Notifikasi

    sriwijayaqube

    oleh
    22 Pengikut
    22 Konten
    Palembang, Sumatera Selatan.

    Liburan Awal Tahun di Pesisir Barat Lampung

    oleh Tias Anugrah Akhirnya wacana yang didiskusikan bersama teman-teman satu tongkrongan diakhir tahun kemarin tereksekusikan diawal tahun ini. Kami memilih untuk kembali ke tempat wisata pantai yang pernah kami kunjungi beberapa tahun lalu. Ya, Pantai Krui dan Pantai Tanjung Setia menjadi pilihan kami. Pantai yang merupakan salah satu spot wisata favorit bagi para wisatawan khususnya kalangan surfer mancanegara. Tempat yang sejuk dan damai yang menyajikan keindahan alam luar biasa dengan pasir putih dan ombaknya yang gemulai. Lokasi wisata pantai ini berada di Pesisir Barat Lampung.Kami menempuh perjalanan kurang lebih 11 jam dari kota Palembang. Sebenarnya agenda perjalanan liburan kami ini hanya kami rampungkan untuk ber-5, mengingat keadaan kendaraan yang kurang memadai, mobil yang kami bawa tidak berdaya tampung muatan besar, hanya cukup untuk 5 orang dan beberapa barang kebutuhan. Namun dihari ketika kami mau berangkat, ada 2 teman yang ingin ikut dan ngotot akan menempuh perjalanan dengan mengendarai motor, akhirnya kami sepakat untuk beriringan dan berganti-gantian kendaraan jika ada yang lelah selama perjalanan yang kami tempuh.Singkatnya, akhirnya kami tiba di Pantai Krui. Begitu tiba kami langsung berenang di pantai untuk penyegaran karena cukup lelah di perjalanan yang jauh. Setelah selesai kami langsung mendirikan tenda untuk bermalam. Kami memang merencanakan perjalanan kami dengan mandiri agar lebih seru, asik dan keakraban yang lebih. Tanpa hotel, penginapan yang mahal, bahkan losmen sekali pun. Hanya cukup dengan 2 tenda dome dengan muatan total 8 orang untuk kami beristirahat.Sejujurnya Pantai Krui tidak seindah dulu ketika pertama kali kami liburan disana, mungkin karena sudah terlalu banyak terjamah wisatawan dan ditambah pasangnya air laut yang menutupi pasir pantai sehingga pantai tak terlalu luas lagi untuk dinikmati.Lalu dihari berikutnya, kami memilih untuk pindah lokasi ke Tanjung Setia, cukup dengan waktu tempuh setengah jam perjalanan dari Krui. Begitu tiba kami menemukan spot yang cukup jauh dari jalan raya, namun luar biasa indah disalah satu perkebunan kelapa milik seorang Bapak yang baik hati disana, dan juga dijaga oleh seorang Bapak tua dan keluarganya yang baik hati pula. Tempat yang luas dengan banyak pohon kelapa, dan langsung disajikan pemandangan indah lepas pantai nan luas dan pasir pantai yang bersih. Lebih menyenangkan lagi karena disana hanya kami dan tak ada seorang pun yang berwisata, kami merasa seperti di rumah sendiri. Kami memutuskan untuk disana selama 2 hari 2 malam. Bergitar, bersenda gurau, tertawa-tawa, bercerita dengan si Bapak penjaga kebun, bermain bola, api unggun, dan pastinya berenang dan bermain ombak di pinggir pantai.Tempat yang luar biasa indah dan suasana yang tak terlupakan. Tanjung Setia cocok sekali untuk destinasi perjalanan dalam list kalian jika kalian ingin menikmati liburan bersama teman-teman dengan suasana keakraban yang kental. Namun yang perlu diingat adalah jangan pernah sesekali kalian kotori dan marilah jaga kebersihannya. Karena menjaga alam beserta keindahannya adalah tugas dari masing-masing kita yang diberi tempat hidup oleh Sang Pencipta dimana pun kita berada.

    Interview Bareng Rowe Seputar Street Art

    oleh Tias Anugrah Untuk scene street art, Palembang bisa dibilang tak kalah dengan scene-scene street art atau visual art kota-kota lain di Nusantara. Banyak sekali street artist yang mulai bermunculan, dan nama-nama lama pun tetap ikut meramaikan agenda-agenda acara visual art yang diorganisir oleh teman-teman lokal, juga mereka ikut andil dalam membesarkan nama Palembang untuk lebih ditoleh di sub-culture street art atau visual art Nasional.Rowe salah satunya, muralist yang sudah cukup lama berkecimpung di scene street art atau visual art lokal ini juga punya peran besar terhadap kemajuan scene di kota ini. Muralist bernama asli Romy Rizki Pratama ini dalam kesehariannya sibuk sebagai Store Manager di Daftstore Palembang, salah satu store yang cukup ternama disini.Darah muda berkelahiran tahun 1993 ini membuktikan bahwa kesibukannya sehari-hari tidak menghalanginya untuk terus berkarya di sub-culture visual art Palembang.Ya, dan kali ini simak obrolan saya bersama Rowe seputar cerita menariknya di dunia Street Art.Apa kabar nih Rowe?Alhamdulillahh baik dongSemenjak kapan Rowe nyemplung ke dunia street art? Dan apa yang buat Rowe tertarik untuk mulai nge-mural?Semenjak duduk di bangku SMP, hal yang menarik sehingga saya mulai ngemural itu ketika melihat coretan di tembok/dindingjalanSebenernya mural itu apa sih? Dan apa yang ngebedain mural sama grafiti?Menurut saya, mural itu sebagai tanda/pesan seseorang yang ingin mengapresiasikan pikirannya secara visual, bedanya mural sama graffiti mungkin terletak di toolsnya doang, kalau mural biasanya dilakukan dengan kuas, spons, kain. Kalau grafitty itu menggunakan kaleng/cat semprot dan beberapa alat bantu lainnya. Dan perbedaan hasil gambarnya pun biasanya kalau mural itu masih berbentuk/berupa, tapi kalau grafitty itu biasanya berbentuk font/letterDenger-denger katanya Rowe punya proyek mural yang namanya Dauruang, emang Dauruang itu apa sih?Kalau Dauruang sendiri adalah sebuah gerakan atau wadah untuk orang-orang yang tertarik di bidang art, belajar gambar dan beberapa proyek design yang berkaitan dengan art Sejak kapan Dauruang berdiri? Bisa lah ceritain sedikit gimana inisiatif bisa nge-bentuk Dauruang ini?Dauruang telah ada di tahun 2013 awal, dan terbentuk di kota Bandung, dimulai dari ketidaksengajaan yang di rencanakan, sebelum Dauruang ada nama yang mewakilkan berdasarkan gerakan yang saya bikin, yaitu ART & ROOM, karena hanya bergerak di bidang mural di dinding-dinding ruangan atau kamar. Dengan berjalanya waktu saya pun berpikir untuk memperluas gerakan tersebut, dengan kegiatan dan perbuatan yang lebih sehingga saya biasa melibatkan orang banyakProject kedepan yang sedang digarap oleh Dauruang?Saya ingin membentuk pola pikir di kota saya, ketika semua orang membutuhkan bantuan design, mural dan sebagainya yang berhubungan dengan dunia art, mereka langsung berpikir DAURUANG lah tempatnyaCeritain sedikit moment yang paling Rowe inget selama terjun ke dunia mural?Ketika semua orang suka dengan karya yang saya buat, dan mereka ingin memilikinyaBoleh dong ya kasih wejangan sedikit buat street artist lokal Palembang untuk tetap berkarya?Pointnya lakukan, berbuat dan jangan pernah meragukan apa yang kamu rencanakan untuk berkarya dalam bidang apapun itu

    Solidarity Gig From Us For Aceh

    oleh Tias Anugrah Tak butuh banyak alasan atau memang tak butuh mencari alasan dalam mengorganisir sebuah aksi solidaritas. Merespon bencana bukan hanya sekedar penggalangan dana, tapi juga sebuah penguatan untuk penyintas agarnya bisa menyusun ulang kehidupannya (dalam hal ini) dari reruntuhan bencana alam, untuk terus bertahan, untuk terus melanjutkan hidup. Dan sekali lagi yang menjadikan kenapa sebuah solidaritas begitu penting: saling menguatkan untuk terus hidup adalah yang utama. Aceh kembali lagi ditimpa bencana gempa, maka selanjutnya adalah penggalangan solidaritas akannya. Mengajakmu semua untuk bergabung di tanggal 26 Desember 2016, sekaligus tepat 12 tahun tsunami aceh, dalam sebuah gigs solidaritas "From Us For Aceh." It's from us, not anybody, bring what you think you can bring and give to survivor.Ya, begitulah caption menarik yang tercantum dalam digital flyer yang diposting teman-teman lokal dan juga partisipan yang terlibat di dalam acara Solidarity Gig From Us For Aceh yang kemarin tepat bertepatan dengan 12 tahun tsunami Aceh digelar di 4sore Cafe Palembang. Sebetulnya gigs yang diorganisir oleh banyak partisipatoris (begitu mereka menyebut partisipan yang terlibat) yang diantaranya adalah 4sore, Rocker Serabutan, Spektakel Klab, Youth Generator, Rimauman Music, Groovies Studio, Blacksheep Studio, RAW Rock Art Wear, Angkringan Bangkoek, dan Obscure Division ini dibuat untuk merespon gempa bumi Aceh yang berkekuatan 6,4 Skala Richter dan juga banyak memakan korban jiwa yang terjadi tanggal 7 Desember 2016 kemarin. Sengaja dipilih tanggal 26 Desember untuk sekaligus memperingati peristiwa bencana alam besar 12 tahun tsunami yang merenggut ratusan ribu nyawa pada waktu itu. Di gigs ini, terbuka juga bagi mereka yang ingin terlibat untuk melapak barang yang pembagian keuntungannya didonasikan untuk acara sesuai yang disepakati oleh panitia dan pelapak.Gigs ini dimulai pukul 5 sore. Dipandu oleh MC amatiran yaitu Agil Zihni dan Tias Anugrah. Melibatkan 7 band dari berbagai genre, band-band yang semuanya hampir tidak asing lagi di telinga tentunya. Namun di laga pembuka saya cukup terkesima dengan satu nama yang terdengar asing, yaitu Hear The Sound Of The World (H.T.S.O.T.W), yang ternyata adalah nama baru dari Time salah satu band indie rock/post-rock lokal favorit. Selepas hengkangnya si vokalis, lalu mereka memilih untuk terus melanjutkan musik mereka walau tanpa vokal. Ini penampilan perdana mereka dengan konsep baru tersebut, terus terang mereka tampak sangat memukau, dan mungkin selama saya menonton mereka ketika masih berwujud Time, ini adalah penampilan terbaik mereka, sebuah metamorfosis yang berbuah manis. Setelah H.T.S.O.T.W, penampilan langsung disambung oleh Tabu, unit grindcore yang baru saja merilis EP mereka bertajuk Simulasi Mati, mereka masih terlihat berbahaya walau saat itu berformat duo karena Tomi sang vokalis absen.Hear The Sound Of The World (Photo by Muhammad Megi)Acara dilanjutkan kembali pukul 19.30 WIB oleh Black Coffee Ice yang kembali memasukan City of Ghost milik ((AUMAN)) dalam song list mereka malam itu, seperti biasa dicover ala ska/reggae, tentunya membuat crowd yang dari tadi malu-malu langsung menyerbu ke depan stage untuk berdanska bergembira. Lanjut ke band berikutnya, Gerram malam itu memastikan crowd mereka tak berhenti melakukan stage diving sampai-sampai lampu gantung yang menghiasi 4sore sempat ambruk terkena kaki dari salah seorang crowdsurfer, untungnya langsung tanggap dirapikan kembali oleh panitia.GERRAM (Photo by Muhammad Megi)Tempo penampilan band-band yang sengaja diatur naik turun oleh panitia sangat pas untuk membuat crowdsurfer beristirahat sebentar, menghilangkan keringat sembari menikmati penampilan dari Aksata. Penampilan dan musikalitas Aksata selalu membuat saya terbius suasana, selain itu Ella (Bass) juga selalu berhasil mencuri perhatian audience ketika jari-jemarinya memainkan bass saat Aksata tampil, apalagi di gigs ini Ella satu-satunya pemanis di atas panggung dari beberapa band yang terlibat.AKSATA (Photo by Tias Anugrah)Selanjutnya aksi dari Manekin, Trio Powerviolence yang baru-baru ini juga merilis debut album Dead Violence Society dalam format kaset. Berisi lagu yang menyuarakan perlawanan dan kritik sosial akan anti fasisme. Manekin sukses memperkeruh mosh pit setelah aba-aba dari Taxlan (Vocal) direspon dengan baik oleh crowd yang langsung membentuk circle pit dan bersiap stage diving untuk lagu-lagu dengan tempo cepat dan durasi singkat. Akhirnya Hold It Down berada di formasi penampilan terakhir, band Hardcore ini sukses menutup Solidarity Gig From Us For Aceh dengan membawakan Sriwijaya Hardcore Alliance featuring Boilank dari Trendy Reject.MANEKIN (Photo by Tias Anugrah)Malam itu benar-benar berkesan. Entahlah, sebenarnya memang sudah jarang sekali gigs dengan suasana keakraban yang kental seperti ini atau mungkin saya yang mulai sering absen di agenda-agenda gigs yang menyenangkan. Ini menunjukan bahwa dalam kondisi apapun kita wajib tetap peduli akan sesama makhluk Tuhan dan menunjukan kepedulian juga solidaritas. Bahwa musibah tak harus direspon dengan kesedihan berlarut-larut, terkadang kita harus tersenyum dan bahagia untuk memancing senyum dan kebahagiaan mereka juga, untuk menghibur dan sejenak melupakan apa yang mereka alami. Semoga apa yang dilakukan teman-teman scene lokal bisa bermanfaat untuk saudara-saudara kita di Aceh. Karena seharusnya keluarga bukan hanya tercipta lewat hubungan darah, tetapi juga karena kebersamaan dan kepedulian antar sesama.Mosh Pit (Photo by Iga Aldila)

    Lesseh Klan Group DJ from Palembang

    oleh suraji Qubers kalo di Tanya siapa “YELLOW CLAW” ? pasti uda pada tau ya kan ? DJ asal amterdam Belanda yang sekarang lagi bener bener fenomenal di Dunia ini, mengusung gendre “TRAP MUSIC” Yellow Claw sangat mendunia dan bahkan sampe ke Indonesia. Yellow claw sudah lebih dari 4 kali manggung di Indonesia, dan ini bener bener memberikan kesempatan buat semua Yellow Claw Soldier Indo buat menyaksikan penampilan mereka secara langsung. Trap Music kemudian menjadi sangat popular di Indonesia, berbagai DJ mencoba meramu music dengan memasukkan unsur TRAP di karya mereka, dan gak cuma sampe disitu ada beberapa Yellow Claw Soldier yang akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah Project group DJ. Mari kita kenalan dengan “LESSEH KLAN” Group DJ asal kota Palembang yang memilki formasi 2 DJ dan 2 MC noise, Lesseh Klan berdiri pada tanggal 15 Februari 2015 dengan member Ayik dan Iyan (DJ) Ayar dan jarot (MC Noise), mengusung genre Trap, hip hop, dubstep, dan hardstyle mereka mulai mewarnai scene EDM di Indonesia, bicara soal makna dari sebuah nama “lesseh klan”, jarot mengatakan Lesseh Klan di ambil dari 2 kata Lesseh yang bermakna kesederhanaan dan klan yang memiliki arti kekeluargaan, jadi mereka ingin memaknai sebuah group dj ini sebagai bentuk kesederhaan yang di topang oleh landasan kekeluargaan, mantap kan ! Lesseh klan merilis single pertama mereka berjudul “BRINGIN FIRE” di tanggal 16 februari 2016, kemudian mereka berkolaborasi dengan salah satu rapper asal Palembang Nesto dengan judul “struggle”, mereka sekarang sedang sibuk keluar masuk studio untuk produce lagu lagu baru buat mempersiapkan mini album yang rencana nya akan di rilis di pertengahan tahun 2017 ! Iyan sang DJ mengatakan selain terinfluence oleh Yellow Claw, mereka juga mendapat banyak inspirasi dari musisi local seperti Dipha barus, mahesa utara, dan angger dimas, terakhir Lesseh klan mengatakan kalo keinginan terbesar dari mereka ber empat adalah menjadi opening act dari Yellow Claw entah di panggung manapun ! yaps qubers kita support terus Lesseh Klan semoga bisa terwujud semua rencana mereka. 

    GUNZ Cafe Live Music & Sisha Corner

    oleh suraji Helo Qubers ! lagi liburan ke kota Palembang ? uda puas icip icip makanan khas Palembang mulai dari pempek, pindang ato makan tradisional lainnya, terus bingung kira kira tempat nongkrong yang pas buat ngabisin waktu santai di malam hari, jangan khawatir qubers di kota “wong kito galo” sekarang uda banyak banget tempat hangout yang sangat variatif mulai dari café shop, restaurant, bar dan lain lain. Dari sekian banyak café yang ada di Palembang, saya rekomendasiin satu café yang sangat oke banget buat qubers kunjungi, nama nya adalah “GUNZ CAFÉ” berlokasi di kawasan Kambang iwak di pusat kota Palembang.Gunz café bisa dibilang adalah salah satu café yang sudah berdiri cukup lama, maklum di Palembang sendiri perkembangan café café baru di mulai di awal tahun 2013 an, hadirnya mal mal baru yang diisi dengan coffee shop ternama seperti starbuck, excelso, dll kemudian merangsang investor untuk memulai bisnis ini, balik lagi cerita tentang Gunz café, café yang berdiri di pertengahan tahun 2011 ini memiliki konsep Live music setiap harinya. Gunz café buka dari jam 4 sore sampai jam 12 malam di hari biasa, dan di malam minggu sampai jam 1 dini hari. Qubers bisa menikmati suasana santai disini dengan hiburan Band akustik di mulai dari jam 7 malam sampai jam 10 malam, dan full band sampe jam 12 malam, bicara soal menu yang ditawarkan sangat beragam loh ada western dan Indonesian food, yang favorit disini adalah Bebek cabe ijo dengan porsi yang pas disajikan dengan tempe dan tahu bisa bikin qubers keringetan dan bilang wuenak hehehe, gak cuma itu doang buat Qubers yang doyan sisha ? nah disini tempat yang paling pas buat nikmati sisha bareng temen temen, “SISHA JELA” tersedia beragam rasa loh qubers mulai dari apple mint sampe vanilla wuihh di jamin bikin suasana malam kamu jadi lebih seru ! Gunz café juga sering banget datengin band band keren dari Jakarta, kalo qubers beruntung bisa nyaksiin penampilan artis artis keren di sana, dengan konsep panggung yang sangat dekat sama penonton di jamin kamu bisa ngerasain suasana yang intimate banget dengan guest star nya ! Gunz café sendiri biasanya menghadirkan band band dari Jakarta minimal 1 bulan 2 kali dan biasa nya di akhir pekan. Oke qubers tunggu apa lagi kalo kamu sedang di Palembang ato punya plan mau ke kota pempek pastiin Gunz café jadi list yang harus kamu datangi . 

    DIALOGUE Coffee Shop memenuhi hasrat pecinta kopi.

    oleh Iga Aldila Membaca, bermusik, bertualang, berdialog, atau sekedar ngopi adalah sesuatu yang disukai, terlebih lagi untuk berdiskusi, baik dengan yang mempunyai ketertarikan yang sama atau sudut pandang yang berbeda.Dialogue Coffee Shop baru dibuka sejak tanggal 2 Desember 2016, di jalan KH. Ahmad Dahlan Nomor. 61 Palembang, buka setiap hari dimulai dari pukul 17.00 WIB. Menilai desain interiornya, Coffe Shop ini hanya terdiri dari susunan kayu yang cocok untuk instagram photo hunter dan display buku untuk yang ingin membaca buku ditemani kopi.Untuk kopinya sendiri Dialogue Coffee Shop menyediakan berbagai jenis kopi dengan harga mahasiswa. Tidak menyediakan Wi-Fi bukan menjadi masalah karena konsep dari Coffee Shop ini adalah bersantai dan berdiskusi dengan tidak hanya sekedar ngopi dan main gadget.  

    Show More