Bagaimana Tobing Dewi ‘Menemukan’ Obie


“Boleh lihat referensi, tapi jangan ditiru. Lebih baik jangan sering liat referensi deh haha.. Konsisten dalam berkarya.”

Begitulah tips and trick yang diberikan oleh Tobing Dewi Purnamasari buat teman-teman yang baru mulai menggambar. Perempuan ramah berkacamata yang akrab disapa Obie ini sudah senang menggambar sejak masih SD. “Iya, udah dari SD suka gambar. Tapi lebih ke anime cewek cowok sih, matanya besar-besar, wajah runcing. Gambarnya entahlah aku simpan di mana atau kebuang.”

Perempuan kelahiran tahun 1993 ini adalah wanita di balik label Obie, yang memproduksi boneka kayu, art prints, selendang, framed arts, pins, dan gantungan kunci dengan karakter yang khas, hitam putih, garis minimalis, sosok orang dengan leher panjang dan mata segaris.

Kamu kebanyakan terinspirasi menggambar orang dari keseharian, kenapa kamu begitu tertarik menggambar sosok orang sih?

Karna dulu sempat sebel banget pas di kampus kalau dapet mata kuliah ekspresi atau ilustrasi, terus disuruh gambar orang atau proporsi badan manusia yang bener. OMG, paling sebel, ditambah nilai aku ga pernah bagus karena aku paling ga bisa gambar yang namanya proporsi manusia haha.. Pusing. Rempong abis.

Jadi sekarang kesempatan bisa gambar manusia dengan proporsi badan yang sesuai kemauan aku, leher panjang, mata sipit, ga perlu ada bola mata haha.. Gambar kaki ga perlu ada paha dan lutut. Jadi ada kesenangan tersendiri gambar manusia sesuai keinginan.

Kamu bilang baru menemukan karakter gambar ini di tahun 2015, bisa ceritain proses sampai bisa menemukan gaya kamu ini? Sekarang kan jaman visual tumpah ruah ada di mana-mana, kebanyakan orang jadi gampang liat, gampang niru. Nah, gimana nih pendapat kamu?

Jadi gambar aku dulu itu warna-warni, tapi lama kelamaan latihan, aku merasa kalau pakai warna-warni kurang ada feel di situ, akhirnya entah kesambet apa tiba-tiba kepikiran aja gambar hitam putih. Dan aku mulai gambar ini pas lagi stress-stress-nya dan otak konslet waktu lagi kerjain tugas akhir kampus. Terus mulai post di Instagram dan dapet respon baik dari teman-teman, akhirnya dari situ mulai latihan menggambar terus menerus. Jujur untuk awalnya aku jarang ngeliat referensi dari artist manapun bahkan ga tau nama artist-artist.

Itu bener banget sih! Lihat dan tiru bukan dijadikan hanya sebagai referensi. Ada kejadian, gambar aku digambar ulang terus diwarnain lalu si dia bikin caption yang isinya kurang lebih bilang kalau gambar dia lebih bagus dari aku. Mungkin dikira gambar aku sebagai gambar untuk diwarnai karena hitam putih, lalu aku-nya di tag di Instagram. Kejadian lainnya, tiba-tiba ada yang datang ke booth pas jualan, terus bilang gini, "Kak, gambarnya mirip sama style aku ya! Aku hitam putih gitu juga, terus karakternya mirip." Terus aku terdiam dan nanya, "Kamu memang udah berapa lama berkarya?". Dia jawab sambil tertawa, "Baru-baru aja.." Hmmm . .

Dulu waktu proses pencarian gaya menggambar itu, apa kamu sempat juga secara sadar atau ga sadar jadi kebawa mirip sama gaya gambar ilustrator yang kamu suka?

Seperti yang aku bilang di atas, jujur dulu aku masih buta dan ga tahu apa-apa soal artist-artist. Jadi baru tahu pas mulai aktif ikutan pameran sama jualan.

Selain Suntur, kamu punya illustrator / designer / artist favorit lainnya?

Kalau dari Indonesia, aku suka banget sama R. Hakim, Sarkodit, Aditya Wijanarko. Kalau dari luar, aku suka sama Tana Latorre, Jean Jullien, Geoff Mcfretidge.

Pernah bosan dengan karakter gambar kamu sendiri? Berniat menggunakan warna ke depannya?

Bosen dengan karakter, ga sih. Cuma kemaren aku pengen coba sesuatu yang baru pakai background warna abu-abu, bosen kan background-nya biasanya cuma putih aja. Berwarna? Hmm.. Kayanya ga deh, masih nyaman di zona hitam putih. Eh, tapi untuk wooden doll aku mulai coba warna hanya untuk karakter2-karakter misalnya Kartini, Frida Kahlo, Cruella De Vil.

Untuk kerjaan komersil sendiri tetap mempertahankan karakter Obie?

Kalau klien biasanya memang udah tahu karakter aku. Semisalnya dulu aku pernah kerjain project dari pastry namanya "LACASA PASTRY". Nah, itu semua memang black and white konsepnya. Jadi dari packaging, dan lain-lainnya. Tapi semisal hari-hari besar seperti Natal, Idul Fitri, Imlek, aku tambahin beberapa aksen warna. Misalnya Idul Fitri biru, Imlek merah, Valentine merah muda. Kalau sebatas warna dasar gitu aja, masih oke sih.

Penulis: Nathania Gabriele

Foto Dokumentasi : Nathania Gabriele & Obie