Notifikasi

    SOUNDQUARIUM

    oleh
    454 Pengikut
    630 Konten
    Soundquarium hadir sebagai wadah untuk penikmat musik dalam berbagi cerita

    Toko Musik : New Order, jadi salah satu favorit di Cempaka

    oleh SOUNDQUARIUM Kali ini ada yang agak berbeda di Toko Musik, kita sedikit membahas album dari band luar. Erlangga Irawan kali ini memilih album New Order yang menjadi favoritnya. Ini adalah sebuah album kompilasi terbaik karya New Order, ada beberapa track yang khusus dibuatkan versi khususnya untuk album ini.    

    Cikini Folk Festival 2016: Sisir Tanah - Lagu Hidup

    oleh SOUNDQUARIUM Bersama Iksan Skuter, Sisir Tanah mempersembahkan sebuah lagu yang bercerita tentang banyak hal, terutama kebutuhan kita sebagai manusia terhadap alam dan sesama. Lagu ini diberi judul "Lagu Hidup" dan dibawakan dengan syahdu di panggung Cikini Folk Festival 2016.

    Zoo Berkelana, di Eropa

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassDua belas tahun berkarir, pembabakan baru dicoba. Zoo, mulai Rabu, 22 Maret 2017, akan melangsungkan Kelana Eropa 2017 Tour.Tidak banyak yang bisa diceritakan dari pencarian internet untuk kiprah Zoo. Mereka kecil, tapi jika peristiwa musiknya dialami dan dirasakan, kesan yang didapatkan akan tinggal dalam waktu yang lama; bisa enek, bisa kagum atau malah menikmati kekacauan yang ditinggalkan oleh berbagai nada yang dimiliki musiknya.Band ini dibentuk di Jogjakarta pada 2005. Sepanjang dua belas tahun berkarir, sampari hari ini, mereka telah merilis tiga album penuh, dua mini album dan sebuah dvd yang merekam perjalanan tur band di era album Prasasti.Band ini, memang tiarap. Semata-mata dipengaruhi oleh padatnya aktivitas Rully Shabara, vokalisnya yang kebetulan juga sedang dikenal luas lewat proyek –yang tadinya sampingan— Senyawa bersama multi instrumentalis Wukir Suryadi.Sebuah kabar masuk ke orang banyak, Zoo akan pergi ke eropa dan menjalankan sebuah agenda padat untuk mengenalkan musik mereka pada orang banyak. Bukan sekedar menjadi turis musik yang kemudian malah mendapatkan apresiasi besar di kandang sendiri, tapi minim perhatian di tempat yang justru mereka singgahi.Dalam dua puluh empat hari, mereka akan bermain di dua puluh satu pertunjukan. Waktu untuk istirahat hanya tiga hari. Di dalamnya, ada pula agenda berpindah kota. Siapapun yang pernah terlibat dalam produksi pertunjukan dan tur, pasti akan memahami; jadwal yang dimiliki Zoo bisa dibilang gila. “Kami pernah melakukan tur sebelas kota di tahun 2013, tapi itu tur yang murni DIY –do it yourself –ed—, kami selenggarakan sendiri. Kali ini kami akan didampingi oleh road manager dan sound engineer yang berasal dari Paris. Mereka akan sangat membantu kebutuhan tetek-bengeknya. Seluruh tur ini akan dijalankan lewat darat. Kami akan berpindah dengan sebuah van yang berisi backline dan alat musik. Itu sebabnya, kami hanya tur ke empat negara yang berdekatan, agar bisa ditempuh dengan jalan darat,” cerita Rully Shabara.Selain Rully, Zoo juga diperkuat oleh pemain bas Bhakti Prasetyo, pemain perkusi Dimas Budi Satya dan pemain drum Ramberto Agozalie. Dimas juga dikenal luas sebagai penabuh perkusi band folk Sungai sementara Ramberto atau biasa dipanggil Obet tercatat menjadi penggebuk drum untuk band metal legendaris Jogjakarta, Cranial Incisored.Rully kemudian melanjutkan, “Setiap kota yang kami singgahi sudah disusun secara cermat rutenya demi memaksimalkan pendapatan, meminimalisir pengeluaran dan memastikan setiap kota kecil yang kami singgahi akan membawa kita lambat laun ke kota besar selanjutnya tanpa membuang waktu dan biaya.” Sekedar catatan, perjalanan tur di belahan dunia yang industrinya sudah maju, merupakan sebuah upaya spartan untuk memperkenalkan dan kemudian menanggung reaksi masa depan atas musik yang dimainkan. Di dalamnya, hitungan ekonomi dijadikan salah satu faktor pendukung yang perlu dihitung dengan baik. Kadang, kalau salah dalam perencanaan, bisa jadi band malah harus mengeluarkan biaya untuk seluruh perjalanan tur mereka. “Pertama kali Senyawa tur eropa tahun 2012, kondisinya hampir sama. Jadwal turnya padat merayap, main di segala bentuk venue. Memang seperti itu caranya tur yang benar bagi band DIY yang mungkin belum banyak dikenal di tempat yang hendak dituju. Supaya dampaknya bisa lebih maksimal,” papar Rully tentang pengalamannya berkeliling bersama Senyawa yang kini coba diterapkan bersama Zoo.Dalam sebuah tur independen nan spartan, yang biasa terjadi pada kenyataan sehari-hari adalah sistem persinggahan di sebuah malam yang disertai dengan penjualan karya, merchandise atau sistem bagi hasil dengan venue yang disinggahi. Itu kenapa, strategi yang dibilang Rully di jawabannya jadi masuk akal.Persinggahan di kota kecil, bisa menjadi sebuah jeda sekaligus membuka kemungkinan baru yang tidak pernah bisa diprediksi wujudnya sebelum ia dijalankan. “Tahun lalu, ada promotor tur dari Prancis yang mengajak Zoo untuk merilis ulang album Prasasti dalam bentuk vinyl dan menggelar tur untuk mempromosikan album itu,” kata Rully tentang agenda utama tur ini.Jelas, empat orang personil band ini, tidak sedang dalam urusan pelesir. Mereka sedang bekerja untuk membawa musik yang mereka percaya ke panggung yang lebih lebar.Rully kembali merepet, “Kami berharap tur ini bisa membuka jalan. Belajar dari Senyawa yang hidup dari tur, pengalaman yang didapat dari perjalanan seperti ini sangat penting. Bukan untuk mengasah kemampuan saja, tapi juga pemikiran dan sudut pandang. Ini baik sekali mengingat ke depannya Zoo butuh banyak pemikiran yang radikal. Keluar kandang adalah cara terbaik untuk membuka sudut pandang. Selain itu, sepertinya sudah saatnya anak-anak diberi pengalaman setelah dua belas tahun konsisten berkarir. Lagipula, apa gunanya saya sibuk kemana-mana dengan Senyawa tapi tidak bisa mempromosikan band kesayangan sendiri?” Zoo sendiri, secara musikal, sekarang sedang melakukan riset untuk penggarapan karya baru mereka.“Arah musik Zoo ke depannya akan berubah cukup drastis. Akan banyak perubahan dalam hal strategi, metode penggarapan musik dan pendekatan terhadap bagaimana menjalankan band ini. Sejujurnya, bagi saya pribadi, band-bandan akan menjadi sangat membosankan bila menggunakan strategi pada umumnya yakni membuat lagu, merekamnya menjadi album dan memperbesar fanbase saja. Bagaimana bila band atau musik menjadi hanya salah satu elemen untuk mewujudkan proyek yang lebih besar? Itu yang akan kami capat rencananya sebelum 2025,” ceritanya. Investasi waktu yang diminta, memang panjang. Tentu saja, tidak perlu ditunggu. Zoo, setipe dengan Senyawa, adalah peristiwa mengalami sebuah momen berlatar belakang musik. Musiknya sendiri menjadi hal pendukung.Ia melanjutkan, “Zoo sebagai band hanya akan menjadi penopang konsep yang jauh lebih besar. Musik hanya sebagai salah satu unsur saja sehingga tidak hanya itu yang diperlukan untuk memahaminya. Semoga orang akan sabar mengikuti perkembangan kami agar paham apa yang saya maksud.” Nampaknya, memang misteri menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan dari peristiwa mengalami musik Zoo ini. Supaya menjadi petunjuk untuk bisa dilanjutkan ke masa depan.“Tahap riset sudah jalan. Kami membentuk beberapa tim yang membantu untuk itu. Musik baru akan digarap bulan Oktober. Namun sebelum itu, akan ada beberapa tahap yang harus diselesaikan,” pungkasnya tentang proyek yang menanti Zoo selepas mereka kembali dari perjalanan gila ini.Selamat berkelana. (*)*) Seluruh album penuh Zoo bisa diunduh secara bebas di https://yesnowave.com/artist/zoo/.

    Mengenal: Mocca

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassBeberapa tahun belakangan ini, Mocca bangkit dari kubur. Setelah memutuskan untuk vakum selama beberapa waktu karena vokalis Arina Ephipania menghabiskan waktu beberapa tahun di Amerika Serikat, mereka mulai kembali beraksi di panggung. Pelan-pelan kuantitasnya digenjot.Selain Arina Ephipania, Mocca juga diperkuat oleh Riko Prayitno (gitar), Indra Massad (drum) dan Toma Pratama (bas). Formasinya tidak pernah berganti.Selepas kebangkitan ini, Mocca menjadi salah satu raksasa yang penghasilan kotor dari manggungnya paling besar di antara sejumlah band independen lain. Mereka mengklaim kembali apa yang pernah mereka miliki di masa lalu; perhatian sebagai band yang memang meletakkan peran penting dalam cetak biru scene independen lokal Indonesia.Pertama kali, Mocca muncul di tahun 2002, lewat album My Diary. Album itu membuat banyak orang tercengang. Tidak hanya perkara musik yang segar, tapi packaging yang luar biasa bikin orang ngiler; ngiri, karena label besar tidak mungkin mengejar pendekatan desain produk yang mewah seperti itu. Jalan terbuka lebar dan mereka terus menari dengan musiknya. Mencapai satu demi satu torehan kisah yang penting untuk diceritakan ke orang banyak.Sampai hari ini, selain My Diary, Mocca telah merilis Friends (2004), Music Inspired by the Movie: Untuk Rena (2005), Colours (2007), Dear Friends (2010) dan Home (2014). Katalog yang banyak itu, kebanyakan bagus. Kecuali mini album kompilasi Dear Friends yang bisa dibilang tidak punya nyawa.Tujuh lagu di bawah ini adalah perkenalan yang mungkin bisa jadi cocok untuk memulai cerita personal dengan musik Mocca. (*)It’s Over Now Track penutup album Friends. Suara gitar lagu yang disambut gebukan tipis drum menghadirkan lagu balada paling cantik yang pernah mereka hasilkan. Dimainkan kadang-kadang di atas panggung. Biasanya sehabis diteriakkan oleh orang-orang tertentu. Kalau suka, boleh ikut teriak di panggung mereka berikutnya. Supaya lagu ini lebih sering dimainkan. Kisah cinta yang gagal, tapi disajikan dengan seperlunya. Mengena di hati kalau didengarkan berulang-ulang.Do What You Wanna Do Lagu ini menampilkan sejumlah nama sebagai pengisi vokal latarnya. Dua di antaranya adalah Rektivianto Yoewono dari The SIGIT dan Risa Saraswati dari Sarasvati. Lagu ini, merupakan provokasi aktif untuk mengejar kebebasan yang bisa jadi mimpi siang bolong untuk banyak orang. Mereka seolah bilang, “Eh, kebebasan itu bukan omong kosong loh.”Lucky Man Senada dengan It’s Over Now, Lucky Man juga mengedepankan suara gitar yang dominan dan menempel dengan erat di kepala setelah didengarkan berulang-ulang. Secara konstan, di latar belakang, permainan piano digital yang konstan juga menjadi contoh baik bagaimana kontribusi pemain tamu Agung Nugraha, anggota kelima Mocca yang menyertai mereka sejak era awal band ini.Life Keeps On Turning Video lagu ini menampilkan Satria Nur Bambang dari Pure Saturday dan Teenage Death Star. Salah satu single dari album My Diary yang berputar kencang untuk orang banyak di era MTV Indonesia sedang jaya-jayanya. Lagu klasik yang kalau dimainkan sekarang, mungkin menguras napas karena temponya agak kencang.Sebelum Kau Tidur Di mini album Music Inspired by the Movie: Untuk Rena, lagu ini menjadi satu dari dua lagu pertama Mocca yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan dirilis untuk orang banyak. Menampilkan sisi band itu yang tidak sering-sering muncul. Syahdu.Changing Fate Menampilkan vokal Cil dari The Triangle, band sampingan Riko Prayitno. Diambil dari album Home yang dirilis dengan status band yang dewasa. Sisi lain Mocca yang lengkap; dengan vokal latar yang bernyanyi di hampir sepanjang lagu dan megah.When We Were Young Ini paling gila: Arina Ephipania yang memang dikenal freak dengan kemampuan presisi suara dan gaya bernyanyi, bersanding dengan vokalis metal Vicky Mono dari Burgerkill. Suaranya? Ya jelas musiknya Mocca. Di beberapa artikel yang bertebaran di internet, Vicky dikisahkan mendapatkan pelajaran bernyanyi dari Arina.You’re the Man Secara konstan, band ini menyimpan ketertarikan ke banyak jenis musik. Makanya bisa super variatif dan kaya dari segi aransemen. You’re the Man, yang diambil dari album Home, menjadi contoh terbarunya. Brass section mereka yang memang selalu ambil bagian menyumbang peran dominan di lagu ini. Mungkin juga, lagu ini memfasilitasi kecintaan Riko Prayitno pada musik rockabilly.Keterangan foto:- Foto tema Mocca oleh Terry Manoppo- Foto di bodi teks oleh Shutterbeater

    Show More