4LaguIkonisdariBandPost-PunkSurabaya

August 07, 2019Qubicle Music
Gaya musik post-punk banyak diadopsi oleh band-band kancah arus pinggir Surabaya saat ini. Berikut beberapa lagu mereka yang cukup ikonis.

Mendefinisikan post-punk bisa berarti era pasca kegairahan punk 70-an yang meletup-letup. Band yang mungkin paling mentereng di masa ini mungkin adalah Joy Division—yang mendefinisikan ulang ramuan punk menjadi lebih gelap, hawa murung, dengan tema-tema individual seperti depresi; tendensinya bukan lagi memaki soal ketidakberesan di luar sana, tapi lebih melihat ke dalam dan berbicara soal diri sendiri yang juga sama berantakannya . Ini seolah menolak kredo punk sebagai antitesis segala bentuk kemapanan yang berhaluan sosial, meskipun post-punk sendiri pada akhirnyajuga bisa disebut antitesis yang mungkin paling ekletik dari punk itu sendiri. Racikan Joy Division yang dimotori Ian Curtis bahkan masih bisa dirasa sampai sekarang, meskipun sesudah Curtis wafat, personel Joy Division tersisa menjadi semakin cerah dan berevolusi menjadi new wave, serta berganti nama menjadi New Order.

Kemurungan ini sampai pula di Surabaya, kota musim kemarau yang sebenarnya lebih pas untuk memainkan musik cadas tanpa ba-bi-bu. Tapi sekali lagi, post-punk adalah antitesa. Surabaya dengan gairah panasnya nyatanya juga menyimpan banyak kesedihan. Inilah yang jadi bahan bakar utama dari lagu-lagu paling ikonis dari band-band post-punk Surabaya berikut. Menariknya, beberapa lagu berikut justru lahir dari band yang tidak pernah mengklaim gaya musiknya sebagai post-punk. Ada banyak fusi, campuran, dan utak-atik dari berbagai genre, tapi tetap mengeluarkan hawa murung post-punk yang kental.

Karena terbatasnya pendengaran di antara seabrek nama yang bermunculan beberapa tahun belakangan di kancah arus pinggir Surabaya, berikut beberapa band serta lagunya yang menurut kami patut disimak secara mendalam.

Cotswolds - "Spectrum of Our Time"

Kuartet menjanjikan asal Surabaya, Cotswold. Tedy, vokalis mereka [kedua dari kanan] wafat pada bulan Mei lalu. (foto: dok. Cotswolds)

Cotswolds sejak awal memang sudah memutuskan menjadi band post-punk. Terasa sejak single "European Ocean” dilempar, dan jadilah tren Curtis-esque kembali menyeruak di kancah Surabaya. Tadius, album ambisius yang dilempar Cotswolds pada 2018 silam seolah semakin memperkuat posisinya sebagai band post-punk yang memesona. Salah satu trek andalan di Tadius adalah “Spectrum of Our Time”, yang menggabungkan kegelapan, nyala vokal berlapis-lapis, dan muatan lirik yang liris. Tak ayal, meski Tedy, vokalis Cotswolds telah berpulang pada Mei tahun ini, Tadius tetap membekas dan jadi corak biru yang memukau.


Baragula – “Losing Streak”

Baragula, band yang bisa dibilang menyandang status cult dan hampir mitos di kancah musik Surabaya. (foto: dok. Baragula)

Sebagai band yang cukup dikenal dan bahkan mungkin sudah meraih status cult, Baragula mengemas post-punk dengan warna vokalis perempuan—yang hebatnya tak terdengar seperti tipikal gothic punk dan sejenisnya. “Losing Streak” entah diambil dari album, single, atau EP yang keberapa, karena Baragula, sekali lagi dalam perbincangan di dalam kancah sendiri, hampir mendekati mitos. Hawa-hawanya jelas mengambil dari yang dipertuan agung Ian Curtis dkk, untuk kemudian dilebur sedikit lebih melodius, menyesuaikan dengan suara hangat si vokalis. Lagu yang sempat dibawakan di serial gigs Thursday Noise-nya Jimi Multhazam ini adalah bukti bahwa Baragula memang benar-benar ada.


Klepto Opera – “Ode Untuk yang Tersisa”

Klepto Opera, nama kugiran dari kancah musik kota Pahlawan. (foto: dok. Klepto Opera)

Dengan vokalis baru Dimas Narko Utomo, Klepto Opera yang memang cenderung berhaluan grunge dan noise rock, menjadi lebih muram dalam balada ini. Mungkin post-punk atau apapun itu tak bisa memagari genre yang dianut kolektif yang pernah benar-benar berjaya di era 90-an ini. Tema kematian salah satu personel dan duka kehilangan menjadi nyawa dari lagu "Ode Untuk yang Tersisa“ ini. Benar-benar syahdu dan secara terukur, berhasil merekam kesedihan itu dalam bentuk yang paling nyaring. Sekali lagi ini mungkin bukan lagu post-punk, tapi sialnya pendengaran ini selalu saja memaknainya sebagai salah satu ode post-punk paling jujur yang pernah dicipta dalam kancah.


Dopest Dope – “Sleeping Terms”

Dopest Dope adalah salah satu nama yang menyeruak dari Surabaya saat ini. (foto: dok. Dopest Dope)

Dopest Dope adalah salah satu produk kancah Surabaya yang paling bergengsi. Berdiri di era 2010-an ke atas, yang dalam geliat musik Surabaya adalah era penuh eksplorasi dan muatan ide berlebihan, membuat Dopest Dope tak segan mencampurkan ragam musik yang tidak hanya berpatokan pada alternative rock sebagai genre utamanya. “Sleeping Terms” yang jadi salah satu nomor bernas di album Close to Death, jelas perlu diperhatikan. Mungkin tak sepenuhnya post-punk karena ada banyak ingar-bingar 90-an di sana. Tapi bayangkan begini: sound kering, lirik yang rapuh, dan kemuraman post-punk khas 80-an, seolah bisa membuat „Sleeping Terms“ bisa jadi sarana gundah gulana yang masyhur.


Oleh: Samuel Christ

Editor: Yogha Prasiddhamukti

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Music

    We found it's important to give people on good music whether they're made by established musicians or newcomers.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US