PameranSeniRupaKolektifMembaurElemen3Perempuan

January 09, 2019Qubicle Art
Melange des Femmes (Medley of Women) yang digagas Atreyu Moniaga Project menghadirkan pameran seni rupa kolektif 3 seniman berbakat.

Mengunjungi sebuah toko buku dan menemukan karya seni di dalamnya adalah sebuah bonus yang menyenangkan. Apalagi, jika karya tersebut terpajang indah, aesthetic dan cantik di sudut utama. Itulah yang saat ini, hingga 11 Januari 2019 nanti bisa kita temukan di Aksara Bookstore, Kemang.

Atreyu Moniaga Project kembali memamerkan karya seniman-seniman muda berbakat yang masih jarang kita lihat karyanya di pameran-pameran besar Jakarta. Kali ini, bentuknya kolektif. Namun, bukan ‘kolektif’ biasa. Bekerja sama dengan tiga seniman perempuan, kita bisa melihat juga tiga buah karya yang dibuat dan digabungkan dalam masing-masingnya dalam pameran seni rupa kolektif bertajuk Melange des Femmes (Medley of Women).

Tidak asal memilih, ketiga seniman ini punya keahlian masing-masing yang mereka bentuk sendiri selama perjalannya menjadi seorang seniman. Aninditya Kusumah (Tya) adalah seorang seniman yang fokus membuat lukisan alamtepatnya seperti hutan dan rumah pohonmenggunakan tinta. Karya Tya yang dideskripsikan “dreamy” sepertinya cocok untuk penggambaran visual setiap kali kita melihat lukisannya.

Seniman perempuan yang kedua adalah Sol Cai (Sol). Disebutkan, bahwa ia menyukai objek bunga dan segala sesuatu dengan warna pastel. Tidak heran, ia menunjukkannya dengan penggambaran seorang karakter perempuan mengenakan gaun indah dalam pameran yang berjudul Malange des Femmes ini.

Seniman perempuan ke-3 yang turut andil dalam pameran kolektif ini adalah Yunita Elvira Anisa (Nisa). Selama perjalanan kariernya, Nisa menunjukkan sebuah perkembangan objek yang amat signifikan dan menarik. Memiliki berbagai macam ketertarikan seperti ilustrasi tato dari Amerika, Nisa memiliki satu misi yang kuat: yaitu untuk menyadarkan manusia akan kepunahan binatang-binatang yang saat ini terancam. Di pameran seni rupa kolektif ini, ia mengangkat Harimau Tasmania sebagai objek dalam lukisannya.

Melange des Femmes (Medley of Women)

Pameran seni rupa kolektif ini dituliskan sebagai sebuah persatuan antara elemen yang berbeda-beda (sebagai simbol tiap-tiap karakter seniman yang ikut serta). Dan juga, tentu tentang kekuatan wanita. Dengan mengangkat tema fairytale, para seniman ini ingin menyampaikan suara, gagasan dan pandangannya masing-masing dalam berkarya.

“Menyelam ke dalam sebuah dunia fantasi, di mana sang Serigala bukanlah musuh dan Tudung Merah adalah tokoh yang membawa pedang.”

Pameran Melange des Femmes yang diadakan mulai tanggal 12 Desember 2018 hingga 11 Januari 2019 ini menyuguhkan para penikmatnya lewat tiga karya besar berpigura kayu terang. Bukan tanpa alasan, pigura-pigura ini disusun sesuai dengan alur cerita Red Riding Hood (si Tudung Merah) yang familiar pastinya untuk kita.

Lewat narasi juga, ketiga seniman ini membuat sebuah dekonstruksi cerita dengan khayalan visual khas mereka masing-masing. Membaca narasi yang tersedia di bawahnya tentu bisa membawa kita lebih terlarut dalam cerita versi mereka.

Bentuk Seni Rupa Kolektif di Tiap Karya

Nah, jika bicara soal bentuk seni rupa kolektif yang mereka hadirkan, para penikmat cukup dibuat takjub. Para seniman yang paham persis dengan ketertarikan ini menghadirkannya dengan porsi rata dan menghasilkan karya yang begitu indah dan feminim.

Latar belakang hutan dihadirkan dengan tinta hitam, di atas kertas putih oleh Tya. Tiap detail pohon dan bayangannya, dimensi luar dalamnya seakan sudah ia perkirakan. Di depannya, dengan sebuah dimensi baru yang timbul, kita bisa melihat karakter si Tudung Merah--tanpa tudung merah, melainkan mengenakan gaun bunga berwarna peach indah yang dipadukan dengan tudung transparan dengan detail glitter biru kehijauan di ujungnya yang dilukis oleh Sol. Nisa sendiri, memadukan teknik tato flash asal Amerika dengan karakter harimau buatannya.

Pada tiap frame, ada cerita menarik berbentuk prosa dalam bahasa Inggris yang juga menambah pengetahuan kita saat melihat karyanya. Di belakang tiap-tiap pigura yang terpajang, para seniman juga menghadirkan kertas-kertas kusut yang bertuliskan kalimat-kalimat dalam bahasa Perancis. Intinya, ketiga seniman perempuan ini berhasil membuat karya seni rupa kolektif yang amat menarik yang sanggup melambangkan gagasan lewat tiga teknik berkarya yang amat berbeda.


Oleh: Risangdaru

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US