5PesanTersiratDanillaRiyadidalamKaryaMusiknya

September 16, 2016Qubicle
Menyalurkan warna musiknya sendiri, di tengah dominasi tone digital.

Mengutip kata Henry D Longfellow, “Music is the universal language of mankind.” Ya, musik adalah bahasa semesta yang menyampaikan rasa dan menerjemahkan isi hati manusia. Tak sedikit orang yang mencurahkan apa yang sedang dirasakannya lewat sebuah lagu. Kalimat kutipan itulah yang menjembatani perberbincangan saya bersama Danilla Riyadi—Musisi indie yang mungkin namanya sudah tidak asing, tapi kalau kamu belum kenal, lihat saja profil Qubicle-nya di sini.

Di benak saya, karya Danilla memompa udara segar dalam industri musik Indonesia. Ia berbeda! Seorang idealis yang menyalurkan warna musiknya sendiri ditengah keadaan yang didominasi genre musik modern dengan tone digital. Dan nyatanya? Banyak sekali yang rindu akan alunan suara merdu dengan balutan irama musik ballads, jazz, bossanova, dan melankolis, tepat seperti lagu-lagu Danilla. Karena warna musiknya yang sangat khas, gelar Best New Act 2014 dari majalah Rolling Stone disandangnya. Hal ini membuktikan prestasinya sebagai musisi pendatang baru. Berada di atas panggung adalah prime time Danilla berkarya, tetapi di balik setiap penampilannya ternyata dia memiliki lima pesan tersirat yang ingin dia sampaikan lewat bahasa musik. Penasaran? Mari kita ungkap bersama.


1: Ubahlah idealisme menjadi keikhlasan dalam berkarya.

Sejak kecil, Danilla tidak pernah berkeinginan menjadi seorang penyanyi meskipun ibu dan pamannya adalah musisi jazz di era ’80-an. “Saat aku sekolah dasar, Mamaku pernah tiba-tiba ngajak take vocal di studio. Dalam hati aku bilang, ‘Aku nggak akan mau jadi penyanyi’. Tapi kemudian Ayahku bilang gini, ‘Danilla, setiap orang pasti punya talenta, saat dikasih, kita tinggal milih untuk mengambil atau mengabaikannya. Ketika kamu punya talenta yang bisa menyenangkan orang lain, gunakanlah dengan jujur untuk berbagi’. Pesan itu yang melekat dan jadi tujuan aku bernyanyi,” ujarnya. Kali pertama ditawari kontrak rekaman album sebagai penyanyi solo, Danilla tegas berkata kepada label bahwa dia ingin menjadi diri sendiri dan bernyanyi dengan warna musik yang disukainya. Baginya, percuma bila berkarya hanya untuk menyenangkan orang lain, tetapi batinnya tidak. Idealisme adalah hal penting bagi Danilla bila itu menyangkut keikhlasan dalam berkarya, dan dia pegang teguh sampai saat ini.


2: Salurkan dan kontrol perasaan.

Bila ditanya siapa yang paling menginfluensi Danilla berkarya, Coldplay dan Radiohead adalah jawabannya meskipun kontras dengan komposisi musiknya. Tapi bila pertanyaannya apa yang membuat musik Danilla terasa begitu menyentuh hati, jawabannya terletak pada tujuan Danilla bernyanyi, yaitu menyalurkan perasaan. “Aku selalu menyalurkan perasaan baik saat menciptakan lagu maupun saat di atas panggung supaya rasa dalam karyaku ‘hidup’. Bahkan aku harus mengontrol diri supaya emosiku nggak meledak ketika menghayatinya. Di album kedua nanti, aku membahas sisi buruk aku yang punya banyak keinginan, karena aku sadar itu mungkin menyakiti perasaan orang lain,” ungkapnya.


95
3: Hargai masa lalu agar tidak lupa diri.

Sebelum terkenal, faktanya tidak banyak yang tau cara Danilla memperkenalkan karyanya dari titik nol lewat panggung-panggung kecil. “Aku masih inget saat itu di Bandung bareng Lafa, produserku. Kami beli CD 50 keping dan nge-copy tiga lagu album. Kami makan di warteg pinggir jalan karena manggung nggak dibayar, terus ngasih CD ke orang yang lewat, ‘Maaf, ini CD album Telisik-nya Danilla, didenger ya’. Sedih deh kalau inget gimana prosesnya aku bisa jadi kayak sekarang,” kenangnya. Batu loncatan karir Danilla melesat berkat Soundcloud dan panggung Club Jazz Bandung, dari situ lagunya didengar dan dinyanyikan. Dia pun percaya, apa pun yang dilakukan, bila itu berdasarkan keinginan kuat dari dalam diri sendiri, maka tidak ada excuse untuk berhenti. Betapa sangat mengharukan!



4: Ubah memori negatif untuk beri inspirasi.

Kegalauan sering menjadi perasaan yang sangat dihindari, tetapi Danilla malah menganggapnya membawa dampak positif. “Orang yang sedang bahagia cenderung nggak mikirin kesedihan, tapi saat sedih yang selalu dipikirin ya bagaimana caranya untuk merasa bahagia. Padahal hidup itu harus balance. Kegalauan tuh sebenarnya bensin untuk berkarya asal kita melihatnya dari perspektif yang berbeda,” ujarnya. Beberapa lagu di album Telisik memang bernada minor, ditambah penampilan Danilla yang terkesan gloomy dan kebiasaannya terpejam saat bernyanyi. Secara tersirat, dia membuktikan kegalauan bisa dinikmati. Danilla pun mengakui inspirasi penciptaan lagu-lagunya datang dari pemikiran tentang masa sekarang dan kenangan masa lalunya.


5: Ubahfans menjaditeman baik

Tanpa fans, musisi bukanlah siapa-siapa, begitu pula Danilla. Dia merasa memiliki ikatan bersama para Penelisik –sebutan para penggemarnya. Bernyanyi bersama para fans mungkin hal biasa bagi penyanyi, tapi bagi Danilla, itu adalah momen di mana merasa terikat, diapresiasi dan termotivasi untuk terus berkarya, serta menumpahkan curahan hati. Itulah mengapa dia memperlakukan para fans selayaknya teman baik agar tidak ada gap pemisah. Danilla mengibaratkan panggung adalah tempat berkumpul bersama fans untuk bernyanyi dan curhat bersama, sehingga vibe-nya terasa nyaman. Di luar panggung, Danilla mengajak para fans berkumpul di studionya untuk mengobrol dan membahas karya. Benar-benar jauh dari kata sombong!


Tidak sebatas menjual suara, musisi harus memiliki idealisme dan tahu bagaimana mempertahkannya di depan label dan fans.

Ketika perbincangan kami berakhir, saya mendapatkan beberapa pencerahan dalam berkarya di bidang musik. Menjadi musisi, khususnya penyanyi, ternyata tidak sebatas menjual suara sesuai keinginan pasar, tetapi sebaiknya memiliki idealisme untuk mempertahankan value supaya selalu jadi diri sendiri. Lalu, menyoal kegalauan bisa menjadi bahan bakar berkarya, saya jadi terpikir, “Wah, berarti patah hati bisa menjadi inspirasi yang menghasilkan royalti.” Selain itu pula dalam berkarya, menghargai proses dan menganggap penggemar sebagai kawan sangatlah penting. Tanpa proses maksimal tentu tidak akan ada hasil yang manis, dan tanpa penggemar, bukan hanya karya tidak laku, tetapi juga bisa saja berhenti berkarya. Nah, bagi kamu yang ingin menjadi musisi, pernahkah terpikir bagi kamu untuk berkarya dengan hati dan menghargai proses?

Danilla juga punya Qube-nya sendiri loh di Qubicle! Dia banyak berkarya disini.Mau kayak dia? Tinggalinemail kamu di comment ya!

Like what you read? Give Qubicle your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US