GardaPanganMerubahMakananSisaMenjadiBerguna

May 31, 2019Qubicle Culinary
Garda pangan berhasil membuat makanan yang berakhir di pembuangan, menjadi makanan siap makan.

Gundukan sisa makanan, dan kue-kue yang bertumpuk disebuah bak sampah, adalah pemandangan yang lazim kita temui selepas pesta baru saja usai. Setidaknya, lewat kebiasan buruk itu, telah membuang 13 juta ton makanan dengan sia-sia. Jika diolah dengan baik, sisa makanan itu bisa mencukupi kebutuhan nutrisi dari 28 juta orang. Menurutu survei dari The Economist Intelligence Unit, Indonesia menempati urutan ke-2 paling ‘rajin’ dalam urusan mensia-siakan makanan.

Garda Pangan, melihat bahwa fenomena ini adalah hal genting yang harus segera dicarikan jalan keluar. Lewat inisiasi dari Dedhy Trunoyudho, dan Istrinya, sebuah organisasi yang diinisiasi secara swadaya ini mulai didirikan pada bulan Juli tahun 2017. Misi mereka sederhana: mengolah makanan sisa, untuk kemudian didistribusikan kepada mereka yang memerlukan.

Mulanya, kegiatan ini hanya dilakoni sepasang suami-istri ini, dengan bantuan seorang teman, Eva Bachtiar. Seiring berjalannya waktu, inisiatif mulia dari Garda Pangan mulai mendapat sorotan positif dari masyarakat. Alhasil, jumlah relawan mereka pun kian bertambah saban harinya.

“Garda Pangan terbentuk karena concern kami terhadap food waste. Apalagi kalau melihat data statistik, Indonesia sendiri merupakan negara pembuang sampah makanan terbesar ke-2 di dunia, dimana 1 orang bisa membuang 300kg makanan tiap tahunnya. Sementara masih ada 19,4 juta rakyat Indonesia yang masih kelaparan dan berjuang untuk makan setiap harinya,” tandas Eva Bachtiar, salah satu inisiator Garda Pangan saat kami wawancarai.

Dalam urusan pendistribusian makanan, Garda Pangan pun juga tidak asal-asalan. Mereka menerapkan standar kelayakan yang cukup ketat, sebelum menyalurkan olahan sisa makanan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan. Mereka melakukan uji kelayakan berlapis, mulai dari visual, aroma, serta random tasting. Garda Pangan pun juga memastikan, bahwa sisa makanan dikemas se-higienis mungkin. Dan para penerima makanan pun juga diberikan informasi terkait batas layak makanan, dari kudapan yang dihidangkan oleh Garda Pangan.

“Untuk pengolahan, pada prinsipnya kami meminimalisir pengolahan tambahan. Makanan jadi yang siap makan akan langsung didistribusikan pada saat itu juga. Jadi tidak perlu storing atau pengolahan tambahan. Akan tetapi, di beberapa kondisi tertentu dimana makanan yang diterima adalah dari salah satu mitra kami yang adalah distributor buah berupa overripe fruit, misalnya, maka kami mengolah buah tersebut jadi nugget pisang, jus, dan olahan lain-lain,” kata Eva.

Saat ini, berkat kegigihan mereka, Garda Pangan tak pernah kebingungan soal partisipan, yang kelak mereka sebut dengan Food Heroes. Untuk menjadi partisipan, para calon Food Heroes harus mengantre, dan mencocokan jadwal. Hal ini terjadi karena saking banyaknya masyarakat yang ingin turut ambil bagian dalam urusan pengelolaan sisa makanan.

“Relawan publik ini kami sebut Food Heroes. Pendaftarannya dilakukan online lewat website kami, agar fair. Di sini pendaftar bisa langsung memilih hari dan waktu yang sesuai. Pendaftaran dibuka tiap dua pekan sekali. Satu orang hanya dapat mendaftar 2 kali, dalam kurun waktu dua minggu. Semua ini kami batasi, memang, untuk memastikan partisipasi terbuka luas untuk orang lain yang juga ingin bergabung,” imbuh Eva.

Sebelum melakukan distribusi, Garda Pangan juga melakukan survei dengan cara menjelajah areal perkampung di seluruh sudut kota Pahlawan. Hingga saat ini, Garda Pangan telah memiliki 110 titik distribusi. Konsenterasi titik distribusi Garda Pangan ini, berfokus pada ruang-ruang yang mayoritas penghuninya adalah kaum dhuafa, yatim piatu, lansia, masyarakat difabel, pengungsi, dan anak jalanan.

Berkat konsistensi Garda Pangan berupaya memberi terang, pada jalan gelap pengelolaan makanan sisa, masyarakat adalah donatur utama dari pergerakan mereka. Kepercayaan 12 mitra yang ajeg memberikan sisa olahan makanan dari restoran, toko roti, hotel serta kafe kepada Garda Pangan, terus mengerakan garda-garda distribusi makanan pada mereka yang membutuhkan untuk terus berputar. Tak hanya itu, baru-baru ini, mereka juga merakit sebuah program bernama Zero Waste Merchandise, yang kemudian menjadi salah satu sumber pendaan mereka.

“Akan tetapi kami juga menyadari bahwa agar kami bisa terus sustain, maka kami juga harus punya sumber dana yang berkelanjutan. Oleh sebab itulah kami masih terus mematangkan model bisnis kami dalam menjadi social enterprise yang sustainable,” tutup Eva. 


Oleh: Kristian Tanjung

Editor: Elang Muhammad

Like what you read? Give Qubicle Culinary your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Culinary

    Explore what happens behind the kitchen, what serves on the menu, and global F&B trends.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US