BerkenalanLagidenganKolektifMusikIndonesia:Noisewhore

August 16, 2018Qubicle Music
Noisewhore adalah kolektif musik Indonesia yang kini ramai dibicarakan. Kami ngobrol A-Z sama salah satu otaknya soal seluk beluk mereka.

Siapa sangka berawal dari iseng-iseng menulis blog, sekarang malah menjadi salah satu kolektif musik Indonesia yang cukup ramai dibicarakan di kancah saat ini? Nama Noisewhore beberapa tahun belakangan sudah dikenal sebagai kolektif yang aktif membuat acara musik, dari show berskala lokal hingga mancanegara.

Tahun ini saja, mereka sudah berkali-kali mengejutkan khalayak dengan memboyong berbagai nama mutakhir di ranah indie internasional—sebut saja Cosmo Pyke, Unknown Mortal Orchestra, dan Snail Mail—yang akan tampil di Jakarta dalam beberapa waktu mendatang. Umur mereka, termasuk umur kepala-kepala di dalamnya, sih, masih muda, namun mereka sudah berani dan mampu mengorganisir berbagai acara, dari gigs studio hingga konser sekelas festival, dengan baik. Sebagian besar pun bisa dibilang memuaskan.

Beberapa waktu lalu, kami sempat ketemu dengan salah satu otak/founder dibalik kolektif musik Indonesia ini, Argia. Dirinya bicara panjang lebar mengenai awal mula terbentuknya Noisewhore, pengalaman selama menjalani kolektif musik Indonesia tersebut, hingga cara mereka membagi waktunya dengan kegiatan kuliah. Tidak hanya itu, ia juga tidak sungkan membeberkan keluh kesah serta kekhawatirannya pada banyak kolektif musik Indonesia baru yang hanya ikut-ikutan tren memanggil band mancanegara tanpa disertai dengan attitude penyelenggara acara yang baik.

Argia, founder kolektif musik Indonesia, Noisewhore, ketika ditemui di pop-up store Noisewhore di Kemang. (foto: Yogha Prasiddhamukti)

Bisa ceritain soal Noisewhore? Awal mulanya bagaimana?

Awalnya blog sih. Blog Tumblr gitu. Gue sama Kareem (sekarang dikenal sebagai produser dan rapper dengan alias BAP, Yosugi) awalnya. Kami teman SMA, kenalan terus suatu hari ngomongin musik terus musiknya nyambung. Sebenernya nggak terlalu nyambung karena dia lebih ke thrash metal dan gue lebih lembek gitu. Tapi kita berdua saat itu suka Tera Melos. Terus akhirnya kita bikin blog, nggak ada yang baca yang jelas. Kami nggak cuma nyuruh teman-teman baca dan nggak ada yang suka juga. Maksud gue kebanyakan anak di SMA gue saat itu, 2012-2013, tuh dengarnya kayak rosternya Spinning Records, Avicii, gitu-gitu kan. Pokoknya DJ-DJ EDM gitu. Terus, suatu hari entah kenapa kita bikin zine gitu. Gue nggak tau motivasinya apa. Sampe sekarang masih ada master-nya sih. Kayak, HVS bagi dua, terus gue tempel-tempel, gue fotokopi depan sekolah, gue bagiin, eh dibuang abis itu. Gue bagiin siang-siang, pulang sekolah tuh kayak banyak berceceran gitu. "Wah, ngehe nih orang-orang." Abis itu, ya, kontennya akhirnya online dan gue doang yang jalanin. Konten dari Kareem ada juga, tapi mostly gue, iseng karena waktu itu punya banyak waktu kosong.

Isi kontennya apa?

Gue interview beberapa band luar gitu yang gue suka dan entah kenapa mereka mau. Padahal kayak blog Tumblr doang. Satu kali yang paling gue inget, gue interview band ambient gitu dari UK, terus dia baik banget. Suatu hari gue dikirimin album dia dari UK gratis. Aneh banget, gue bukan siapa-siapa.

Dari situ lanjut tuh?

Nggak, akhrinya sempat berhenti dulu karena Kareem bikin [kolektif] Cul De Sac kan. Terus gue kayak hilang arah aja gitu. Pas kuliah ketemu Defa (salah satu anggota Noisewhore), akhirnya jalan lagi sama dia dan beberapa teman kuliah gue. Di situ akhirnya bikin show kecil. Tahun 2016, kayaknya. Pertama kali di Reading Room sama di JK7. Abis itu bikin berkali-kali lagi, habis itu vakum karena nggak ada duit. Rugi parah gitu.

Kenapa bisa rugi parah?

Karena gini, acara terakhir sebelum vakum tuh diadain di rumah temen gue. Lalu gue minjem duit temen gue itu. Dia bilang kayak, "Ayo sini gue investasi ke lo". Terus ya, dia pengen jadi bagian dari sesuatu aja. Dia pengen ngasih duit dan dia tajir mampus. Dia bilang, "Pokoknya lo balikin deh". Ya nggak balik lah. Begonya, gue iyain juga. Udah mana duitnya nggak balik, terus gue sama Defa ngilangin headphone-nya. Jadi kami kayak rugi banyak, kelarin utangnya dan lain-lain. Abis itu ya vakum saja karena mikir show-show lokal kayak gini, show terakhir kita tuh 2016 kita ada 3 acara. Acara pertama okelah, well received. Acara kedua juga mending. Nah acara ketiga tuh, selain yang dateng nggak serame itu, di saat itu di akhir tahun 2016 udah banyak show-show kecil lokal, jadi gue pikir, kalo kami cabut sekarang nggak ada ruginya. Ya mending ntar aja deh, pikirin dulu mau ngapain. Sempat vakum lagi.

Lalu, bagaimana ceritanya Noisewhore bisa aktif kembali?

Akhirnya orientasinya pindah semenjak gue kenal sama Rizkan (pemilik label rekaman independen Rizkan Records). Dia ngasih band-band luar [negeri] gitu, yang kecil-kecil lagi tur . "Lo mau ambil show Jakarta-nya nggak?", kata dia. Dari situ akhirnya bikin show-show kecil tapi yang ada band luarnya dan yang menurut kami oke. Akhirnya, kami bikin lagi tuh 2017 kayak gitu. Sekitar bulan Juli, gue diajak ketemu sama Daffa (pemilik label rekaman independen Kolibri Rekords) dan Dega (salah satu founder Studiorama). Awalnya mau ngomongin ngedatengin DIIV ke sini. Akhirnya nggak jadi, tapi jadinya Fazerdaze sama [kolektif dan label rekaman] 630 Recordings. Abis itu sisanya bikin-bikin show gede terus sampe sekarang.

Dua poster acara Noisewhore; yang akan datang dan yang sudah berlangsung. (foto: Yogha Prasiddhamukti)

Setelah sebelumnya kalian ada kerugian bikin show lokal, sempat ada ketakutan untuk mencoba lagi?

Bukan takut, sih. Males doang. Sebenarnya ruginya nggak terlalu gede. Cuma kayak, gue dan Defa ngeliat nggak worth it aja saat itu. Karena secara waktu juga nggak ideal buat kami karena saat itu banyak teman-teman kami yang akhirnya pindah ke luar negeri lanjutin kuliah. Terus jadinya sepi, tinggal gue, Defa, sama beberapa orang lain. Gue pikir entaran dulu aja, deh. Tapi kami nggak pernah kapok sih. Sebenernya gue juga nggak planning bikin acara-acara gede isinya band-band luar kayak Fazerdaze, Homeshake, dan lain-lain. Emang dari dulu gue sukanya bikin gigs kecil gitu. Yang dateng teman-teman, band-band lokal yang gue suka, terus mabuk. Murah. Sebenernya gue juga pengen balik lagi, tapi pas ngeliat kayak [acara] The Milo gitu, gue nyoba balik lagi kayak gitu, tapi crowdnya sudah beda, dan gue sebenarnya nggak kesal, sih. Tapi kayak, kangen aja sebenernya.

Poster salah satu acara tersukses Noisewhore bersama 2 kolektif lain. Tiket ludes hanya dalam waktu 2 hari. (foto: dok. Noisewhore)

Maksudnya?

Gue tau kalau nggak bisa lagi balik kayak yang gue omongin tadi, bikin gigs kecil. Saat gue bikin showcase-nya The Milo yang nonton cuma sedikit. Saat gue kemarin bikin acara ada band Hawaii dan ada band-band lokalnya juga, dikit banget yang dateng. Karena orang-orang udah expect [ke Noisewhore] buat datengin band favorit mereka yang mahal-mahal. Itu pun sekarang menurut gue sudah banyak yang kayak gitu. Orang-orang baru yang masuk dan ngelakuin hal yang sama. Sedihnya, gue sebenarnya pengen banget balik kayak dulu tapi nggak bisa itu tadi. Satu, udah banyak show-show lokal juga kan sekarang, yang kecil-kecil gitu. Dua, crowd yang follow Noisewhore sekarang sudah beda.

Jadi, pada akhirnya motivasi Noisewhore sekarang—sebagai kolektif musik Indonesia—ngebawa band mancanegara juga karena kalian ngerasa kalau manggil band lokal antusiasnya nggak segede itu?

Nggak sih, bukan. Perasaan itu baru ada sekarang. Terakhir, gue ngerasain itu pas ngedatengin band Hawaii itu, The Bougies. Tapi, saat setelah Fazerdaze tuh puas banget, sih. Kayak, oh ternyata gue bisa. Soalnya gue ngejar-ngejar banget. Pas Homeshake tuh, gue batu banget karena gue suka Homeshake. Jadi gue bilang ke Dega "Ayo Deg, please". Terus akhirnya bikin berdua. Susahnya tuh, harus gue akui, untuk band-band luar gue bisa classify bahwa ngedatengin satu band sebagai business move.

Argia dan poster Noisewhore Live yang akan datang, berbintang tamu Unknown Mortal Orchestra. (foto: Yogha Prasiddhamukti)

Business move karena pasti ngedatengin banyak orang? Atau bagaimana?

Peach Pit itu business move banget, tapi gue suka banget Sunset Rollercoaster. Sebenarnya pada akhirnya, puasnya sama saja, sih. Tapi kadang-kadang menurut gue, datengin band luar, sebenarnya bukan karena konteksnya band luar, tapi band yang sudah gue dengerin dari kapan gitu, yang gue suka. Intinya gitu, band yang gue suka. Pas gue datengin Sunset Rollercoaster tuh gue senang banget. Karena gue nggak nyangka. Gue juga nggak nyangka, ngedengerin Unknown Mortal Orchestra dari SMP dan September mereka ke sini dan yang bikin acaranya Noisewhore. Mereka bakal masuk mobil gue, bakal duduk bareng. Itu sih, kalo band luar adrenalinnya kayak gitu.

Ada plus minusnya juga. Crowd-nya beda, lebih ribet. Mungkin kalo dari band lokalnya kepuasannya kayak, lo sama temen-temen itungannya nongkrong gitu, nyantai. Kalo sama band luar kepuasannya kayak "Anjir, gue ketemu sama ini nih, nongkrong sama ini," gitu. Tapi menurut gue, ujung-ujungnya sama sih kepuasannya. Sama-sama senang tapi jauh lebih stres datengin band luar.

Poster acara Noisewhore Live yang berlangsung selama 2 pekan berturut-turut. (foto: dok. Noisewhore)

Intinya, sebenernya kalian mencoba untuk membawa band yang kalian suka ya?

Iya, tapi gue nggak bisa bohong. Lo nggak bisa maksain band yang lo suka datang. Pasti harus ada business move  juga.

Kalian kan cukup muda dan masih pada kuliah. Apa ada kesulitan untuk membagi waktu?

Nggak ada, karena kuliah gue cukup lancar. Oh pas Noisewhore Live dia tuh besoknya UTS (sambil menunjuk Afri, anggota Noisewhore yang ikut datang ketika wawancara berlangsung), terus dia tidur, man! Ya, ada hal-hal seperti itu. Defa (salah satu kepala dalam kolektif musik Indonesia, Noisewhore) juga menurut gue tuh kesusahan juga. Pas [konser] A Place to Bury Strangers tuh hari terakhir gue UAS, lho. Maksudnya, pintar-pintarnya lo ngatur aja sih. Soalnya, enaknya anak-anak Noisewhore tuh beda-beda kampus kan, jadi beda-beda jadwal. Jadi saat gue nggak bisa, mungkin ada yang bisa fill in. Gue nggak pernah nyuruh anak-anak untuk ninggalin kuliah. Kalau lo memang ada apa, ya sudah diakalin. Karena, seangkatan semua gitu lho. Semua masih umur 20-21 tahun. Sebenarnya nggak normal juga lo ngurusin hal kayak gini di umur segini. Dan bahkan lo masih kuliah dan bukan pas sudah skripsi. Kuliahnya tuh yang masih kelas, siang sampe sore, Senin sampai Jumat.


Ada ketakutan kegiatan Noisewhore mengganggu keseharian?

Emak gue marah, sih. Emak gue bilang, "Kamu mau kerja kayak gini terus? Sampai kapan?". Itu biasanya sebelum acara. Kalo setelah acara malah, "Kok gue nggak dibagi?" Kalo dari gue personally ya, orangtua nggak terlalu setuju sebenernya karena orangtua gue sangat tradisional. Sekarang nih, semester 7 gue sudah disuruh mikir rencana S2. "Nih, kamu pilih mau lanjut ke mana, terus kamu les ini, itu." Orangtua gue tuh yang kayak gitu. Dari SD tuh ditekan untuk nilai bagus dan lain-lain. Tapi pada akhirnya nyokap gue juga nggak bisa ngomong apa-apa karena gue bisa handle kuliah gue dengan baik dan memuaskan bagi mereka, sembari ngurus hal-hal ini. Konsekuensinya, gue kurang tidur. Normal, lah. Cuma, kadang-kadang harus diakui, gue stres, sih. Apalagi masalah duit ya. Duit belom balik, terus sebentar lagi mau ujian. Gue lagi ujian terus kepikirannya duit.

Tahun ini, ada berapa acara yang Noisewhore sudah dan akan bikin?

Tahun ini sudah banyak banget. Noisewhore Live, The Milo, The Bougies. Terus bakalan ada Cosmo Pyke, Unknown Mortal Orchestra. Itu baru sampai September. Kalau jadi masih ada lagi, tapi belum tahu jadi atau nggak. (ketika wawancara ini berlangsung, Noisewhore belum mengumumkan perihal konser Snail Mail bulan Oktober mendatang)

Poster awal yang mengumumkan soal konser Unknown Mortal Orchestra di Jakarta. Noisewhore selalu punya artwork yang menarik di poster-poster yang mereka buat. (foto: dok. Noisewhore)

Hal aneh apa yang kalian alami selama menghandle musisi mancanegara?

Jatuhnya bukan mereka banyak mau sih, tapi mereka tolol saja. Apa dikira apa. Kadang kayak, kami nggak bisa classify Noisewhore sebagai profesional gitu, kayak suka ada ketololan gitu. Gue booked hotel buat band terus kepencet satu lagi kamar tambahan. Kami yang nginep dong jadinya. Terus teman gue suatu hari pas kelar acara, Peach Pit baru nyampe [di hotel] gitu, terus gue sama dia nginep di situ, sebelah kamarnya vokalis Peach Pit. Dia masuk salah kamar terus vokalisnya Peach Pit lagi telanjang gitu. Terus kayak, dua-duanya awkward parah (tertawa). Banyak sih yang gitu-gitu. Tapi nggak pernah yang kayak "Anj*ng, apaan nih?". Soalnya riders artis tuh sebenarnya ya sudah aja, gitu. Selama lo usaha jelasin kalau misalnya lo nggak bisa ngedapetin ini itu, gue nggak bisa, atau gue nggak mampu, yang ada kan, karena artis yang gue datengin juga bukan diva gitu, jatuhnya kayak, ya masih karena levelnya belum terlalu besar kan, jadi kayak ya sudah gitu. Lebih kayak teman, sih. Hubungannya bukan yang transaksional gitu. Selama ini nemunya bukan permintaan aneh, tapi kejadian aneh gitu. Kayak yang tadi gue ceritain. Terus ada, band Singapura orgasme makan udang (tertawa). Terus dia bayarin Sunset Rollercoaster mie 2-3 ronde, jadi bayar Rp200 ribu, gitu.

Seru juga ya.

Eh, bukan kayak teman sih, gue nggak bisa bilang kayak temen juga, SKSD banget. Tapi kayak menghabiskan waktu bareng aja gitu. Gue nggak tahu , mungkin Unknown Mortal Orchestra bakal ada permintaan aneh gitu. Namun, sejauh ini seru-seru aja, sih. Kami nggak pernah ngerasa ada kesulitan sama permintaan aneh. Jadinya ya, asik aja.

Gimana kalian melihat banyaknya kolektif musik Indonesia baru yang mencoba untuk mendatangkan band luar juga?

Gue nggak bisa bilang mereka kolektif sih karena gue kenal beberapa dari mereka. Terus, orientasinya tuh bukan "kolektif", tapi sangat bisnis. Makanya gue nggak get along well dengan mereka. Karena sebenarnya mereka angkatan gue semua. Lalu gue benar-benar tahun 2012 bikin blog, 2016 bikin acara kecil-kecil, dan baru sekarang gedenya. Jadi gue ngerasain dari bawah gitu. Sedangkan mereka, bikin akun Instagramnya bulan lalu, baru nyari buzzer, booked artist. Pokoknya sangat bisnis gitu. Bukan berarti nggak setuju sama mereka, cuma beda saja sama approach yang selama ini gue lakukan, sih, intinya. Dan poinnya adalah, gue nggak masalah mereka mau ngapain. Bukan urusan gue.

Lalu bagaimana menurut kalian soal mendadak banyaknya gigs band mancanegara tahun ini?

Menurut gue tahun ini tuh bakal jadi cycle paling penting untuk show-show band luar, bahkan bertahun-tahun ke depan. Dan salahnya, yang megang dan banyak main tuh angkatan gue. Mayoritas dari mereka belum pernah kayak gini. Menurut gue, personally, kemungkinan tahun depan bakal sepi show. Gue bisa salah ya, karena kayak sekarang, dari Juli sampe Desember, udah berapa show coba? Sebenarnya yang kayak gitu-gitu menurut gue nggak ada efeknya dan bahkan membantu orang-orang kayak gue [dalam segmentasi indie]. Yang jadi masalah adalah segmentasi-segmentasi indie kayak sekarang itu, macam Boy Pablo, Cuco. Ya lo taulah gue ngomongin siapa. Tapi kayak, itu yang jadi masalah karena mungkin gue bisa bilang bahwa Noisewhore multi-genre gitu. Mungkin orang-orang bilang nggak juga kali ya. Tapi gue memang ambil apa yang gue suka saja. Cuma tahun ini banyak yang lewat yang indie-indie gitu. Tahun depan mungkin gue bawa kayak rap atau hardcore gitu. Dan gue nggak peduli. Tapi, yang jadi masalah adalah, menurut gue krusial, karena orang-orang baru ini kan masih orientasi. Belum terlalu paham dan sejujurnya juga mereka bukan yang tahu gimana cara run a show gitu.

Jadi menurut Noisewhore, cara mereka bikin dan ngejalanin perkonseran ini masih "terlalu kepanitiaan kampus" ya?

Gue bisa bilang dengan full confidence kalo mereka tuh basian dari kepanitiaan kampus. Jadi orientasinya bisnis dan seperti kepanitiaan kampus. Dan itu nggak salah, balik lagi. Ya sudah, you do you aja gitu, menurut gue. Tapi yang jadi masalah adalah menurut gue ini adalah cycle ulangan beberapa taun lalu, pas soal Adrie Subono itu.

Nih gue buka saja. Sekarang tuh bidding war (baca: tawar menawar harga antar promotor/organizer ke pihak artis) tuh almost weekly. Dan gue bisa bilang siapa saja yang di-bidding war. Tapi sayang tuh, kalau bidding war di skala bisnis, let's say, ke Limp Bizkit, wajar. lo bidding war Limp Bizkit, ya udah, kelar. Karena one of dan sudah terlalu besar. Nggak terlalu banyak penawarnya. Dan penawarnya juga penawar-penawar tertentu yang memang udah siap gitu. Saat lo bidding war untuk artis kecil, ya rusak gitu pasarnya. Apalagi misalnya, ke artis yang lagi tur, bukan orang-orang Indonesia doang yang kena di masa depan, tapi orang-orang luar juga benchmark-nya berubah. Gue dapet testimoni ini dari organizer di luar juga. Kayak, sekarang harganya jadi ngehe, gitu.

Kembali lagi, bidding war tuh nggak masalah. Karena itu proses bisnis. Terserah lo mau bayar berapa, tapi saat lo bayar kemahalan, ya harga rusak. Itu udah konsekuensi dan habis ini gue nggak bisa datengin artis. Itu kan yang jadi masalah. Walaupun menurut gue nggak terlalu jadi masalah karena gue yakin banyak orang-orang lain yang menurut gue belom keluar [ke bisnis ini] semua. Angkatan gue yang pengen coba-coba belom kelar. Masih banyak lagi. Tapi apakah mereka akan keluar atau nggak, ya jadi pertanyaan. Karena sekarang, saat lo bayar mahal dengan harga nggak masuk akal untuk satu band kecil, kayak band Youtubecore gitu, terus lo rugi—bukan berarti lo pasti rugi—ya lo bakal berhenti.

Noisewhore bekerja sama dengan label rekaman Anoa Records menggarap acara di atas ini. (foto: dok. Noisewhore)

Kenapa jadi berhenti?

Ya karena lo nawar ketinggian band-band Youtubecore itu, ya gue juga berhenti, males, tahu lo rugi. Di situ kan nanti jadi kosong. Gue betenya di situ aja. Kayak masalah harga rusak dan gue nggak mau datengin lagi. Menurut gue itu masalah gue yang terlalu konservatif. Gue nggak pernah pakai sponsor. Gue benar-benar nggak mau rugi. Gue benar-benar mau kasih upah yang setara sama anak-anak juga. Menurut "kolektif-kolektif" baru ini seperti bisnis. Kalau lo memang mau nawar segitu, kalau lo memang yakin sama hitungan lo, ya gue nggak masalah. Itu emang bisnis lo. Tapi yang gue sayangkan adalah gue cuma takut bakal sepi karena harganya dirusak. Dan lo yang ngerusak. Nggak bisa nerima konsekuensi dan lo udahan. Lo kalo mau bid tinggi ya lo pastiin, sponsor lo ada terus, duit lo ada terus. Jangan sampai lo cabut, terus nanti nggak ada yang nerusin gitu loh.

Gue bisa bilang mungkin iklim ini mulai dari Fazerdaze. Momentumnya dari sana. Gue lihat tahun ini, setelah Peach Pit dan Sunset Rollercoaster makin banyak lagi. Orang-orang pengen datang ke acara band, ke show-show seperti ini. Ya sudah, lo jaga. Itu doang sih yang gue sayangkan. Gue takutnya apa yang sudah kita bikin sejauh ini, apa yang sudah gue bikin sama Studiorama dan 630 [Recordings] gitu, ujung-ujungnya mati aja gitu karena orang-orang yang gue bisa bilang "nimbrung" kali ya? Tapi nggak matang gitu. Dan yang gue sayangkan, beberapa dari mereka mentalnya masih kepanitiaan. Beberapa dari mereka juga ngelihat gue atau Studiorama tuh sebagai kompetitor.

Namun, siapa tahu gue salah. Siapa tahu mereka ada terus dan semakin ramai. Karena berarti, organizer baru ini bakal dapat duit yang mencukupi bagi mereka dan artispun dapat duit yang mencukupi buat mereka. Dan selama lo dapat duit, berarti tiketnya masuk akal kan bagi penonton? Selama organizer-nya dapat duit dan bandnya lebih banyak dapat duit, ya pasti senang lah. Karena kadang-kadang gue ngerasa gue bayar artis nggak sesuai sama worth mereka, terlalu murah. Tapi ya gue mau ngapain juga. Kalau gue mau naro duit lebih tinggi, ya lebih rugi. Bagus juga kalo bisa mahal dan survive. Tapi kalau nggak, jadi masalah buat gue. Itu sih yang jadi concern gue dari kemaren. Gue nggak ngerasa ada kompetitor. Gue nggak ngerasa ini bisnis, jadinya nyantai.

Kalian nggak merasa kolektif lain bukan kompetitor, tapi apakah kalian merasa sebagai salah satu pionir, sebagai salah satu kolektif musik Indonesia, di kolam ini nggak?

Nggak. Karena sebenernya yang gue lakuin tuh sudah dilakukan sama kepanitiaan kampus dari kapan tahu. Mugal [Music Gallery] udah ngelakuin dari 8 tahun yang lalu. Itu bukan hal baru dan gue nggak bisa bilang gue pionir. Mungkin gue bisa bilang gue yang pertama DIY. Tapi ya, bodo amat nggak, sih? DIY doang, nggak terlalu penting.

Noisewhore selalu punya kekhasannya sendiri soal desain poster acara yang mereka adakan. (foto: dok. Noisewhore)

Makin ke sini makin banyak angkatan-angkatan di bawah kalian, yang mungkin juga terinspirasi Noisewhore, untuk melakukan hal serupa. Hal apa yang mau kalian sampaikan ke mereka supaya nggak salah langkah?

Menurut gue mulai, sih, jangan ragu. Tapi jangan tolol juga. Ada kemungkinan ini bakal jadi tren di tahun-tahun ke depan. Balik lagi, tergantung tahun ini ya. Tapi idenya, lo harus mulai dari bawah, menurut gue. Lo harus mulai dari show-show kecil biar lo kenal sama orang-orang tertentu dan ada teman juga. Jangan sampai lo cuma asal teman setongkrongan, terus asal nge-bid artist berapa puluh ribu dolar. Buat apa? Sebaiknya kalau lo memang pengen jauh lebih puas dan menyenangkan, gue sarankan jangan seperti kepanitiaan dan jangan seperti bisnis. Lo sesuaikan saja apa yang lo mau. Bikin dari kecil-kecil, pelan-pelan. Ya setahun atau dua tahun gitu baru lo bikin headline show.

Terus lo harus kenal sama orang-orang, soalnya beberapa tuh nggak kenal sama orang-orang gitu loh. Boro-boro kenal sama orang-orang yang aktif di gig gitu. Datang ke show saja nggak pernah. Maksud gue, pastiin lo suka dan bukan sebagai karir. Kalau jadi karir, menurut gue nggak, sih. Income lo nggak pasti. Dan terlalu banyak variabel yang nggak tentu gitu. Banyak hal-hal yang ngga bisa diprediksi saat lo bikin show. Apapun yang terjadi, lo harus memperhitungkan variabel nggak tentu yang bakal terjadi. Karena menurut gue, itu yang bisa bikin gue selamat dua tahun ini DIY nggak pake sponsor dan cuma tiket doang. Lo harus memperhitungkan semuanya. Untuk nyampe ke perhitungan seperti itu tuh lama, gue harus belajar dari banyak orang dulu gimana cara ngitungnya.

Salah satu cara promosi Noisewhore jelang konser-konser mereka: membuka pop-up store. (foto: Yogha Prasiddhamukti)

Let's say, lo belajar dari kepanitiaan kampus, lo nggak pernah dateng ke show, lo cuma liat ini sebagai kerjaan, lo duduk di meja, lo bikin di Excel, "Oh ini segini booking fee-nya, visa segini, dan lain-lain." Tapi kalau lo nggak pernah datang, nggak pernah kenal sama orang-orang yang pernah bikin acara, lo nggak tau kalo ada banyak variabel lain yang sebenernya bisa bikin lo kalah dan mati. Itu yang gue tekankan. Makanya beberapa kali ada "kolektif" baru dateng ke gue beneran nanya perhitungan, bahkan gue bantuin gitu, lho, kadang-kadang. Karena gue nggak pengen lo datengin artis mahal-mahal, terus lo rugi, nanti lo kapok, terus susah nanti semua orang.

Sini deh, lo sudah terlanjur bayar mahal, sekarang lo damage control aja. Lo cari hal-hal lain yang bisa memperkecil cost-nya, dan menjamin lo dibayar dengan baik supaya bisa bikin lagi, gitu. 


Penulis: Anida Bajumi

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US