'Aquaman'BelumBerhasilJadiJuruSelamatDC

December 26, 2018Qubicle Film and TV
'Aquaman' memberikan banyak perhatian pada aspek efek visual tanpa memenuhi unsur-unsur esensial sebuah film.

Aquaman yang baru saja dirilis bulan ini bisa jadi juru selamat studio film DC—setelah Wonder Woman—kalau ia bersedia memberikan lebih banyak fokus pada pembangunan karakter daripada pemberian efek CGI yang kadarnya kami rasa berlebihan.

Aquaman bercerita tentang Arthur Curry, anak dari pasangan penjaga mercusuar dan seorang Ratu Atlantis. Cerita berfokus pada usaha Arthur dalam mencegah serangan koalisi Atlantis yang dipimpin oleh saudara tirinya, Orm, ke daratan.

Sama halnya dengan kebanyakan kisah tentang golongan elit di daratan, Atlantis yang terletak di bawah laut juga fasis. Bangsa Atlantis memandang rendah percampuran darah, orang-orang berdarah “kotor”—termasuk Aquaman—dipandang sebagai golongan inferior dan keturunan murni dianggap sebagai golongan yang memiliki privilese penuh atas kekuasaan.

Bicara tentang Aquaman, kami merasa bahwa kreator film terlalu sibuk memikirkan penempatan adegan di mana para jagoan berpose heroik setelah melakukan aksinya masing-masing. Adegan semacam ini tampil berkali-kali sampai kami tidak bisa hitung berapa jumlah kejadiannya. Selain kami memandang bahwa adegan seperti ini kurang memukau, rasanya ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan dan belum dipenuhi dalam film: pembentukan karakter setiap tokoh.

Di luar Jason Mamoa yang memerankan sang tokoh utama, Aquaman menderetkan aktor dan aktris dengan kemampuan akting serius: Amber Heard, Nicole Kidman, hingga Patrick Wilson. Namun, sumber daya tersebut dibiarkan tampil hampir-hampir mediocre tanpa memiliki karakter yang kokoh.

Hal ini patut disayangkan, karena Aquaman sebenarnya bisa jadi wakili figur  DC yang memiliki citra badass. Sebagai contoh, ia mengeluhkan salah satu aksi penyelamatannya karena khawatir jadi kelewatan jam happy hour di sebuah bar. Namun, rasanya pembangunan karakter badass ini terasa tanggung pada sisa film.

Aquaman menutup tahun 2018 yang kami anggap sebagai tahunnya film superhero. Namun, setelah menontonnya kami lebih memilih untuk menganggap bahwa rangkaian film superhero tahun ini ditutup oleh Spider-Man: Into the Spider-Verse yang memukau.


Oleh: Adam Bagaskara

Like what you read? Give Qubicle Film and TV your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Film and TV

    All of the latest film and tv.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US