MemahamiPewarisan‘Ketakutan’AkanRambutGondrong

January 10, 2019Qubicle
Aksi razia rambut gondrong yang dulu kita alami di sekolah bukan lain adalah usaha basi Orde Baru dalam mempertahankan kekuasaannya.

Zaman sekolah dulu, pernah nggak kalian yang sempat punya rambut gondrong—atau teman dengan rambut gondrong—mengalami razia oleh guru? Kira-kira kenapa, sih, rambut gondrong diberikan stigma dan “ditakuti” seolah pemiliknya adalah orang yang berbahaya?

Stigma ini nggak terbentuk dengan sendirinya, melainkan ada sejarah yang melatarbelakangi pemberian cap negatif terhadap rambut gondrong.

Salah satu titik tolak dari "pengharaman" rambut gondrong di Indonesia adalah tahun 1973, ketika Menteri Pertahanan mengirim perintah dalam bentuk radiogram (No. SHK/1046/IX/73) kepada kolega-koleganya untuk tidak memiliki rambut gondrong. Perintah ini diberlakukan kepada anggota ABRI, orang-orang yang bekerja dalam ranah militer, serta keluarga mereka.

Mengapa pada awalnya aturan ini diterapkan? Dalam bukunya yang berjudul Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda 1970-an, Aria Wiratma Yudhistira menjelaskan bahwa inisiatif ini diambil untuk mendisiplinkan anak-anak pejabat, politisi, maupun pegawai sipil supaya berperilaku patuh. Masalahnya bagi golongan Orde Baru, subkultur hippie—erat dengan gaya berpakaian lusuh dan gaya hidup madat—tengah berkembang dan diikuti oleh anak muda dari berbagai kalangan—kaya maupun miskin—pada masa itu.

Kepatuhan anak-anak pejabat, politisi, maupun pegawai sipil Orde Baru diharapkan dapat menjamin berlanjutnya estafet kekuasaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, pada kenyataannya aturan ini diterapkan kepada masyarakat lebih luas, warga sipil juga dipaksa menaati aturan tersebut. Razia-razia rambut gondrong mulai dilakukan di sekolah, kampus, hingga jalanan.

Stigma terhadap rambut gondrong juga disebarkan lewat berbagai media, mulai dari koran hingga televisi nasional. Cerita pada komik-komik di koran menempatkan orang-orang dengan rambut gondrong sebagai musuh masyarakat. Bahkan, orang-orang dengan rambut gondrong dikriminalisasi—dipandang seolah mereka pelaku kriminal—lewat judul-judul berita kriminal yang seringkali memberikan fokus terhadap pelaku berambut gondrong.

Kemudian, apa yang sebenarnya memicu ketakutan orang-orang terhadap rambut gondrong? Salah satu halnya adalah subkultur hippie sendiri. Rambut gondrong memang sebatas atribut dari subkultur tersebut, tetapi kekhawatiran Orde Baru terhadap hippie lebih mendalam dari persoalan atribut; ideologi yang diyakini para hippie dianggap dapat mengancam stabilitas kekuasaan Orde Baru.

Para hippies menjunjung tinggi nilai kebebasan dan kemerdekaan, salah satu perwujudannya pada masa kemunculan kaum tersebut di AS pada dekade ’60-an adalah penentangan mereka terhadap perang Vietnam. “Nabi” para hippies adalah simbol-simbol raksasa komunisme dan sosialisme, Karl Marx dan Che Guevara, yang justru satu payung dengan ideologi dari musuh Orde Baru yang saat itu telah mereka gulingkan, yaitu pemerintahan Soekarno. Buku Marx dan Guevara dikhawatirkan memunculkan kembali sentimen terhadap pemerintah Soekarno, atau menjadikan para pemuda bersikap kritis terhadap Orde Baru.

Melihat paranoia pemerintahan Orde Baru terhadap rambut gondrong sebenarnya adalah sesuatu yang lucu, karena belum tentu para pemuda dengan rambut gondrong saat itu betul-betul memahami ideologi hippies yang dianggap mengancam kekuasaan rezim. Bisa saja rambut gondrong dan pakaian lusuh tidak lebih dari atribut fashion untuk gaya-gayaan tanpa ada maksud berpihak terhadap suatu ideologi tertentu.

Mendisiplinkan rambut sebagai atribut ideologi hippies dianggap penting agar para pemuda patuh dan fokus berkontribusi dalam “pembangunan” yang dicita-citakan oleh Orde Baru. Pemangkasan rambut gondrong juga bisa kita katakan sebagai bentuk depolitisasi, yaitu usaha untuk mencabut para pemuda dari aktivitas-aktvitas politiknya; beropini kritis dan meyakini ideologinya.

Kembali ke konteks kehidupan kita, coba saja kalau mengingat zaman sekolah dulu kita tanya kepada guru-guru kenapa rambut gondrong harus dirazia, paling jawaban yang dikasih tidak benar-benar memuaskan. Alasannya sederhana, di samping sejarah yang melatarbelakangi stigma ini, sebenarnya tidak pernah benar-benar ada alasan untuk jadi paranoid soal rambut gondrong.


Oleh: Adam Bagaskara

Like what you read? Give Qubicle your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle

    Find latest news and top stories updates from across the world.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US