Halo:KaryaWatercolorsoalSiklusHidupdanWaktu

February 13, 2019Qubicle Art
Thomas Hanandry memamerkan 13 karyanya dengan Atreyu Moniaga Project di Aksara, Kemang tentang siklus hidup dan waktu.

“Simbol 'Halo' sebagai lambang suci juga menggambarkan sebuah siklus kehidupan dan waktuterutama para perempuan,” jelas Thomas Hanandry saat acara artist talk dalam pembukaan pameran karyanya yang sedang berlangsung di Aksara, Kemang hingga 19 Februari mendatang.

Atreyu Moniaga Project kembali mengadakan sebuah pameran di Aksara Kemang sebagai pilihan venue mereka. Kali ini, mereka memboyong sang seniman asal Surabaya, Thomas Hanandry berikut 13 karyanya (11 judul). Dalam pembukaan pameran yang berlangsung, Thomas menjelaskan sedikit banyak inspirasi dan teknik dalam pengkaryaannya, terutama untuk pameran “HALO” ini.

(foto: Qubicle)

Ibarat Marina Abramovic dalam performance art-nya yang berjudul Rythm 0 pada tahun 1974, Thomas mengibaratkan perjalanan atau siklus lingkaran--terutama perempuan. Bahwa lewat Rythm 0, Marina berhasil mengulik perasaan manusia yang paling gelap terhadap manusia lain (dengan subjek submisif). Thomas melihat ini sebagai fenomena siklus perilaku manusia yang tidak bisa ia terimadan kenyataan bahwa perempuan seharusnya dimuliakan, tidak dilecehkan apalagi dipandang sebelah mata karena “tampilan”nya yang seakan lemah di mata pria.

  (foto: Qubicle)  

Thomas mengaku, penggambarannya akan 13 perempuan yang ia tampilkan di pameran Halo diambil dari dua wajah perempuan. Baru setelah itu, ia mengubah sedikit bagian untuk membuat fisiknya tidak terlalu signifikan dengan subjek yang ia jadikan inspirasi tersebut.

Dengan melengkapi detail glinding gold leaf di setiap karyanya, Thomas berhasil menonjolkan efek Halo dalam rangka memberi penekanan akan sosok yang ia gambarkan. “Halo dan gold itu sebenarnya adalah kemuliaan palsu. Karl Marx bilang kan manusia dikondisikan oleh materi yang melahirkan mimpi-mimpi dan melahirkan kesadaran palsu. Orang pikir power itu kemulian sejati, padahal sebenarnya kan enggak absolute,” jelasnya.

  (foto: Qubicle)  

Menggunakan kertas cat air Arches, tinta (ecoline), marker, watercolor dan gold leaf, tiap-tiap karyanya seakan membawa kita ke sebuah pemahaman baru akan perjalanan perempuan yang dituangkan dari mata laki-laki.

Jika memperhatikan seluruh karya yang dihadirkan oleh Thomas, kita bisa melihat perempuan dengan rambut panjang putih di latar belakang hitam pekat di 12 karyanya. Namun, hadir di tengah alur lukisan, muncul satu perempuan berambut hitam pekat yang ditemani dengan ular emas untuk memaknai titik balik dari keseluruhan karya pameran Halo yang ia beri judul Auroboros: End Roll.

  (foto: Qubicle)  

“Setelah menguasai diri dan bersahabat dengan diri, maka panah siklus berikutnya mulai dilontarkan yang menjadikan “keinginan” merajai diri sendiri dan jadi musuh kita lagi. Sudah muter terus gitu aja, seperti Auroboros, si ular yang memakan ekornya sendiri. Sampai waktu orang di dunia ini habis,” jelasnya.

Bentuk karya ini amat berbeda dengan karya-karya Thomas yang sebelumnya. Kali ini ia mengombinasikan teknik-teknik watercolor yang telah ia pelajari selama ini. Ditambah lagi, dengan kemewahan sepuhan emas yang mengingatkan kita dengan karya seni rupa Klimt yang mewah, penuh arti dan berhasil tidak berlebihan dalam penyampaiannya. 

  (foto: Qubicle)  

Oleh: Risangdaru

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US