SopBuntutTersohordiSurabayayangWajibDicoba

June 24, 2019Qubicle Culinary
Telah berdiri sejak tahun 1957, Sop Buntut Ganefo menjadi tempat kuliner yang wajib kalian kunjungi di Surabaya

Truk-truk dengan aneka ragam muatan hilir mudik di kampung lama Surabaya utara. Kemacetan, serta riuh rendah perdagangan, menjadi pemandangan pasti masyarakat yang hidup di wilayah ini. Di sebuah celah sempit titik pertemuan antara kampung Tionghoa dan Arab itu, ada surga yang terselip pada sebuah lorong yang berada tepat di muka pintu keluar pasar Pabean. Bagian itu bernama Sop Buntut Ganefo, sebuah kedai makanan klasik yang menawarkan berbagai macam olahan daging, yang harus kalian coba bila berada di daerah itu.

Sop Buntut Ganefo telah berdiri sejak tahun 1957. Resep turun temurunnya membuat rasanya nggak berubah. Jourdan, adalah salah satu pelanggan setia yang pada hari mampir untuk makan siang. Ia, merupakan pembeli generasi ke-3, yang masih percaya bahwa untuk urusan Sop Buntut, depot Ganefo adalah ahlinya.

Lorong disulap menjadi tempat makan depot yang namanya terinspirasi dari semangat pasca revolusi ini (Foto: Qubicle)

“Dulu sejak Oma saya muda, kami selalu makan disini. Sampai orang tua saya, dan turun ke saya. Karena memang enggak ada lawan, sih. Sudah merasakan [Sop Buntut] semua restoran di Surabaya, tapi gak ada yang seenak ini,” ujar Jordan kepada kami sambil menyeruput kuah dari mangkuknya.

Tante Liem, pemilik generasi ke-2 telah menjalankan bisnis keluarga yang telah membesarkannya ini selama lebih dari empat dekade. Ia selaku pemilik, juga turut turun tangan dalam urusan memasak. Semuanya dilakukan agar pembeli tidak kecewa.

“Yang dipertahankan dari bisnis makanan adalah citarasa. Wah ya bisa bahaya kalau sampai kita lepas tangan, dan rasanya berubah. Makanya, untuk urusan memasak, saya mesti ikut campur,” katanya kepada kami.

Nama Ganefo dipilih oleh orang tua tante Liem untuk memperingati berdirinya usaha ini. Sop Buntut ini, berdiri bersamaan dengan sebuah ajang olahraga kaliber dunia tengah digelar di tanah air. Serta, nama Ganefo juga seolah menjadi penanda bahwa orang tua Tante Liem adalah seorang nasionalis tulen, yang mengidolakan sosok Soekarno—presiden Pertama Republik Indonesia, sekaligus pengagas perhelatan Ganefo.

Yang membuat citarasa sop buntut buatan depotnya berbeda dengan rumah makan lainnya, adalah pada proses pengolahan daging, dan pembuatan kuah. Untuk memilih daging yang sesuai misalnya, ia harus merendam ekor dari sapi itu minimal 12 jam, dalam air mendidih yang dicampur dengan perasan nanas. Serta, ia juga memiliki arak masak spesial, yang ia racik sendiri, untuk memberi citarasa yang berbeda pada kuahnya.

Semangkuk Sop Buntut Ganefo (Foto: Qubicle)

Campuran wortel berbentuk dadu dan kentang dengan rupa yang sama menambah kesedapan semangkuk sop buntut. Sebuah piring berisi potongan cabai yang mengambang diatas kecap manis, adalah sahabat setia dari sop buatan Tante Liem. Untuk menikmatinya, kalian harus menukarkan uang sebesar Rp 50.000. Namun jika ingin menambahkan sumsum, tambah 10 ribu.

“Kami tetap bertahan karena pengunjung kami juga terus beregenerasi. Yang menjadi masalah adalah, jika saya sudah tidak ada, bisnis turun-temurun ini harus berhenti. Karena, anak-anak saya sudah tidak ada minat melanjutkan depot ini,” tandasnya.

Selain menawarkan Sop Buntut, penyetan sumsum, iga, dan rawon buatan depot Ganefo harus kalian coba juga. Jika kalian tengah berkunjung ke Surabaya, depot Ganefo adalah sebuah destinasi kuliner yang wajib kalian coba!


Oleh: Samuel Christ

Editor: Elang Muhammad

Like what you read? Give Qubicle Culinary your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Culinary

    Explore what happens behind the kitchen, what serves on the menu, and global F&B trends.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US