Berkenalan dengan Tempa: Graphic Art Studio Segala Ada

Berawal dari tugas akhirnya di bangku kuliah, pasangan Rara Kuastra dan Putud Utama berpikir untuk menggabungkan kedua brand produk kreatif mereka. Tempa menjadi lema yang dipilih untuk menamai sebuah graphic art studio berbasis di Yogyakarta yang resmi dirilis pada 2015. Putud dan Rara memilih Tempa mengingat kekhasannya sebagai sebuah kata yang tidak bias gender. Tempa sendiri bermakna positif bagi mereka agar senantiasa belajar dan berlatih. Sebagai graphic art studio, Tempa tak mau berhenti di produksi scarf semata. Sosok desainer grafis kenamaan Eric Trine dan Morning Breath studio memengaruhi keduanya dalam mengonsep Tempa. Kedepannya, Putud dan Rara membayangkan Tempa akan menjadi studio kreatif yang mampu memproduksi furnitur, peralatan elektronik bahkan alat transportasi.

Floral design seolah menjadi identitas Tempa. Setelah merilis scarf, Tempa melanjutkan dengan memproduksi pin, topi, patch bahkan parka yang semuanya masih mengandung unsur tanaman. “Hampir di setiap rumah ada tanaman kan? Dan sebetulnya tanaman itu dekat sama kehidupan kita, seringnya nggak terasa aja,” terang Rara. Secara personal, pasangan ini memang menyukai tanaman, dan belakangan banyak juga desain Tempa yang memasukan unsur perhiasan. Pada dasarnya, Putud dan Rara ingin melihat barang-barang yang ada disekitar kita adalah gambar-gambar Tempa. “Kita pengen gambar Tempa nempel di segala macam,” ungkap Putud mantap.

Tempa menyadari media sosial memegang peran penting dalam pemasaran produknya. Tak heran, mereka merancang konsep khusus untuk setiap produk yang akan dirilis. Belakangan, kaus kaki Tempa menjadi salah satu fashion item yang paling diminati. Kecenderungan gaya anak muda yang mengenakan rok atau celana pendek dipadukan dengan kaus kaki Tempa yang tinggi dan kaya akan corak. Seiring dengan masifnya produk Tempa yang dipakai banyak orang, Putud dan Rara justru sering merasa malu. “Malunya kalau pas kita lagi pakai Tempa, dan kembaran sama orang yang pakai parka atau kaus kaki dan itu lebih dari satu orang pada satu tempat. Rasanya pengin nutupin diri,” ungkap Rara terkekeh.

Dalam membuat desain bagi Tempa, Putud dan Rara menerapkan sistem bank visual. Hasil sketsa dan gambar mereka difoto, kemudian dipecah dan di-tracing menjadi bentuk baru. “Secara jumlah, hanya 30% yang membuat baru, sisanya adalah sketsa yang dibuat dari awal-awal kuliah. Jatuhnya jadi seperti mengkolase. Dan ini lebih mengasyikan daripada sekadar menggambar,” ungkap Putud seraya menunjukan koleksi desainnya. Pada beberapa desain Tempa, mereka juga mengangkat folklore cerita rakyat Gunung Merapi dan filosofi rumah Jawa. Berbekal itu pula, pada Mei 2017, Tempa menggelar pameran perdananya bertajuk Millenial Dophamine di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta. Waktu persiapan mereka terbilang singkat, hanya satu bulan. Pada Miellenial Dophamine, Tempa mengeluarkan produk teranyar mereka yang membuat saya semakin kagum. Ada dua karpet berukuran besar, tirai, dan juga instalasi porselein. Saya bingung, mengapa karpet? Putud terinspirasi dari interior ruang keluarga di rumah pada umumnya yang kerap memajang karpet Ka’bah di tembok. “Fungsinya kan sebetulnya cinderamata/suvenir, di sini jadi elemen interior,” terang Putud.

Bagi Putud, internet berpengaruh besar pada komposisi karya Tempa, seperti potongan video klip, video dari Youtube bahkan meme yang viral di media sosial. Sosok Otom Indigueriellaz (kakak Putud) memberikan banyak pengetahuan dan keterampilan teknis padanya; bagaimana mengolah resin, mencetak pada medium kayu sampai berkomunikasi dengan kurator dan menghitung harga karya.

Selain berkarya, Tempa juga kerap diminta menjadi seniman komisioner di restoran atau kafe. Mural Tempa menjadi spot selfie menarik dan penanda khas tempat-tempat itu. Selanjutnya apa lagi? Tempa ingin memproduksi furnitur. Mereka percaya bahwa arsitektur memiliki nilai estetisnya tersendiri. Seiring dengan Baik Putud dan Rara optimis, kedepannya Tempa akan dicari-cari banyak orang. Mereka membayangkan setiap keramik dengan desain Tempa ada di meja makan setiap rumah.

Ikuti Tempa di media sosial: @_tempa_


Penulis: Hamada Adzani Mahaswara