Notifikasi

    Bali Spirit Festival 2017: Jiwa yang Universal, Tak Mengenal Siapa

    oleh Sisca Guzheng Harp Festival. Kata itu membuat mataku berbinar.Bali. Perutku kini berisi kupu-kupu.Kopi Malabar di tanganku hampir habis.Kue cubit, tinggal segigit.Esok hari aku ke sana.Barang bawaan aku bereskan seperti tengah bermimpi. Pulau Dewata, menyimpan begitu banyak kisah masa remaja dan dewasa. Persahabatan yang tumbuh bagai padang bunga dafodil, namun mati kubasmi sebagai gulma. Demi lahan yang luas untuk sahabat yang lebih bermanfaat.Ada kisah cinta yang pernah mengakar, tapi tercerabut paksa. Aku masih bisa mendengar serabut akarnya menjerit, putus di mana-mana. Dicampakkan di bawah terik. Mati lemas. Meranggas. Air mata habis terkuras.  Gerbang Monkey Forest - Sisca Guzheng Harp/ Sorasoca  Ada pula kisah mimpi yang tetiba tumbuh pesat. Cita-cita yang awalnya sederhana, tapi lalu bercabang banyak. Besar dalam satu musim hujan. Tapi kemudian kering begitu saja, sebelum sempat berbuah. Daunnya berguguran. Ranting patah. Tali ayunan terkulai. Kusaksikan dulu, tanpa bisa apa-apa.Bali. Ke sana jugalah aku mengobati luka. Sekaligus mengenang semua. Tiap tahun, aku selalu kembali.Kamis sore aku sampai di Ubud. Bali Spirit Festival. Jumat pagi, jalan kaki sendirian ke Monkey Forest. Dulu di sana aku punya kisah cinta seperti pohon lebat, akar menjuntai. Teduh. Pori-pori penuh hidup, seperti lumut pada arca dan bata pura. Bergandengan, banyak tertawa, sementara logika hilang tanpa jejak.Aku duduk di pojokan kedai Kopi Bali House. Secangkir americana. Bayangan kekasih berkelebat depan pintu kaca. Di mana dia sekarang? Tersenyum pada siapakah?  Gong bath - Sisca Guzheng Harp/ Sorasoca   Tengah hari aku ke Bhanuswari Resort, tempat daytime activities Bali Spirit Festival. Lorong anyaman bambu… pintu menuju ruang dan waktu yang lain.Seorang perempuan pirang berdiri di belakang gong. Matanya menutup. Tangannya lurus terbuka. Satu perempuan lain memukul-mukul gong perlahan, dengan gerakan berputar. Gong bath. Dua pasang orang asing lain mengantri dengan sabar, sembari mengamati dengan takjub.Aku berjalan lagi. Di bundaran, seorang wanita paruh baya berpakaian gipsi bernyanyi lembut.  Di bahunya tergantung portable sound-effect yang membuat suaranya menjadi harmonik seperti gaya Enya. Tangan kanannya ke atas, dikatupkan pada telapak seorang wanita Asia. Sembunyi-sembunyi aku perhatikan, dengan saksama.Di lembah depan, sebuah tenda dari lingkaran rajutan dreamcatcher putih, menarik perhatianku. Suara musik yang… ajaib. Orang-orang duduk bersila, posisi meditasi. Di paling depan, dua musisi. Terdengar chord yang terus berulang (aku yakin baru dibuat langsung sebelumnya). Suara harmonium dan cello. Kedua alat itu tergeletak di panggung.Sound healing, hanya dengan sepasang musisi alat musik akustik dan seperangkat alat looping - Sisca Guzheng Harp/ SorasocaSi lelaki sekarang sesekali meniup suling. Si perempuan, bernyanyi lirik entah apa. Diselingi ajakan menarik napas, melepaskan pikiran. Tak ada yang seorang pun yang masih sibuk dengan ponselnya, apalagi selfie atau bergurau cekikikan macam remaja tanggung. Musik dan suara, benar-benar sederhana. Jauh dari sempurna secara teknis.Namun membuatku diam berdiri, dan menangis dalam sunyi…Begitu rindunya aku, ternyata, pada human connection. Ketika pikiran dan jiwa menjadi satu, tak peduli kamu siapa, darimana, mau ke mana, punya apa, agamamu apa…Di tenda pojok jauh tengah sawah, berbagai macam healing sound theraphy. Orang-orang berbaring. Seorang wanita paruh baya menggosok serangkaian mangkuk kristal sebesar periuk. Aku terlentang di pinggir, memandangi langit. Biru cerah. Pohon kelapa di sisi sawah. Suara tonggeret dari segala penjuru.Hening sekian lama, tanpa ada suara ponsel yang kelupaan dimatikan. Atau suara orang yang tidak bisa tidak, harus menjawab telepon. Rasanya… sukar dipercaya. Ahh.. Mengapa kini keheningan indah bersama-sama, adalah kemewahan langka?Coco Love, panggung lain dengan tenda merah muda, cerah menyolok mata. Sekelompok pemusik asing memainkan harpa kecil elektrik, bersama beberapa mbira (alat musik mungil Afrika, dari kayu atau batok kepala, dan bilah-bilah logam yang dimainkan jari), dan bass. Lagi-lagi musik sederhana, namun sangat enak menarik hati.Orang-orang duduk bersantai, sambil makan atau minum air kelapa. Ada yang duduk berangkulan, ada yang berpelukan. Beberapa menari-nari di depan panggung. Seorang lelaki berambut rasta berkeliling meniup buih sabun.Tidak ada properti yang canggih dan mahal, seperti di pesta pernikahan mewah yang biasa aku kerjakan. Tak ada makanan ala fine dining. Tapi sungguh orang-orang… merayakan hidup.Sepasang perempuan dan laki-laki duduk sila berhadapan. Dari jarak dua meter, aku memperhatikan. Tangan mereka bersentuhan. Saling berpandangan. Keduanya tersenyum. Lama. Seolah tak ada orang lain di sekitar mereka. Perlahan, keduanya berciuman...Hampir seribu wedding kiss yang kusaksikan selama 14 tahun bekerja sebagai wedding musician. Wedding kiss dengan latihan GR sebelum resepsi. Tak pernah ada yang menggores impresi.Tapi detik itu, di antara semilir angin dan wangi dupa, air mataku jatuh...The spirit is universal. Cherish the life!!Sound healing di tenda pojok, tengah sawah - Sisca Guzheng Harp/ Sorasoca

    Land Rover Khan Design – Si Ganteng Berhidung Panjang

    oleh DREAMRIDES Ini dia Land Rover Defender yang merupakan kreasi terbaru dari Khan Design dengan nama Flying Huntsman 105 Longnose. Dari namanya, mobil SUV tangguh ini memiliki ‘hidung’ atau kap mesin yang lebih panjang dari model aslinya. Alhasil dimensi panjang keseluruhan mobil ini bertambah 10 cm dari Defender pada umumnya.Selain kap mesin, beberapa bagian bodi juga turut diberi sentuhan oleh Khan. Sebut saja pemasangan flared wheel arches yang menciptakan ventilasi di setiap fender-nya. Lalu pada bagian grill di custom ulang agar beda dengan aslinya. Agar lebih kece, bagian lampu depan dipasang model LED serta pemasangan panoramic glass di bagian atap. Dibalik hidung panjangnya, tidak terdapat perubahan yang ekstrim. Khan Design memasang mesin diesel TDCI berkapasitas 2.200cc yang dipadu dengan transmisi otomatis 6 percepatan serta terdapat penyempurnaan pada sektor gas buang.Terakhir, terdapat beberapa perubahan pada sektor kabin yakni jok depan dan belakang yang bisa dipesan sesuai keinginan. Tidak hanya jok, beberpa bagian lain pada interior juga dapat dipesan khusus dengan bahan kulit Almadine yang dipadu dengan kain wool.Untuk harganya sendiri, mobil berwajah ganteng ini di banderol senilai 89,995 pounds atau sekitar Rp 1.5 milyar. Sumber: Carscoops

    BMW R1200R – Eddie 21

    oleh DREAMRIDES Glemseck 101 adalah suatu ajang balap drag/sprint berjarak 200 meter yang cukup bergengsi di kalangan builder motor di dunia. Ajang kompetisi yang dimulai sejak tahun 2005 ini banyak diramaikan oleh builder motor custom ternama, salah satunya VTR Custom dengan senjata andalannya, sebuah BMW R1200R yang diberi nama Eddie 21. Kuda besi bangunan terbaru VTR ini dibangun dengan konsep modifikasi yang terinspirasi dari motor balap AMA Kawasaki Z1000 milik pebalap legendaris asal Amerika bernama Eddie Lawson. Seperti apa modifikasinya?Diawali dari bodi, karena ‘mengacu’ pada bentuk bodi motor tahun 80an yang modelnya agak kotak, maka ada beberapa sektor bodi yang harus diubah. Salah satunya pada bagian tangki bensin yang masih menggunakan bawaannya, namun di-custom agar bentuknya lebih kaku. Begitu juga bagian buntut yang mengubah bentuk dan posisi jok standar. Setelah selesai, kedua bagian tadi di cat dengan warna emas berikut striping yang meniru Kawasaki sang pebalap. Tidak lupa untuk memasang number plate di depan lampu utama berikut nomer peserta yakni 21. Modifikasi dilanjutkan kepada sektor kaki depan dan belakang. Untuk bagian velg, VTR memilih Kineo yang dipesan secara khusus dengan ukuran R17 x 3.5 inci pada bagian depan dan 17 x 6 inci untuk bagian belakang. Karena konsepnya racing, pemilihan ban menggunakan model slick berlabel Bridgestone dengan ukuran 120/70-R17 pada bagian depan dan 200/55-R17 untuk bagian buritan. Agar handling lebih mantap, shock belakang bawaan diubah memakai produk dari Öhlins.Karena rencananya motor tersebut akan berpartisipasi pada ajang Glemseck 101 tahun ini, bagian jantung pacu perlu sedikit di-upgrade. Agar tenaga lebih sangar, pada bagian downpipe menggunakan Akrapovič Titan yang dipadu muffler berlabel Unit Garage.Lanjut ke ruang kendali, bagian setang terlihat clean karena hanya terdapat master rem dan kopling berlabel Magura HC3. Lantas dimana speedometer nya? Ternyata tertanam diatas tangki bensin. Terakhir ada bagian yang sedikit janggal pada bagian tengah setang, yakni sebuah tulisan “Amy Special”. Ternyata itu merupakan sebuah cermin kecil yang di desain khusus untuk sang pebalap, Amelie Mooseder kala memakai lipstick sebelum membesut motor ini di lintasan.Sumber: Pipeburn

    VW Bus Bertenaga Buas

    oleh DREAMRIDES VW bus merupakan salah satu mobil yang banyak digemari oleh berbagai kalangan. Mobil dengan bentuk bodi menyerupai roti tawar ini juga banyak di modifikasi di seluruh dunia. Dari mempertahankan tampilan orisinal, slammed, racing, hingga modifikasi radikal. Contohnya seperti yang dilakukan oleh seorang pria bernama Mike Rowan dengan VW Bus lansiran tahun 1963 kesayangannya ini. Disebut radikal karena Mike melakukan engine swap menggunakan mesin big-block Chevy 468 ci V8 dan memindahkan posisinya ke tengah kabin belakang. Dirasa tenaga masih kurang mumpuni, Mike menambah sistem nitrous yang dapat digunakan sebanyak 150 kali berikut transmisi otomatis Turbo 400.Kemudian lanjut ke bagian kaki-kaki, rear end dicomot dari Lincoln Continental yang di custom agar bisa memakai ban slick lebar. Kemudian front end menggunakan milik Astro Van lansiran tahun 91. Terakhir untuk meraih tampilan ‘rebah’, Mike memasang suspensi udara.Di klaim dari situs Engine Swap Depot, VW Bus ini sempat mencatak waktu 12.2 detik pada lintasan drag sejauh 402 meter. Dan yang paling mengejutkan, Ternyata VW ini dibangun hanya dalam waktu 6 minggu dan merupakan kendaraan harian Mike yang dipakai kemana-mana. Gokil.Sumber: 1320video
    Memuat