MasihAdakahSeksismediKantor?

April 15, 2019Qubicle Fashion
Apakah tindakan seksisme masih sering muncul di kantor?

Dilansir dari Wikipedia, tindakan seksisme adalah tindakan diskriminasi atau prasangka terhadap seseoran tergantung jenis kelamin suatu individu. Mungkin kalau kita berimajinasi hidup di zaman Ibu Kartini, perlakuan yang membeda-bedakan karena terpaku jenis kelamin seseorang, mungkin menjadi salah satu motivasi untuk Ibu Kartini melawan sistem yang begitu dahulu kala. 

Lingkungan bekerja modern seharusnya sudah lepas dari yang namanya isu seksisme. (Foto: Pexels)

Di tahun 2019, bagi perempuan yang berkarier dan berpendidikan tinggi, tentu mengharapkan lingkungan profesional yang lebih bersahabat dengan perempuan. Nyatanya, dari hasil wawancara kami dengan beberapa cewek yang berkarier di beberapa kantor yang established di Jakarta, ternyata masih ada saja perlakuan yang kurang menyenangkan yang mereka alami di lingkungan kerja mereka.

*Nama yang digunakan dalam artikel ini merupakan nama panggilan guna menjaga privasi narasumber.

Astrid D (24) belum lama berkarier di dunia hukum. Ia baru lulus dua tahun lalu dari sebuah perguruan tinggi swasta. Diakuinya sampai sekarang ia masih belum paham dengan yang namanya office politic, “Sebenarnya, cewek itu banyak banget yang jadi lawyer. Tapi, kalau dibandingkan cowok, memang nggak banyak cewek yang bisa melaju sampai ke posisi senior maupun level partner. Biasanya memang kepentok di office politic itu.”

Kami pun meminta Astrid untuk lebih menjabarkan contoh office politic yang terjadi di kantornya, “Kalo yang senior associate cowok pasti akan lebih mudah mingle sama partner kalau ada acara kantor yang sampai malam. Sementara, senior associate cewek lebih memilih pulang karena harus mengurus anak. Somehow ini jadi sesuatu yang kurang menguntungkan. Acara kumpul-kumpul after office, atau sekadar menemani atasan lembur atau jadi yes man itu lumayan penting dalam menentukan posisi di kantor, sih. Karena yang aku perhatikan, acara kumpul-kumpul maupun ngabisin waktu bareng pas lembur itu jadi ajang buat diskusi karier juga. Jadi, ya… gitu deh,” terangnya.

Gita (29) punya cerita serupa, “Kalau di airline, kayaknya memang mayoritas laki-laki, ya? Kerjaannya aja muter-muter di hal yang berhubungan sama industri pesawat dan transportasi. Serius banget gitu. Sampai saat ini belum ada perempuan yang masuk ke dalam jajaran C-level. Di sini, cewek yang berhasil jadi “orang penting” cuma satu, itu juga level manajer, belum head. Itu juga masih sering “dikerjain” sama yang lain.”

Gita melanjutkan, “Ya, dikerjain kayak misalnya dia dijadiin bahan bercandaan yang nggak pantas. Padahal situasinya nggak jarang lagi meeting yang serius. Itu berarti kan head dan manajer yang lain nggak ada respect ke orang itu, ya? Sebagai cewek aku risih banget, rasanya mau bantu or I don’t know… stand up for her, tapi nyaliku masih ciut. Nanti pasti akan pindah ke aku!”

Selalu ada tendensi terhadap satu jenis kelamin dalam mengerjakan suatu pekerjaan. (Foto: Pexels)

Astrid mengaku dirinya belum mengalami langsung perbuatan nggak menyenangkan dari kaum mayoritas di kantornya, “Biasanya yang suka usil memang bapak-bapak yang sudah lewat 30 tahun. Kalau yang seumur aku, udah lebih educated kayaknya. Mulutnya lebih bisa dijaga. Sementara kalau generasi tua kadang suka menganggap kita, perempuan muda, sensitif dan nggak ngerti candaan. Atau kadang suka bercanda (tapi nggak lucu) kayak ‘Eh, ini kasus X, kayaknya si A aja yang handle, kalau B (cewek) nanti baper’ semacam itu.”

Devina yang juga berkarier di dunia hukum mengaku saking seringnya melihat dan mengalami sendiri perilaku sexist di kantornya, ia sudah punya trik jitu untuk menghindari hal tersebut, “Cowok yang masih insecure dengan keberadaan cewek, atau cowok yang masih suka kasih gap antar gender nggak akan paham kalau dibalas dengan omongan. Dinasehatin nggak akan mempan. Pasti akan dibilang, ‘Ah, kok nggak nyantai, sih?’ atau ‘Generasi kamu tuh nggak bisa diajak bercanda’, jadi aku selalu meminimalisir interaksi dengan manusia tipe ini. Kalau nggak ada perlu, aku nggak akan berada di dekat mereka. Menghadapi orang-orang seperti ini, positifnya aku jadi lebih terpacu untuk makin sukses di karierku. Nggak ada yang lebih memuaskan dari menangin kasus yang gagal di-handle mereka.”

Ketiganya kompak bilang kalau masih banyak cewek di kantor mereka yang justru menormalkan perlakukan nggak pantas dari laki-laki ke perempuan di lingkungan kerjanya. “Kadang sampai mikir, ‘Eh dia kan perempuan juga, masa dengar si bapak C bilang R ini itu, dia malah ikut ketawa dan nggak correcting the dude’s manner?’”, “But who am I talking to, aku juga masih belum berani terang-terangan nyetop dia. But one day, I will.”

Nggak semuanya di artikel ini berita buruk bagi perempuan. Di kantor Gita, ada nursery room yang baik dan terjaga fasilitasnya. Lalu, kadang divisi HR kerap mengadakan acara ‘Bring Your Kids to Work’ dengan menyediakan daycare dadakan. “Daycare itu sangat membantu, banyak temanku yang lebih lega kerjanya karena tahu daycare kantor ada di gedung yang sama dan hanya beda satu lantai. Apalagi kadang yang laki-laki bisa nyinyir soal working mom juga. Ini bisa jadi solusi pas.”

Aku sendiri pernah bekerja di lingkungan kerja yang didominasi laki-laki dengan median umur yang lumayan jauh. Memang butuh keberanian dari kita sendiri untuk bisa speak up apa yang kita accept dan apa yang kita nggak suka. Mengatur jarak bisa jadi salah satu solusi agar energi kita nggak habis kita pakai untuk meladeni ucapan orang lain.

Selama bekerja di perusahaan itu, aku belajar bahwa membangun support system sesama perempuan itu sangat penting, supaya lingkungan di kantor terasa lebih nyaman dan familiar. Bagaimana caranya kita sebagai perempuan harus bisa stand up for each other dan bagaimana kita sebagai perempuan juga bisa saling encourage each other, bukan termakan office politics. Ini perlu waktu, namun bisa kalian mulai dari teman dekat di kantor atau orang yang duduk di sebelah kalian.

Kejadian-kejadian di atas jauh dari kata ideal. Tapi, semoga dengan membaca artikel ini kalian jadi lebih sadar lagi bahwa perjuangan perempuan untuk bisa bekerja di lingkungan yang kondusif masih belum tuntas. Be the pioneer to change things to the better!

Kata Devina (26), “Tapi cewek-cewek hebat yang bisa naik sampai level manajerial juga nggak bisa lepas dari celotehan netizen di kantor. Semacam... ‘Pasti perawan tua!’ atau ‘Dia sih sukses, tapi pasti hubungan percintaannya kacau’. Jadi, sebenarnya dengan cewek bisa duduk di posisi yang terlihat nyaman pun sebenarnya nggak aman dari pihak lain.”

Well, bagaimana pun, manusia hanyalah manusia. Terlepas dari jenis kelamin dan diferensiasi yang terjadi setiap harinya, sebagai makhluk mortal, sering kali tidak bisa terlepas dari sifat dasarnya, judgemental. 



Oleh: CK

Editor: Delfania

Like what you read? Give Qubicle Fashion your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Fashion

    We deliver stories about style, fashion, and culture.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US