CeritadariSalahSatuSosokGitarisIndonesia:RickySiahaan

August 23, 2018Qubicle Music
Salah satu sosok gitaris Indonesia ini berbicara soal banyak hal; dari perannya sebagai manajer aktor hingga pentingnya jurnalisme musik.

Selain berperan sebagai gitaris untuk unit rock oktan tinggi asal Jakarta, Seringai, belakangan nama Ricky Siahaan juga dikenal di kancah perfilman internasional. Ia sekarang merupakan manajer dari aktor laga Hollywood asal Indonesia yang mungkin paling dikenal dan disegani saat ini, Iko Uwais.

Pekan lalu, kami berkesempatan untuk menemui salah satu sosok gitaris Indonesia—yang bisa dibilang yang terbaik di genrenya—itu di kediamannya. Di sana gitaris Indonesia satu ini bercerita kepada kami tentang kesibukannya sebagai manajer artis, pentingnya memiliki keragaman selera bagi seseorang yang berkarya, hingga mengapa menurutnya di era musik yang sangat demokratis ini peran seorang jurnalis musik masih penting.

Ricky Siahaan. (foto: Adam Bagaskara)

Selain dikenal sebagai gitaris Seringai, saat ini Ricky Siahaan juga dikenal sebagai manajer untuk aktor Iko Uwais. Sejak kapan sebenarnya mengerjakan hal ini?

Mulainya itu tahun 2015. Jadi waktu itu gua diajak oleh Stevie Item dan Audy, kakak ipar dan istri Iko Uwais, untuk menemani Iko ke Amerika selama dua hari untuk meeting. Saat itu gua belum kenal dengan Iko. Dan saat itu dari pihak keluarga Iko belum ada yang punya visa Amerika. Karena keluarganya Audy tahu gua memang kerja kantoran dan biasa meeting, gua juga pernah ke US dan saat itu visa gua masih aktif, jadinya gua yang diajak untuk menemani Iko di meeting itu. Ya udah, dari situ gua kenal dia. Terus meeting-nya berjalan lancar, gua kayaknya saat itu juga tahu apa yang harus gua lakukan di sana. Terus, Iko mengajak gua untuk jadi manajer dia karena sebelumnya dia diurus oleh sebuah perusahaan manajemen, bukan oleh perorangan kayak gua sekarang. Setelah diajak, gua mau. Walaupun saat itu sebenarnya gua masih kerja di Rolling Stone, tapi udah di akhir-akhir Rolling Stone.

Apa sebenarnya tugas seorang manajer artis?

Kalau yang gua kerjakan adalah memastikan karier Iko berjalan dengan lancar, sesuai dengan kapabilitas dia. Gua berusaha untuk memastikan kalau dia berhasil memanfaatkan kemampuan dia sebaik mungkin. Gua memastikan Iko tampil di film yang memang cocok dengan dia, gua me-manage segalanya, menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan seorang aktor agar kariernya berjalan lancar, sehingga dia bisa nggak punya banyak beban pikiran dan bisa berkonsentrasi untuk membuat karya yang baik. “Lo lakukan pekerjaan lo sebaik mungkin, lah. Sisanya biar gua yang handle. Lo tinggal kerja, lo nyaman, aman, sehingga karya lo bisa maksimal” jadi lebih kayak gitu, teamwork, sih.

Dulu sebenarnya nggak, ya. Dulu sebenarnya hanya Iko yang gua pegang. Tapi karena sekarang Uwais Team namanya naik dan sering dipakai untuk kebutuhan beberapa film, jadi banyak sisi-sisi administrasi yang dihadapi oleh Uwais Team ketika mereka bekerja dalam sebuah project, itu gua yang bantu dalam proses dealing, kontrak, dan sebagainya. Jadi, bisa dibilang gua tidak terlalu terlibat dalam mengelola Uwais Team, tapi lebih sebagai agennya. Keterlibatan gua seperti itu, sih.

Seperti sekarang, nih, Iko sedang bekerja di Kanada, gue membantu supaya gimana caranya Iko bisa membawa tim koreonya untuk kerja dengan dia di sana, membuat koreo di project yang sedang dikerjakan di sana. Uwais Team gua bantu administrasinya agar mereka bisa ikut berangkat sama Iko, sehingga project di sana bisa maksimal secara look, juga dari segi fighting sequence, sesuai dengan standar yang Iko punya.

Apa yang sedang dilakukan oleh Iko Uwais di Kanada?

Shooting, untuk sebuah project bernama Wu Assasins, project itu merupakan sebuah serial yang diproduksi oleh Netflix. Saat ini yang sedang dikerjakan adalah season pertama, ada sepuluh episode. Iko berperan sebagai seorang karakter bernama Kai Jin, seorang chef keturunan chinese-Indonesian yang bekerja di sebuah wilayah pecinan San Fransisco. Serial ini pada dasarnya beraliran action, tapi juga ada unsur thriller, Chinese mythology, dan ada supernatural-nya juga sedikit. Dalam serial ini Iko merupakan pemeran utama.

Sebentar lagi film Hollywood yang turut diperankan Iko Uwais, Mile 22, akan tayang. Bagaimana akhirnya Iko mendapatkan peran di film tersebut?

Ya, itu, jadi meeting di Amerika yang gua ceritakan tadi, itu untuk Mile 22. Waktu itu project-nya jauh berbeda dengan apa yang akan keluar sebentar lagi di bioskop. Saat itu, Mile 22 belum berencana menampilkan Mark Wahlberg. Bahkan, saat meeting pertama itu Peter Berg belum berpean sebagai director untuk Mile 22. Saat itu Peter Berg hanya berperan sebagai produser, director-nya orang lain, seorang director baru gitu, lah. Kemudian, pemeran utama yang ditunjuk saat itu adalah Ronda Rousey dan Iko Uwais, mereka berdua aja.

Terus, setelah itu gua ingat project-nya sudah mau dimulai, tapi tiba-tiba Ronda Rousey kalah, saat itu dia masih merupakan seorang petarung mixed martial arts (MMA), dan saat itu pamor dia sebagai peatarung MMA masih hype banget, dan kelihatannya dia nggak terkalahkan. Ternyata kemudian dia kalah, dan sepertinya dia sempat menyatakan bahwa dia nggak mau lagi terjun di dunia hiburan karena sepertinya saat itu dia agak depressed karena kekalahannya. Waktu itu dibilang bahwa akan ada bintang film lain yang ikut. Terus kami dapat kabar bahwa Mark Wahlberg akan ikut dalam film ini. Karena saat itu Ronda Rousey baru aja kalah, dan juga Mark Wahlberg sedang terikat kontrak di mana dia masih mengerjakan Transformers kalau nggak salah, dan dia jadinya nggak diizinkan untuk main dalam film lain, Mile 22 ditangguhkan. Cukup lama, tuh. Ada sekitar dua tahun Mile 22 ditangguhkan.

Iko juga udah sempat main film lain saat itu, sempat main Headshot, terus dia juga sempat shooting film The Night Comes for Us yang bakal keluar juga sebentar lagi di Netflix. Kami pikir saat itu “Mile 22 nggak akan jadi dibuat, nih.” Tiba-tiba kami dapat kabar bahwa project ini akan tetap jalan. Peter Berg, Mark Wahlberg, dan STX Films buat konferensi pers di luar negeri bahwa Mile 22 akan tetap jalan dengan casts Iko Uwais dan lain-lain. Setelah itu langsung bergulir semua, 2017 akhir shooting dimulai. Gua juga sama Iko saat itu yang kayak, "Oh, jadi juga?” Walaupun nama filmnya udah ada di IMDB, tapi nggak kelihatan ada progress-nya. Karena memang cukup sering kejadian seperti itu, project nggak dilanjut sampai akhirnya shooting. Bahkan, kadang-kadang udah shooting aja film-nya bisa nggak keluar.

Ricky Siahaan bersama Iko Uwais dan sutradara film 'Mile 22', Peter Berg paska pemutaran perdana film laga tersebut. (foto: dok. Instagram Ricky Siahaan)

Sejak menjadi seorang manajer artis, Ricky Siahaan semakin sering bersinggungan dengan dunia film. Bagaimana dengan hubungan personal Ricky Siahaan sendiri dengan dunia film?

Oh, iya, sih. Gua memang suka dengan dunia hiburan sebenarnya. Jadi bukan hanya film, musik juga. Gua nggak bisa dibilang film buff yang sampai tau segala film cult dan punya koleksi film sampai berlemari-lemari, nggak kayak gitu, sih. Tapi, gua cukup menikmati film dan gua cukup banyak menonton film dan untuk film-film yang memang gua suka, gua cukup obsessed sampai gua hafal dialog-dialognya. Gua dari dulu suka banget The Godfather Series, lah. Sampai saat itu ada waktu di mana gua ngobrol sama David Tarigan (Demajors) dan Ade Paloh (Sore), ternyata kami bertiga sangat menggemari The Godfather sampai kami ingat semua adegan dan dialog-dialognya, dan kami tirukan. Itu lucu banget, sih, menurut gua (tertawa). Banyak, sih, ya. Pulp Fiction juga menurut gua salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Gua suka banget film-film buatan Quentin Tarantino. Terus, film-film buatan Coen Brothers juga gua suka, sih. Aduh, banyak banget, ya. Kayak Blade Runner gua suka banget, tuh, yang baru. Blade Runner 2049, aduh, itu bagus banget. Arrival juga bagus. Ya, yang kayak gitu-gitu, sih.

Ricky Siahaan dulu dikenal dengan nama 'Chainsaw Rick'. Dari mana nama itu datang?

Nama itu sebenarnya datang dari julukan yang kami buat di album pertama Seringai sebenarnya. Jadi, waktu itu di cover kaset album High Octane Rock ada foto kami berempat, dan di foto masing-masing ada tulisan kayak, “Arian – Vokills” (tertawa). Ini tipe-tipe kejadian yang kalau kita ingat lagi, suka jadi malu sendiri. Tau, nggak, lo? (tertawa). Jadi Arian itu tadi, posisinya ditulis vokills, terus Khemod tuh, apa, ya? Khemod gua lupa, terus si Sammy ditulis… “Buzz”…. “Buzzsaw” atau apa gitu. Terus gua “Chainsaw”. Nah, terus nggak tahu kenapa gua jadi dipanggil Chainsaw Rick. Gua nggak tahu, sih, kenapa akhirnya orang-orang panggil dengan nama itu. Tapi awalnya nama Chainsaw memang ditulis di cover album itu. Gua nggak pernah yang nulis nama gua sendiri Chainswaw Rick, sih. Gara-gara kami tulis aja di cover kaset aja.

Ricky Siahaan termasuk salah satu gitaris Indonesia yang menampilkan perkembangan gear-nya dari masa ke masa. Seberapa penting bagi seorang musisi untuk terus men-develop karakter sound?

Kalau buat gua penting, ya. Mungkin gua nggak bisa mewakili semua musisi. Tapi, buat gua penting karena gua basically agak geek gitu dengan hal-hal yang gua suka. Jadi kayak, musik dan gear-nya, gua sangat suka mengulik gimana caranya bisa menghasilkan sound terbaik itu pakai apa aja, dan eksplorasi atau pencarian ini sudah terjadi sejak zaman dulu. Ketika tahun ‘90-an band-band indie baru bermunculan, terus gua nonton band-band kayak Puppen atau apa, mungkin orang-orang lain akan lebih senang bahas “Wah, gila. Mereka keren banget ya lirik-liriknya, mereka cool.” Kalau gua lebih menyelami sisi teknis band-band yang gua saksikan. Gua selalu mau tau bagaimana bisa sound­-nya seperti yang mereka tampilkan, misalnya dengan distosi gitarnya. “Dia pakai efek apa, sih? Gimana sih cara dia mengatur rig dia sehingga suaranya seperti yang dia tampilkan?” Hal itu dari dulu selalu menjadi obsesi gua, dan hal itu akhirnya gua bawa sebagai musisi juga. Dari yang mulai pakai hanya dua efek, gua berusaha memaksimalkan apa yang gua punya. Terus gua punya uang untuk memperbaharui atau memperbaiki setup yang gua punya. Gua bukan tipe orang yang GAS. Dalam lingkup musisi itu ada istilah GAS, tahu gak lo? Gear Acquisition Syndrome (tertawa). Istilah ini gua kenal dari teman-teman gitaris, ternyata ada istilah ini. GAS itu adalah lo bersikap konsumtif to the max untuk membeli apa pun yang lo suka. Lo butuh atau enggak itu urusan belakangan, yang penting punya dulu. Ternyata gua bukan orang yang seperti itu, gua selalu bertanya dulu: “Apakah gua butuh? Apa sih fungsi benda ini? Apa yang bisa dihasilkan benda ini untuk memperbaiki sound gua?” Gua banyak pertimbangan-pertimbangan semacam itu sebelum beli gear.

Buat gua penting, sih, untuk terus develop karakter sound gua. Gua dari dulu selalu main di band di mana gitarisnya cuma satu. Kayak di Stepforward atau Seringai gua main gitar sendirian. Jadi, kalau band-band ini manggung dan orang-orang denger suara gitar yang menggelegar, ya, suara itu datang hanya dari satu orang. Sehingga apa yang gua pakai akan memiliki pengaruh langsung ke pengalaman orang dalam mendengar kami sebagai band. Hal ini yang membuat gua merasa bahwa gua harus menganggap bahwa rig gua adalah suatu hal yang penting dan diperhatikan. Kalau band gua gitarisnya dua, mungkin gua nggak akan segila itu dalam menentukan pakai efek ini atau itu, karena akan ada dua gitar yang sama kencang dan saling melengkapi. Tapi kalau gua cuma sendirian, gua jadi merasa punya beban tanggung jawab yang lebih besar. Kalau di band-band metal suara gitar biasanya dominan, kan. Untuk kasus gua, suara gitar hanya muncul dari satu orang. Kalau ada salah satu gear gua nggak ada, orang-orang akan tau. “Wah, ini kok kedengerannya jadi beda, ya?”

Perhatian terhadap sound ini adalah salah satu hal yang mau gua juga. Terus sepertinya kalau gua dengar dari banyak orang yang menonton Seringai, kualitas sound adalah salah satu nilai lebihnya Seringai. Dan karena kualitas sound yang baik sudah diidentikkan sama Seringai, kelihatannya harus terus gua jaga, sih.

Saat ini kalau kita mau mencapai karakter sound yang spesifik, lebih mudah untuk dilakukan karena berbagai merk alat musik sudah tersedia. Bagaimana dengan kondisi ketersediaan alat musik di era awal Ricky Siahaan bermain band?

Dulu waktu Iga Massardi sempat buat video lucu-lucuan mengenai efek Boss Metalzone. Menurut gua itu benar banget, man. Gua dulu tuh sangat minim alat, ya. Sebenarnya, kalau musisi professional sih alatnya udah canggih-canggih dari zaman dulu. Cuma kalau kami nggak punya uang untuk itu semua. Untuk mendapatkan gitar dengan brand yang bagus aja kayaknya sulit, walau mungkin kalau dilihat sekarang kelihatannya murah. Kayak misalnya gitar Gibson Les Paul Standard harganya cuma 4 juta, man. Gua dulu beli Gibson Les Paul Studio cuma 1,5 juta. Itu sekitar tahun 1994, sebelum krisis moneter (krismon). Itu aja untuk kami yang masih berumur 17-18 tahun udah sangat mahal. Akhirnya kami memutuskan untuk memanfaatkan apa yang ada. Dulu pokoknya nggak ada internet, jadi pengetahuan lo mengenai gear dan hal-hal teknis itu sangat terbatas dari apa yang lo dengar, dari orang lain, atau yang lo lihat dari studio. Bahkan hal seperti stage production itu lo nggak akan tahu sama sekali kalau nggak diajarin orang lain. Dulu, tuh, kayak gitu. Minim banget, lah, semuanya.

Urusan alat juga seperti itu, dulu gua taunya gua mau main band dengan distorsi. Itu artinya, gua butuh gitar elektrik, dan gua butuh ampli. Apakah amplinya tabung atau segala macam, gua nggak ngerti sama sekali, pokoknya ampli, kalau adanya ampli keyboard juga colok gua rasa. Nah, untuk membuat suara gitar ada distorsinya, ternyata lo butuh efek. “Oh, ternyata kalau gitar langsung ke ampli, itu bunyinya clean, jadi lo butuh efek untuk ada distorsinya” (tertawa). Naif banget, lah. Saat itu ya udah, gua hanya merasa perlu sebuah gitar, kabel dua biji, satu efek distorsi, sama ampli.

Ricky  dan tumpukan hardcase amplifier-nya di rumah. (foto: Adam Bagaskara)

Yang penting bisa menghasilkan feedback.

Iya (tertawa). Yang penting bunyi gitar gua seperti yang gua dengar di kaset. Ternyata, semakin lama dan semakin banyak gua belajar, ternyata permasalahan teknis tidak sesederhana itu. Yang lo dengar di kaset itu udah melalui berbagai proses sedemikian rupa. Terus terang sampai sekarang gua tidak termasuk canggih, sampai sekarang pun. Maksudnya, setelah gua tahu, mereka yang main musik di tahun ‘90-an awal pun alat-alatnya udah kayak space station. Mereka udah pakai rack system dan switching system yang macam-macam, bahkan hal ini udah lazim sejak tahun 80-an untuk di ranah profesional. Di Indonesia pun seperti itu, Dulu gue menonton GIGI di tahun ’95 itu udah, wah.. Efek-efek berjajar, pedalboard-nya besar. Gua bilang, “Wah, gila. Ini sih jauh dari gua. Gua kayaknya gak sampai situ.”

Sebenarnya udah canggih, kok, di Indonesia, cuma memang berlaku untuk musisi profesional aja. Dan gak enaknya zaman dulu, tuh, ada gap antara musisi profesional dari ranah mainstream dengan musisi independen yang berasal dari ranah underground. Kami merasa nggak dapat ilmu dari senior-senior yang ada di ranah mainstream. Belajar tentang aspek teknis itu baru gua dapet dari anak-anak Bandung. Terus band-band kayak Netral dulu itu jadi semacam jembatan antara kaum mainstream sama anak-anak independennya. Netral dulu udah bawa etos profesionalisme ala band-band mainstream, tapi gaya musiknya masih hingar-bingar. Kami akhirnya jadi banyak tahu dari band-band semacam itu, Puppen dan Netral.

Intinya, alat yang dipakai itu tergantung sama apa yang ada. Adanya apa, ya itu lah yang lo pakai. Misalnya lo punya uang dan datang ke toko musik beli efek. Terus ibaratnya, sound lo mau seperti apa itu tergantung alat-alat yang ada di toko itu. Zaman dulu susah, ya, untuk order. Itu bukan hal yan lazim dulu, kecuali lo adalah anak orang kaya yang ke luar negeri melulu dan kerjaannya beli alat di sana dan bawa ke sini. Gua juga dulu jarang ke luar negeri. Terus, zaman dulu nggak seperti sekarang, terutama gua memainkan musik-musik yang keras, orang tua akan tanya: “Bayangan lo ke depan apa? Lo mau menghasilkan apa, sih, dari musik seperti itu? Terus ngapain lo beli barang berjuta-juta untuk bakar uang aja?” Dulu image nge-band seperti itu, nggak ada tuh iming-iming bahwa lo akan dapat penghasilan segala macam, nggak ada yang kayak gitu. Makanya orang tua pun dukung cuma setengah-setengah, “Nggak usah [beli alat] banyak-banyak amat, kali. Cuma buat hobi aja, kan?” Nah, kayak gitu. Jadi, ya, udah. apa yang ada aja gua manfaatin.

Gua inget ada beberapa toko musik di Jakarta yang menurut gua menjadi sumber pengetahuan gua tentang alat-alat. Ada Wijaya Musik, ada yang namanya Zacharias dulu di daerah Pintu Besi, Jakarta Utara sana. Chic’s Musik ada di Pramuka, kalau MG dulu belum terlalu besar, jadi referensi gua lebih banyak dari Wijaya Musik dan lain-lain yang gua sebut tadi. Di tempat-tempat ini lah gua kenal bermacam-macam gitar. Wow, ada gitar Jackson, atau gitar Fender, atau Gibson. Yang banyak jual Gibson tuh dulu di Chic’s. Efek rata-rata Boss semua, kayak merk efek yang lebih niche kayak Electro Harmonix, ProCo RAT, atau apa, lah, belum ada. Jadi, ya, lo buat yang terbaik dengan apa yang ada. Dulu itu caranya.

Di tengah berbagai kesibukan saat ini, apakah Ricky Siahaan masih menyempatkan diri untuk duduk dan bermain gitar?

Masih. Itu kelihatannya nggak bisa dihilangkan, ya. Walaupun gua main gitar sekarang bukan untuk meningkatkan skill lagi, tapi lebih banyak cari riff untuk lagu baru. Sekitar seminggu dua kali masih ada, sih, gua main gitar. Untuk sekarang, lagu-lagu dalam album Seperti Api yang baru dirilis belum semua lagunya bisa gua mainkan di luar kepala. Di luar kepala bisa, tapi maksud gua yang benar-benar nggak mikir. Menurut gua kalau main band gitu, kan, udah sampai tingkat muscle memory. Hal itu, sih, yang lagi gua latih terus, supaya gua bisa mainin lagu-lagu di album baru tanpa mikir sama sekali. Di luar itu gua juga mencari-cari riff untuk lagu baru.

Di samping banyak orang tahu tentang referensi-referensi band musik keras yang Ricky suka, Ricky pernah beberapa kali menyebutkan bahwa band-band alternative seperti Smashing Pumpkins dan My Bloody Valentine turut mempengaruhi Ricky Siahaan. Seberapa penting bagi seorang musisi untuk memiliki selera yang beragam?

Oh, penting banget. Menurut gua, itu justru kuncinya. Tugas musisi itu kan membuat musik atau berkarya. Nah, untuk saat ini, mungkin hanya sedikit jenius-jenius yang bisa menciptakan sesuatu yang orisinal. Tapi banyak yang me-recycle atau berusaha untuk membuat suatu formula baru dengan mencampur berbagai hal. Pertanyaannya, bagaimana caranya lo bisa mencampur berbagai hal kalau lo nggak punya selera atau wawasan musik yang luas? Metode ini akan membawa sesuatu yang baru ke musik lo dan hanya bisa dilakukan ketika lo punya referensi yang sangat beragam. Gua setuju dengan pernyataan Phil Anselmo, dia pernah bilang bahwa nggak ada yang salah dari mengambil atau nge-rip dari musisi yang lo suka, itu sebenarnya sah-sah aja. Tapi, pastikan kalau lo mau nge-rip gaya musisi yang lo suka, jangan hanya dari satu atau dua musisi yang lo suka, tapi coba dari sepuluh sampai lima belas musisi yang lo suka.

Gabungan dari semua hal yang lo campur nantinya akan menjadi suatu hal yang segar, sesuatu yang baru. Gua setuju dengan hal itu. Menurut gua, banyak hal yang gua ambil dari musisi-musisi yang mungkin genre-nya nggak seperti yang gua mainkan dengan Seringai. Kalau misalnya gua suka dengan musiknya Duran-Duran atau gua suka dengan musik My Bloody Valentine, apa yang gua suka dari musik mereka, emosi atau sensasi apa yang gua suka dari mereka, bagaimana pendekatakan mereka untuk mencapai hal-hal itu, itu yang gua coba bawa ke Seringai. Bukannya plek-plekan meenjadi seperti mereka. Menurut gua ini juga yang dilakukan oleh idola-idola gua. Maksudnya, rata-rata musisi yang gua suka seleranya sangat beragam. Kalau lo pernah menonton channel YouTube punya Amoeba Music, yang konten What’s in My Bag?, banyak musisi metal yang diwawancara dalam acara itu. Lo lihat aja seleranya seperti apa, mereka juga denger musiknya macam-macam. Bisa ada musisi metal dengar Nick Drake, bisa personel Power Trip dengar funk apa, lah, northern soul. Ketika gua melihat bahwa seorang musisi terpengaruh oleh musik yang genre-nya berbeda jauh dengan apa yang dia mainkan, “Tuh, kan!” Memang seperti itu. Mereka yang pakai kacamata kuda dan nggak terbuka, akan selalu terkekang kreativitasnya.

Boleh tahu artis-artis favorit yang lebih “melenceng” lagi dari image Ricky Siahaan sebagai seorang gitaris Indonesia yang memainkan musik rock dan metal?

Banyak banget, ya, yang gua suka. Musik-musik ‘60-an kayak The Association gua suka. Industrial gua suka, kayak Skinny Puppy, Throbbing Gristle, Psychic TV. Indie rock kayak Pavement juga gua suka, dulu gua beli Crooked Rain, Crooked Rain pas albumnya baru keluar, dan gua suka banget gaya slengean-nya indie rock. Americanized indie rock dengan loud guitars, pokoknya kayak Pavement, Sloan, ada juga Butter 08 dulu gua suka.

Tentunya yang punk rock, punk rock tuh jadi bagian hidup gua juga, sih, sejak SMP kayaknya. Mulai dari nama-nama besarnya kayak Sex Pistols dan Ramones sampai band-band hardcore punk atau thrash. Apa, ya, yang nyeleneh?

Yang T-shirt-nya sering Anda pakai, Void?

Iya, itu pasti. Bad Brains. Bahkan folk kayak Sarah McLachlan, atau 10,000 Maniacs gua suka. Yang gitu-gitu, lah. Waktu tahun ‘90-an itu gua memang mentok-mentokan selalu cari musik-musik baru. Sekarang pilihan itu ada banyak banget, gua jadi agak bingung. Tapi gua selalu berusaha melihat media-media musik, dan cenderung yang gua cari mengarah ke yang gua suka aja. Sekarang nggak terlalu yang kayak eksplorasi dengan cara, “Oh, beli CD ini! Nggak terlalu kayak gitu.” Gua hanya bertindak seperti itu untuk yang gua suka aja.

Apa lagi, ya? Kayak Luscious Jackson gua suka banget, mereka tuh kayak ada funk dan ada hip hop sedikit, terus ada unsur indie rock dan punk sedikit. Mereka itu artisnya Grand Royal, labelnya Beastie Boys, jadi mereka gengnya Beastie Boys. Drummer mereka, Kate Schellenbach, itu drummer-nya Beastie Boys era awal-awal ’80-an. Enak musiknya, feel good gitu, tapi lo bisa dengar nyeleneh­-nya.

Banyak orang mengklaim bahwa saat ini kita berada di era musik yang paling demokratis, dalam arti kehadiran internet membuat semua orang bisa menentukan seleranya tanpa perlu didikte, atau bahkan memberikan penilaiannya tentang baik atau buruknya sebuah karya. Sebagai seseorang yang pernah lama berkarier sebagai jurnalis musik, apakah menurut Ricky Siahaan, saat ini kita masih butuh sebuah media yang pendapatnya dilegitimasi oleh publik dalam menentukan mana karya yang baik dan mana yang tidak?

Menurut gua, sih, masih. Karena gini, menurut gua jurnalisme musik itu memuliakan musik. Jika karya-karya musik adalah hal yang sakral, maka jurnalisme musik lah yang akan memuliakannya. Jurnalisme musik akan mengatakan bahwa sebuah karya sangat baik dan sangat layak untuk didengar, bahwa lo harus mendengarnya, ini adalah sebuah compliment. Begitu pula ketika jurnalisme musik mengatakan bahwa sebuah karya tidak layak didengar. Menurut gua itu membuat musik semakin memiliki nilai. Dari konteks tersebut, menurut gua jurnalisme musik itu dibutuhkan. Walaupun tidak semua orang kompeten dalam memberikan penilaian terhadap karya.

Yang namanya penilaian pasti subjektif. Ketika internet belum ada pun yang namanya jurnalisme musik atau ulasan musik itu pasti memiliki subjektivitas tinggi, menjadi subjektif adalah suatu hal yang biasa. Ketika pendapat tentang sebuah karya sekarang berserakan di mana-mana, gua tetap suka dan mau, kok, untuk dengar pendapat orang yang memiliki kredibilitas dalam menilai musik tentang suatu karya yang menurut dia bagus. Itu masih relevan menurut gua, gua jadi nggak lagi mencari jarum di dalam jerami. Ketika ada seseorang yang gua tau dan dia selalu, “Sama nih pendapatnya sama gua. Kalo dia bilang bagus, kok somehow pas gua dengar [karya yang dibahas] benar-benar bagus?” Gua akan selalu mau dengar pendapat dia. Jurnalisme musik itu bukan hanya untuk menilai, tetapi juga untuk memperkenalkan ke publik. Itu dia, saking banyaknya artis baru. Perlu juga ada orang yang melakukan, “Nih, di antara 150 band baru, ada lima yang harus benar-benar lo dengar karena mereka istimewa,” dan gua selalu berterima kasih kalau ada orang yang mau melakukan itu untuk gua, bukannya malah “Gua udah punya pendapat sendiri, ngapain lo atur-atur selera gua?” Gua sama sekali nggak merasa hidup gua diatur oleh jurnalis musik, gua malah berterima kasih.

Kalau ditanya apakah kita masih perlu jurnalis musik atau tidak, masih. Karena jurnalisme musik justru menantang pendapat atau cara pandang kita dalam menikmati musik. Apakah menurut lo argumentasi si jurnalis terhadap suatu karya tepat? Setelah baca pendapat dia, coba kita dengar karya yang dibahas, “Oh, enggak, kok.” Di situ ada proses dialektika. Jadi daripada gua membiarkan sebuah algoritma atau mesin yang gua nggak kenal untuk mengatur selera musik gua, gua lebih senang berdialektika dengan manusia.

"Menurut gua jurnalisme musik itu memuliakan musik" kata gitaris Seringai dan Step Forward ini ketika ditemui di rumahnya. (foto: Adam Bagaskara)

Ada sebuah pendapat umum yang menyatakan bahwa karier sebagai jurnalis seringkali menjadi batu loncatan untuk mencapai karier lain. Ricky Siahaan merupakan salah satu contoh dari fenomena ini. Bagaimana pendapat Ricky sendiri?

Kalau itu sebenarnya, sih, nggak hanya terjadi sama jurnalis aja. Hal ini terjadi juga di berbagai profesi. Banyak, kok, seseorang yang berprofesi sebagai apa, kemudian dia pindah berkarier dan menggeluti profesi lain. Dari sisi jurnalis sendiri, yang namanya berprofesi itu pasti orang akan mencari jenjang. Semua profesi seperti itu. Ketika lo mencapai suatu titik di mana lo nggak bisa berkembang, lo akan cari jalan untuk berkembang. Lo harus tetap berkembang, tetapi kemudian berkembang ke arah mana? Mungkin untuk konteks gua pribadi, gue pernah berprofesi sebagai jurnalis musik, terus gua merasa bahwa Rolling Stone adalah tujuan puncak bagi seseorang yang mau berkarier sebagai jurnalis musik, setidaknya itu menurut gua. Ketika majalahnya sudah tidak ada lagi, dan kalau gua masih mau bergelut di bidang musik atau hiburan, kira-kira gua mau ke mana, sih? Kalau gua pribadi, gua merasa bahwa terus bergelut di jurnalisme musik atau hiburan udah susah. Gua mau jadi pemimpin redaksi misalnya, di mana? Ada majalah musik lain? Nggak ada. Jadi gua rasa perkembangan gua ke arah yang geluti sekarang ini, di mana gua bisa terlibat secara langsung di sebuah karya, instead of di luar sebagai seseorang yang mengamati.

Begitu juga halnya dengan Najwa Shihab dan Andy F. Noya yang mengawali kariernya sebaga jurnalis. Gua nggak bisa berbicara untuk mereka, tapi mungkin mereka punya hal yang lebih besar daripada bekerja di belakang meja atau di belakang layar. Dampak yang dibawa oleh acara seperti Kick Andy mungkin akan lebih besar dibandingkan jika keduanya hanya berperan sebagai editor yang mengontrol tulisan anak buahnya. Atau Najwa saat ini punya dampak yang bisa mempengaruhi opini atau pikiran orang banyak dibandingkan dulu dia hanya bekerja di balik meja dan komputer, kayak gitu. Mungkin sedikit banyak itu yang gua juga rasakan, dibandingkan kalau gua hanya menilai atau menunggu band-band atau aktor baru, sekarang gua terjun langsung dan bisa ikut berusaha bersama seorang aktor untuk menghasilkan karya yang membanggakan.

Salah satu sampul majalah Rolling Stone Indonesia, ketika Ricky Siahaan masih menjadi editor di sana. (foto: dok. istimewa)

Lirik-lirik Seringai mewakili kemarahan anggota-anggotanya. Di antara tema-tema lagu yang diangkat Seringai, yang mana yang paling mewakili kemarahan Ricky Siahaan?

Kalau gua, sih, “Mengadili Persepsi”. Maksudnya, berdasarkan sudut pandang gua sebagai minoritas. Agama gua adalah agama minoritas. Kondisi di mana “Mengadili Persepsi” masih relevan sampai sekarang, membuat gua memiliki berbagai fase kemarahan. Mulai dari bertanya-tanya, marah, putus asa, sampai mencari cara untuk nggak marah-marah melulu dan membuat ini menjadi sesuatu yang produktif (tertawa). Semua fase itu gua lewati, dari tahun 2007 sampai sekarang. Apalagi ketika gua punya anak, dan gua ingin agar anak gua bisa hidup di kondisi di mana dia nggak harus dibayangi oleh keraguan dan ketakutan hanya karena kepercayaannya, atau hanya karena dia seorang minoritas. Hal-hal ini membuat lagu itu menjadi semakin relevan dan membuat gua semakin emotionally attached sama lagu itu. Kekhawatiran besar ini mengantar gua ke fase yang terakhir itu, mencari cara untuk melewati ini semua dan tidak harus bergerumul dan menghabiskan energi untuk merasakan depresi atau tekanan.

Seringai memiliki karakter musik yang sudah begitu lekat dan dikenal oleh pendengarnya. Namun, di album Seperti Api, Seringai masih bisa menemukan celah-celah eksplorasi baru. Sebagai seorang produser, langkah apa yang Ricky lakukan untuk mencapai hal tersebut?

Gua lebih berperan sebagai seorang penjaga gawang yang selalu memberitahu anak-anak kalau sebuah ide aransemen udah usang atau belum dilakukan, itu tugas gua. Kadang-kadang ada momen di mana musisi merasa bahwa, “Ah, udah gini aja! Enak maininnya,” tapi sebenarnya apa yang menurut lo enak untuk dimainkan udah usang. Hal-hal seperti ini harus dikasih tahu. Dan kita harus cari cara supaya apa yang kita lakukan tetap segar tanpa menghilangkan karakter band. Tetap harus membumi, enak dimainin, tapi ada nuansa eksplorasi seperti yang lo bahas tadi. Untungnya anak-anak 100% percaya dengan pendapat gua, walau ada lah argumentasi-argumentasi yang menurut gua sangat wajar.

Gua juga mau setiap personel untuk bersinar karena menurut gua Seringai ini bukan bandnya Arian, atau bandnya Ricky, atau siapa, tapi band kami berempat. Setiap personel Seringai cukup menonjol menurut gua, dan gua mau hal ini terlihat di Seperti Api. Jadi kalau kami rasa perlu menghentikan musiknya buat Sammy mengisi sebuah bassline, kami hentikan musiknya buat Sammy. Kalau kami perlu kasih jeda agak panjang supaya Khemod bisa kasih fill, kami kasih jeda yang cukup panjang buat dia. Itu yang gua lakukan di Seringai, kami memastikan agar setiap orang punya ruangnya masing-masing untuk tampil. Jangan sampai saling menutupi, misalnya ada giliran tampil dengan riff atau bassline tertentu, tapi malah jadi gak terdengar karena drum-nya mau nge-fill juga. Semuanya boleh tampil, tapi tetap terdengar harmonis. Gua juga bertugas untuk menjaga agar anak-anak Seringai tetap tampil dengan sentuhan khasnya masing-masing, supaya kalau orang-orang dengar lima detik pertama dari lagunya mereka udah bisa mengenali bahwa apa yang mereka dengar adalah musik Seringai. Jadi cara gua ambil riff kayak gimana, senar mana yang gua apain supaya kedengarannya kayak Seringai banget, itu gua juga. Khemod juga demikian dengan fill­-nya dia.

Untuk eksplorasi kami sering bahas bersama, sih. “Kita ambil nuansa seriusnya Killing Joke, yuk. Megahnya Killing Joke bisa kita terapkan di mana, ya?” Misalnya “A.I.” di chorus-nya ada nuansa Prong dan Killing Joke sedikit, untuk mendapatkan nuansa megah dan grand-nya. Kalau pikiran bahwa gua harus keluar dari pola lama, rasanya nggak terlalu seperti itu juga, sih. Gua nggak merasa harus explore sampai yang gimana banget karena berpikir bahwa gua seorang seniman atau apa. Gua juga nggak terlalu seni atau gimana orangnya. F*ck seni, man (tertawa). Gua nggak terlalu overthink soal eksplorasi yang seolah harus liar, tapi lebih bagaimana caranya supaya album ini enak didengar dan memuaskan pencarian kami ketika album ini didengar sepuluh sampai lima belas tahun lalu. Supaya nggak terdengar malu-maluin, gitu aja, sih.

Dilihat dari vlogs yang sering diunggah, Seringai terlihat sebagai band yang kompak. Apakah di lain situasi, seperti ketika menyusun materi, hubungan antara kalian bisa menjadi alot?

Lumayan sebenarnya. Seperti ini, sebagai produser terkadang gua lupa bahwa gua harus bersikap sebagai seorang produser atau personel band. Ketika ada bagian di mana salah satu dari kami berinisiatif untuk tampil menonjol di bagian tertentu, kadang yang lainnya berpikir bahwa apa yang dilakukan itu nggak bagus. Terus di situ lah kami berargumen, kenapa inisiatif ini bagus atau tidak.

Memang anj*ngnya Seringai gini, sih (tertawa). Seringai itu band diskusi, jadi kayak setiap orang itu harus punya argumentasi yang lebih pintar dari yang lain untuk membuktikan bahwa benar bagian di suatu lagu memang benar bagus atau tidak sesuai opini dia. Apakah suatu bagian lagu benar bagus atau tidak itu harus dibuktikan dengan argumentasi. Dan argumentasi yang diberikan harus semasuk akal mungkin sampai salah satu pihak nggak bisa kasih argumentasi lagi. Jadi kayak, “Hmm.. Gua harus bisa lebih pintar dari dia.” (tertawa). Jadi nggak bisa tuh, “Nggak, pokoknya gua mau main kayak gini,” itu bukan gayanya Seringai. Memaksakan ide tanpa memberikan argumentasi itu nggak Seringai banget. Di Seringai, kalau lo mau sesuatu dan ada yang nggak setuju, lo harus memberikan argumentasi (tertawa).

Di wawancara Seringai dengan kami sebelumnya, Ricky bilang bahwa salah satu aspek yang memperlancar proses rekaman adalah skill setiap personel yang tampak semakin terasah. Boleh ceritakan tentang peran yang khas dari setiap personel dalam proses menyusun materi?

Arian udah pasti untuk lirik, kami sebenarnya juga selalu membahas tema-tema lirik yang mau dibahas. Kami yang lain selalu memberikan Arian peluru untuk memikirkan temayang terbaik untuk diangkat menjadi lirik, gitu. Apa saja tema-tema yang menjadi keresahan kami, Arian hanya akan diam dan menyerap. Dia akan butuh waktu sendiri untuk menghasilkan lirik. Arian itu bukan vokalis yang technical, dalam arti bukan yang menggunakan teknik-teknik tertentu untuk nge-growl atau tarik napas perut untuk menghasilkan suara-suara seperti yang banyak ditampilkan di video-video tutorial di YouTube. Kan ada banyak, tuh. Itu sama sekali bukan gaya kami, itu sama sekali bukan gaya Arian. Arian adalah vokalis yang mengedepankan , itu yang gua pegang banget dari dia. Jadi gua memastikan hal itu tampak dari Arian pada Seperti Api; karakter dan attitude. Kalau gua dengar Lemmy pun dia bukan vokalis yang mengedepankan teknis, tapi lo tau itu dia ketika dia mengeluarkan suaranya. Arian melakukan itu dengan baik, sih. 

Khemod itu jago dalam memberikan fills yang terdengar soulful. Karena dasarnya Khemod memang bukan dengar metal, tapi lebih progressive dan classic rock. Cara berpikir dia sama dengan cara berpikir yang gua terapkan di gitar, cara bepikir gua sama Khemod sebagai musisi itu mirip banget. Maksudnya gini, ketika dia menghadirkan sebuah fill, dia menganggap fill itu sebagai sebuah kalimat atau lick, bukan sekadar memamerkan teknik. Dia kadang-kadang bisa memainkan sebuah fill yang sederhana, tapi tetap terdengar enak tanpa melakukan aksi sirkus.

Kalau Sammy, gua senang bahwa dia main bass dengan rapi dan tegas. Jadi ketika dia main bass, dia tidak ragu dan terdengar sangat tegas. Sammy lebih banyak memberikan aspirasi terkait struktur lagu, misal berapa kali sebuah bagian kami mainkan. Itu kira-kira kelebihan masing-masing personel.

Di sebuah wawancara lain, Ricky pernah bilang bahwa sebuah band akan menjadi bagus ketika mereka masih memiliki sesuatu untuk dibuktikan. Ketika mereka sudah tidak punya sesuatu untuk dibuktikan lagi, mereka cenderung menjadi tidak menarik. Dengan berbagai prestasi yang sudah dicapai, masih adakah hal yang ingin Ricky buktikan lewat Seringai?

Banyak, sih. Menurut gua Seringai setelah bilang “Berhenti di 15,” Seringai bilang “Generasi menolak tua,” sekarang saatnya buktikan itu. Menurut gua hal-hal ini masih perlu dibuktikan. “Benar nggak lo menolak tua? Benar nggak lo berhenti di 15? Coba kita lihat.” Gitu, kan? Dan itu yang masih terus kami buktikan, bahwa kami akan melakukan ini terus. Umur nggak jadi pertimbangan buat kami, kecuali ketika kami sudah jadi terlalu tua, gua misalnya sudah nggak bisa bergerak dan Khemod nggak bisa pakai double pedal lagi (tertawa). Itu cerita lain, tapi sampai saat itu tiba dan selama kami masih sanggup akan kami lakukan terus. Hal ini yang akan menjadi pembuktian Seringai. Karena semakin lama kami berjalan, kami semakin menghormati band-band yang melakukan apa yang mereka cintai dengan konsisten, sampai bertahun-tahun. Makanya kami sangat menyayangkan band yang kelihatannya bagus, tapi umurnya hanya dua-tiga tahun dan merilis satu album, kemudian mereka bilang bahwa bermain band hanya sekadar fase hidup yang udah berlalu.

Semacam “Lo masih nge-band sekarang?, ya?

Nah! “Masih suka musik? Masih anak musik sekarang?” Gua tuh dengar hal-hal seperti itu yang kayak, "Belum, lo belum bisa dibilang true kalau cara pandang lo masih seperti itu.". “Ah, itu mah fase muda gua. Realistis, lah, man.” Kalau lo bisa bilang kayak gitu, lo belum lihat ada band-band seperti Burgerkill yang masih konsisten dari tahun ’95 sampai sekarang. Seringai walaupun dari tahun 2002, tapi Arian udah main band dari ’92, gua dari ’95, Khemod udah dari dia SD sampai sekarang. Atau ada God Bless sampai sekarang masih seperti manggung. Siksakubur terus jalan walaupun nggak muncul di TV, tapi tetap bergerak di jalur mereka. Itu baru band! Ketika lo hanya mau membuktikan bahwa diri lo lebih keren dari teman-teman lo dengan main band dan dua tahun kemudian lo berhenti dan bilang ke orang-orang bahwa bermain band itu hanya masa lalu lo karena sekarang lo berada di posisi yang lebih nyaman, gua menyayangkan yang seperti itu, sih. Makanya kalau sekarang gua suka sama suatu band, oke lo keren, tapi coba kita lihat berapa lama lo akan terus bertahan.


Penulis: Adam Bagaskara

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US