munch (1863-1944) yang meluapkan perasaannya dalam sebuah mahakarya.

Sempat bekuliah teknik pada tahun 1879, sang seniman asal Norwegia akhirnya belajar seni di Royal School of Art and Design of Kristiania pada 1881. Salah satu karya awalnya adalah Det Syke Barn (1885) atau The Sick Child yang melukiskan momen sebelum adiknya Johannes Sophie meninggal dunia karena tuberkulosis.

10 tahun setelah pameran pertamanya di tahun 1883, Edvard Munch berhasil menciptakan salah satu lukisan paling terkenal di dunia berjudul The Scream (1893).  Cari tahu lebih dalam tentang ikon seni modern ini melalui 5 fakta berikut:

1. Empat Jeritan dalam Empat Lukisan

Versi pastel yang dilukis pada tahun 1895 (foto: Mymodernmet.com)

Lukisan sebuah sosok menjerit di tengah alam yang terdistorsi dengan warna ini ternyata diciptakan empat kali oleh Edvard Munch. Pertama kali dilukis pada tahun 1893 dengan teknik 'tempera' yang mencampurkan kuning telur ke dalam cat sebagai perekat. Kini karyanya bisa dilihat di Galeri Nasional Oslo di Norwegia. Di tahun yang sama Edvard melukiskan sang penjerit di bawah matahari tenggelam kedua kalinya dengan krayon—menjadi versi dengan warna pudar.

Dua tahun setelahnya, sang pelukis ekpresionisme kembali membuat The Scream namun lebih menyala terang dengan warna pastel dan disertai puisi tentang kejadian yang akhirnya ia abadikan jadi lukisan. Karya terakhir dibuat pada tahun 1910 dengan teknik tempera yang melukiskan subjek utama manusia di tengah tanpa bola mata.

Litografi The Scream di British Museum (foto: Qz.com)

Edvard juga membuat sekitar 30 litografi dari The Scream agar bisa menjual cetakan hitam putih dari karyanya. Beberapa karya litografinya disertai kata-kata “Ich fühlte das grosse Geschrei durch die Natur” yang memiliki arti “Aku merasakan jeritan hebat dari alam”.

2. Pria yang Menjerit Adalah Edvard

Dalam lukisan versi pastel tahun 1895 ciptaan Edvard, sebuah puisi tertulis di bingkai. Apabila diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia kurang lebih bunyinya seperti ini:

Saya sedang berjalan di sebuah jalanan dengan dua teman – matahari mulai terbenam – seketika langit berubah menjadi merah darah – saya berhenti, merasa letih, dan bersandar di pagar – muncul darah dan lidah api di atas Fjord dan kota yang berwarna biru-hitam – teman-teman saya tetap berjalan, dan saya berdiri bergetar dengan kecemasan – saya merasakan jeritan tak terhingga yang melewati alam.

Dalam puisinya Edvard mencoba mengabadikan sebuah momentum dimana ia mendengar jeritan dari alam—melukiskan ekspresi keresahan dan kecemasan. Ya, sosok yang menjadi objek utama lukisan dapat dilihat sebagai sang pencipta sendiri. Latar The Scream ada di sebuah bukit Ekeberg, Norwegia dan kota serta lanskap di belakang adalah Oslo. Di bawah bukit, berdiri sebuah rumah sakit jiwa tempat adiknya dirawat yang tidak jauh dari tempat penjagalan.

3. Jeritan Budaya Populer

Emoticon yang terinspirasi dari The Scream (foto: Mymodernmet.com)

Pernah lihat film Home Alone (1990)? Adegan sekaligus poster yang menunjukkan raut wajah tokoh utama Kevin (Macaulay Culkin) menjerit ketakutan terinspirasi dari sosok di lukisan The Scream. Antagonis di film horor Scream (1993) juga menggunakan ekpresi karya Edvard sebagai topengnya.

The Scream dan emosi yang terkandung di dalamnya menjadi salah satu gambar paling populer di dunia. Layaknya Mona Lisa, lukisan Edvard menjadi mahakarya yang pada akhirnya melekat dengan budaya populer. Selain menginspirasi dua film tersebut, The Scream juga memberi pengaruhnya pada emoticon atau emoji bernama Face Screaming in Fear — mengubah karya seni menjadi sebuah ekpresi digital.

4. Dua Jeritan yang Dicuri

  The Scream (1910) yang diciptakan terakhir (foto: Mymodernmet.com)  

Pada tahun 1994 The Scream menghilang dari museum saat Olimpiade Musim Dingin sedang berlangsung di Lillehammer. Dua pria mencuri dengan mendobrak jendela, memotong benang yang menggantung lukisannya, dan meninggalkan surat bertuliskan “Terima kasih beribu kali untuk keamanan buruknya!” Tiga bulan setelah dicuri, The Scream akhirnya ditemukan di salah satu hotel kota Asgardstrand tanpa cacat. Pada tahun 1996 akhirnya empat pria yang terlibat pencurian tersebut ditangkap.

Pada tahun 2004, versi lain dari lukisan tahun 1893 dicuri bersamaan dengan karya lain Edvard berjudul The Madonna di Munch Museum Oslo. The Scream (1910) dicuri oleh dua pria bertopeng yang mengancam staf dengan pistol. Dua tahun kemudian kedua lukisan tersebut berhasil ditemukan bersamaan dengan tiga pencurinya. Akan tetapi ada sedikit cacat dan robek yang tersisa.

5. Sains dalam The Scream

Professor neurobiologi Harvard University dengan nama Margaret Livingstone melakukan riset dengan monyet buntut panjang dan menemukan bahwa otak lebih responsif terhadap wajah yang dilebih-lebihkan seperti mulut di The Scream. Karena senada dengan sel saraf, emosi yang dituangkan di lukisan ini pun direspon semua yang melihatnya dengan baik.

6. Langit Menjerit dan Gunung Krakatau di Indonesia

Selain sosok yang menjerit, langit juga ikut menjerit dengan warna merah darah di lukisan The Scream. Terbuka untuk interpretasi dan analisa, langit menyala bisa tercipta karena kondisi psikologis, imajinasi, atau memang terinspirasi dari kejadian nyata oleh penciptanya.

Professor ilmu lingkungan di Rutgers-New Brunswick bernama Alan Robock melakukan riset untuk mengidentifikasi fenomena alam yang menginspirasi Edvard. Bersama tim berisi peneliti internasional lainnya, ia mengajukan bahwa awan nacreous atau stratosfer kutub adalah pemandangan langka yang dilukis oleh Edvard.

Teori meteorologi lain yang digunakan Alan beserta ahli lainnya mengatakan bahwa Edvard melukiskan langit di The Scream dari ingatan meletusnya Gunung Krakatau di Indonesia pada tahun 1883. Saat letusan dahsyat dari Selat Sunda terjadi, partikel kecil bernama aerosol tersebar sampai ke Norwegia—membentuk warna matahari seperti yang dilukiskan Edvard Munch.  

Nature's Fury: The Science of Natural Disasters (foto: Hyperallergic.com)

American Museum of National History di New York melangsungkan pameran Nature's Fury: The Science of Natural Disasters. Pameran ini berfokus pada gempa bumi, tornado, gunung berapi, dan angin topan. Secara khusus, Nature's Fury menyoroti "The Scream" karya Edvard Munch yang menyatakan bahwa langit merahnya yang marah sekarang dianggap "untuk mencerminkan senja menakutkan yang terlihat di Norwegia selama berbulan-bulan setelah letusan Krakatau."



Oleh: Bramantyo Indirawan

Editor: Adam Pribadi

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US