Notifikasi

    MusicLife

    oleh
    500 Pengikut
    556 Konten
    Capture the essence of a good music. Alternative solution for your musical interests. Anthems for the now generations. Mail: music.life.indonesia@gmail.com I Twitter: @MusicLifeID I Instagram: @MusicLifeID I Facebook: MusicLife

    Record Store Day : Merayakan Hari Rilisan Fisik Musik Dunia

    oleh Music Life Sejak beberapa tahun yang lalu, popularitas piringan hitam tiba-tiba menanjak secara berkelajutan. Para musisi pun akhirnya melihat ini sebagai format  lain untuk menyebarkan karyanya. Tren rilisan piringan hitam (vinyl) ini pun juga dilihat sebagai kesempatan para musisi lama untuk merilis ulang karya-karya mereka yang terdahulu, seperti The Beatles yang album Abbey Road-nya berhasil menempati posisi 5 sebagai plat album terlaris tahun 2017 seperti data yang dirilis oleh Official Charts Company. Posisi teratas di daftar ini ditempati oleh album Divide milik Ed Sheeran yang berhasil terjual 21 ribu kopi secara global. Yang disusul oleh album Back to Black milik Amy Winehouse, dan nama-nama besar lain seperti David Bowie, The XX, Pink Floyd, Nirvana, Arctic Monkeys, A Tribe Called Quest, The Stone Roses, hingga OASIS. Budaya mengoleksi rilisan fisik satu ini memang cukup seksi, sehingga sangat mewabah di generasi millennial. Tak heran sejak tahun 2008 lalu dicetuskan Record Store Day yang berlangsung di beberapa tempat di Amerika. Setelahnya itu setiap tanggal 22 April setiap tahun Record Store Day diselenggarakan secara global di berbagai negara.Tahun ini menandai ulang tahun ke 10 dari Record Store Day, sebuah acara  tahunan untuk merayakan toko rekaman independen lokal. Ini juga menjadi hari raya ketika penggemar rilisan fisik berduyun-duyun ke toko musik mencari rilisan edisi eksklusif dan terbatas dari musisi idola. Tahun ini duta  Record Store Day 2017 jatuh pada St. Vincent.  Data dari Nielsen, walau  streaming sekarang adalah cara yang paling populer untuk mengakses musik, Record Store Day telah menambahkan bahan bakar yang signifikan untuk kebangkitan format piringan hitam. Saat Record Store Day pertama di tahun 2008   penjualan digital berkembang dengan cepat. Namun toko-toko rekaman kecil bisa menyumbang  7% penjualan  fisik musik di Amerika. Hal itu yang membuat   benih-benih pelaksanaan Record Store Day setiap tahun makin membesar.Ketika tahun kedua pelaksanaan bergulir, dampak penjualan bahkan lebih dramatis lagi, dengan peritel independen penjualan naik sebesar 21% pada minggu awal Record Store Day. Penjualan vinyl di pengecer indie minggu melonjak 114% dan menyumbang 75% dari seluruh penjualan vinyl. Pada titik ini jelas Record Store Day bukan hanya kekuatan positif dan signifikan bagi peritel indie,  namun juga menjadi anugerah bagi industri musik secara keseluruhan. Trend ini rasanya perlu diserap untuk pasar Indonesia. Agar makin banyak rilisan dalam format vinyl dirilis. Tahun ini Indonesia juga ikut ambil bagian dalam euforia perayaan Record Store Day tersebut. Mengambil tema peayaan 10 tahun Record Store Day, di Jakarta sendiri perayaan Record Store Day akan mengambil lokasi di Lantai 7 Kuningan City, Jakarta Selatan pada 21-22 April 2017. Untuk tahun ini, puluhan peserta/toko musik independent turut serta dalam pesta besar rilisan fisik ini. Tercatat di kota-kota lain juga banyak yang menggelar acara serupa.Sementara untuk rilisan khusus, dimana para musisi memang selalu mengambil momen Record Store Day untuk merilisnya, sekitar 40 (akan terus bertambah) rilisan secara khusus dirilis saat Record Store Day, seperti The Trees And The Wild – Monumen (EP), Petaka – Live at Extreme Moshpit (kaset), Payung Teduh – Live and Loud (kaset), Giant Step – Life Not The Same (Cd, Vinyl, kaset,-boxset), Alice – Konsorsiumhumaniora (kaset), dan beberapa rilisan lainnya.Selama dua hari, para pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan beberapa band seperti Giant Step, Petaka, Fable, The Trees And The Wild, Dialog Dini Hari, Monkey To Millionaire, Barefood, Skalie, Sentimental Moods, Indische Party, Polyester Embassy, Piston, Ramayana Soul dan banyak lagi lainnya. Selain performance band, juga ada workshop, lelang dan interactive activity.Selamat merayakan Hari Rilisan Musik Fisik Dunia. Oleh: Irvan Gaza & Widya.S  / Foto: RSD 2017

    Pesan Perjuangan Kartini dari Musik Gamelan  

    oleh Music Life “(Gamelan) menuangkan arus api ke dalam nadi-nadi kami” (Surat, 20 Agustus 1902, kepada Nyonya Nelly van Kol).Begitulah pandangan Raden Ajeng Kartini─perempuan yang lebih dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan Indonesia─terhadap alat musik tradisi Jawa, gamelan. Bunyi gamelan, diakui Kartini, membuatnya tak kuasa untuk menari.Kartini di dalam buku-buku sejarah, memang lebih dikenal sebagai pahlawan nasional yang gigih mendobrak tradisi kolot dan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Namun, dalam buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan mendapati Kartini yang sedikit berbeda. Ya, Kartini yang bak seorang kritikus dan musikolog. Meski, menurut Pram, di lapangan musik Kartini lebih tepat disebut hanya seorang penikmat. Gamelan dan Gending GinonjingSebagai seorang penikmat, tafsiran Kartini terhadap musik menurut saya luar biasa, dan melintas zaman. Tak jarang, kegemarannya mendengarkan alunan gamelan ia simbolkan sebagai api perjuangan. Pengalamannya mendengarkan gamelan, kerap ia sampaikan melalui surat kepada teman-teman Belanda-nya. Simak saja surat Kartini kepada Estelle Zeehandelaar pada 12 Januari 1900 berikut ini:“Gamelan kaca di pendopo itu dapat bercerita lebih banyak daripadaku. Mereka sedang mainkan lagi kesukaan kami bertiga. Itu lebih tepat bila dikatakan bukan lagu, bukan melodi, hanya nada dan bunyi, begitu lunak dan begitu lembut, bertingkah, dan menggetar campur aduk tanpa tujuan, membubung, tetapi betapa mengharukan, betapa mengharukan indahnya! Tidak, tidak, itu bukan bunyi-bunyian dari gelas, atau kuningan, atau kayu yang membubung di sana itu; itu adalah suara yang keluar dari jiwa manusia, yang bicara pada kami itu, sebentar mengeluh-ngeluh, kemudian meratap, dan kadang saja tertawa. Dan jiwaku sendiri melayang bersama dengan gemercik suara peraknya yang suci itu ke atas, ke langit biru, ke mega kapas, ke bintang-gemintang gemerlap; bunyi-bunyi bas yang dalam membubung ke langit, dan bunyi-bunyian itu membawa aku menelusuri lembah-lembah dan lurah-lurah gelap dan dalam, melewati hutan-hutan yang lengang, menerobosi belantara yang tak tertembusi! Sedang jiwaku gemetar dan meriut ketakutan, kesakitan, dan dukacita!”Begitu puitis apa yang ditulis Kartini tentang suara gamelan yang didengarnya. Ia bisa membayangi dirinya melayang bersama ke langit. Namun, ia akhirnya harus menelusuri segala hal yang muram. Gamelan, bagi Kartini adalah suara yang keluar dari jiwa manusia, bukan suara benda. Membayangkan seorang perempuan di awal abad ke-20 memberikan interpretasi soal suara gamelan setajam ini tentu saja luar biasa.Namun, bagi saya, ada semacam makna simbolik dalam interpretasi Kartini tadi. Di akhir kalimat, ia mengatakan “Jiwaku gemetar dan meriut ketakutan, kesakitan, dan dukacita.” Mungkin saja, ia sedang membicarakan dirinya yang terkungkung budaya feodal Jawa saat itu. Saat itu, usia Kartini 21 tahun (lahir pada 1879). Sejak usianya masih 12 tahun, ia dan kedua adik perempuannya dipingit, menunggu lamaran. Pada 12 November 1903, Kartini baru menikah dengan Bupati Rembang, KRM. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Saya menduga, Kartini sedang menggambarkan dirinya sendiri yang berada dalam rantai tradisi pingit.Pengalaman musik lainnya adalah ketika Kartini mendengarkan gending ginonjing. Kartini dan adik-adiknya sangat menyukai gending ginonjing. Menurut St. Sunardi, ginonjing berasal dari kata "gonjing" (goyah karena tidak seiinbang) dengan sisipan "in" (menyatakan ketidaksengajaan). "Ginonjing" berarti goyah tanpa tahu siapa yang membuat posisi tidak seimbang itu. Ginonjing bisa berarti pengalaman kehilangan gravitasi sehingga orang tidak bisa lagi mengendalikan dirinya (Kalam, nomor 21, 2004: 23).Sementara, menurut penulis asal Jepara yang menjadi orang kepercayaan keluarga Kartini, Hadi Priyatno, gending ginonjing merupakan nyanyian pengantar tidur yang kerap dialunkan ibunya, Ngasirah. Lagu itu mengisahkan seorang ibu yang sedang menimang-nimang anaknya dan berharap kalau besar berguna bagi bangsa (Khoiri, Agniya, “Kartini Bukan Hanya Pahlawan Emansipasi” dalam CNN Indonesia, 21 April 2016).Terkait gending ginonjing, dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon pada 12 Desember 1902, Kartini menulis sangat pesimis:“Sudah pada nada-nada permulaan dari bagian pembukaan itu aku sudah hilang lenyap tenggelam, bila ginonjing itu terdengar olehku. Tak mau aku dengarkan lagu yang sayu itu, namun aku harus, harus dengarkan pada suara-suaranya yang berbisik-desah, yang bercerita padaku tentang masa lalu, tentang hari depan, dan seakan nafas suara-suara keperak-perakan yang menggetar itu meniup lenyap tabir yang menutup kegaiban hari depan. Dan sejelas halnya dengan masa kini beraraklah gambaran-gambaran hari depan di hadapan mata batinku. Maka menggigillah aku, bila sampai olehku gambaran-gambaran sayu-gelap muncul di hadapanku. Tak mau aku melihatnya, tapi mataku itu tinggal terbeliak lebar, dan pada kakiku menganga ke dalam jurang yang terbitkan gamang, tapi kalau kutebarkan pandangku ke atas, terbentanglah di sana langit biru muda di atasku dan cahaya matari yang keemasan bermain-main dengan mega-mega putih dan di dalam hatiku kembali terbit terang!”Bagi St. Sunardi, tafsiran Kartini terhadap gending ginonjing sangat muram. Menurutnya, Kartini seolah tak ingin melihat masa lalu dan masa depan. “Zaman lama harus ditinggalkan namun dia tidak mempunyai kekuatan untuk membiarkan dirinya menjadi rahim bagi zaman baru. Ginonjing seakan menjadi paku yang membuat Kartini termangu tak bergerak,” tulis St. Sunardi dalam artikelnya.Musik BaratDalam artikel di buku Gelap-terang Hidup Kartini (2013) berjudul “Kisah Daun Semanggi van Jepara”, Kartini pun gemar bermain musik Barat. Selama enam tahun dalam pingitan, Kartini bersama dua adiknya, Roekmini dan Kardinah, menghabiskan waktu dengan membaca, menggambar, dan melukis, membatik, memasak, dan berbicara dalam bahasa Belanda. Satu lagi yang mereka lakukan bersama adalah bermain piano.Tak heran jika Kartini pun terpapar musik Barat. Hal itu wajar, bagi dirinya yang berasal dari kaum priyayi Jawa. Ia juga bergaul dengan teman-temannya yang berasal dari Eropa. Selain bermain piano, paparan musik Barat lainnya adalah ketika ia menghadiri sebuah konser musik. Ia ceritakan pengalamannya itu kepada Nyonya Nelly van Kol pada 29 Agustus 1902, sebagai berikut: “Aku terkenang pada suatu malam belum lama berselang. Seorang kenalan membawa kami berdua mengunjungi sebuah konserta di gedung kesenian di Semarang. Itulah buat pertama kali dalam seluruh hidup kami, bahwa kami berdua, tanpa membawa si adik, tanpa Ayah, tanpa Ibu, berada di tengah-tengah lautan manusia. Kami berasa sendiri, sangat sendirian di antara orang-orang yang sama sekali tak kami kenal. Dan tiba-tiba kami berpikir: Beginilah bakalnya hidup kita di kemudian hari! Kita hidup seorang diri di tengah-tengah lautan kehidupan yang besar!”Kartini seperti bisa memprediksi masa depan. Ia merasa terasing dikeramaian acara musik itu. Saat itu, di tengah semakin maraknya musik Barat, musik tradisi seolah tersingkir. Dunia terbalik. Orang asing lebih ingin belajar musik tradisi kita. Sedangkan kita, lebih mengagungkan musik dari luar negeri. Tulisan Kartini, seakan-akan menafsirkan, ia tak menikmati musik yang ramai itu. Ia lebih mencintai gamelan, yang alunannya bisa membawanya terbang ke langit. Sedangkan dalam riuhnya musik Barat, ia teralienasi. Oleh Fandy HutariPenulis lepas, peneliti sejarah. Tinggal di Jakarta. Blog: www.fandyhutari.com

    Berisiknya Barasuara di Panggung Soundsations Jakarta 2017

    oleh Music Life Malam itu (5/3) terlihat panggung megah dan berbagai instalasi di pusat perbelanjaan ibu kota, Gandaria City. Rupanya sedang berlangsung gelaran Soundsations 2017 yang mengambil tema “Berisik Gue Berisi”. Di tahun ini gelaran Soundsations menggandeng Barasuara, sebagai salah satu band rock yang paling bersinar beberapa tahun belakangan ini untuk menggelar tur 18 kota di Indonesia. Dan gelaran Soundsations 2017 di Gandaria City menjadi panggung ketiga dalam rangkaian tour akbar tersebut. Ketika saya memasuki lokasi yang berada di area parkir Gandaria City, Fourtwnty sedang memainkan set mereka. Melihat rundown yang dibagikan saya cukup menyesal menyadari saya ketinggalan set dari Mondo Gascaro, ex SORE yang belakangan menyita perhatian dengan album Rajakelana yang dielu-elukan di berbagai media. Saya yang masih cukup asing dengan band Fourtwnty yang kabarnya bentukan Robby, pentolan grup Geisha ini, berhasil dikejutkan dengan riuhnya sing along dari crowd yang seperti larut dalam alunan musik dari Ari Lesmana dan kawan-kawan. Rupanya band ini sudah memiliki basis penggemar yang cukup besar, hampir seluruh lagu dalam setlist yang mereka mainkan berhasil memicu sing along para pengunjung yang menyemut di bibir panggung. Usai Fourtwnty turun panggung, giliran Danilla yang mengambil alih. Ini dia indie darling yang debut albumnya bertajuk Telisik yang dirilis 2014 lalu selalu menjadi pilihan untuk mengisi malam-malam kelabu saya. Tentu saja penampilannya juga dengan mudah menyulut nyanyian massal. Malam itu Danilla tampil sangat minimalis tanpa banyak interaksi dengan penonton, beruntung dia punya warna suara dan paras yang teduh.Elda, Adi, dan geng Stars and Rabbit pun ambil kendali panggung selepas Danilla. Elda malam itu tampak sedikit kelelahan yang berimbas pada produksi suaranya, namun tetap dengan daya magis dan gestur riangnya, Elda tetap mampu tampil maksimal. Stars and Rabbit malam itu masih membuktikan diri sebagai salah satu band indie pop terbaik di tanah air.Akhirnya saat yang ditunggu-tunggupun tiba, satu persatu anggota Barasuara naik ke atas panggung. Tanpa basa-basi mereka langsung memainkan track terbaru mereka bertajuk “Trabas”yang dilanjutkan oleh “Tarintih”, “Nyala Suara”, dan “Hagia”. Malam itu total Iga Massardi dan kawan-kawan memainkan 9 lagu dengan tenaga penuh, walaupun di hari yang sama sebelumnya Barasuara tampil di event Java Jazz Festival. Masih akan ada beberapa panggung dalam rangkaian Soundsations 2017 “Berisik Gue Berisi”, termasuk di beberapa titik di Jakarta. Oleh: Irvan Gaza 

    Kisah Perjalanan Lightcraft Menembus Panggung SXSW 2017

    oleh Music Life South by Southwest atau lebih akrab ditelinga dengan sebutan SXSW sebagai salah satu festival musik paling bergengsi di dunia sudah sangat lama diimpikan oleh Lightcraft. Dua kali ditolak, dan dua kali masuk dalam daftar standby, di kesempatan kelima akhirnya band indie rock/dream pop asal Jakarta ini berhasil diumumkan sebagai salah satu penampil di SXSW 2017.Perjuangan mereka pun belum berhenti disana, setelah diumumkan sebagai salah satu delegasi musik Indonesia untuk SXSW 2017 di Austin, Texas, Lightcraft masih harus dipusingkan oleh berbagai hal untuk mempersiapkan keberangkatannya. “Kami sempat pusing bagaimana caranya mengumpulkan dana untuk berangkat ke Amerika Serikat untuk SXSW, apa lagi berita terpilihnya kami diterima sewaktu kami sedang menuju pulang ke Jakarta dari Toronto, Kanada setelah tampil di Indie Week Canada 2016. Untungnya jalan terbuka dengan luas, dan berkat pertolongan BEKRAF, kami dapat memenuhi undangan tersebut dan untuk pertama kalinya diakui sebagai wakil negara resmi setelah beberapa kali tampil di berbagai festival luar negeri. Terima kasih, BEKRAF!” ujar gitaris Fari.Tak berhenti di masalah finansial, Lightcraft juga harus mencari personil untuk posisi bass yang ditinggalkan oleh Rizky, beruntung akhirnya mereka bertemu Aldie Nusa Putra yang bersedia bergabung dan mengisi posisi bass untuk Lightcraft di SXSW 2017. Dengan persiapan yang cukup maksimal, akhirnya pada tanggal 12 Maret Lightcraft bertolak ke Amerika. Karena mereka sudah dijadwalkan untuk tampil di tanggal 17 Maret untuk SXSW 2017 di Palm Door on Sabine, mereka berlima menggunakan waktu disana dengan sangat baik: dengan mengikuti semua sesi panel dan one-on-one dengan tokoh-tokoh industri musik dunia di SXSW, dan juga memperluas jaringan pertemanan dan koneksi mereka melalui menghadiri acara-acara yang berlangsung disana. Perjuangan dimulai keesokan harinya setelah mereka sampai di Austin. Berjumpa dengan booking agents, record labels, pemilik festival musik internasional, dan orang-orang A&R sampai dengan media-media musik dan band-band dari seluruh dunia – mulai dari mantan bassist Nirvana Krist Novoselic, DJ radio BBC Radio 1 Huw Stephens dan band electronic-jazz asal Manchester GoGo Penguin sampai dengan kawan-kawan lama mereka band indie-rock asal New Jersey Wyland, promoter yang pertama kali mendapatkan show untuk Mew di negara asal mereka Denmark, dan juga sesama band yang tampil di malam yang sama. “Kami cukup sangat beruntung dapat berangkat ke SXSW 2017, karena selain manggung, kami juga berkesempatan untuk bekerja keras disana demi menyebarkan nama dan musik kami. Ini betul-betul kesempatan emas bagi kami. Tokoh-tokoh industri musik sedunia berkumpul di satu tempat, dan kami berusaha keras untuk mencoba bertemu dengan sebanyak mungkin dari mereka untuk mengenali lightcraft kepada mereka. Yang paling berkesan adalah berjumpa dengan Rachael Yamagata, Huw Stephens, bos besar festival musik SXSW, dan booking agent yang berteman dengan salah satu band favorit kami Mew. Dan booking agent tersebut beserta timnya datang melihat penampilan kami, dan mereka jatuh cinta dengan kami – sungguh tak disangka!” tutur kibordis Enrico.Selain sahabat mereka Wyland dari New Jersey – yang kebetulan juga sedang tur USA dan tampil di beberapa acara yang bukan bagian dari SXSW di Austin – lightcraft juga bertemu dan berteman dengan beberapa band-band mancanegara yang tampil bersama mereka di panggung yang sama, termasuk The Rumjacks dari Australia, band lokal White Label Analog, band asal New Delhi, India menwhopause, dan Satellite Stories dari Finlandia. Untuk nama yang terakhir cukup unik, karena vokalis Imam sudah lama menjadi fans dari band tersebut. “Sewaktu kami dikirimkan daftar penampilan panggung kami melalui e-mail, saya terkejut. Sebagai penggemar dari Satellite Stories, untuk diberikan kesempatan satu panggung dengan mereka bagaikan mimpi yang terkabul. Kamipun akhirnya berkenalan dengan mereka, dan sekarang saya dan vokalis mereka sudah follow satu sama lain di Instagram!” ucap Imam sambil tertawa .Sehari sebelum mereka tampil untuk SXSW, Lightcraft terlebih dahulu diundang untuk tampil di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Houston pada tanggal 16 Maret. Terletak kurang-lebih 2 jam 30 menit dari Austin, lightcraft disambut dengan hangat oleh kompatriot-kompatriot yang berdomisili disana. “Luar biasa, walaupun tidak ada yang tahu kami siapa, tetapi mereka menerima kami dengan mesra dan meriah. Kami dijamu nasi uduk, lalu pada saat kami tampil, antusiasme mereka sangat semarak dan menular ke kami. Mereka sampai berdiri dan berdansa sewaktu kami memainkan lagu terakhir kami untuk malam itu!” tutur drummer Yopi. Hari yang ditunggu pun tiba, dimana Lightcraft harus tampil di SXSW dengan mengambil Palm Door on Sabine sebagai venue. Pada awalnya Lightcraft sempat menghadapi kendala yang cukup besar: tempat tersebut tidak menyediakan backline sedikitpun. Belajar dari pengalaman mereka tampil di Canadian Music Week dan Indie Week Canada – keduanya festival musik yang mengusung konsep yang serupa – pada akhirnya mereka dibantu oleh band lokal White Label Analog, yang setuju untuk berbagi backline mereka dengan band-band yang sepanggung lainnya. Karena hal tersebut lightcraft berteman dengan menwhopause, sebuah band indie asal New Delhi, India, setelah kedua band tersebut harus menyewa keyboard amplifier dari vendor lokal. Pada malam itu, acara dibuka oleh White Label Analog, yang langsung dilanjutkan oleh lightcraft. Walaupun jumlah penonton yang hadir tak sampai bilangan ratusan, respon dari mereka sangat bagus dan semarak. lightcraft memainkan 6 lagu, dimana 4 lagu termasuk lagu intro merupakan lagu-lagu terbaru yang mungkin akan dimasukkan ke album ketiga mereka yang diperkirakan akan dirilis akhir 2017 atau awal 2018. Dari sound engineer lokal dan stage manager yang bekerja pada malam itu sampai dengan beberapa penonton mengutarakan kesukaannya mereka terhadap lagu-lagu lightcraft – termasuk juga sang booking agent dari Denmark yang bertemu mereka pada sesi one-on-one mentoring di pagi harinya. “Menjadi kebanggan tersendiri sebagai wakil dari Indonesia yang telah sukses menghadirkan senyuman lebar di muka para penonton yang hadir. Apa lagi ternyata booking agent yang kami temui di pagi hari sebelum penampilan kami betul-betul datang, menonton, dan menyukai musik kami. Kegembiraan kami tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,” ucap bassist Aldie. Setelah lightcraft, giliran menwhopause untuk menghibur penonton, dilanjutkan dengan penampilan Satellite Stories, The Rumjacks, dan Big Jesus dari Atlanta, Georgia.Di samping penampilan-penampilan, networking, dan menghadiri sesi-sesi industri musik, lightcraft pun juga berkesempatan untuk diwawancarai oleh dua media online lokal dan satu stasiun radio lokal. Ini memang bukan kali pertama Lightcraft menjajal panggung internasional, bahkan bisa dibilang Lightcraft adalah salah satu band lokal yang paling rajin tampil di luar negri. Tapi jelas pengalaman mereka di SXSW 2017 menjadi begitu berharga, mengingat begitu prestisius dan besarnya festival musik SXSW di mata dunia, apalagi kegembiraan itu semakin berlipat karena kali ini mereka mewakili Indonesia sebagai satu-satunya delegasi di ajang SXSW 2017.Sepulang dari SXSW, Lightcraft langsung masuk studio untuk menyiapkan materi baru album ketiga mereka yang kabarnya akan menampilkan warna dan sentuhan yang cukup berbeda dari kedua album mereka yang sebelumnya. Album tersebut direncanakan akan dirilis akhir tahun 2017 atau awal 2018. Di samping penampilan-penampilan, networking dan menghadiri sesi-sesi industri musik, lightcraft pun juga berkesempatan untuk diwawancarai oleh dua media online lokal dan satu stasiun radio lokal. ”Sepulang dari SXSW, kami sudah lebih belajar dan akan bekerja lebih keras lagi sebagai sebuah band. Dan semoga kami dapat kembali lagi kesana tahun depan!” kata Fari mewakili Lightcraft. Oleh: Irvan Gaza / Foto: Dok.Lightcraft

    Direct Action, Proyek Musik Terbaru Tyo Nugros dan Joseph Saryuf

    oleh Music Life Joseph Saryuf, sosok seniman serba bisa yang memiliki banyak proyek musik dari mulai Santamonica, Sugarstar sampai menjadi produser musik untuk The Brandals, Lala Karmela, The Porno dan Bayu Risa lewat label Sinjitos, baru-baru ini telah mengenalkan proyek musikal terbaru bernama DIRECT ACTION.Bersama Tyo Nugros, mantan pemain drum Dewa19 dan Getah DIRECT ACTION merilis sebuah single dengan konsep yang menggabungkan sound musik math rock dan experimental rock seperti diusung Battles dan Mutemath. Komposisi dengan judul "Blush Blush" sudah resmi mereka rilis lewat beragam platform digital musik. Untuk mengenalkan karya baru mereka sudah merilis musik video yang digarap oleh Patrick Tashadian. Camera operator oleh David Jimenez dan art director oleh Sulung Koesuma. Sementara untuk editor dikerjakan Joseph Saryuf dan stylist digarap apia oleh Anindita Saryuf.Simak petualangan musik terbaru dari Joseph Saryuf dan Tyo Nugros dalam rumah baru mereka DIRECT ACTION berikut ini:  Oleh: Widya. S / Foto: Sinjitos

    Legenda Progrock Indonesia Giant Step Rilis Album Setelah 32 Tahun

    oleh Music Life Setelah 32 tahun tidak merilis karya baru, salah satu band awal pengusung musik progrock asal Bandung, Giant Step kembali masuk studio dan merekam album penuh mereka dengan judul Life's not the same (2017). Formasi Giant Step album Life's not the Same dimotori oleh vokalis dan gitaris Benny Soebardja,  Johanes Jordan Sebastian ( gitar, flute ), Audi Adhikara ( Bass ), Debby Nasution ( Keyboard ), dan Rhama Nalendra ( Drum ).Album terbarunya yang berjudul Life's not the Same dirilis oleh label Rockpod Records (Indonesia dan Singapore), dan Vestibular Records (USA). Album ini akan dirilis dalam format CD, kaset pita dan piringan hitam.Dalam rilis yang mereka kirim ke Musiclife. Konsep dalam album terbarunya ini mengusung tema psych/art/progrock, berbeda dengan album album terdahulu disini Giant Step lebih mengemukakan nuansa melodi tematik. Dalam karirnya Giant Step ini telah merilis beberapa album. Seperti Giant Step Mark I (1975), Giant On The Move (1976), Kukuh Nan Teguh (1977), Persada Tercinta (1978), Tinombala (1979), Volume III (1980), dan Geregetan (1985).Simak salah satu lagu dari album baru Giant Step berikut ini: Oleh: James / Foto: Rockpod

    Show More