Bila Diciumnya, Sampai Bertemu di Alam Berikutnya

Foto dan teks : Imelda Abdullah


Saya seperti sedang dejavu. Pikiran kembali melayang ke tahun 2006 ketika saya sedang “membelah” tebing-tebing kapur di Raja Ampat menggunakan speed boat berkecepatan tinggi. Bedanya, disini saya menggunakan kapal kayu, tapii.. meski lebih pelan, sensasinya tak berbeda seperti di Raja Ampat. Pemandangannya hampir mirip, tebing-tebing kapur menjulang muncul dari permukaan air. Tebing disana, tebing disini, seakan membentuk labirin alami. Ketika kepala ditengokkan ke bawah, ada pemandangan lain yang tak kalah spektakuler, yaitu lautan biru toska nan crystal clear, membuat dasar perairan bisa terlihat dari atas perahu. Fix! Kepulauan Bair di Kei Kecil SAH disebut sebagai Raja Ampatnya Maluku Tenggara.

Tak sekadar melihat pemandangan, di kepulauan Bair ini, bersama dengan penyelam Bang Ongky, Vero, Rizal dan Irfan, kami akan menyelam di sebuah titik selam yang terkenal sebagai habitat olive sea snake, salah satu ular laut berwarna kuning, krem dan kadang kehijauan, mungkin ini salah satu alasan kenapa dipanggil olive yang artinya zaitun, warnanya mirip.

Hewan yang bernama latin Aipysurus laevis ini terkenal dengan bisa-nya yang sangat mematikan. Bila tergigit oleh ular ini, niscaya kita akan bangun di alam berikutnya. Untungnya tuhan maka adil, ular ini diberi sikap tenang, jauh dari kata agresif.

“Meski begitu, selalu jaga jarak minimal 2 meter ya karena bila merasa terganggu ia bisa menjadi agresif” Bang Ongky mengingatkan kembali tepat sebelum kita melakukan back roll, salah satu teknik entrance ke dalam air.

Begitu tenggelam dalam kolom perairan, suara tarikan nafas dan hembusan nafas berupa aliran gelembung udara seketika terdengar, inilah musik saya selama satu jam ke depan, musik favorit sepanjang masa.

Bang Ongky selaku dive guide berada di depan, memberdayakan mata elangnya mencari penampakan olive sea snake. Semoga saya bisa berada satu dimensi dengan hewan cantik ini.

30 menit berlalu, tak terlihat penampakan satu pun olive sea snake. Rasa kecewa dan harap-harap cemas bercampur menjadi satu,

Saya teringat perkataan Vero “Setiap menyelam disini, saya selalu bertemu dengan olive sea snake.” Rasa optimis kembali merasuki penyelaman ini.

Tak mau rugi, dari awal penyelaman, sebisa mungkin saya menikmati pemandangan yang tersaji, jangan karena terlalu fokus dengan ular, ekosistem terumbu karang yang indah pun terlewatkan.

Tiba-tiba terdengar suara tank banger yang dipukul-pukulkan ke tanki udara, membuat bunyi “tang-teng-tong” bergema di dalam air. Bang Ongki menatap saya sambil melotot gembira, tangannya sibuk menunjuk-nunjuk kepada ular laut yang sedang melintas di depannya. Itu dia Aipysurus laevis! Rasanya girang luar biasa. ini adalah pengalaman saya bertemu dengan ular laut jenis ini, biasanya saya bertemu dengan jenis Laticauda colubrina -ular laut belang hitam putih.

Keinginan untuk mengabadikan hewan ini mengalahkan rasa takut, saya sekuat tenaga mengayuh sepatu katak, mengejar sang ular laut kemanapun dia pergi. Saya perhatikan ia sibuk masuk dari lubang yang satu ke lubang yang lain… oh rupanya ia sedang mencari makanan, mungkin ia sedang mencari makanan favoritnya, yaitu moray eel. Belut moray kerap bersembunyi di balik bebatuan.

Beberapa lubang ia masuki, tapi tak ada satupun mangsa ia dapatkan, ia pun berbalik arah, tepat berenang ke arah saya yang sedang mengikutinya dari belakang. Gerakannya begitu cepat, saya tak sempat untuk berenang mundur, Jarak dua meter pun didiskon menjadi satu meter saja. Ini rasanya ngeri sekali kawan-kawan.

Sekelebat pikiran buruk menghampiri;

“Bagaimana kalau dia geram karena tidak dapat mangsa dan melampiaskan ke kami.”

“ Bila ia menyerang dengan jarak seperti ini tidak mungkin saya menghindar.”

“ Ia bisa menyerang dengan gerakan yang sangat cepat, apalagi dari jarak satu meter saja.”

“Tenaaang … tetap tenang.. “ Saya teringat peraturan utama ketika kita mengalami masalah dalam penyelaman.

Sebisa mungkin saya tak banyak bergerak dan tetap waspada terhadap setiap gerakannya. Ia pun dengan santai berenang ke bawah kaki saya dan menjauh. Fyuuuhhh…..

Sang ular laut berenang menuju kedalaman 30 meter, tak mungkin lagi saya mengikutinya, karena udara di tanki sudah menunjukkan 50 bar. Saatnya melakukan safety stop di kedalaman 5 meter, guna melepaskan nitrogen dari dalam darah.

Di atas kapal semua cerita tercurah, mulai dari perasaan mulai putus asa, gembira hingga tegang. Semua tertawa, semua bicara.. menceritakan pengalaman masing-masing. Tak lupa sambil menyeruput pisang goreng dan teh manis.

Inilah acara kesukaan saya setelah penyelaman. Mendengar cerita teman-teman akan pengalaman selamnya yang baru saja dilakukannya, ekspresinya sangat khas, perpaduan antara; mata berbinar, lelah, excited, haus, senang, kedinginan, puas, dan bahagia.

“Gilaa.. itu whalesharknya lewat tepat di atas kepalaku.” Ketika di Teluk Cendrawasih, Nabire.

“ Oh my God! Tadi ada kali 20 penyu! 20 penyu dalam sekali penyelaman..sadis!” ketika sehabis menyelam di Turtle Point, Derawan, Kalimantan.

“Itu pas liat ular laut pertama kalinya aku panik, lama-lama ..eh.. ular laut lagi.” Ketika habis menyelam di Wakatobi.

“Puas banget! Ini foto macronya dapat banyak” 3 Detik setelah muncul di permukaan ketika menyelam di Lembeh. Sulawesi Utara.

Mengingat ini saya menjadi sangat bersyukur dilahirkan menjadi warga negara Indonesia, sebuah negara yang terletak di Jantung Coral Reef Triangle, Negara yang dilimpahi ekosistem terumbu karang terbaik sedunia.