TheChosenLife:KonsultanKampanyePolitik

February 14, 2019Qubicle
Ngobrol langsung sama seorang konsultan kampanye politik tentang gimana dia mengemas citra politik partai "pegangannya".

Kalau ngeliat caleg-caleg nge-tweet atau nge-post di Instagram, kebayang nggak sih kalau ada orang-orang yang bantu mereka mengolah citra dan bantu buat konten dari belakang layar? Kalau iya, dugaan lo emang bener dan mungkin ini saatnya mengenal lebih jauh sebuah profesi bernama konsultan kampanye politik.

Para konsultan kampanye politik membantu partai dalam menampilkan citra dan keunggulan dari kader-kadernya, salah satu caranya lewat media. Pada edisi kedua The Chosen Life, kami berkesempatan untuk ngobrol langsung sama salah seorang konslutan kampanye politik, Raihan Syarief (23). Raihan bekerja untuk sebuah agency yang emang cuma pegang satu klien, yaitu sebuah partai politik.

Kepada kami, Raihan menceritakan tentang rantai produksi dari pembuatan konten kampanye politik, pihak-pihak yang harus dia hadapi dalam buat konten kampanye, sampai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadii setelah partai politik yang dia garap menang maupun kalah.


Jelasin ke kami, dong, prinsip kerja sebuah agency politik itu gimana? Dalam bekerja, agency politik itu kerja sama siapa aja?

Dalam bekerja, agency bersinergi dengan beberapa pihak, yaitu konsultan kampanye offline maupun digital, juga Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dari partai itu sendiri.

Konten-konten kampanye yang kami buat mengacu ke data yang dikasih kepada kami dari konsultan, juga mengacu pada guideline yang udah ditetapkan, ada macem-macem dos and don’ts. Kami harus pastiin konten yang dibuat nggak mengangkat hal-hal yang selama ini dijadikan kritik buat partai yang kami garap, karena melakukan hal itu bisa menyebabkan backfire.

Nyatuin pikiran dan kehendak beberapa pihak ini tentunya nggak gampang, kadang data yang dimiliki beberapa pihak yang terlibat bisa beda. Dalam menghadapi hal ini kami mesti bijak, soalnya kalau konten kampanye dibuat dari data yang nggak tepat juga berpotensi backfire. Tentunya kalau kena backfire yang akhirnya tanggung jawab adalah agency sebagai pihak yang buat konten.


Lo sendiri kerja sebagai apa dan apa tugas utama lo?

Gua kerja sebagai anak kreatif. Tugas utama gua sebagai anak kreatif adalah menurunkan dan memproses data yang gua terima dari konsultan untuk dijadikan konten. Tapi, agency tempat gua kerja sendiri juga ikutan cari data. Misal, gua terima request untuk bikin konten tertentu dari DPP atau konsultan, tapi pihak-pihak itu belum punya datanya, jadi gua dan tim harus ikut cari data.


Di agency tempat lo kerja divisinya ada apa aja?

Raihan: Ada anak kreatif, content writer, videografer, editor, sama strategist. Kayak di tempat-tempat lain, kadang satu orang bisa pegang macem-macem kerjaan. Misalnya gua anak kreatif, kadang gua mendadak jadi writer, gua juga yang ngolah data.

Terus gua sebagai anak kreatif kalau misalnya ada kebutuhan untuk buat konten video, gua yang cari properti, cari talent, bikin skrip, dan lain-lain. Makanya anak kreatif umumnya emang yang masih muda, yang masih semangat untuk ngerjain hal-hal kayak gini dan yang tau hal-hal yang lagi ngetren, supaya komunikasi politik partai juga efektif.

Pernah juga kejadian di mana gua dan tim nyampein ide-ide yang menurut kami sesuai dengan tren komunikasi jaman sekarang, tapi pihak DPP dan konsultan ngerasa bahwa kenyataannya nggak seperti itu (tertawa). Hal kayak gini jadi salah satu kendala, sih.


Kalau kami lihat, cara kerja di tempat lo kurang lebih mirip dengan cara kerja agency pada umumnya, ya?

Raihan: Iya, bisa dibilang gitu, konteksnya ranah politik aja.


Terus kalau proses produksi dari sebuah konten kampanye politik itu gimana?

Raihan: Jadi setiap bulan ada content plan. Apakah content plan disetujui atau nggak, pada lapisan pertama yang nentuin adalah strategist. Setelah strategist kasih approval terhadap content plan yang gua dan tim buat, content plan ini dilempar ke konsultan. Setelahnya, DPP akan kasih keputusan apakah content plan layak disetujui atau nggak. Kalau DPP udah sepakat, kami produksi dan post kontennya setelah mereka review konten yang kami produksi. Kira-kira rantai produksinya seperti itu.

Tapi, dalam kesempatan tertentu DPP bisa aja langsung request konten ke kami tanpa melalui proses yang gua jelasin tadi. Request ini sebenernya bisa macem-macem banget, misalnya buat konten mocking kubu sebelah. Gua sendiri kadang khawatir kalau terus-terusan diminta untuk bikin konten mocking, takutnya partai yang gua pegang jadi keliatan kayak partai-partai lain yang suka ngoceh nggak ada substansi di Twitter.

Mirisnya, paling mudah emang bikin konten mocking (tertawa). Konten mocking kemakan banget, orang-orang suka. Paling mudah emang menonjolkan kesalahan pihak lawan, sih.

Pada akhirnya, kalau pihak partai udah ngotot untuk buat konten-konten yang menurut gua kurang oke, ya gua harus tetep ngikutin kemauan mereka. Beruntungnya bos gua pengertian, kalau anak-anak nggak setuju banget sama instruksi yang dikasih dia akan coba ngebela kami dan kasih argumen.


Kalau di agency lo sendiri, anak-anaknya lebih suka bikin konten yang kayak gimana?

Raihan: Ini dari perspektif gua aja, ya. Ada beberapa anak kreatif atau writer yang emang sukanya mocking lawan. Biasanya yang model-model kayak gini cari post lawan di Twitter, atau video pidato lawan di YouTube. Terus mereka biasanya highlight bagian-bagian yang enak buat dijadiin bahan mocking, reproduksi lagi bahannya buat jadi semacam konten tandingan.

Ada juga beberapa anak yang lebih suka angkat konten-konten edukatif, misalnya yang isinya dibuat untuk ningkatin awareness orang-orang terhadap masalah-masalah sosial yang emang jadi concerns-nya partai. Beberapa anak lain sukanya angkat prestasi dari kader-kader partai di ranah politik maupun ranah lain.

Kalau gua sendiri, mungkin ini kedengerannya naif (tertawa), tapi kalau gua lebih suka angkat konten yang edukatif. Karena gini, kalau baca respons orang-orang di Facebook, Twitter, dan Instagram, masih banyak orang yang opini dan pengetahuannya tentang politik masih jauh dari mateng.


Lo sendiri kenal pofesi ini dari mana?

Raihan: Sebenernya nggak sedikit juga kok agency maupun lembaga riset yang emang garap partai politik. Sebelum gua ambil kerjaan ini, gua sempet interview di dua tempat lain. Yang satu emang agency, yang satu lagi lembaga riset, dan dua-duanya juga lagi garap partai politik.

Ketika lo interview kerja di agency maupun lembaga riset semacam tempat gua kerja, lo akan ditanya soal pandangan politik lo, mereka juga akan menilai political correctness lo.

Ada beberapa temen gua di kantor yang sengaja nggak terbuka sama keluarganya tentang kerjaan mereka. Ada yang milih untuk nggak nampilin namanya di mana pun, atau misalnya nggak mau tampil di kamera. Alasannya macem-macem, ada yang karena alasan tertentu justru ngerasa bisa bahaya karena kerjaan dia mungkin bisa ditentang sama komunitas dan orang-orang terdekat dia. Misalnya ada temen gua yang menutup identitas kerjaan dia dari keluarga karena latar belakang ras atau sukunya.


Perbincangan penuh sensor kami sama Raihan Syarief soal dunia kampanye politik. (Foto: Habsi Mahardicha)

Dalam cari referensi, anak-anak agency yang garap iklan dari sebuah merek pada umumnya kan bisa lihat macem-macem video atau post dari brand luar negeri. Kalau kantor lo cari referensi caranya gimana?

Raihan: Kurang lebih sama, sih. Untuk konten gambar cari situs-situs stock image, untuk video lihat kampanye-kampanye di luar negeri. Paling untuk substansi konten, hal-hal yang kami angkat atau bahas kami cari dari berbagai forum, cari topi-topik yang juga bisa di-relate sama orang-orang dalam konteks kehidupan mereka di Indonesia.


Upah yang orang-orang kayak lo terima dari garap konten kampanye partai politik besar nggak, sih?

Raihan: Cenderung besar, sih. Itungannya buat freshgrad besar, kalau gua nongkrong sama temen-temen seangkatan bisa dibanggakan, lah. Gua bisa sombong sedikit (tertawa).Kalau gua ketemu sama temen-temen yang kerja di korporasi ternama, kadang gua kaget: "Loh, masih gedean [gaji] gua (tertawa)."

Selain itu gua juga bangga bisa mempengaruhi pandangan politik orang-orang dengan konten-konten yang gua buat, dapet duit dari situ. Terus seneng juga bisa ketemu dan berinteraksi langsung sama macem-macem tokoh politik, mulai dari caleg yang branding-nya sempet gua handle, sampe orang-orang yang emang udah terkenal banget di ranah politik.


Megang branding caleg itu maksudnya gimana?

Raihan: Buat konten-konten mereka di media sosial. Nah, soal megang caleg ada cerita lucu. Persoalannya adalah, isu yang diangkat sama seorang caleg dalam beberapa kasus bisa kurang nyambung untuk dibahas daerah pemilihan (dapil) mereka. Misal, salah satu caleg bahas pengembangan teknologi lewat sebuah seminar di dapil dia yang terletak di daerah, tapi akhirnya pertanyaan yang dikasih warga setempat nunjukin bahwa mereka masih jauh dari ngerti tentang isu yang dibawa si caleg.

Dalam membangun branding caleg, pertama yang dilakukan adalah profiling; membantu mereka mengenal lanskap politik di dapil mereka, mengenal ketertarikan-ketertarikan dan aktivitas sehari-hari yang bisa dijadiin bagian dari identitas mereka sebagai tokoh politik, juga ngebangun arah dari concerns mereka untuk dijadikan bahan kampanye. Dari semua hal yang udah dilakukan tadi, baru kemudian konten dibuat.

Walau profiling udah dilakukan, nggak menutup kemungkinan kalau konten meleset. Hal ini biasanya kelihatan dari engagement-nya yang kecil, bahkan komentar dan likes-nya kecil. Hal ini bisa tetep kejadian walau kontennya udah di-boost.

Branding harus sesuai, harus mempertimbangkan dapil si caleg. Misalnya isu-isu yang lebih progresif mungkin akan susah buat “dijual” di daerah dan akan lebih pas untuk diusung di perkotaan. Ini yang harus dipahami dan dieksekusi dengan tepat. Lebih untung lagi kalau caleg udah punya massa di dapil-nya.


Di kantor lo, ada nggak anak-anak yang sebenernya dukung dan mau pilih kubu lawan di pemilu?

Raihan: Ada, ada banget (tertawa). Itu dianggap biasa banget, intinya kami profesional aja di kantor. Bahkan orang-orang ini termasuk yang ikutan bikin konten mocking tentang pihak yang sebenernya mereka dukung (tertawa). Di kantor gua, bahas preferensi politik yang beda iitu santai banget.


Ada Key Performance Indicator (KPI) nggak, sih?

Raihan: Kuantitas konten untuk setiap minggu ada KPI-nya, kira-kira jumlahnya 15 konten. Untuk engagement, sih, nggak ada KPI.


Kalau nantinya pihak yang agency lo garap menang, akan lanjut garap aktivasi dari caleg yang lo handle?

Raihan: Ada kemungkinan seperti itu. Dalam beberapa kejadian, ada orang-orang yang kerjaannya kayak gua sekarang, terus ketika caleg pegangannya menang mereka diangkat jadi staf ahlinya di kantor legislatif nanti. Untuk gua sendiri, gua belum tau gimana nanti. Kalau caleg yang gue pegang kalah, ada kemungkinan gua tetep garap kampanye-kampanye mereka menjelang pemilihan berikutnya, sih. Kalau emang kalah, lanjut bikin konten sebagai oposisi seru juga kali, ya (tertawa).


Oleh: Habsi Mahardicha dan Adam Bagaskara

Like what you read? Give Qubicle your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle

    Find latest news and top stories updates from across the world.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US