SepotongKisahPenyelamatanKaryaPramoedyaAnantaToer

June 14, 2019Qubicle Art
Beberapa karya Pramoedya tidak pernah sampai di tangan kita sekarang jika saja tak ada peran teman-temannya.

Pramoedya Ananta Toer, telah mangkat lebih dari satu dekade silam. Ia, berpulang meninggalkan 50 karya yang telah diterjemahkan kedalam 42 bahasa. Namun, karya-karya Pram, seperti kita tahu, harus menempuh jalan sunyi nan terjal. Sudah tidak terhitung, berapa kali karyanya dibredel. Bahkan sebagian, belum pernah sekalipun bertemu pembacanya—seperti Panggil Aku Kartini Saja yang hanya terbit separuh bagian.

Salah satu karya penting yang kemudian menempatkan nama Pram—panggilan akrab Pramoedya—di tampuk sejarah panjang kasustraan tanah air adalah serial tetralogi Pulau Buru, yang ditulisnya selama 14 tahun ditahan di kamp pengasingan. Namun, karya-karya itu tidak akan pernah sampai di tangan kita, jika saja nama-nama ini tidak punya keberanian untuk menyelendupkan naskah Pram keluar, kemudian diterbitkan dan terus dilipat gandakan. Salah satu nama itu adalah Oei Hiem Hwie, seorang tangan kanan Pramoedya semasa di dalam bui.

Oei Hiem Hwie, atau yang akrab disapa Om Wie adalah seorang peranakan Tionghoa. Ia ditangkap, kemudian diasingkan pada era Orde Baru. Ia "dibawa" ke pulau buru dengan tudingan, bahwa ia terlibat sebagai simpatisan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA)—sebuah organisasi underbouw dari Partai Komunis Indonesia.

Kami menemui Oie Hiem Hwie di perpustakaan miliknya. Sebuah perpustaaan tua bernama Medayu Agung, berada di sebelah timur Surabaya. Saat ini, usianya tengah menapaki angka 81 tahun. Namun, ingatannya tentang hari dimana ia menyelundupkan salah satu bagian dari tetralogi masih jelas.

“Waktu itu Pram menulis dengan sembunyi-sembunyi. Ia menulis diatas kertas bekas sak semen. Nulisnya pakai kayu bekas bekas bakaran (Arang, red), sebelum saya berhasil memperbaiki sebuah mesin ketik bekas. Pram diasingkan dari tahanan lain. Ia ditempatkan disebuah gubuk. Saya membantunya dengan sembunyi-sembunyi,” kenang Om Wie.

Mata Om Wie menerawang tumpukan debu diatas rak-rak buku yang mulai lapuk. Sebuah arloji, foto-foto, serta satu bendel kertas coklat pudar dengan tulisan tangan tertata rapi disebuah lemari kaca tua. “Itu adalah tulisan tangan Bung Pram. Siapa bilang Pram tulisannya bagus? Kau lihat sendiri, jelek begitu. Lebih layak ditulis oleh cakar ayam daripada sastrawan tersohor,” tukasnya seraya diiringi tawa berderai.

Ia mengingat-ingat, kali pertama pertemuan Om Wie dengan sosok Pram adalah di ladang. Keduanya, sama-sama tengah mengarap lahan, yang kemudian nantinya akan ditanami dengan aneka kebutuhan pokok para tahanan. Sayur, umbi, jagung, serta beras nantinya dipanen untuk diolah bersama-sama. Sebagai tahanan ‘baru’, Pram bekerja dengan bantuan Om Wie yang telah lebih lama di Buru.

Namun, nasib Om Wie lebih sedikit beruntung dibanding Pram. Ia lebih dulu dibebaskan saat itu. Dan Pram, baru bisa kembali menapakan kakinya di Jakarta, sekitar empat tahun kemudian. Kabar kepulangan Om Wie, rupanya terdengar di telinga tahanan lainnya. Salah satunya, informasi itu juga sampai ke telingga Pram.

“Saya ingat, waktu itu Pram memangil saya ke gubuknya, dan bertanya-tanya. ‘Apa benar kamu akan pulang besok? Saya mendengar itu dari orang-orang’, saya pun menjawab ‘Iya, tapi saya belum tahu pasti, bung’ begitu,” kata Om Wie.

Kemudian, Pram menyerahkan setumpuk kertas, yang disimpan dibawah sebuah septictank buatan—untuk mengelabuhi pengawas—yang merupakan bagian dari tetralogi. Pram bertanya kepada om Wie, apakah ia berani menyelundupkan naskah yang kelak akan mengabadikan nama pria kelahiran Blora ini di jagad sastra dunia.

“Saya spontan jawab, berani. Untuk segala caranya, atau bahkan kalau saya harus "digebuk" lagi, saya siap” kenangnya berapi-api.

Kemudian, Wie mengambil tumpukan kertas itu, dan mulai memikirkan siasat mengelabuhi para penjaga yang akan memeriksanya nanti. Ia pun melingkarkan naskah-naskah itu di perutnya, kemudian diikat. Ia merunduk sepanjang perjalanan menaiki kapal. Ia berpura-pura sakit, dan ada yang tidak beres dengan perutnya kepada penjaga. Beruntung, Om Wie tidak diperiksa, dan naskah Pramoedya berhasil lolos, dan diserahkan Wie kepada penerbit, Hasta Mitra, di Jakarta.

“Rasanya campur aduk, ya. Takut itu pasti ya. Cuman saya ingat sebuah kata yang sering diucapkan beliau kepada saya. ‘Wie, Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?’ kata-kata itulah yang kemudian membulatkan tekad saya,” kata Wie.

Carlos Maria Dominguez, sastrawan Argentina, menulis dalam The Paper House pernah mengkisahkan, bahwa buku, sanggup mengubah nasib manusia. Ada yang membaca kisah petualangan Sandokan, Bajak Laut dari Malaysia, lantas memutuskan menjadi profesor sastra di kampus-kampus terpencil. Siddharta, membuat puluhan anak muda menggandrungi kebatinan. Dumas memperumit hidup ribuan perempuan. Sedangkan Bluma, dalam buku tersebut, harus meregang nyawa meski belum selesai membaca separo puisi milik Emily Dickinson. Dan Oei Hiem Hwie, membentangkan cakrawala dunia sastra Indonesia, lewat keberaniannya. 

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US