BarterRollFilmdenganZinediLowLightBazaar

May 16, 2018Qubicle Art
Photozine, sebuah medium baru untuk mengarsipkan foto analogmu

Di awal Mei kemarin, ada acara menarik yang digelar di kawasan Kemang. Acara berjudul Low Light Bazaar ini, memang bukan pertama kali diadakan. Buat kamu penggiat foto analog, yang sering mengunggah foto dengan tagar 35mm, acara ini menjadi acara yang ditunggu-tunggu. Mungkin sebagian dari kamu sempat mampir untuk mencari gear atau sekedar window shopping saja.

Di Low Light Bazaar kali ini, kalau kamu melihat spanduk yang ada di dekat pintu masuk, ada booth Zine Trade yang bertempat di dekat Kinosaurus. Ya meskipun agak mojok, tapi gak bikin rasa penasaran kami hilang. Kami sempat mengobrol dengan Aghnia Muthi yang kebetulan menjaga booth dan juga yang bikin zine #rollpunyacerita

Sumber Foto: Instagram @rollpunyacerita

Zine Trade ini memang pertama kalinya diadakan di Low Light Bazaar. Dua minggu sebelum diadakannya Low Light, Enad dari Jellyplayground menghubungi Muthi, si empunya @rollpunyacerita, mengabarkan kalau ada satu meja untuk zine trade. “Awalnya gue kirim zine ke Jellyplayground, lalu karena emang sering belanja jadi ngobrol sama Enad. Enad cerita mau ada lowlight lagi. Gue bilang, mau dong ada satu meja buat zine,” cerita Muthi yang kami hubungi melalui email.

Booth ini menyediakan zine dari diproduksi oleh beberapa orang, seperti; @fyct_jkt, @rapidfixer, @rick_eeh, @tetapanalog, Alfonskup, @grainyvisual, @cekrekhore_klub, Bluesack, Cerealmurder, dan @rollpunyacerita. Lucunya kalau kamu ingin mendapatkan zine tersebut, kamu harus menukarkannya dengan zine, roll film atau apapun. Namanya juga Zine Trade. 

Lalu bagaimana menurutnya tentang dunia analog yang ramai kembali dan apa keseruan membuat sebuah photozine? Berikut obrolan kami dengan Aghnia Muthi.

Foto Analog atau Digital?

Buat gue baik analog atau digital at the end tujuannya sama mengabadikan atau membuat moment, bedanya adalah dengan analog kita menjadi manusia lagi (quoted dari Fadly Aat). Kenapa dibilang menjadi manusia lagi? Di era digital ini semua nya serba INSTANT atau maunya jadi INSTANT. Nah dengan fotografi pake kamera analog kita diajarkan lagi menghargai proses dan sabar (nunggu cuci film, kalau filmnya gak jadi gak boleh marah, kalau gak punya duit sabar buat nyuci, hemat-hemat roll film kalau foto) somehow itu membuat gue jadi manusia lagi. Dengan pekerjaan sehari-hari menjadi DIGITAL PLANNER, seeing insight about people nowaday they wants evertything to be INSTANT jadi kadang lupa enjoy the prosesnya.

Dari kapan mulai suka analog?

Gue megang analog pertama kali pas masih kuliah di KL (Kuala Lumpur) pake Diana F medium format sekitar tahun 2009 - 2011an. Tapi karena lomo cuma musiman abis itu agak sulit untuk cari medium format di KL dan cucinya cukup mahal. Jadi gue sempet lupa sama analog sampe pertengahan tahun lalu di Lowlight gue diingetin lagi sama analog camera.

Apa konsep dari rollpunyacerita?

Konsep rollpunyacerita sendiri adalah kalau dari gue pribadi gue yakin semua roll yg masuk ke kamera gue akan ada ceritanya, dari tempat, orang atau sampe ke benda mati yg gue foto pasti punya cerita. Misalnya sebelum gue foto orang pasti gue akan ajak dia ngobrol dulu supaya tau cerita tentang dia.

Sumber Foto: Dokumentasi Retina

Mulai kapan punya ide untuk bikin zine? Dan kenapa?

Kalo zine secara general gue pernah bikin zine yg isinya gambar gue sendiri tahun 2015-an cerita tentang gue dan temen gue Via tapi berenti aja disitu karena gue stop gambar.

Lalu awal tahun ini ada ajakan bikin photozine tapi gak originaly dari gue, awalnya di ajakin Arief Wahyudi dan Ilham Putra Endah buat bikin. Mereka tuh yg dm-an di Instagram buat bikin zine. Ilham sendiri adalah pacar gue kebetulan jadi dia bilang “Kalau Instagram tiba-tiba hilang karya kamu mau dikemanain? Cara orang liatnya gimana?”. Dari situlah gue mulai bikin zine. Awalnya memang karena competitive aja sama Ilham tapi kesini banyak effect positive buat gue pribadi.

Sepenting apa membuat zine buat kamu?

Untuk sekarang zine cukup membantu gue untuk fokus banget. Mungkin kalau di sekitar gue udah bosen kali denger kenapa gue nerusin bikin zine. I am diagnosed with Anxiety Dissorder, it’s a mental health issues yang membuat gue selalu gelisah, gak tenang gak bisa fokus mirip sama panic attack tapi even worst.

Dengan bikin zine gue bisa reducing bahkan put down the attack karena gue fokus sama satu hal yang membuat gue senang dan rasa fokus itu membuat gue lebih aware sama diri gue. Karena isi dari zine gue sendiri adalah cerita tentang daily life atau tempat yang gue kunjungi atau teman dan orang-orang di sekitar gue.

Apa bedanya photozine dengan photobook?

Agak expert nih pertanyaannya. Zine sendiri itu adalah mini magazine, format simpelnya buku dan majalah. Tapi orang bebas punya interpretasi yang lain, cm buat gue zine adalah mini version dari buku dan majalah. Dan satu lagi zine itu lebih bebas ga ada aturan pembuatannya. Contoh photozine gue di buat dari Google Slide.

Dalam sebulan, berapa kali kamu hunting foto?

Gue hunting yang hunting banget jarang, karena gue lebih suka foto dari setiap perjalanan gue keluar rumah. Hunting proper rame-rame paling baru 1-3 kali deh, sisanya lebih ke foto random di jalanan setiap pergi ke kantor atau kemana aja gue pergi sih.

Ada kiat khusus untuk hunting? Apakah harus riset tempat atau go show aja?

Kalau hunting proper mending cek dulu kondisi tempat kita ga tau disana gimana kan. Jalanannya jauh apa gak. Gue pernah sekali hunting bareng ditemenin Jakarta Good Guide, itu helpful banget sih karena mereka tau medan dan mereka juga ceritain tempat-tempat yg kita datengin.

Sumber Foto: Dokumentasi Retina

Ceritain dong pengalaman paling menarik yang pernah dialami ketika hunting?

Pengalaman menarik hunting pertama gue, hunting spontan barengan beberapa temen yang ngajakin temennya lagi, dalam satu group itu cuma dikit banget yang kenal satu sama lain. Nama group yang kita bikin sendiri adalah Canda Bangun Pagi Klab, baru sekali sih hunting bareng rame-rame bareng orang-orang baru cuma lumayan ada 12 orang ikutan dan sukses menghasilkan 9000 langkah dari Sunda Kelapa sampe Stasiun Kota.

Harusnya kita bikin hunting lagi sih, cm yg direncanakan kadang lebih sulit kejadian. Semoga yg langsung spontan bisa kejadian lagi.

Hal apa aja yang bikin kamu tertarik untuk kamu abadikan momennya?

Hmmm.. gue lagi suka foto piled of junk, atau sesuatu yg menumpuk karena itu adalah intepretasi dari apa yang ada di kepala gue.

Gue juga suka banget foto orang tapi yg lagi ngobrol sama gue, bukan yg pose pose candid.

Satu lagi hal yg sering gue foto adalah Feby Elsadiora, teman dekat di kantor yg selalu menyemangati gue untuk bisa bikin karya sendiri.

Sumber Foto: Dokumentasi Retina

Favorit gear dan roll menurutmu?

Untuk gear gue paling sayang sama Fuji Q Camera gue, not that fancy or kamera mumpuni. Fuji Q Camera yang gemas cuma pocket camera yang terkadang bisa menghasilkan foto yg unpredictable.

Roll favorite gue ada Superia 200 expired, Costco 400 expired, Industrial 100, sama Kodak ultramax, gue suka warna dingin tapi kadang hasilnya bisa jadi warm juga sih. Nothing particular why I like them it’s just familiarity towards the color.

Karya terbaik yang pernah kamu punya?

Gue belom bisa bilang gue punya karya terbaik, cuma ada beberapa yang gue suka. Tapi balik lagi kepenilaian orang. Karya gue yg paling personal adalah foto tempat tidur di bekas kosan gue, foto tumpukan kereta di Karawang atau Padalarang, foto project kantor gue sama Johnnie Walker, foto bareng Mangkok Ayam nya Glenn Marsalim dan semua foto yang ada Feby Elsadiora itu paling special buat gue.

Sumber Foto: Instagram @rollpunyacerita

Apa tanggapanmu terhadap orang-orang yang baru bermain analog?

Tanggapan gue mungkin pesen singkat aja kali ya “jangan takut roll abis, jangan berenti explore dan jangan pernah minder sama hasil foto lo sendiri”

Lalu apa pendapatmu terhadap komunitas analog/hunting analog yang banyak muncul. Apa impact untuk kamu sendiri?

Bagus banget! jadi banyak temen baru, temen sharing baru, ada someone that i can look up too aja jadinya.

Next step untuk rollpunyacerita kedepan?

Impian gue yang paling deket adalah ngajak semua cewe dengan analog mereka untuk foto dan bikin exhibition bareng. Sama sepertinya akan release zine vol. 5 lalu zine 1 - 5 akan gue gabungin buat jadi buku sih atau jadiin zine lagi yg gabungan.

Walaupun sekarang kita hidup di era digital, namun dengan menyimpan karya-karya digitalmu ke dalam medium fisik seperti photozine yang dibuat Muthi dan teman-temannya ini, bisa menjadi alternatif pengarsipan agar karyamu tetap longlast and everlasting.


Jangan lupa juga untuk follow akun sosial media kami di:

IG: @retinaqube

FB: Retinaqube

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US