AmingPrayitnodanTekstur-teksturyangBerbicara 

May 15, 2017Qubicle Art

Sayangnya, untuk menyelami rasa yang terkandung dalam lukisan-lukisan Aming Prayitno, kita tak bisa mengandalkan internet ataupun buku katalog. Sebab di internet maupun di buku katalog, lukisan Aming susut menjadi sebatas gambar dua dimensi. Jika sudah tersusutkan seperti itu, maka yang mengamati akan fokus pada semata-mata figur, komposisi, dan warna. Padahal lukisan-lukisan Aming Prayitno sama sekali bukan tentang itu.

Untuk mengetahui rahasia yang terkandung dalam lukisan Aming, kita harus punya niat ekstra meluangkan waktu dan mencurahkan tenaga, mendatangi pameran di mana lukisannya berada. Tak ada cara lain selain mengamati karyanya dengan mata telanjang. Dengan cara seperti itulah rahasia yang terkandung di dalamnya, pelan-pelan dibisikkan kepada kita. Aming bicara lewat tekstur yang bekerja secara misterius pada setiap karya.

Pandanglah, misalnya, lukisan Wajah Merah yang dibikinnya pada 2010. Dilihat dari jarak lima meter, si lukisan itu memberikan suatu efek tertentu. Sebutlah efek itu namanya efek A. Lalu pindahlah dari tempat pertama berdiri, melangkah mendekat hingga tersisa jarak lima meter, setelah itu bergeser ke samping kanan sejauh satu langkah. Maka lukisan itu akan memberi efek yang berbeda dari efek A. Sebutlah efek itu dengan nama efek B.

Lalu ambil posisi pandang yang lain dari yang sebelumnya, maju hingga tersisa jarak sekitar 30 centimeter saja dari si lukisan Wajah Merah. Maka akan ada efek lain yang terasa jika dibandingkan dengan efek A dan B yang sudah dikecapi tadi. Pada awalnya lukisan itu boleh terkesan abstrak. Setelah ditelaah, sepertinya Aming sedang mengekspresikan sesuatu dalam keabstrakannya itu.

Menikmati lukisan Aming bagai menikmati keindahan bulan. Jarak yang berbeda memberi efek yang berbeda pula. Dari bumi bulan bisa tampak halus. Begitu didekati, terkuaklah berbagai misteri, ternyata bulan tak sehalus itu. Tapi dari manapun toh tetap ada semacam keindahan khas yang patut dinikmati.

Aming Prayitno adalah seniman generasi 1960-an. Ia di Surakarta pada 9 Juni 1943. Ia adalah seniman jebolah sekolah seni, mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta dan Academie Voor Schoon Kunsten, Gent Belgium. Ia menjadi pelukis pada sebuah masa di mana paham modernis sedang diagung-agungkan. Barang kali itulah sebabnya karya-karya Aming begitu berorientasi pada medium.

Boleh jadi Anda belum pernah mendengar nama Aming Prayitno. Tapi pasti Anda pernah melihat karyanya. Salah satunya adalah logo yang tercetak di baju batik Pegawai Negeri Sipil seantero Indonesia. Motif batik Korpri adalah karya Aming yang dijadikan batik.

Alkisah pada satu masa di tahun 1973, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menggelar lomba desain logo Korpri. Rupa-rupanya -sebagaimana diceritakan pengamat seni Mikke Susanto dalam buku pengantar pameran - juri tak ada yang terpuaskan oleh logo-logo yang terkumpul dari lomba itu. Akhirnya pemerintah mencari cara lain. Kementerian Dalam Negeri menghubungi beberapa seniman secara personal minta dibikinkan logo Korpri. Salah satu seniman itu adalah Aming Prayitno.

Pada benak Aming terlintas sebuah ide untuk menyatukan sekumpulan simbol. Pertama ada pohon hayat atau kalpataru yang sebagai pohon penyeimbang alam. Dalam pohon tersebut ada 17 ranting, 8 cabang, dan 45 daun – angka yang diambil dari hari kemerdekaan RI. Pada pohon tersebut bernaung sebuah rumah dengan lima pilar, diambil dari butir-butir pancasila. Di bawahnya ada sayap yang melambangkan kebebasan. Lalu terakhir, logo itu diberi warna, yakni emas sebagai perlambang kemuliaan.

Singkat cerita akhirnya desain Aming lah yang terpilih. Namun sayangnya pemakaian logo itu membuat perasaan Aming bercabang. Di satu sisi ia senang karyanya dipakai, di sisi lain miris karena pemerintah tak menyampaikan pemberitahuan apa-apa, bahkan tak membayar royalti apapun padanya.

Kini pada usia 74 tahun, digelarlah bagi Aming Prayitno sebuah pameran tunggal bertajuk The Master #1 di galeri Kiniko, Yogyakarta. Pada pameran itu, disajikan pada khalayak belasan lukisan yang dibuat dalam rentang waktu 2000-2006. Aming sempat pula memeriahkan pembukaan pameran itu meski sudah sulit ia berbicara dan berjalan akibat penyakit stroke yang dideritanya. Kendati begitu, toh ia tetap bisa bicara lewat karya-karyanya.


Penulis: Ananda Badudu

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US