Alma Bermain Tekstur

“Sebenernya aku tertariknya sama tekstur gitu. Jadi semua yang aku bikin tuh motifnya ga dihasilkan dari aku bikin pattern digital atau dua dimensi, pengennya semuanya tiga dimensi yang bisa diraba,” tutur Almavastri Sidhya yang mengagumi karya-karya Noa Raviv serta Iris Van Harpen ini. Ketertarikan Alma, sapaan akrabnya. pada tekstur terlihat jelas melalui karya-karyanya. Alma bermain-main dengan kain menggunakan teknik pleats, drapery, dan smocking.

Nuansa biru putih serta tekstur gelombang begitu pekat dalam karya-karya TA Alma - yang kini tengah mengikuti Creative Business Incubator, sebuah program yang digagas oleh Bali Creative Industry Center (BCIC). Selama 4 bulan, Alma dan keempat belas peserta terpilih mendapatkan intensif mentoring dengan para pakarnya di Bali.

“Pemilihan temanya itu sebenernya aku memang ngebahas laut gitu. Dari teknik-teknik itu, aku pengen ngejar citra visual air. Dari warna-warnanya, alur-alurnya, semuanya tuh pengen inspirasinya laut gitu, air. Apa ya namanya, kan mikir,” ungkap perempuan berbintang Scorpio ini. Setelah melewati pergulatan panjang dengan diri sendiri dan dosen, terpilihlah nama Nusa Bahari.

Sejak masih kuliah dan masuk studio, sadar ga sadar, Alma memang sudah memiliki ketertarikan khusus pada air dan laut. Citra Alma dengan air begitu melekat di benak-benak kawan kuliahnya yang tak jarang mengatakan, “Ini Alma banget nih,” ketika melihat sesuatu yang bernuansa air.

Koleksi rancangan Nusa Bahari yang terdiri dari 12 looks ini sempat ia rentalkan, “Sebenernya, kemarin kan sempet aku sewa-sewain gitu baju hasil TA-nya. Cuman karena sekarang aku lagi di Bali, jadi kaya repot gitu. Aku harus kirimin, tapi tetep aja harus minta tolong orang,” celotehnya mengenai karya tugas akhirnya di jurusan Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Anak kriya, TA-nya bikin baju, berkeinginan jadi fashion designer?

Ditanya begitu, perempuan berambut ikal sebahu ini pun menjawab, “TA aku memang sebenernya baju gitu, cuma aku mikir kayanya aku ga mau baju lagi, ga ingin jadi fashion designer. Karena kalau kita, anak kriya kan sebenernya diajarin ngejahit gitu bikin pola. Cuma bener-bener cuma satu, dua kali pertemuan. Cuma bener-bener formalitas aja. Jadi kita tuh ga bisa, bener-bener harus belajar sendiri. Sedangkan kalau fashion designer memang banyak banget kan sekolah anak fashion designer. Jadi kalau sama ***od, *****le pasti udah kalah lah, karena memang beda. Harusnya lebih difokusin ke tekstilnya. Karena memang ga pengen juga. Dan sebenernya aku sendiri kalau jalan-jalan, ga pengen beli baju. Kalau baju juga itu-itu aja. Kurang interest juga ke baju.. Seneng sih liat-liatnya tapi lebih suka aksesoris. Dan kalau TA kemarin memang pengen bikin baju karena biar satu collection langsung. Sebenernya, tadinya ga pengen baju aja, pengen ada tasnya.”

Tekstur dan Aksesoris

Saat ini, belum genap setahun sejak dirinya lulus kuliah, Alma sudah berhasil ‘melepaskan’ dirinya dari baju dan mengerjakan hal yang menjadi ketertarikannya, aksesoris. Melalui program Creative Business Incubator, Alma terus melakukan eksperimen untuk pengembangan produknya, tas yang menggunakan bahan hasil teknik manipulasi tekstil di bawah brand Amava. “Akhir November launching-nya di Bali, terus mereka (BCIC) ngadain tes market-nya di Bali.”

Good luck, Alma!

Klik @amavach untuk mengintip buah keajaiban tangannya.


Foto Dokumentasi : Almavastri Sidhya

Penulis: Nathania Gabriele