‘TealAlbum’:PaduanSeleraHumordanAjakanNostalgia

February 11, 2019Qubicle Music
Dengan segala spontanitasnya, Weezer mengajak semua orang nostalgia dadakan, dengan rilisan teranyar mereka, 'Teal Album'.

Weezer - Teal Album (Atlantic Records, 2019)

2,5 / 5

Beberapa waktu belakangan, Weezer mengeluarkan album dadakan yang tidak saya antisipasi. Ketika mengetahui berita soal perilisan album ini untuk pertama kalinya, saat saya sedang berada dalam bus Transjakarta menuju kantor, saya cukup terkejut. Pasalnya, Weezer merilis Teal Album—album yang saya maksud ini—di tengah-tengah persiapan mereka merilis Black Album; yang rencananya akan keluar Maret mendatang. Teal Album sendiri adalah album penuh kedua belas dan album self titled—yang akrab disebut dengan nama sesuai warna sampul albumnya—Weezer sepanjang kuartet ini berdiri. Namun, alih-alih berisi lagu-lagu bikinan mereka sendiri, Teal Album adalah rilisan yang berisi cover version a la Rivers Cuomo dkk dari greatest hits masa lampau, seperti “Africa” dari Toto sampai “No Scrubs” dari trio TLC.

Sebenarnya, kalau mau ditarik asal-usulnya, sepertinya “keisengan” Weezer membuat cover version lagu-lagu tempo dulu di Teal Album dimulai dari tahun lalu, disaat cuitan akun Twitter bernama @weezerafrica, yang kayaknya pengen banget band idolanya menyanyikan ulang lagu legendaris dari Toto tersebut, menjadi viral. Pendek cerita, Weezer menjawab “tantangan” tersebut, dan voila! nggak cuman cover-an satu lagu doang sesuai rikues, Weezer malah merilis satu album penuh berisi cover-cover lagu lainnya.

Bagi saya, yang menarik dari Teal Album adalah hal berikut ini. Weezer adalah band rock, tetapi perilisan album Teal Album semacam sedikit “menyimpang” dari mentalitas band rock. Biasanya band rock melakukan apapun dengan basis kemauan mereka sendiri, namun kali ini Weezer ngasih apa yang orang-orang mau; mereka playing along dengan ide dan mentalitas kultur pop. Untungnya, hasil dari Weezer meladeni permintaan publik tersebut nggak cuman berujung sensasi belaka. Kurasi lagu-lagu yang dibawakan ulang oleh Weezer di Teal Album bisa dibilang menarik, datang dari berbagai era musik.

Di Teal Album, Weezer punya cara yang baik dalam memancing pendengar. Mereka memainkan intro lagu-lagu di album ini yang akan menimbulkan rasa “Ini pasti lagu yang itu kan” ke para pendengar. Setelah mulai mendengarkan lagunya dan siap untuk bernostalgia, giliran sentuhan rock dari Weezer yang kita kenal selama ini masuk; entah dari karakter vokal Rivers Cuomo maupun sound gitar mereka yang identik dengan band ini. Semua lagu disini diolah dengan cara yang cukup Weezer.

Saya akui, bahwa saya sangat menikmati album cover yang menyenangkan ini, walaupun ada beberapa lagu yang saya kurang srek, seperti “Paranoid” dari Black Sabbath. Saya sangat suka dengan lagu aslinya, tapi di rendisi Weezer kali ini, rasanya lagu ini seperti terburu-buru dan kurang khusyuk, jadi rasanya seperti imitasi yang kurang tepat. Di lagu “Billie Jean”, perasaan saya rada nyampur, karena walaupun saya suka dengan lagunya, saya merasa sedikit tergelitik dengan Cuomo yang mencoba untuk mereplikasikan ad-lib dari Michael Jackson. Saya juga merasa bahwa mereka memainkan lagu ini dengan selera humor yang ironis, meskipun ujung-ujungnya saya juga tetap menikmatinya. Begitu juga untuk versi ulang dari “Mr. Blue Sky”-nya Electric Light Orchestra, yang kedengeran tanggung. Aslinya, lagu ini punya atmosfer yang quirky dan fun, tetapi versi cover-nya Weezer semacam kurang mereplikasi feel itu.

Lagu-lagu yang menurut saya yang menjadi kunci di album ini adalah tentu saja “Africa”, kemudian “Everybody Wants to Rule the World”, “Take On Me”, dan “No Scrubs” yang bisa mereka ramu dengan baik. Tidak banyak yang bisa membawakan ulang “Africa” dengan mantap, Weezer jadi salah satu yang sedikit tersebut.

Tentu saja, satu hal yang paling menarik dari Teal Album adalah bagaimana cara Weezer menanggapi hal viral dengan “kekonyolan” dan selera humor khas mereka sebagai musisi; benar-benar mewujudkan ke dalam sebuah album. Sekalian saja daripada cuma sensasi belaka. Cara bersenang-senang yang “serius” di era internet dan bagaimana menunjukan pesona mereka sebagai bagian dari budaya pop. 


Oleh: Nugie Rianto

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Music

    We found it's important to give people on good music whether they're made by established musicians or newcomers.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US