MencobaMenuNasiDariTigaBudayaBerbedadiSingapura

March 15, 2019Qubicle Culinary
Menjadi negara dengan budaya beragam, kami mencoba tiga menu nasi dari 3 budaya yang berbeda di Singapura

Singapura adalah negara multikultural yang terdiri dari berbagai budaya. Penduduk Singapura terdiri dari 74.3% Tionghoa 13.4% Melayu, 9% India, dan 3.2% etnis lainnya. Cukup beragam bukan?

Pada awal abad ke-19 saat Singapura adalah pelabuhan bebas, migran berdatangan untuk berdagang dan beberapa diantaranya menetap. Pada tahun 1827 imigran dari berbagai belahan Tiongkok menjadi etnis terbesar di Singapura. Kemudian awal abad ke-20 Tionghoa telah mencapai 70% dari total populasi yang juga berisikan Melayu, India, Eurasia, dan berbagai etnis lainnya.

Corak budaya Tionghoa, Melayu, dan India terlihat dengan jelas di Singapura sampai hari ini. Apabila ingin menelusuri jejak peninggalan kultur ketiganya, salah satu cara terbaik adalah mencicipi makanannya! Siapkan diri, karena kami berkelana untuk mencoba kuliner dari tiga budaya ini.

Tiap budaya punya makanannya masing-masing dengan bumbu dan lauk yang berbeda. Tapi ternyata nasi jadi bahan pangan dasar yang digunakan oleh Tionghoa, Melayu, dan India dalam beberapa sajiannya. Dengan nasi seakan mengikat keragaman budaya, kami berteguh untuk merasakan tiga menu nasi berbeda dari tiap budaya Singapura.


Nasi Hainan

Nasi Hainan (Foto: Qubicle)

Pertama kami cari menu nasi Tionghoa dulu nih. Selain nasi ayam saus kecap Hong Kong pemenang bintang Michelin, nasi hainan terlintas di kepala sebagai makanan chinese food favorit yang mencampur nasi dengan lauk. Chinatown atau pecinan jadi salah satu tempat ideal untuk dikunjungi kalau lagi ngidam makanan Tionghoa. Tapi kami pilih tempat yang lain.

Kami berkelana hingga daerah Tiong Bahru untuk mencari salah satu nasi hainan pujaan kota berlambangkan setengah singa setengah ikan ini. Tempatnya di Tiong Bahru Food Centre, untuk mencapainya gunakan MRT pemberhentian Tiong Bahru dan jalan sekitar 5 hingga 10 menit dari Exit B.

Setelah sampai di Tiong Bahru Food Centre pasti bingung mau pilih makanan apa. Selain banyak macam makanan yang tersedia, harganya juga murah. Di sini ada kuliner terkenal yaitu Hong Heng Fried Sotong Prawn Mee yang merupakan mie goreng cumi dan udang. Tapi fokus! Kami kan maunya makan menu nasi kok jadi yang lain.

Penampakan luar restoran Tiong Bahru Hainanese (Foto: Qubicle)

Nasi hainan yang kami santap adalah Tiong Bahru Hainanese Boneless Chicken seharga SGD3 atau sekitar Rp31.000. Seperti namanya, ayam yang menjadi lauk utama menu nasi budaya Tionghoa ini boneless atau tidak memiliki tulang. Pilihan menu nasinya ada dua, dengan ayam rebus klasik atau ayam panggang. Tergantung preferensi, keduanya sama-sama lezat. Apabila ingin lebih kenyal dan basah pilih yang rebus apabila ingin yang lebih kering pilih yang panggang.

Disajikan dengan sup bening, beberapa bumbu seperti kecap dan jahe yang dipotong-potong bisa diambil sendiri. Rasanya cukup lezat dan ringan, nasi yang tidak terlalu berminyak dan harum karena jahe, bawang, dan pandan menemani ayam dalam harmoni. Hal yang paling spesial adalah ayam tanpa tulangnya karena bisa langsung dikunyah lalu ditelan, tentunya berbeda dengan nasi hainan lain yang bertulang.


Nasi Lemak

Menu nasi lemak (Foto: Qubicle)

Untuk menu nasi dari budaya Melayu, nasi lemak adalah kuliner jadi salah yang identik dengannya. Hidangan nasi dengan beberapa macam lauk ini bisa ditemukan di berbagai tempat, tidak harus ke daerah yang penuh dengan orang Melayu.

Namun akan lebih menyenangkan berkunjung ke daerah dimana Melayu bersinggah sejak dahulu kala. Setelah berjalan-jalan di kawasan Arab yaitu Haji Lane yang banyak tempat nongkrong, ikuti jalan dan jelajahi Kampong Glam yang merupakan kawasan Melayu.

Masjid Sultan yang telah berdiri selama 200 tahun lebih berdiri megah di tengah-tengah kawasan Arab dan Melayu. Tidak jauh dari tempat ibadah tersebut ada tempat makan dengan nama Kampong Glam Cafe di Bussorah St yang menjual beragam jenis makanan termasuk hidangan Melayu.

Kampong Glam Cafe (Foto: Qubicle)

Nasi lemak sebagai menu nasi budaya kedua yang ingin kami coba ada di kafe tersebut. Saat siang hari tempat itu cukup ramai sehingga harus mengantre tapi tidak terlalu lama kok. Pelanggan dapat membeli dengan dua cara, meminta langsung paket-paket yang diberikan atau memilih lauknya sendiri-sendiri.

Apabila memesan paket nasi lemak maka akan disajikan nasi bersama lauk berupa ikan asin, telur, dan ayam goreng bersama saus cabai pedas-manis dan timun. Terlihat sederhana karena memang sederhana. Namun dibalik keserhanaannya, nasi yang dibuat dengan daun pandan dan kelapa ini kaya rasa saat dipadukan gurihnya ayam, asinnya ikan, kenyalnya telur, dan manisnya cabai.

Berbagai menu nasi di Kampong Glam Cafe mulai di harga SGD2.50 atau sekitar Rp17.000. Harga paket nasi lemak dengan teh tarik yang menjadi teman sempurna jadi SGD5 atau sekitar Rp52.0000. Apabila mengambil nasi sendiri dan memilih lauk jangan lupa mencoba ayam kare atau setidaknya kuahnya saja. Selain nasi lemak kami mencoba ayam goreng dicampur kuah kare serta perkedel, mirip makanan Indonesia ya?


Nasi Biryani

Mencari makanan India juga tidak susah, contohnya di pinggir jalan Little India yang berisi deretan tempat makan. Menu nasi dari budaya India? Nasi biryani jawabannya. Setelah berbelanja di Mustafa Centre yang membuka pintunya selama 24 jam atau berkelana seharian di kawasan India melihat bangunan hingga warga lalu-lalang—menyantap nasi biryani juga harus dimasukkan ke itinerari.

Dari Allaudins Biryani hingga Bismillah Biryani Restaurant, kedua restoran itu menyajikan menu nasi biryani yang membuka cakrawala budaya dengan rasa. Berbeda dengan nasi hainan atau nasi lemak, nasi biryani dimasak dengan bumbu yang cukup beragam. Sebut saja kacang, minyak saming, ketumbar, jahe, bawang, cengkih, jintan, dan berbagai bahan lainnya. Bahkan ada yang menggunakan bumbu safron yang dijuluki emas merah loh!

Nasi biryani biasa dihidangkan dengan sayuran dan daging seperti ayam atau kambing yang memiliki kuah kare. Lidah akan berdansa karena standar nasi biryani adalah sajian yang kaya rasa.

Kami akhirnya memakan menu nasi budaya India dengan lahap di C.M.K 2001 Restaurant di dekat Mustafa Centre. Nasi biryani dengan kare kambing, ayam goreng berwarna kemerahan, dan roti prata adalah makanan yang sangat cocok disantap beramai-ramai di restoran halal ini.

Merasakan tiga menu nasi dari tiga budaya berbeda sambil berkelana bisa menjadi pengalaman menyenangkan yang bisa dilakukan saat mengunjungi Singapura. Selain beberapa tempat yang kami rekomendasikan bisa juga menjelajahi sendiri dan menyantap restoran random di tengah perjalanan. Bagaimana, berminat kah mencoba ketiga-tiganya?



Oleh: Bramantyo Indirawan

Like what you read? Give Qubicle Culinary your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Culinary

    Explore what happens behind the kitchen, what serves on the menu, and global F&B trends.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US