MariTerpanadengan7ArsitekturMinimalismeTadaoAndo

March 17, 2019Qubicle Art
Arsitektur Tadao Ando adalah karya seni. Kenali maestro minimalise asal Jepang ini melalui berbagai ciptaannya.

Pada 13 September 1943 seorang pria lahir di Osaka, Jepang. Tumbuh dengan budaya kental Negeri Matahari Terbit di sekelilingnya, Tadao Ando berganti karir dari tukang kayu seperti ayahnya, sopir, hingga kemudian jadi petinju. Olahraga kompetitif yang melibatkan baku hantam ini membuatnya bepergian ke berbagai tempat, dari wilayah lain di Jepang hingga luar negeri—melihat beragam pemandangan dan bangunan. Saat itulah pria dengan nama Tadao Ando menggantung sarung tinju untuk selamanya dan memutuskan untuk menjadi seorang arsitek. 

Tanpa pendidikan formal dalam bidang arsitektur, Tadao Ando tetap berjaya menciptakan karya seni fungsional dalam bentuk bangunan. Minimalisme yang menekankan less is more dapat terasa dari berbagai ciptaannya. Jauh dari kata membosankan atau bahkan kesederhanaan yang biasa dikaitkan dengan minimalisme, ia seakan memanfaatkan ruang dan waktu menuju kesempurnaan. Tadao Ando menciptakan karya-karya memukau yang membuat kagum, kalau kata Jale Nejdet Erzen, manusia jadi “Terkoneksi secara spiritual.”

Jepang menjadi rumah sekaligus budaya yang ikut termanifestasi melalui karya Tadao Ando. Bukannya estetika atau seni, Haruhiko Fujita mengatakan bahwa “cara” dan “jalan” menjadi penekanan dalam dunia artistik Jepang sekaligus kehidupan sehari-hari.

Arsitek, krirtikus, sekaligus sejarawan Kenneth Frampton menyebut Tadao Ando sebagai critical regionalist atau regionalis kritis yang menciptakan arsitektur perlawanan. “Mencoba untuk melakukan mediasi dari pengaruh peradaban universal dengan elemen yang berasal dari kejanggalan tempat tertentu secara tidak langsung”. Sedangkan jurnalis arsitektur Catherine Slessor berpendapat kalau sang arsitek Jepang sebagai concrete regionalist atau regionalis konkrit karena adaptasi puitis bahan bangunan konkrit terhadap konteks lokal.

Dari semua sebutan, pendapat, analisa, kritik, dan pujian yang diberikan ke Tadao Ando—karyanya berbicara dengan sendirinya. Berikut adalah tujuh arsitektur karya maestro minimalisme Jepang ini:

1. Rumah Tomishima

Karya awal Tadao Ando di kampung halamannya (foto: Area-arch.it)

Setelah membuat firma arsitekturnya sendiri, Tadao Ando menciptakan karya yang awalnya berupa rumah di kampung halamannya, Osaka. Dengan nama Tomishima House (1973), ia memanfaatkan konkrit yang pada akhirnya terus digunakan oleh pria berumur 77 tahun ini.

Sejak awal berkarir pun Tadao Ando telah membedakan dirinya dengan tren dominan arsitektur Jepang. Ia memeriksa ulang dan memodifikasi ide struktur formal dari geometri yang berasal dari modernisme. “Memproduksi efek fantasi dalam desain arsitektural. Terinspirasi arsitektur klasik Jepang di Osaka dan Tokyo,” ungkap penulis Mohammad Gharipour.

2. Church of Light (1989)

Pengunjung dan lubang salib di gereja (foto: Interactiongreen.com)

Penggunaan konkrit yang dahulu digunakan agar lebih ekonomis di karya pertamanya telah bertransformasi menjadi medium yang terikat oleh visi dan konsep. 15 tahun setelah sebuah rumah di Osaka, Tadao Ando menciptakan mahakarya arsitektural dengan nama Church of Light (1989). Konkrit halus yang ia gunakan kini telah terproyeksi dengan pandangan penuh persistensi.

Gereja yang ia ciptakan di Ibaraki, Osaka memanfaatkan cahaya melalui lubang tembok berbentuk salib. Terisolasi dari dunia luar termasuk modernitas, tembok dan warna gelap yang hanya diterangi salib dari cahaya alami memberikan fokus dramatis bagi yang sekadar melihatnya, menggambarkan seperti berada di dalamnya, hingga berdoa. Buku Nothingness, Tadao Ando’s Secret Christian Space (2009) menjelaskan lebih dalam salah satu tempat ibadah Gereja Ibaraki Kasugaoka ini. Menurutnya kekosongan spasial yang diciptakan Tadao Ando berasal dari tradisi agama dan filsafat Jepang tentang ketiadaan.

3. Japanese Pavilion for EXPO 92 (1992)

Teknologi atau tradisi  (foto: En.wikiarquitectura.com)

Adalah karya pertama Tadao Ando di luar Jepang, Japanese Pavillion for Expo 92 yang dibangun di Sevilla, Spanyol mengkombinasikan teknologi dan tradisi. Paviliun yang bertujuan untuk menunjukkan budaya sekaligus estetika tradisional Jepang ini terbuat dari kayu.

Expo 1992 yang bertemakan The Age of Discovery adalah expo dunia yang memamerkan keberhasilan dari negara-negara. Tahun dimana Tadao Ando pertama kali memperkenalkan arsitekturnya ke luar Jepang adalah perayaan 500 tahun pertama kali penjelajahan Christopher Columbus ke New World atau dunia baru. Seperti Columbus, perjalanan Tadao Ando pun baru dimulai.

4. Vitra Seminar House (1993)

Pohon ceri mendominasi (foto: Mimoa.eu)

Setahun kemudian Tadao Ando membangun arsitektur di Weil am Rhein, Jerman. Pohon ceri yang seharusnya ditebang agar bangunannya bisa berdiri malah ia jadikan sorotan utama, sebuah kesederhanaan di tengah pepohonan. Menunjukkan bagaimana alam tetap menjadi elemen penting dalam karyanya setelah dua dekade menjadi arsitek.

5. Meditation Space UNESCO (1995)

Tempat meditasi UNESCO “kado” dari Tadao Ando (foto: Wikimedia.commons.org)

Dalam perayaan 50 tahun The United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Tadao Ando datang ke pesta dan mendesain bangunan di kantor pusat Paris, Perancis. Apa yang ia buat adalah tempat untuk meditasi—mengkontemplasikan sebuah dunia tanpa konflik dengan perdamaian abadi.

Di tahun yang sama yaitu 1995, Tadao Ando memenangkan penghargaan prestise atas ciptaannya dalam dunia arsitektural bernama Pritzker Architecture Prize.

6. Modern Art Museum of Forth Worth (2002)

Refleksi museum dan minimalisme (foto: Celebspersonal.com)

Air dan cahaya adalah elemen alam andalannya dan museum yang dibangun Tadao Ando di Texas, Amerika Serikat ini jadi saksinya. Konkrit, besi, alumunium, kaca, dan granit menjadi material yang ia gunakan untuk membangun museum ini. Sekilas dari luar, air di bawah dapat merefleksikan museum dengan sempurna, membentuk ilusi yang memukau.

7. Hill of the Buddha (2015)

Bukit Buddha (foto: Designboom.com)
Kemegahan arsitektur Tadao Ando di Sapporo (foto: Designboom.com)
Anggrek ungu mengelilingi (foto: Dezeen.com)

Kembali ke Jepang, Tadao Ando menciptakan salah satu mahakarya melalui Hill of the Buddha (2015) di Kuburan Makomanai Takino, Sapporo. Kepala Buddha yang dikelilingi 150,000 anggrek berwarna ungu terlihat dari kejauhan, masuk ke dalam hingga 40 meter maka kemegahan berbentuk patung dapat ditemukan.

Cukup lihat video dan fotonya dan nilai sendiri bagaimana karya sang arsitek Jepang ini sebelum menjadi salah satu raksasa arsitek yang dikenal oleh dunia.



Oleh: Bramantyo Indirawan 


Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US