HadirnyaLakonSyairLamadalamTeaterEraSekarang

February 11, 2019Qubicle Art
Pementasan teater Nyanyi Sunyi Revolusi menjawab tantangan zaman dengan mementaskan lakon syair lama Amir Hamzah di era kekinian.

Di tengah maraknya pentas teater di tanah air, Titimangsa Foundation mengangkat kisah sastra Indonesia, yakni perjalanan hidup Raja Penyair Pujangga Baru; Amir Hamzah dalam pementasan Nyanyi Sunyi Revolusi pada 2-3 Februari lalu di Gedung Kesenian Jakarta.

Poster 'Nyanyi Sunyi Revolusi' (foto: Instagram @titimangsafoundation)

Agenda pementasan teater rasanya tidak pernah sepi sepanjang tahun, namun berapa di antaranya yang benar-benar mendapat tempat di hati penikmatnya? Pemilihan naskah atau lakon yang akan diangkat pun menjadi hal yang krusial, mengingat usia penikmat teater kini semakin luas. Teater yang mengangkat kisah romansa, dengan pemain teater yang datang dari kalangan selebritas biasanya cukup mudah menggaet pangsa anak muda, tapi sebuah naskah yang bersumber dari kisah nasionalis atau sastra Indonesia kerap kali hanya digemari oleh para penikmat teater yang memang cukup akrab dengan kisah-kisah tersebut.

Membawakan syair lama kisah Amir Hamzah ke sebuah pentas teater tentu hal yang sangat menantang. Bagaimana caranya bisa menggaet penonton milenial lewat kisah seorang sastrawan besar yang mungkin hanya pernah mereka dengar namanya selintas lewat pelajaran Sejarah atau Bahasa Indonesia di sekolah? Rasanya, nama-nama yang biasa ditemui di sekolah cukup menarik untuk diingat di lingkup sekolah saja, sementara di luar sekolah, serial Narcos di Netflix atau Game of Thrones season terbaru lebih ditunggu-tunggu.

Romantisme Amir Hamzah

Adegan romansa Amir Hamzah dan Ilik Sundari (foto: dok. ImageDynamics)

Semua bersumber dari naskah. Salah satu kunci sebuah pertunjukan teater yang bagus adalah naskah yang menarik, dan dipilih untuk dimainkan di era atau momen yang tepat tentunya. Jika angle cerita yang dibawakan dalam pementasan ini terpusat pada bagaimana pergerakan Amir dalam sejarah revolusi tanah air tentu akan jadi lebih sulit untuk membuat anak-anak generasi sekarang untuk bertahan selama dua jam lebih di bangku penonton.

Namun Ahda Imran selalu penulis naskah mengedepankan angle yang tepat untuk masa sekarang, di mana bisa dibilang 70% dari kisah ini mengangkat syair lama kisah cinta Amir Hamzah dengan Ilik Sundari, kekasih yang ditinggalkannya karena ia harus menikah dengan Tengku Putri Kamaliah, anak dari Sultan Langkat.

Menurut Ahda Imran, kekuatan karya Amir Hamzah terletak pada estetika bahasa yang merdu dan menggali kata dari berbagai khazanah bahasa lama, terutama Melayu. Karyanya hadir dengan makna yang lebih segar, baru, dan sesuai dengan semangat zaman saat itu.

  Tak dipaksakan untuk menggunakan gaya bahasa zaman dulu, namun menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang mudah dimengerti (foto: dok. ImageDynamics)

Penggunaan bahasa untuk dialog di pentas ini tak dipaksakan untuk menggunakan gaya bahasa zaman dulu dari syair lama, namun menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang mudah dimengerti namun tetap pada penempatan EYD yang tertata rapi.

“Menulis kisah Amir sebagai teks lakon, demi membawanya ke pentas teater, tentu bukan sekadar menyalin kembali apa yang mengemuka dari beragam sumber tersebut. Melainkan juga kerja menafsir sekalian peristiwa di dalamnya, demi menghadapkannya ke dalam realitas kekikian,” ujar Ahda Imran.

Upaya Menghidupkan Panggung

Pemilihan Iswadi Pratama, sutradara Teater Satu Lampung, sangat tepat untuk pentas ini, karena ia jugalah seorang penyair yang dekat dengan irama sajak, plus ia terbiasa bekerja sama dengan berbagai aktor dari berbagai kalangan usia dan latar belakang.

  Membawakan kisah Amir Hamzah ke sebuah pentas teater tentu hal yang sangat menantang (foto: dok. ImageDynamics)

Para aktor di pentas ini; Lukman Sardi (Amir Hamzah), Prisia Nasution (Tengku Tahura. putri Amir, Sri Qadariatin (Ilik Sundari) dan Dessy Susanti (Tengku Kamaliah). Kombinasi yang tepat untuk menggiring penonton dari berbagai khazanah seni. Siapa yang tak tertarik melihat Lukman Sardi dan Prisia bermain di panggung? Dan dua nama lainnya, adalah kedua nama yang memang besar di panggung teater. Bisa dibilang, pemain-pemain jagoan dari panggung teater. 

Para aktor utama di pementasan Amir Hamzah (foto: dok. ImageDynamics)

Kekuatan permainan para aktor besar di panggung ini membuat para penonton tak sempat merasa teralih dengan distraksi yang biasa hadir di sepanjang pentas (baca: rasa kantuk dan lapar).

Permainan cahaya yang dramatis dan artistik panggung yang kuat meski tidak ribet (tidak banyak perubahan set, tidak ada ornamen yang tidak perlu di panggung) dan kostum yang sangat sesuai dengan era pada naskah semakin menghidupkan panggung sebagai satu kesatuan yang utuh. Thanks to Iskandar Loedin (Penata Artistik), Retno Damayanti (Penata Kostum), dan Aktris Handradjasa (Penata Rias). Satu lagi, musik. Jaeko sebagai penata musik memperkuat naskah yang kental dengan nuansa Melayu ini. 

  Prisia Nasution sebagai putri satu-satunya Amir Hamzah (foto: dok. ImageDynamics)  

Kehadiran hujan di atas panggung teater menjadi gimmick yang membuat penonton cukup sumringah. Dalam durasi sekitar dua jam, para penonton disuguhi asupan budaya yang cukup lengkap; pengetahuan akan kisah salah satu pahlawan yang paling berjasa dalam sejarah Bahasa Indonesia, tontonan budaya seperti silat dan musik tradisional, juga hadirnya wawasan baru bahwa nyatanya kisah nasionalis dan syair lama dalam sastra Indonesia bisa jadi hiburan yang menyenangkan di era sekarang.


Oleh: Andhini Puteri

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US