Biennale Termuda Di Indonesia Sedang Bersiap !

Maritim dipilih menjadi tema utama Makassar Biennale tahun ini. Partisipasi, interaksi serta kolaborasi Para Perupa dengan Warga sekitar juga menjadi kemasan yag disiapkan oleh panitia. Dengan bertebarannya kantong-kantong komunitas setelah digelarnya Biennale pertama di kota ini, lebih banyak konten yang siap disajikan di awal November ini nantinya.

Menurut kurator MB 2017 yang juga penggagas Pustaka Bergerak ini, Nirwan Ahmad Arsuka beberapa hari lalu pada Press Conference Biennale 3 kota Indonesia, “Makassar harus berjuang mendefinisikan dirinya, merumuskan karakternya agar tak menjadi sekadar pengekor dari Biennale yang sudah ada,. Perlu juga digarisbawahi dalam Biennale ini adalah ‘Maritim’ tidaklah bermakna sebatas wilayah perairan laut, melainkan ‘maritim’ dalam pengertian ekosistem—meliputi sungai dan pegunungan.


Mari kita lihat contoh 2 karya dari 25 Seniman yang akan terlibat di Makassar Biennale 2017,

Bom Benang

Dimotori komunitas Quiqui yang 2 bulan sebelumnya sudah mengerjakan proyek "Benang dan Sungai". Dibantu The Ribbing Studio dan Tanah Indie mereka bekerja mendampingi perempuan bantaran Sungai Sinre’jala membuat kerajinan dari eceng gondok, meneliti kandungan air sungai tersebut, dan menggali narasi warga terkait sungai hitam yang membelah Kecamatan Panakkukang itu

Perempuan Bantaran Sungai

Sungai dan perempuan juga mengemuka dalam karya Al Farabi. Mereka mementaskan pertunjukan Teater dan Tari berjudul “Perempuan Bantaran Sungai” yang menceritakan para perempuan yang bekerja sebagai pemecah batu di pinggir Sungai Bijawang, Bulukumba. Karya tersebut merupakan respons Al Farabi terhadap pengalaman melihat bagaimana mesin-mesin merusak ekosistem sungai—yang mengancam ekosistem yang ada. Deretan perempuan yang memecah batu dan memunculkan bunyi batu pecah. Lalu hening yang tertinggal. Kesedihan tersisa usai akhir dari pementasan tersebut.

Biennale di Makasar tahun ini lebih meriah lagi karena juga  diikuti perupa dari Banda Aceh, Bekasi, Lombok, Ternate, Bulukumba, Pambusuang-Polewali Mandar, Makassar, dan Taiwan dan diharapkan akan memunculkan jaringan seni rupa nasional dan internasional. Lantaran pemikiran itulah Makassar Biennale membuka ruang bagi warga berjejaring dengan menampilkan dan memamerkan ragam karya UKM rintisan (maksimal dua tahun). Menurut Direktur Makassar Biennale 2017, Anwar Jimpe Rachman, ini menandakan kalau bukan hanya antar Seniman yang “bertransaksi”, Warga (yang ketika MB berakhir) pun akan terus bergeliat dengan usaha-usahanya. Amin.

Sampai ketemu di Makassar Biennale tanggal 8 s/d 28 November di pelataran Menara Pinisi, Universitas Negeri Makassar


Credits Thanks to :

Ina Rusli

Anwar Jimpe Rahman

Tim Makassar Biennale