AveMaryamHampirPenuhiSemuaSyaratSebuahFilmBagus

April 16, 2019Qubicle Film and TV
'Ave Maryam' adalah sebuah sajian visual hebat, hanya saja dialog dan ceritanya lemah.

Suster Maryam tidak pernah ragu dengan komitmennya untuk merawat para suster berusia lanjut di sebuah gereja Katolik yang terletak di Semarang. Menjelang usia 40 tahun, pandangannya goyah setelah Romo Yosef (Chicco Jerikho) yang dulu menghabiskan masa kecilnya di gereja tersebut datang kembali dan beberapa kali mengajak Maryam kencan. Maryam terjebak dalam sebuah dilema; keingkaran tampaknya menjanjikan sebuah kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ave Maryam bisa tetap menyeimbangkan kesederhanaan kisahnya dengan sajian visual yang mewah, Ical Tanjung yang pernah memenangkan kategori Pengarah Sinematografi pada Festival Film Indonesia (FFI) 2017 untuk Pengabdi Setan (2017) merupakan Director of Photography untuk film ini. Sudut pengambilan gambar, tone warna, hingga framing yang betul-betul dipikirkan menjadi kekuatan utama dari Ave Maryam.

Gambaran konflik utama 'Ave Maryam'. (Foto: Dok. Ave Maryam Movie)

Ave Maryam hampir punya semua hal yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat sebagai film yang baik. Aktor dan aktrisnya tampil dengan akting baik, ide ceritanya cukup unik, sajian visualnya luar biasa menggugah, musiknya pengiringnya tepat, bahkan detail-detail kecilnya unik; mulai dari hubungan baik para suster dengan seorang anak perempuan berkerudung bernama Dinda, hingga Romo Yosef yang menggemari musik dan berperan sebagai konduktor orkestra dan paduan suara gereja. Dalam sebuah adegan, sebuah detail apik muncul ketika Romo Yosef menyerahkan beberapa piringan hitam yang baru ia beli untuk didengarkan para suster lanjut usia.

Namun, sebuah unsur esensial absen dari Ave Maryam: dialog dan konflik yang dikembangkan terasa kaku bahkan dangkal. Ave Maryam adalah sebuah film yang atmosferik, dialognya minim hingga kami sempat menyangka di awal bahwa film merupakan sebuah film bisu. Selain itu, plot film juga cenderung melompat-lompat. Tentu tidak ada yang salah dengan dialog yang minim dan plot yang melompat, Ave Maryam tidak perlu dibebani dengan tanggung jawab untuk menjadi sebuah film dengan plot yang begitu jelas sehingga penonton bisa selalu memahami langkah dan maksud dari jalan ceritanya.

Salah satu contoh eksekusi sinematografi yang baik oleh Ical Tanjung. (Foto: Dok. Ave Maryam Movie)

Hanya saja, minimnya dialog seharusnya dijadikan alasan agar setiap kemunculannya dieksekusi dengan matang. Ave Maryam memunculkan beberapa dialog yang lemah, beberapa di antaranya bahkan membuat penonton lain meringis—karena geli—bahkan tertawa saat kami menontonnya di bioskop. Hal ini patut disayangkan karena dialogjadi terasa timpang dengan atmosfer hebat film. Jika kisah dan dialog dieskekusi dengan baik, Ave Maryam sangat mungkin menjadi salah satu nama yang pertama muncul di benak penggemar film ketika ditanya soal daftar film Indonesia terbaik di tahun 2019.

Adegan yang menampilkan puncak kehebatan atmosfer film. (Foto: Dok. Ave Maryam Movie)


Oleh: Adam Bagaskara

Like what you read? Give Qubicle Film and TV your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Film and TV

    All of the latest film and tv.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US