Notifikasi

    SOUNDQUARIUM

    oleh
    427 Pengikut
    581 Konten
    Soundquarium hadir sebagai wadah untuk penikmat musik dalam berbagi cerita

    Cikini Folk Festival 2016: Adrian Yunan - Mainan

    oleh SOUNDQUARIUM Adrian Yunan menjajal untuk bersolo karir, setelah sebelumnya dia lebih eksis di Efek Rumah Kaca. Kali ini, ia akan membawakan sebuah lagu yang cukup menyenangkan berjudul "Mainan". Dengan suara Adrian yang lembut, lagu yang berkisah tentang mainan sang anak menjadi terdengar sangat apik.

    The Future Folk Interview: Mondo Gascaro

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassNama Ramondo Gascaro, kembali lagi ke arena. Sejarah masa lalu ditutup, yang baru dibuka. Di Cikini, beberapa saat setelah menyelesaikan sesi sound check untuk sebuah pertunjukan, kami bertemu. Mondo Gascaro, begitu nama panggung yang ia kenakan sekarang, nampak santai. Saya terlambat datang dari waktu yang dijanjikan. Perpindahan diri dari Kemang ke Cikini hari itu, benar-benar menguras tenaga. Padahal, naik motor. Sembari menunggu saya yang sedang di dalam perjalanan, ia mengabari. “Lix, gue sikat Bakmi Roxy dulu ya,” begitu bunyi pesan singkatnya.Orang ini dibesarkan di Cikini. Sudah barang tentu, familiar dengan sekitar, termasuk berbagai macam menu makanan enak yang bertebaran di sepanjang Jalan Cikini Raya, jantung utama distrik itu. Membaca pesan itu, saya jadi ngiri. Bakmi Roxy di sore hari bukanlah pilihan yang buruk. Kami bertemu beberapa puluh menit kemudian. Setelah berbasa-basi sedikit, obrolan dimulai. Jam happy hour di bar tempat ia melangsung pertunjukan hari itu juga sedang berlaku. Saya tidak pernah bisa menolak Bir Bintang seharga Rp.21.000,00 per botol kecil. Begitu juga ia, jadilah kami minum sambil ngalor-ngidul.Oh ya, saya tidak ingin mengarahkan pembicaraan ke arah Sore, masa lalunya yang telah ditutup. Tidak fair rasanya kalau terus menerus kembali ke titik itu dan tidak membiarkan dua pihak yang sedang tidak ingin bersama punya ceritanya masing-masing.Jika kemudian tersenggol sedikit, maafkan. Memang tidak bisa dihindari. Tapi, Mondo Gascaro (dan Sore) harus dihargai; bahwa mereka telah berpisah dan sedang tidak bersama-sama. Jadi, jangan dikorek-korek.Mondo punya debut album yang bagus. Judulnya Rajakelana. Beberapa waktu yang lalu, saya menulis reviewnya . Kalau belum baca, ada baiknya juga membaca dulu. Mungkin bisa tambahan background cerita. Anyway, selamat menikmati obrolan saya dengan Mondo. Malam itu, sejatinya jadi makin berantakan. Karena kebanyakan minum, saya bahkan sudah ada di rumah pukul delapan tiga puluh malam. Saya bahkan tidak punya energi lagi untuk kembali ke Cikini dan menyaksikan Mondo unjuk gigi. Keterlaluan. (*)Ndo, susah nggak sih sekarang menjadi seorang front man di sebuah penampilan panggung? Dulu kan elo nggak perlu di depan, tapi sekarang tiba-tiba jadi front man. Gue nonton elo beberapa kali, masih awkward kelihatannya.Ya, adaptasi sih. Tapi gue belajar juga, memang. Waktu awal-awal jadi front man, apalagi atas nama sendiri bukan dengan band, ya awkward. Apalagi gue sebenarnya nggak banyak omong orangnya. Tapi lama-lama emang ya gue ngerasa lebih nyaman, makin nyamanlah. Paling nggak, itu dulu.Sudah berapa lama sih sekarang main sendiri?Gue main pertama kali sendiri itu di Superbadi tahun 2014, bulan Desember. Pas habis mengeluarkan single pertama dulu itu.Berarti Rajakelana, dirilis dua tahun kemudian ya. Baru punya album dua tahun setelah penampilan panggung pertama. Satu hal yang gue suka dari album Rajakelana adalah keberhasilan elo untuk keluar dari masa lalu. Ditutup baik-baik fase yang itu. Susah nggak sih untuk menemukan format sendiri yang kemudian dirumuskan menjadi musiknya Mondo Gascaro?Secara musik dan produksinya, gue merasa mengalir begitu saja. Kenapa berbeda dengan yang dulu, ya otomatis berbeda karena yang nulis ini semua kan gue. Kalau dulu, kita kan rame-rame. Semuanya menulis lagu. Kalau sekarang, karena ini album sendiri, ya gue mikirnya musiknya mau gue bawa kemana ya. Ekspresinya mau kemana. Pada akhirnya mengalir saja. Mungkin orang bilang, “Ah, ini masih kayak Sore, kayak gininya nih.” Nggak masalah sih, menurut gue. Tapi pada akhirnya gue bisa nyaman menjalaninya dalam proses kreasinya. Apa ide yang mau gue sampaikan, gue salurin ke sini. Gitu aja sih.Tapi, sebenarnya, elo ingin mengarahkan musiknya Mondo Gascaro kemana ya? Setelah didengarkan berulang, gue melihat mixture yang lumayan sih. Setidaknya, elo menemukan Indonesia klasik di 80-an, cara bernyanyinya begitu, atau menemukan musik-musik tropikal di dalam Rajakelana.Ya sebenarnya sejak dulu, gue nggak pernah membatasi imajinasi untuk berkarya. Sejak di Sore tuh begitu. Dan ketika sekarang gue sendiri, ya ibaratnya apa ya, attitudenya seperti itu; sama-sama dibebaskan aja mau mengalir kemana. Dan itu yang keluar. Musik-musik tropikal dan Indonesiana kan memang punya pengaruh besar untuk gue pribadi. Sejak gue mulai tumbuh jadi manusia. Kayak gitu sih penjelasannya. Dan keluarnya album ini juga seperti itu jadinya, walaupun gue nggak membatasi juga pada akhirnya. Waktu pertama gue membuat ini, gue lagi seneng dengar singer-songwriter lagu-lagu yang pop. Yang radio friendly pop, yang juga soft rock gitu. Model Paul Simon, James Taylor dan Todd Rundgren. Gue cuma berpikiran, “Ah, gue punya materi-materi ini. Gue buatnya pakai pakem tradisional singer-songwriter nih.” Tapi kemudian di saat yang bersamaan, gue juga ingin mengeksplor nuansa yang lebih sinematis dan kayaknya asyik kayaknya kalau gue bikin beberapa lagu yang secara pakem tradisional tadi tapi ada beberapa instrumen yang gue masukkin di materi-materi ini. Gitu sih.Jadinya kan kaya banget nih rekamannya. Setelah gue mendengarkan Rajakelana berkali-kali, baru ketemu ada banyak detail di dalamnya. Dan itu juga dikonfirmasi ketika dimainkan di atas panggung pas launching di IFI Jakarta tempo hari. Waktu elo denger di permukaan, mungkin kedengaran biasa saja. Pas dibelah, sangat detail ternyata. Waktu itu di IFI yang main di panggung berapa orang? Empat belas.Musiknya memang dirancang untuk sekaya itu?Iya, proses rekaman yang gue lakukan memang seperti itu. Proses aransemen dan rekamannya seperti itu. Misalnya, di lagu ini, emang gue mau ada sound akordeon atau bandoneon di bagian depan. Ya rekam. Akhirnya keluar seperti itu. Kayak lagu Sanubari, misalnya. Intronya cukup panjang, bagian instrumentalnya lebih panjang kan? Gue memasukkan beberapa instrumen yang memainkan tema-tema lagu itu. Makanya ada flute, ada terompet, ya ada bandoneon itu.Merancang dan menggambar seluruh instrumentasi lagunya susah nggak sih? Sangat teknis sih jadinya, tapi menurut gue, ini jadi kelebihannya Mondo Gascaro ketika detailnya ternyata sangat kaya. Merancangnya sih nggak susah. Cuma perlu upaya lebih aja. Gue pada dasarnya ya, tadi itu, mengalir saja memang. Ini sudah ada ide, tinggal konsentrasi dengan ide itu untuk direalisasikan. Kesulitan di gue sih lebih ke time keepingnya saja. Karena gue mesti bolak-balik, karena kesibukan juga. Kadang mengerjakan yang ini, kadang yang itu. Harus mengeset mood juga.Kalau ditotal, Rajakelana makan waktu berapa lama untuk pengerjaannya?Jadi lama karena kepotong kesibukan lain-lain sebenarnya. Standar ya, sudah berkeluarga juga. Jadi, ada banyak yang harus diurus. Tadinya juga, rencana awalnya langsung produks album digeber setelah rilis single di 2014. Tapi ternyata kan waktunya nggak memungkinkan. Akhirnya gue lebih banyak manggung. Banyak kerjaan lain. Akhirnya baru bener-bener berkontinuitas itu Oktober 2015. Total ngerjainnya setahunan lebih.Dengan kemasan yang penyanyi solo, berarti punya kemewahan untuk memiliki band pendukungnya sendiri. Beberapa anggotanya sudah gue perhatikan mulai main sama lo sejak beberapa tahun yang lalu. Ketemu orang-orang ini gimana sih ceritanya?Nah itulah yang namanya kemewahan. Ibaratnya, gue bisa memilih, mau gue bawa kemana juga orang-orangnya. Ketemunya juga lumayan nggak umum. Makanya gue sering bersyukur bertemu mereka, dengan tim yang sekarang ini. Pertama yang ketemu si Bayu (Petrus Bayu Prabowo –ed). Dia pemain basnya The Monophones. Udah kenal dia lama, tapi beberapa tahun yang lalu dia tiba-tiba kontak gue pas ngerjain single. Setelah sekitar dua tahun nggak ketemu sebelumnya. Dia kontak, main ke rumah, ngobrol-ngobrol, termasuk tentang The Monophones. Lalu gue bilang sama dia, “Eh, Bay, besok gue rekaman nih.” Padahal pas mengerjakan rekaman itu, belum kepikiran siapa yang mengisi bas. Awalnya mau gue isi sendiri, terus dia datang. Pas sedang take, ok. Seharusnya emang dia yang main, karena sound dia yang cocok. Akhirnya lanjut sampai sekarang. Lafa (Lafa Pratomo –ed) ketemunya juga gitu. Kayak gue diundang ke acara di mana dia main di tempatnya Endah n’ Rhesa. Main sama Danilla. Akhirnya gue nonton terus kenalan. “Wih, musiknya gokil juga nih,” pikir gue waktu lihat Danilla main. Udah gitu, yang nulis musiknya si Lafa kan. Setelah main, kita ngobrol-ngobrol. Akhirnya emang gue mengajak dia, gue minta dia bantuin pas main live. Awalnya dari Superbad tadi, akhirnya sampai sekarang sih. Proses rekaman dia juga ngisi. Gue beruntung ketemu dua orang ini karena mereka kan otak dari proyek-proyek mereka, bandnya. Jadi memang punya kelebihan. Ketika take, mereka sudah tahu bayangan besarnya seperti apa. Nggak sekedar main mereka itu.Ibaratnya elo ketemu musisi yang dalam tanda kutip sudah jadi ya?Iya.Jadi mempermudah?Iya, jadi mempermudah. Selain mereka punya selera dan apa yang didengarkan relatif sama, mereka juga biasa memroduksi musik sendiri. Bahasa dan frekuensinya nggak terlalu susah.Menulis materinya sendiri sulit? Setelah tadi elo bilang sinematik, gue jadi membayangkan. Dan memang akhirnya setuju setelah lihat lagu-lagu itu dimainkan di atas panggung. Jadinya mikir, ini cocok pas ini, itu cocok pas itu. Nah, proses penulisan lagu-lagu di Rajakelana gimana secara umum?Gue mengumpulkan materinya sejak 2011, pertengahan. Ketika sudah dikumpulin semuanya, sebenarnya ada sekitar 18-19. Yang masuk album hanya sepuluh.Wah, tapi itu biasa terjadi kan sama penulis lagu?Biasa banget. Tapi ya penulisan itu kadang-kadang sudah selesai, tapi pas rekaman masih dikutak-kutik. Ada juga yang rekaman baru ditulis bener. Jadi balik lagi karena emang faktor cara kerja gue yang bolak-balik tadi. Waktunya emang sempit. Gue memang harus paralel. Misalnya nih, hari ini ngerjain lagu ini. Besok break. Pas mulai, sudah mengerjakan lagu yang lain lagi. Seperti itu prosesnya. Antara song writing dan arrangement juga kayak 50:50, paralel juga.Kejar-kejaran itu proses song writing sama arrangement?Iya. Bukan kejar-kejaran banget sih, tapi ya gitulah. Kalau misalnya gue punya waktu luang, inginnya sih secara ideal kelarin lagunya. Setelah selesai baru garap aransemennya. Selesai, baru direkam. Beberapa materi sebenarnya ada yang model begitu. Tapi kebanyakan ini rekaman, ini aransemen juga, ini direkam juga. Lebih banyak begitu. Akhirnya mereka memberi benang merah dari seluruh proses yang cara kerjanya begitu. Gue bahkan sempat ngetake di Jogja untuk lagu Into the Clouds. Karena gue mengejar pemain saxophonenya, si Jay Afrisando.Oh, bagian di album ini direkam sebelum dia pergi ke Amerika Serikat?Iya. Sebelum dia akan pergi, yang pertama tapinya. Bukan yang baru-baru ini. Waktu itu dia bilang, “Mas, aku mau jalan nih minggu depan.” Lalu gue bilang, “Tiga hari lagi, gue ke Jogja deh.” Pada waktu itu, lagunya belum final aransemennya. Baru ada gambaran besarnya saja, belum sepenuhnya jadi. Gue cuma bikin drum guide sama piano guide. Akhirnya kita ngetake. Jadi, ya prosesnya kayak gitu.Nah, pada akhirnya kan karya-karya ini sudah jadi sebuah produk yang utuh nih. Sudah jadi album. Menyenangkan nggak sih jadi penyanyi solo? Dengan berbagai macam requirementnya yang model tadi elo ceritakan. Karena, elo kan bukan penyanyi yang tidak sesederhana tinggal bernyanyi saja.Menyenangkan sih sebenarnya. Seru banget.Bagian terbaiknya apa?Ya itu tadi, proses produksinya yang ternyata berbeda. Bedanya jelas, walaupun gue penyanyinya, ya gue produsernya juga. Gue harus melakukan ini semua sendiri; produser, arranger dan harus supervisi semua. Gue menulis lagu-lagunya juga. Dan terakhir, menyanyikannya. Itu semua jadi bagian paling menantang dan terbaiklah untuk pengalaman. Gue juga bisa bekerja sama dengan banyak musisi yang mungkin kalau gue di dalam sebuah band, nggak akan mungkin kayak begitu. Kalau dalam format band, yang diutamakan ya personil bandnya kan? Kalau ini kan, bisa dibilang semuanya ikut. Sekarang take gitar, abis ini saxophone dan itu menyenangkan sih.Yang tadi itu ya, mewah.Iya. Gue bisa sama si Jay dan porsinya dia lebih besar kalau misalnya ini dikerjakan dalam format band. Bayangin aja, nggak mungkin kan saxophone main sepanjang lagu. Tapi karena ini gue semuanya, ya terserah gue mau gimana.Secara umum, dengan Rajakelana dan hasilnya, sudah puas? Basi sih, tapi gue harus tanya ini ke elo, Ndo.Gue ngerasa cukup sih. Kalau gue bilang puas, ya nggak akan pernah puas. Pasti ada ininya, ada itunya.Maksudnya, kalau elo dengar hasilnya dan punya kesempatan untuk melakukan review sekali lagi, akan mikir, “Ah, ini bisa gini nih, yang itu bisa digituin.” Gitu ya?Iya, kalau dipikir-pikir sih akan begitu. Tapi karena gue sudah terbiasa mengerjakannya, walaupun gue perfeksionis dan juga karena sudah umur juga, jadi ya dibungkus. Beda banget waktu masih sama Sore. Waktu itu, seluruh ke-BM-an (BM = banyak mau, –ed) pasti akan dikejar. Kalau sekarang, sudah tahu prioritasnya ada di mana dan harus mendahulukan yang ini dan nggak terlalu BM. “Oh, ini sudah cukup nih.” Gue udah tahu kapan mau bilang cukup. Bedanya itu.Nah, elo kan musisi yang jam terbangnya sudah tinggi ya. Sudah dikenal orang, punya karya sendiri, sudah belasan tahun. Untuk sampai di titik yang begitu susah nggak sih? Apalagi tadi elo bilang, bahwa elo itu perfeksionis.Nggak susah sih. Proses aja. Proses karena gue sudah banyak mengerjakan proyek-proyek. Selain di band, gue juga pernah jadi produser untuk Payung Teduh, Ayu Sita dan Noh Salleh. Dan kerjaan scoring film juga banyak. Jadi, ya gue tahu kapan harus membungkus sebuah proyek dan bilang ok.Kalau disuruh memilih, mendingan jadi pekerja scoring film apa punya karya sebagai penyanyi solo?Beda ekspresinya. Kalau menurut gue, penyanyi solo atau singer-songwriter yang punya karya solo jelas nilai plusnya, ini kan karya gue pribadi. Karena ini personal, jadi gue bisa mengekspresikan apapun yang gue mau secara total. Ketika kerja di film, ya gue kerja sama sutradara. Gue hanya menjalankan visi dia sebagai sutradara. Ya kadang memang sesuai, maksudnya emang gue juga suka. Tapi kan nggak selamanya seperti itu. Kalau disuruh membandingkan, walaupun status lo pendatang baru, tapi elo sudah ada dalam format sebelumnya di industri ini. Gimana sih industri sekarang, dari kacamata seorang singer-songwriter. Apakah memproduksi musik sekarang lebih sulit atau lebih gampang?Untuk jadi produser dan memroduksi rekaman, industri sekarang ya lebih ada gampangnya dan juga ada susahnya. Kalau susahnya memang untuk pemusik atau band yang sama sekali baru. Karena menurut gue, agak sulit jalur promosinya. Sekarang kan sudah susah untuk bisa melakukan promosi kayak dulu; radio, tv dan segala macem. Jaman dulu kan kita bikin video lalu lempar ke MTV, lumayan ada efeknya langsung. Sekarang kan, at least, elo harus sendiri dan manajemen lo yang mengerjakan itu. Emang harus terus kreatif untuk melakukan promosi. Untungnya, gue juga punya tim. Sarah (Sarah Glandosch, istri Mondo –ed) kan mendukung untuk itu. Dia tahulah untuk mengemasnya dan menurut gue hasilnya lumayan.Dalam kasus lo, sudah menemukan bahwa cara lo berpromosi itu lumayan adaptatif dengan keadaan sekarang?Menurut gue sih lumayan adaptatif dan efektif sih. Kan gue juga punya label sama Sarah. Pertama kali kita proyeknya Payung Teduh. Dari dulu mereka nggak ada yang tahu, cuma di kampus dan kita promosiin terus, akhirnya sebesar ini. Yang pas gue, gimana caranya ya? Mungkin Sarah berpikir, walaupun Sore itu sangat dikenal, tapi sekarang nggak semua orang tahu gue pernah di sana.Karena Sore punya belokan karir yang lumayan aneh, karena ada fase yang putus?Iya, itu sempet gue obrolin juga tuh. Kayak penggemarnya beda.Iya, gue memerhatikan itu sih. Mereka kebagi dua, pra dan paska SSSTTT.Karena cdnya abis kali ya? Cdnya nggak ada, jadi kayaknya orang dengar di download-download. Nggak pernah tahu sejarahnya gimana. Ya, jaman sekarang kan memang seperti itu. Pas Sarah promosiin gue dengan pattern yang baru ini, ya lumayan efektif. Kenapa gue bikin Ivy League Music ini juga karena gue melihat label-label sekarang yang pada ok. Kan kondisinya sekarang setiap band bisa produksi sendiri. Distribusi juga ok. Tapi nggak banyak label yang mau ambil promosi. Itu gue rasa nggak ada. Karena duit dan kedua perlu effort yang besar. Alasan gue bikin label, ya untuk itu. Karena gue pengen tetap ada tradisionalnya di sini nih. Ok, gue bisa produksi, gue juga bisa distribusi. Walau promosi harus digenjot banget, tapi tetap ada pakem-pakem tradisionalnya; kapan harus rilis, press releasenya bagaimana, apa yang harus diluncurkan. Yang gitu-gitu. Eh, aneh nggak sih yang gue omongin?Justru seru sih.Nggak, serius. Kalau gue ngomong promosi, ya gue nulis press release harus bener. Karena itu akan disampaikan kepada wartawan. Wartawan kan males nulis, males mikir, itu akan dicopy-paste untuk bahan mereka.Nggak bisa dihindari ya kualitas wartawan sekarang secara umum?Iya. Jadi, sebenarnya, apa sih yang pengen orang tahu tentang elo. Udah tulis aja di press release. Nanti akan mereka keluarin. Ini yang kita omongin tadi, salah satunya ya tadi di perancangan itu. News valuenya apa sih dari berita lo?Ok. Nah, kalau dipikir, effort uang elo habiskan untuk mengatur sisi non teknis selain rekaman itu lumayan banyak ya?Lumayan sih. Maksud gue, elo mengikuti intuisi bahwa akhirnya mikirin sampai punya box set, pertunjukan khusus, yang gitu-gitu.Iya, itu lumayan banyak sih effortnya. Tapi memang balik lagi, sekarang kan bukan cuma sekedar elo beli cd selesai gitu. Tapi kita berpikir valuenya apa? Kayak, ok elo download lagu, denger streaming. Itu kan ibaratnya strata yang paling bawa secara value komoditas. Ok cd elo dapat experience, at least elo buka cdnya dan lain-lain. Terus plat lain lagi. Terus box set dan konser itu kan ada experience yang lebih punya value. Itu jadi dasar lo kenapa, “Ok, gue harus bikin ini-itu.” Bekerja sedikit lebih keraslah dari sekedar orang yang rekaman dan merilis karya?Iya, karena gue pengen memberikan experience yang lebih itu. Yah, elo tahu sendiri kan? Denger lagu sih semua orang bisa. Tapi kan experience yang orang inginkan sebenarnya dari menikmati karya lo.Sekarang tentang penyebarluasan karya. Tadi kita ngomong masalah promosi, sebenarnya gue tertarik dengan kemampuan musik lo yang sedikit Indonesiana itu, terus bisa ketemu pasar yang lebih luas. Kayak tadi elo sebut akan dirilis di Jepang dan mungkin album Rajakelana ini relevan untuk pasar Malaysia. Sebenarnya, elo ingin membawa Rajakelana ini sejauh apa sih?Namanya juga suatu karya, menurut gue apapun yang kita buat pakai hati, itu layak untuk disebarluaskan. Dibagi kemana-manalah. Dan di Jepang sudah ada label yang kerjasama. Ya nggak menutup kemungkinan lain sih sebenarnya. Seru aja. Kayak Malaysia itu, apapun yang dari Indonesia sebenarnya akan mereka tangkap.Topik terakhir nih. Elo pengen album ini gimana sih? Seperti apa elo ingin Rajakelana dipersepsikan orang? Kenapa elo memproduksi, menulis lagu-lagunya, apa yang ingin elo dapatkan sebagai musisi?Kalau lo ngomong berkarya, gue sebenarnya cuma pengen berkarya. Dan memang ya gue punya materinya. Gue ada ide-ide untuk materi sealbum dan gue ingin merealisasikannya menjadi karya album yang utuh. Dasarnya itu. Ketika ia bisa menyebarluaskan idenya, it’s a blessing. Harapan gue sih bisa seluas-luasnya, album ini bisa berkelanalah.Seperti judulnya?Iya, seperti judulnya.Kenapa sih judulnya Rajakelana, ngomong-ngomong. Itu tadi kelewatan tuh.Ada beberapa judul yang sempat didiskusikan waktu itu. Ya kepikiran frase Rajakelana itu dari lagunya Ismail Marzuki, lagu Rayuan Pulau Kelapa. Ini artinya apa ya? Kayaknya angin. Ternyata emang angin setelah gue cari-cari. Nggak banyak yang pakai kata itu dan secara idiom, itu sangat Indonesia. Dan gue suka Ismail Marzuki juga. Dan lagu itu, secara outlook, tone ekspresinya memang bisa mewakili lagunya.Bahwa ini angin?Iya, bahwa ini angin dan membawa suatu kabar, harapan. Jadi, waktu dulu gue merilis single pertama, entar kalau bikin album, gambarannya apa ya? Gue pernah bertanya ke diri sendiri dulu tuh. Apa ya, gue belum kebayang secara musik. Yang kebayang sama gue waktu itu, angin, bayangan dan cahaya. Dan ketiga hal itu bisa menjadi benang merah album ini. Kata Rajakelana itu bisa menggambarkan benar merahnya tadi. (*)*) Foto tema diambil oleh Omar Annas, foto live oleh Babotz dan foto di badan tulisan diambil oleh Rendha Rais.

    Album Review: Panorama oleh Komunal

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassSetelah dua belas tahun, debut album fenomenal Komunal kembali tersedia dalam kemasan yang generik. Dari sinilah frase “Demi kau dan semua mati” atau “Pemuda belati” itu berasal.Album Panorama dirilis tahun 2004. Waktu itu di Bandung, tiba-tiba sejumlah sudut aktivitas musik independen diserbu oleh materi publikasi menyerupai bendera salah satu faksi dari sejarah panjang Amerika Serikat. Saya lupa sisi yang mana. Tapi, nama pemilik publikasi itu menyita perhatian; Komunal.Nama band yang bagus, pikir saya dalam hati. Band ini, tidak ada jejaknya, relatif bisa dibilang muncul tiba-tiba. Setelah kasak-kusuk ke berapa teman, ternyata isinya sekumpulan perantauan asal Sumatera. Manajer mereka pada waktu itu, Dade, membuka kontak. Singkat cerita, dapatlah saya kaset album Panorama.Di sebuah pagi yang cerah di Bukit Jarian, Ciumbuleuit –pada waktu itu belum dipenuhi gedung tinggi berwujud apartment— album ini berkumandang dengan tegas dari tape deck warisan mantan pacar yang saya amankan untuk kepentingan pribadi. Suaranya, aduhai. Dari situlah, hubungan akrab dengan kekaguman akan suara Doddy Hamson dimulai.Tidak bisa dipungkiri, cara bernyanyi Doddy Hamson yang begitu berat menjadi penarik utama pada musik Komunal. Musik cadas selalu bergelora di Bandung, sampai hari ini. Jadi pilihan untuk memainkan rock yang seperti kita kenal sekarang ini, bukanlah sesuatu yang unik. Keunikan itu menjadi faktor yang membuat Komunal dilirik orang.Ditambah lagi kemampuan mereka untuk menulis lagu yang liriknya tidak main-main. Kontemplatif di satu titik, tapi penuh kemarahan di bagian lainnya. Sesekali juga bisa romantis. Ini contohnya:Hari ini bukanlah kemenanganHari ini apa yang menakutkanHari ini siap menjadi rentaHari ini pertanyaan terbesar(21.22.26.29)Atau:Sebotol anggur yang kucintaTemanilah ku bersamaCinta yang kupunya bukanlah indahKau akan terbiasa(Dalam Kerinduan)Memang, harus diakui pula, bahwa penulisan liriknya belum secanggih album Gemuruh Musik Pertiwi yang paripurna itu. Tapi, tanda-tanda untuk menjadi bagus sudah sangat kelihatan di Panorama. Mereka juga masih berbicara dalam Bahasa Inggris, sesuatu yang tidak begitu spesial jadinya kalau kita menarik ke masa depan Komunal.Kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan baik ini, sesungguhnya menjadi cikal bakal nikmatnya musik Komunal yang hari ini. Panorama mengandungnya.Ketika dilihat ke belakang, sekitar satu dekade kemudian –karena Panorama terlebih dulu dirilis ulang dalam bentuk piringan hitam beberapa tahun yang lalu—, album ini menjadi sebuah pengingat yang bagus; bahwa kisah sebuah band penting untuk diikuti ketika mereka menjadi begitu konsisten memainkan apa yang mereka percaya. Komunal punya ini. Di album Panorama ini, saya mencintai Demi Kau dan Semua Mati, Dalam Kerinduan, 21.22.26.29 dan Higher dan Mountain.Komunal baru saja memenuhi kewajibannya untuk membiarkan api yang dikandung album ini menyala dengan terang. Mereka merilis ulang Panorama dalam bentuk cd. Supaya abadi. Dan karenanya, saya berterimakasih pada mereka atas upaya ini. (*)*) CD Panorama bisa langsung dipesan melalui Omuniuum.

    Album Review: Istirahat oleh Aubrey Fanani

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassKabar bahwa Aubrey Fanani telah merilis debut albumnya bergulir dengan deras lewat beberapa akun Instagram yang saya ikuti. Kebanyakan dari mereka teman baik. Kebanyakan dari mereka juga ada di ruang dan waktu yang sama, menyaksikan si subyek bahasan memainkan set pendeknya membuka penampilan Bandempo di Gudang Sarinah Ekosistem beberapa waktu yang lalu.Waktu itu, Aubrey Fanani diperkenalkan sebagai seorang perantau dari Medan yang ingin berjibaku di Jakarta. Ia punya ketertarikan pada musik dan menulis lagunya sendiri. Tidak banyak orang yang hadir malam itu, tapi ia menunaikan perannya dengan baik untuk membuka pertunjukan Bandempo sekaligus membiarkan orang-orang yang datang pulang dengan partikel ingatan yang kuat akan musiknya.Nah, deskripsi paling mudah tanpa berpikir untuk menggambarkan musik Aubrey Fanani adalah Harlan Boer versi perempuan; nyeleneh, semena-mena membiarkan progresi musik menari dan punya kekuatan lirik yang tidak main-main.Kalau Harlan Boer banyak bercerita tentang kehidupan sebagai orang Jakarta, Aubrey Fanani dengan kacamata yang sama personalnya, memilih cara yang sedikit berseberangan. Kisah-kisah tentang bagaimana menaklukan kota Jakarta dari sudut pandang pendatang, bertebaran dengan jelas di seluruh lagu yang dikandung debut albumnya ini.Oh iya, judul debut albumnya adalah Istirahat.Seorang teman, yang juga sama-sama tertarik dengan musiknya bilang sesuatu ke saya beberapa hari sebelum tulisan ini diselesaikan, “Kok album pertama judulnya Istirahat sih? Emang dia udah mau udahan?”Dua pertanyaan berentet itu kemudian memberi konteks bagaimana menyikapi rekaman ini. Kalau sudah mendengarkan album ini dari depan sampai belakang, bisa jadi impresi pertama yang menempel adalah mengartikan karya ini sebagai sekumpulan lagu yang enak sekali didengarkan ketika rebahan di ujung hari. Mereka, secara kolektif bisa menerangkan bagaimana sebuah hari milik kelas pekerja berlangsung.Seluruh lagu di Istirahat disajikan dengan sangat mentah. Direkam live pula. Jadi, cenderung ruang kosmetika suaranya diperkecil. Dinamikanya dibiarkan liar untuk bisa tersajikan begitu saja, persis seperti penampilan panggung Aubrey Fanani yang sangat sederhana.Istirahat adalah album yang apa adanya. Di balik seluruh lagu di debut album ini, sesungguhnya menarik untuk menunggu Aubrey Fanani berjalan bersama waktu, membawa ceritanya ke level lain dari yang sekarang. Karena mengikuti orang-orang dengan karya yang santai seperti ini, bisa menjadi pengalaman mematut diri di depan kaca yang menghasilkan refleksi penting untuk hidup.Buat sebuah debut, Istirahat ini bolehlah. (*)Di balik seluruh lagu di debut album ini, sesungguhnya menarik untuk menunggu Aubrey Fanani berjalan bersama waktu, membawa ceritanya ke level lain dari yang sekarang. Karena mengikuti orang-orang dengan karya yang santai seperti ini, bisa menjadi pengalaman mematut diri di depan kaca yang menghasilkan refleksi penting untuk hidup.Buat sebuah debut, Istirahat ini bolehlah. (*)

    Show More