AlbumReview:SerudariHuluolehKapalUdara

February 09, 2018Qubicle Music
Kapal Udara dari Makassar merilis debut mini album mereka. Seru dari Hulu, wajib didengar.

Oleh: Felix Dass

Seorang teman pernah bilang dalam sebuah pesannya, “Lix, elo harus dengerin Kapal Udara. Bagus.” Teman itu, besar di Makassar dan selalu mendedikasikan sebagian dirinya untuk perkembangan seni budaya di kota itu kendati tidak lagi berdomisili di sana. Semacam kacang yang tidak pernah lupa sama kulitnya lah.

Saya balas singkat, “Ok. Nanti dicek ya.” Tapi ternyata saya lalai. Dan informasi tentang Kapal Udara itu tersimpan di dalam kepala dalam memori otomatis yang tersingkirkan oleh banyak hal lain. Ia terpinggirkan, tapi tidak terlupakan.

Jadi, ketika kemudian mendapati informasi bahwa Kapal Udara telah merilis debut mini album mereka, ingatan pembicaraan dengan si teman tadi langsung muncul di depan. Saya harus bayar kesalahan yang dilakukan sebelumnya itu.

Yang namanya rekomendasi, itu kadang bisa keluar dari sekedar perkara seorang bilang ke orang lainnya, “Eh, dengerin deh band ini.” Kadang, ia mempertaruhkan juga kualitas selera orang tersebut. Makanya, ekspektasi jadi bisa disusun sesuai kapasitas. Teman saya ini, seleranya bagus. Tidak heran jika langsung masuk kata-katanya.

Rekomendasi itu menuntun saya untuk mendengarkan Seru dari Hulu, mini album Kapal Udara yang dirilis awal bulan Desember 2017 yang lalu. Lagu pertama ok, lagu kedua ok, lagu ketika juga ok, lagu keempat ok dan sampailah ke lagu terakhir; juga ok! Duh, ini sih namanya perlu mengutuk diri sendiri kenapa bisa lalai begitu dulu. Hehe.

Harus diakui, kadang rekomendasi memang suka berbenturan dengan standar yang saya bangun di dalam diri; bahwa mengulas sebuah band kadang lebih berguna jika mereka sudah punya karya yang bisa dinikmati oleh orang banyak. Apalagi kalau band yang asalnya dari luar kota tempat saya tinggal.

Bukan apa, koneksi yang bisa dijalin kemudian atas ulasan itu kan biasanya karya. Bisa berupa rilisan atau penampilan live. Kalau belum ada dokumentasi karya atau akses untuk menyaksikan penampilan live mereka, jadinya juga masturbasi pengetahuan semata. Buat apa bilang ini bagus, ini jelek, tapi tidak bisa memberi tahu di mana bisa menikmati karyanya.

Menunggu mungkin menjelma sebagai proses yang paling menguntungkan. Dalam cerita Kapal Udara ini, begitulah kejadiannya. Ketika mendengarkan Seru dari Hulu, seluruh momennya pas. Saya mendengarkan karya yang sudah matang.

Lima lagu yang bagus dan kuat ini makin membangun impresi bahwa scene lokal Makassar berhasil menggunakan kemampuan mereka melihat kebudayaan sendiri dan mengadaptasinya pada logika musik populer. Karena modus operandi memproduksi rekaman dan memperdengarkan musik yang dihasilkan pada orang banyak, memuat banyak cerita lokal yang seolah menjadi undangan untuk melihat bagaimana kota itu bergerak lebih jauh.

Jelas, bagi orang yang berasal dari luar kota tersebut, ini menjadi petunjuk kuat untuk melihat bagaimana geliat musik di sana berlangsung. Mereka bukan yang pertama memberikan tanda, tapi jelas Seru dari Hulu ini menguatkan petunjuk untuk masuk lebih dalam tersebut.

Album ini menjadi salah satu contoh bagaimana kelokalan tadi bisa diperkenalkan sebagai produk ekspor untuk kota lain. Kefasihan bertutur dengan lirik Bahasa Indonesia yang mudah dimengerti dan kemudian masuk ke dalam jalinan nada yang sangat mudah diterima pendengar yang pertama kali berkenalan dengan mereka dikandung dengan baik oleh Kapal Udara.

Empat orang personilnya memainkan peran yang seimbang. Semacam mengerti satu sama lain dan kemudian bergabung membentuk sebuah tubuh yang kokoh. Ada cerita lebih jauh yang coba dijalin oleh masing-masing komposisi. Mereka seolah bertalian satu sama lain.

Secara khusus, saya tertarik dengan komposisi nomor lima, Menari; Ia singkat, jelas dan padat. Repetisinya mengajak berdendang, liriknya mengajak perandaian masuk untuk membayangkan apa yang terjadi jika lagu ini dikumandangkan untuk orang banyak dan akan seperti apa reaksinya jika kemudian mereka bergoyang bersama-sama.

Cerita literasi, sepertinya tinggal dalam diri Kapal Udara. Lirik-liriknya kuat, bercerita tentang manusia yang resah.

Dalam Merantau, seperti judulnya, kisah mencari dipaparkan dengan begitu baik. Klise, tapi masih tetap menohok dan mungkin relevan untuk orang banyak yang pergi jauh dari kampung untuk kehidupan –yang katanya— lebih baik untuk kemudian memendam keinginan permanen pulang dan menghabiskan hidup di rumah yang abadi itu.

Saya selalu percaya jika seseorang mampu mengisahkan hal-hal klise dan meninggalkan kesan yang tinggal untuk waktu yang lama, maka ia adalah seorang pencerita baik yang jejak langkahnya harus diikuti di masa-masa seterusnya.

Kapal Udara mampu menuliskan keklisean itu dengan baik.

Mendengarkan lima track di rekaman ini, tidak mungkin bisa abai pada lirik-lirik bagus yang mereka punya. Dan itu sudah modal awal yang baik untuk mengharap lebih pada mereka. Semoga pengalaman untuk menyaksikan mereka bermain live segera mampir ke banyak kota lain di Makassar. (*)

*) Foto Kapal Udara oleh Dede Rahmady.

*) Kapal Udara bisa dicek di www.kapaludara.com

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US