WEEKLYPLAYLIST:MingguKeduaBulanFebruari

February 14, 2019Qubicle Music
Merayakan bulan penuh kasih sayang, selama sepekan terakhir kami memutar terus lagu-lagu cinta kancah alternative yang selalu jadi favorit.

Setiap minggu, tim editorial kami nyoba ngumpulin 5 lagu teratas dari sekian banyak yang wara-wiri di telinga kami sepekan belakangan. Dari musisi serta band lokal hingga nama-nama mancanegara yang paling kami gemari, berikut pilihan versi kami yang berhasil masuk WEEKLY PLAYLIST edisi kali ini. Nggak lupa, kami juga menyertakan alasan mengapa lagu-lagu ini menjadi yang paling menarik perhatian

1. The Jesus and Mary Chain - “Happy When It Rains”

Kadang-kadang, kalian pasti memiliki lagu yang sudah ada di kepala maupun benak kalian yang ingin kalian putar ketika mengalami sebuah momen atau keadaan tertentu. Bagi kami, lagu tersebut adalah “Happy When It Rains”; lagu yang selalu ingin dan akhirnya kami dengarkan ketika di luar sedang hujan, seperti yang terjadi beberapa waktu belakangan di Jakarta. “Happy When It Rains” dari album Darklands adalah salah satu karya musik terbaik yang pernah dirilis oleh grup noise pop seminal The Jesus and Mary Chain—kalau bukan, menurut kami, salah satu lagu cinta terkeren yang pernah hadir di kancah musik alternative. Semua lini berpadu dengan sangat pas dan manis; dari lirik sentimentil—yang ditulis dengan diksi dan sudut pandang yang tidak biasa namun bisa disampaikan dengan lumayan sederhana, alur lagunya, musik melodius dengan sensibilitas pop yang tinggi, dan detail petikan gitar William Reid di chorus. Vokalis Jim Reid menyanyikan “Happy When It Rains” dengan gaya vokalnya yang khas penuh kegetiran, namun semuanya dilakukan dengan penuh rasa. Hangat dan langsung mengena. Tidak ada yang bisa menolak betapa charming-nya bagian ini ketika dinyanyikan, “But something about you felt like pain, you were my sunny day rain, you were the clouds in the sky, you were the darkest sky, but your lips spoke gold and honey, that's why I'm happy when it rains, I'm happy when it pours.” Mereka semacam menulis lagu yang sepertinya adalah lagu soal perasaan cinta yang rumit, namun kedengeran optimis dan uplifting. Kami tidak bisa menghitung sudah berapa kali kami mengulang lagu ini selama seminggu terakhir, atau bahkan sejak pertama kali mendengarkan lagu ini beberapa tahun silam.


2. Morfem - “Senjakala Cerita”

Kalau ngomongin lagu cinta paling menyentuh yang pernah muncul dari kancah musik lokal Indonesia, kami bakalan langsung milih “Senjakala Cerita”-nya Morfem sebagai salah satunya. Bisa dibilang lagi, kayaknya “Senjakala Cerita” adalah lagu terfavorit kami di album Hey, Makan Tuh Gitar! yang keluar 2013 lalu. Lagu ketiga di album penuh pertama Morfem itu semacam merupakan lagu perdana mereka yang punya pengaruh shoegaze yang kuat. Lagu ini punya atmosfer yang lumayan berbeda dari karya-karya Morfem lainnya yang lebih menghentak. Mereka mengombinasikan kekuatan musik mereka yang berkarakter dan kuatnya penulisan lirik dari sang vokalis, Jimi Multhazam. Lagi-lagi, Jimi berhasil melakukan apa yang selama ini dia selalu lakukan dengan sangat cemerlang; menulis lirik bahasa Indonesia yang lugas dan tanpa basa basi. Menulis apa yang pengen ditulis secara gamblang. Kisah soal pertemuan dua orang dan keadaannya ketika itu terjadi dikisahkan oleh Jimi seakan dia sudah melewati pengalaman tersebut. Siapapun yang mendengarkan pasti akan larut ke dalam liriknya, ngebayangin gimana jalinan adegannya—uniknya walaupun kemudian digambarkan dengan jelas di musik videonya, lirik “Senjakala Cerita” tetap bisa ngehasilin adegan yang berbeda di kepala tiap-tiap pendengarnya. Ini adalah keunggulan lagu ini, “lagu cinta” yang menurut kami nggak akan basi diputar sampai kapanpun. Tentu saja, ditambah dengan paduan ketukan drum dan riff gitar yang membuat lagunya terdengar makin melankolis, belum lagi bagian melodi Pandu Fuzztoni yang luar biasa manis.


3. Barefood - “Amelie”

Setelah mini album Sullen, kami selalu yakin kalau Barefood bakalan bisa bikin lagu cinta yang sama-sama, atau malah lebih keren. Ketika ngedengerin Milkbox, album perdana band ini, keyakinan kami terbukti. Salah satu yang paling menyentuh sekaligus menyenangkan adalah “Amelie”, lagu yang mengingatkan kami dengan apa yang membuat kami begitu ngefans sama band-band alternative pop 90-an seperti Teenage Fanclub, The Lemonheads, dan semacamnya. Mengalun sedang, “Amelie” ngegambarin bagaimana tulus juga naifnya kisah cinta muda-mudi yang sedang berbunga-bunga dan penuh harapan. “Our love is fun, I hope it will long last, like tattoo in your arm,” bunyi liriknya. Aransemen lagu yang effortless dengan petikan melodi gitar dimana-mana yang renyah adalah faktor lain yang ngebuat lagu ini nempel banget. Lagu yang kami setel terus menerus selama seminggu terakhir.


4. The Adams - “Konservatif"

“Konservatif” harusnya sudah menjadi lagu yang wajib masuk daftar-daftar lagu cinta lokal sepanjang masa. Lagi-lagi, penulis liriknya adalah Jimi Multhazam. Lagu yang populer sejak The Adams menjadi salah satu nama pengisi lagu tema film Janji Joni tahun 2005 silam ini masih bikin kami merinding sampai saat ini, sejak ketika mulai mendengarkan intronya. Semacam otomatis tahu bahwa selama hampir 5 menit ke depan akan hanyut dan dibawa masuk ke dalam lagunya. Kami nggak bisa nggak ikutan menyanyi atau sekadar bergumam mengikuti lirik paling jempolan yang pernah kami tahu. Jempolan karena kalian nggak perlu benar-benar berusaha untuk memahami bagaimana suasana yang digambarkan di lirik lagu ini; petang hari di Jakarta, kencan sederhana—yang mengarah ke konservatif karena asumsinya ada aturan waktu kunjung dimana lewat jam 9 sudah dianggap larut—yang diisi dengan obrolan menyenangkan dan suguhan minum ala kadarnya. Yang menarik, kesederhanaan lirik tersebut juga mengungkapkan hal lain bahwa lagu ini adalah tentang kencan menyenangkan yang tidak akan terlupakan sampai ke setiap detailnya, yang setiap detiknya benar-benar dinikmati. Bukankah itu wujud dari sebuah kencan yang berhasil dan perasaan saling mengasihi yang apa adanya?


5. Nick Cave & The Bad Seeds - “Into My Arms”

Tidak hanya karakternya, suara vokal Nick Cave menurut kami adalah salah satu yang paling karismatik sepanjang sejarah musik. “Into My Arms” merupakan balada cinta favorit kami yang dinyanyikan oleh Nick Cave dengan sepenuh hati. Dirinya cuman butuh dentingan piano dan suara bass akustik untuk menemaninya mengungkapkan perasaannya yang sedang suram. Ini adalah semacam lagu cinta yang dibuat ketika patah hati, dan itu yang membuat “Into My Arms” menjadi menarik. Kepasrahan dan ketidakseganan untuk menjadi vulnerable karena kepercayaan akan suatu hal yang bernama kasih atau cinta adalah inti dari lagu ini. Kalau kalian mencoba untuk tidak menitikkan air mata atau merasa emosional ketika mendengarkan lagu ini dengan khusyuk, kami hanya bisa bilang, “Semoga sukses”.


Oleh: Yogha Prasiddhamukti

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Music

    We found it's important to give people on good music whether they're made by established musicians or newcomers.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US