Alang-AlangZeroWasteDalamMenyelamatkanLingkungan

October 01, 2019Qubicle
Mengenal peran Alang-Alang Zero Waste dalam menyelamatkan lingkungan melalui program-programnya.

Sebuah hasil riset dari seorang peneliti bernama Jenna Jambek, dari Universitas Georgia, Amerika Serikat sempat menggemparkan publik tanah air. Masalahnya, hasil dari penelitian yang berfokus pada ekosistem kelautan itu, nama Indonesia muncul sebagai negara penghasil sampah terbanyak ke-2 di dunia. Tercatat, Indonesia menyumbang sampah plastik kepada laut sebanyak 3,2 juta ton. Berdasar pada hasil riset itu, berarti setiap penduduk Indonesia bertanggungjawab atas 17,2 kilogram sampah plastik yang mengancam dan meracuni ekosistem bawah laut. Fenomena ini kemudian menghantar Indonesia dinobatkan sebagai negara darurat sampah plastik dan menjadi satu dari sekian banyak masalah pelik terkait lingkungan yang tengah bangsa ini hadapi. 

photo: Samuel Christ

Lewat keresahan itu, Lydia Imelda Sitorus dan seorang kawan bernama Eva Bachtiar tergerak untuk turut ambil bagian dalam misi penyelamatan. Mereka memulai langkah sederhana namun kongkret, dengan mendirikan sebuah toko ramah lingkungan bernama Alang-Alang Zero Waste pada akhir 2018 silam. Gerai yang mereka dirikan itu menawarkan bahan makanan dan minuman organik. Tak hanya itu, Alang-Alang Zero Waste juga menyediakan alat makan ramah lingkungan. “Fokus kami memang bukan hanya berdagang. Tapi juga mengedukasi dan berbagi pengetahuan dengan konsumen, terkait manfaat makanan organik, dan apasih perlunya menggunakan alat makan yang enggak sekali pakai? Nah, lewat tukar pengetahuan inilah kami harap wacana terkait perlunya menjaga lingkungan dapat berkembang,” kata Lydia.

Lydia paham, bahwa membangun kesadaran masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan dengan tidak menggunakan plastik sebagai opsi utama bukan perkara mudah. Menurut Lydia, kebiasaan masyarakat Indonesia memilih plastik adalah karena harga yang terjangkau, dan instan. Melalui edukasi yang ia gagas lewat tokonya, ia berharap perlahan-lahan mampu mengubah budaya konsumsi plastik masyarakat kita. Targetnya tidak muluk-muluk, minimal warga sekitaran Surabaya. “Kami tahu bahwa membuka toko dengan konsep seperti ini, segmen pasarnya cukup sempit. Namun, kami juga tengah merancang strategi agar Alang-Alang ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Tapi itu juga butuh waktu dan proses,” Imbuh Lydia.

photo: Samuel Christ

Ia pun merasa bahwa mulai timbul sebuah tren di masyarakat untuk turut mengurangi penggunaan plastik. Tren tersebut dapat dilacak dengan mudah. Salah satunya dengan makin maraknya pengunaan sedotan berbahan stainless. “Tapi sebenarnya stainless pun juga bukan menjadi solusi. Karena ada bahan alumuniumnya, kan itu? Nah, lebih tepat sebenarnya ya menggunakan sedotan bambu itu,” tukas Lydia. Tak hanya untuk urusan kemasan saja, Alang-alang Zero Waste juga menaruh perhatian kepada limbah pangan berlebih. Maka, mereka pun memberikan kebebasan bagi konsumennya untuk membeli apa yang mereka butuhkan, tanpa ada batasan kuantitas. Bagi Lydia, limbah pangan juga dapat menjadi masalah bagi lingkungan kita. “Jadi ya memang benar-benar bebas. Kadang itu ya, sampai beli wortel cuman satu dua biji. Cuman tidak apa, karena itu yang mereka butuhkan. Jadi sekali masak selesai, tidak ada bahan busuk di rumah, yang kemudian dibuang ke tong sampah,” ujar Lydia.

Alang-Alang Zero Waste pun sadar, selain urusan menyelamatkan lingkungan, pemberdayaan dan kesejahteraan petani pun juga tak boleh luput dari perhatian. Mereka pun memilih untuk memangkas rantai distribusi yang selama ini kerap merugikan para petani. Lydia dan Eva pun berupaya mengambil sebagai produk buah serta sayur yang mereka jual pun langsung dari petani. “Sekarang, toko-toko dengan konsep serupa seperti kami pun mulai bermunculan. Kami tidak mengangap itu sebagai sebuah ancaman, melainkan itu adalah kabar baik bagi kami. Karena seiring semakin banyaknya manusia yang peduli akan lingkungannya, maka akan semakin baik pula bagi lingkungan kita,” tutup Lydia. 

photo cover & thumbnail: Samuel Christ

editor: Ayunda 

Like what you read? Give Qubicle your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle

    Find latest news and top stories updates from across the world.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US