Notifikasi

    APA ITU QUBICLE?

    Pesan Perjuangan Kartini dari Musik Gamelan  

    oleh Music Life “(Gamelan) menuangkan arus api ke dalam nadi-nadi kami” (Surat, 20 Agustus 1902, kepada Nyonya Nelly van Kol).Begitulah pandangan Raden Ajeng Kartini─perempuan yang lebih dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan Indonesia─terhadap alat musik tradisi Jawa, gamelan. Bunyi gamelan, diakui Kartini, membuatnya tak kuasa untuk menari.Kartini di dalam buku-buku sejarah, memang lebih dikenal sebagai pahlawan nasional yang gigih mendobrak tradisi kolot dan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Namun, dalam buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan mendapati Kartini yang sedikit berbeda. Ya, Kartini yang bak seorang kritikus dan musikolog. Meski, menurut Pram, di lapangan musik Kartini lebih tepat disebut hanya seorang penikmat. Gamelan dan Gending GinonjingSebagai seorang penikmat, tafsiran Kartini terhadap musik menurut saya luar biasa, dan melintas zaman. Tak jarang, kegemarannya mendengarkan alunan gamelan ia simbolkan sebagai api perjuangan. Pengalamannya mendengarkan gamelan, kerap ia sampaikan melalui surat kepada teman-teman Belanda-nya. Simak saja surat Kartini kepada Estelle Zeehandelaar pada 12 Januari 1900 berikut ini:“Gamelan kaca di pendopo itu dapat bercerita lebih banyak daripadaku. Mereka sedang mainkan lagi kesukaan kami bertiga. Itu lebih tepat bila dikatakan bukan lagu, bukan melodi, hanya nada dan bunyi, begitu lunak dan begitu lembut, bertingkah, dan menggetar campur aduk tanpa tujuan, membubung, tetapi betapa mengharukan, betapa mengharukan indahnya! Tidak, tidak, itu bukan bunyi-bunyian dari gelas, atau kuningan, atau kayu yang membubung di sana itu; itu adalah suara yang keluar dari jiwa manusia, yang bicara pada kami itu, sebentar mengeluh-ngeluh, kemudian meratap, dan kadang saja tertawa. Dan jiwaku sendiri melayang bersama dengan gemercik suara peraknya yang suci itu ke atas, ke langit biru, ke mega kapas, ke bintang-gemintang gemerlap; bunyi-bunyi bas yang dalam membubung ke langit, dan bunyi-bunyian itu membawa aku menelusuri lembah-lembah dan lurah-lurah gelap dan dalam, melewati hutan-hutan yang lengang, menerobosi belantara yang tak tertembusi! Sedang jiwaku gemetar dan meriut ketakutan, kesakitan, dan dukacita!”Begitu puitis apa yang ditulis Kartini tentang suara gamelan yang didengarnya. Ia bisa membayangi dirinya melayang bersama ke langit. Namun, ia akhirnya harus menelusuri segala hal yang muram. Gamelan, bagi Kartini adalah suara yang keluar dari jiwa manusia, bukan suara benda. Membayangkan seorang perempuan di awal abad ke-20 memberikan interpretasi soal suara gamelan setajam ini tentu saja luar biasa.Namun, bagi saya, ada semacam makna simbolik dalam interpretasi Kartini tadi. Di akhir kalimat, ia mengatakan “Jiwaku gemetar dan meriut ketakutan, kesakitan, dan dukacita.” Mungkin saja, ia sedang membicarakan dirinya yang terkungkung budaya feodal Jawa saat itu. Saat itu, usia Kartini 21 tahun (lahir pada 1879). Sejak usianya masih 12 tahun, ia dan kedua adik perempuannya dipingit, menunggu lamaran. Pada 12 November 1903, Kartini baru menikah dengan Bupati Rembang, KRM. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Saya menduga, Kartini sedang menggambarkan dirinya sendiri yang berada dalam rantai tradisi pingit.Pengalaman musik lainnya adalah ketika Kartini mendengarkan gending ginonjing. Kartini dan adik-adiknya sangat menyukai gending ginonjing. Menurut St. Sunardi, ginonjing berasal dari kata "gonjing" (goyah karena tidak seiinbang) dengan sisipan "in" (menyatakan ketidaksengajaan). "Ginonjing" berarti goyah tanpa tahu siapa yang membuat posisi tidak seimbang itu. Ginonjing bisa berarti pengalaman kehilangan gravitasi sehingga orang tidak bisa lagi mengendalikan dirinya (Kalam, nomor 21, 2004: 23).Sementara, menurut penulis asal Jepara yang menjadi orang kepercayaan keluarga Kartini, Hadi Priyatno, gending ginonjing merupakan nyanyian pengantar tidur yang kerap dialunkan ibunya, Ngasirah. Lagu itu mengisahkan seorang ibu yang sedang menimang-nimang anaknya dan berharap kalau besar berguna bagi bangsa (Khoiri, Agniya, “Kartini Bukan Hanya Pahlawan Emansipasi” dalam CNN Indonesia, 21 April 2016).Terkait gending ginonjing, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon pada 12 Desember 1902, Kartini menulis sangat pesimis:“Sudah pada nada-nada permulaan dari bagian pembukaan itu aku sudah hilang lenyap tenggelam, bila ginonjing itu terdengar olehku. Tak mau aku dengarkan lagu yang sayu itu, namun aku harus, harus dengarkan pada suara-suaranya yang berbisik-desah, yang bercerita padaku tentang masa lalu, tentang hari depan, dan seakan nafas suara-suara keperak-perakan yang menggetar itu meniup lenyap tabir yang menutup kegaiban hari depan. Dan sejelas halnya dengan masa kini beraraklah gambaran-gambaran hari depan di hadapan mata batinku. Maka menggigillah aku, bila sampai olehku gambaran-gambaran sayu-gelap muncul di hadapanku. Tak mau aku melihatnya, tapi mataku itu tinggal terbeliak lebar, dan pada kakiku menganga ke dalam jurang yang terbitkan gamang, tapi kalau kutebarkan pandangku ke atas, terbentanglah di sana langit biru muda di atasku dan cahaya matari yang keemasan bermain-main dengan mega-mega putih dan di dalam hatiku kembali terbit terang!”Bagi St. Sunardi, tafsiran Kartini terhadap gending ginonjing sangat muram. Menurutnya, Kartini seolah tak ingin melihat masa lalu dan masa depan. “Zaman lama harus ditinggalkan namun dia tidak mempunyai kekuatan untuk membiarkan dirinya menjadi rahim bagi zaman baru. Ginonjing seakan menjadi paku yang membuat Kartini termangu tak bergerak,” tulis St. Sunardi dalam artikelnya.Musik BaratDalam artikel di buku Gelap-terang Hidup Kartini (2013) berjudul “Kisah Daun Semanggi van Jepara”, Kartini pun gemar bermain musik Barat. Selama enam tahun dalam pingitan, Kartini bersama dua adiknya, Roekmini dan Kardinah, menghabiskan waktu dengan membaca, menggambar, dan melukis, membatik, memasak, dan berbicara dalam bahasa Belanda. Satu lagi yang mereka lakukan bersama adalah bermain piano.Tak heran jika Kartini pun terpapar musik Barat. Hal itu wajar, bagi dirinya yang berasal dari kaum priyayi Jawa. Ia juga bergaul dengan teman-temannya yang berasal dari Eropa. Selain bermain piano, paparan musik Barat lainnya adalah ketika ia menghadiri sebuah konser musik. Ia ceritakan pengalamannya itu kepada Nyonya Nelly van Kol pada 29 Agustus 1902, sebagai berikut: “Aku terkenang pada suatu malam belum lama berselang. Seorang kenalan membawa kami berdua mengunjungi sebuah konserta di gedung kesenian di Semarang. Itulah buat pertama kali dalam seluruh hidup kami, bahwa kami berdua, tanpa membawa si adik, tanpa Ayah, tanpa Ibu, berada di tengah-tengah lautan manusia. Kami berasa sendiri, sangat sendirian di antara orang-orang yang sama sekali tak kami kenal. Dan tiba-tiba kami berpikir: Beginilah bakalnya hidup kita di kemudian hari! Kita hidup seorang diri di tengah-tengah lautan kehidupan yang besar!”Kartini seperti bisa memprediksi masa depan. Ia merasa terasing dikeramaian acara musik itu. Saat itu, di tengah semakin maraknya musik Barat, musik tradisi seolah tersingkir. Dunia terbalik. Orang asing lebih ingin belajar musik tradisi kita. Sedangkan kita, lebih mengagungkan musik dari luar negeri. Tulisan Kartini, seakan-akan menafsirkan, ia tak menikmati musik yang ramai itu. Ia lebih mencintai gamelan, yang alunannya bisa membawanya terbang ke langit. Sedangkan dalam riuhnya musik Barat, ia teralienasi. Oleh Fandy HutariPenulis lepas, peneliti sejarah. Tinggal di Jakarta. Blog: www.fandyhutari.com

    Jazz Catchy Kartini Masa Kini

    oleh DREAMRIDES “Arti mobil ini buat gue lebih kayak pacar ya, soalnya kalo gue lagi sedih ya gue pasti jalan-jalan sama dia. Kalau mau kebut-kebutan di sirkuit juga bisa. Dan gue punya kepuasan tersendiri juga kalo ini mobil bisa gue dandanin jadi ganteng,” sebut Tasa Saputri, seorang Kartini masa kini yang merupakan seorang drag racer. Sebagai seorang wanita, taste Tasa dalam memodifikasi Honda Jazz GK5 kesayangannya patut diacungi jempol. Simple, fungsional dan bertaburan komponen berkelas menjadikan Jazz lansiran tahun 2015 ini terlihat catchy. Simak cerita Tasa tentang mobilnya pada video di bawah ini.

    Tipsilisasi - Ngasih Bunga ke Pacar

    oleh Hoopla Selamat datang di Tipsilisasi...Tipsilisasi kali ini sangat berguna disaat long weekend seperti ini, karena mungkin kalian atau pacar kalian atau gebetan atau pacar simpenan kalian adalah orang yang sibuk dan tidak punya waktu selain weekend untuk bertemu. Jadi gunakan lah kesempatan long weekend ini untuk memberikan sedikit perhatian lebih, seperti mengajak jalan atau paling tidak datang ke rumahnya dan berikan sedikit surprise dengan membawa bunga, karena wanita itu makhluk yang special jadi berikan pula hal-hal yang special!!Gunakan tips ini....

    BMX & Ksatria Hampir Baja Hitam 2 "Spoiler"

    oleh SportsGear Setelah sukses pada eps 1 "BMX & Ksatria Hampir Baja Hitam" Akhirnya yang ditunggu-tunggu BMX & Ksatria Hampir Baja Hitam 2 akan rilis pada bulan ini. Kita datang dengan lebih ekstrim, lebih lucu, lebih gokil, lebih romantis, lebih dan lebih...lebih...Yang spesial pada episode ini,  Ksatria Hampir Baja Hitam berkolabolari dengan "Sweet Aliens". Mereka adalah 2 orang youtuber yang memberikan konten-konten sketsa lucu pada youtube chanelnya.Nah sekarang sports gear bakal kasih sedikit spoiler dari "BMX & Ksatria Hampir baja Hitam 2 ini. Ksatria Hampir Baja Hitam sangat galau dengan asmara yang dilandanya, maklum Ksatria juga manusia,  jadi bisa juga dia galau. Lanjut ya...dengan berlatih bmx Ksatria mencoba melupakan semua galaunya dan bmx tempurnya, ksatria kembalikan kepada pemiliknya yaitu"gadis yang mengkhianati hatinya" terlalu pahit kalau terus disimpan.Itu tampilan bmx barunya Ksatria hampir Baja Hitam 2BMX baru aja udah ksatria dapetin, masa kekasih baru gak ksatria dapetin sih ? Akankah Ksatria Hampir Baja Hitam menemukan kekasih baru ? dan apa yang dilakukan "Sweet Aliens" pada Ksatria Hampir Baja Hitam pada episode kali ini !!! Jangan sampe ketinggalan ya guys...BMX & Ksatria Hampir Baja Hitam 2 di Sports Gear. YOU MUST SEE !!!Facebook : Sportsgearqube | Twitter : @sportsgearqube | Instagram :sportsgearqubeYoutube : Sportsgear
    Memuat