Cerita Garna dari Amerika

Oleh: Felix Dass

Hari esok selalu menjadi misteri. Kadang, ia terlalu berjalan liar di luar akal sehat dan prediksi-prediksi yang bisa ditakar manusia. Garna Raditya mengalaminya.

Buat orang yang hidup di luar Semarang, kota itu bisa dengan mudah diasosiasikan dengan Garna kalau sudah bicara musik. Kuantitas aktivitas yang ia rekam sejak awal 2000-an berjalan begitu masif. Ia ada di mana-mana, di segala macam lekukan aktivitas scene independen. Musik, menjadi tidak terkotak-kotakan dalam kamusnya. Segala macam dilahap.

Geliat Semarang sebagai kota, memang belum jadi yang terdepan untuk urusan talenta. Fungsinya, dilengkapi dengan latar belakang sebagai kota besar, masih sebatas konsumen. Itu secara umum. Tidak banyak band asal Semarang yang bisa keluar dan kemudian mengukir ceritanya di pasar yang lebih besar.

Peran dominannya sebagai kota besar dalam lanskap kehidupan Indonesia secara umum, tidak tercermin dengan baik jika bicara scene musik independen. Tapi, toh berbagai macam aktivitas yang independen berlangsung dengan konsisten, kendati belum besar.

Yang dilakukan Garna secara spartan sejak beberapa tahun yang lalu adalah memperkenalkan kota itu ke dalam peta nasional. Berbagai cara ditempuh, mulai dari bermain musik sampai membuat media atau membangun jaringan swadaya yang membuat para pelaku di sekitarnya bisa mendapatkan putaran ekonomi untuk terus melanjutkan hidup sembari bersenang-senang band-bandan.

Kerjanya keras. Tentu, didukung oleh sejumlah kawan yang bekerja secara kolektif. Yang ia suka, dihidupi. Kendati pada akhirnya sampai di sebuah persimpangan jalan; memilih hidup pribadi atau komunal.

Perjalanan membawanya hijrah ke Amerika Serikat, memulai hidup yang baru dengan Megan Hewitt, istrinya yang juga merupakan partnernya di duo folk Antaralain. Mereka berdua dipertemukan Semarang. Bisa jadi, bagian dari sebuah partikel peristiwa besar yang didapat dari berbagai macam aktivitasnya di dalam scene independen.

Menjelang kepergiannya di 2016, ia mengebut sejumlah pencapaian yang ada di kepala. Mengejar banyak proyek tertunda. Termasuk merilis beberapa album secara berturut-turut; mulai dari Antaralain, AK//47 dan proyek solonya, Benua yang Sunyi. Sebuah album yang sama sekali tidak pernah diduga keberadaannya, di mana ia memainkan gitarnya sendiri dan membuat serangkaian komposisi instrumentalia. Tidak bisa dilupakan juga bahwa ia merupakan bagian dari band indiepop OK Karaoke.

“Sambil ngeband ini-itu, sekaligus menjadi wartawan membuat saya semakin mendengarkan banyak jenis musik. Dan perasaan itu membuat kegelisahan; ketika menyukai lagu tertentu kemudian membayangkan seolah-olah sedang berada di panggung, memainkannya. Itu yang saya rasakan tiap mendengar lagu. Suka musiknya, bikin lagunya. Ingin menjajal semua. Ada impian, suatu saat membuat album antologi, lintas genre,” jelasnya tentang alasan sederhana di balik petualangan liarnya menjajal banyak sisi musik dalam pengkaryaannya.

Sampai hari ini, ia telah merilis tujuh buah album yang meletakan peran sentralnya sebagai seorang musisi. Bukan jumlah yang sedikit.

Tidak banyak yang tahu, bahwa referensi memang mengambil peran penting dalam sejarah hidupnya. Kendati dikenal luas pertama kali sebagai gitaris sebuah band grindcore, sesungguhnya petualangan cintanya dengan musik berlangsung sejak jauh di belakang. Di masa-masa ia hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya.

“Di masa SD-SMP, saya pindah ke Surabaya, kota yang kerap disebut barometer musik rock. Bersama teman-teman sekelas, saya mendatangi acara musik kampus yang banyak menampilkan band-band underground dan alternatif seperti Karpet, Bluekhutuq atau Andromeda,” kenang Garna.

Ia melanjutkan, “Memasuki SMA, saya pindah ke Depok dan mulai membaca banyak fanzine dan mendengarkan rilisan punkrock dan grindcore di markas Anti Fascist dan Rascist Action (AFRA) yang menjadi cikal bakal kolektif Taring Babi yang juga diinisiasi teman-teman Marjinal. Dari situlah saya berkenalan dengan musik bertema politis.”

Jadi, ketika ia hijrah ke Semarang di periode hidup berikutnya dan kemudian membangun banyak hal, tabungan referensi itu mengambil peran.

Dalam petualangannya, setidaknya ada sejumlah belokan penting di sekitar musik yang menjadi persinggahannya. Selain menjadi musisi, ia juga menjadi inisiator untuk semarangonfire.com, Inkraft yang bergerak di bidang wirausaha serta mengelola Vitus Records, label dan distro untuk berbagai macam barang berbau musik.

Salah satu yang penting adalah membangun semarangonfire.com, sebuah portal yang memberitakan banyak hal yang berlangsung di Semarang.

“Yang saya alami dulu, jarang yang menulis tentang aktivitas kami di sekitar. Lingkaran peran musik hanya meliputi band, album, distro, videografer, pendengar, merchandise, organiser, fotografer dan beberapa hal lain. Sayangnya, di kota kami jarang ada penulis. Berawal dari situlah hasrat untuk menyiarkan apa saja yang dilakukan anak-anak Semarang tumbuh. Meskipun tidak keren-keren amat, setidaknya menegakkan tradisi untuk mencatat,” ujarnya.

Lalu bagaimana kehidupannya sekarang selepas membuka halaman baru di benua yang (mungkin awalnya) sunyi?

Ia menjawab santai, “Ketika saya pindah ke sini, saya tidak memiliki ekspektasi yang berlebihan. Ini bukan sebuah hidup yang tampak mudah seperti pada foto-foto yang diunggah di media sosial.” Kendati berbau sinisme, ia melanjutkan omongannya, “Tapi hidup di negara bagian California, itu sudah cukup menyenangkan. Sekaligus bisa menjadi kawah candradimuka. Apa yang bisa kita nikmati dari Indonesia, banyak yang berasal dari sini. Tidak bisa dipungkiri. Saya bertemu dengan orang-orang tersebut dan memicu untuk melakukan hal-hal yang belum saya lakukan dulu.”

Itu sudah bisa diterjemahkan dengan mudah; mendapati banyak band dengan talenta dan inspirasi penting yang sebelumnya hanya bisa didengarkan dan kini bisa ditonton dengan mata kepala sendiri. Termasuk kemudian melanjutkan euforia dengan menciptakan band baru.

“Sudah dapat kalau band. Mencarinya itu sulit setengah mati. Saya mencari lewat Craigslist selama enam bulan dan tiga kali gagal audisi. Akhirnya dapat yang ideal, punya studio latihan dengan alat lengkap dan bisa rekaman sendiri serta mampu latihan tiga jam per hari dan dua kali per minggu. Jadi disiplin. Nanti kalau sudah siap tempur, pasti diceritakan,” ujarnya membongkar sedikit rahasia.

Cerita panjangnya mengindikasikan sesuatu; ia tidak bisa berhenti begitu saja. Rencana-rencana yang berkaitan dengan kampung halaman, masih dijalankan dengan komitmen yang tebal.

“Semuanya hampir masih saya kerjakan. Album solo kedua, mini album AK//47 dan Antaralain sudah diagendakan untuk dirilis tahun 2017. Sedangkan OK Karaoke akan merilis kaset maxi single untuk beberapa materi yang belum dirilis. Kita juga akan merilis sebuah video klip. Secara keseluruhan, saya hanya absen di panggung saja. Perkara menulis lagu, masih jalan terus,” paparnya.

Badan boleh jauh, pikiran tetap dekat.

“Hampir sama seperti yang lain, kangen pasti ada. Kadang saya merasa konyol ketika merindukan nyamuk, polusi, makanan yang tidak higienis dan hal-hal lain yang pernah saya cemooh ketika tinggal di Semarang. Setelah pindah ke sini, saya bisa melihat perspektif yang berbeda. Saya bisa lebih dekat dengan teman-teman di Indonesia dan ingin tahu lebih banyak apa saja yang mereka lakukan,” katanya.

Garna masih ada untuk kita semua, yang terus bergerak di kampung halaman. Kontribusinya, mungkin tidak terasa secara fisik, tapi inspirasinya masih berputar. Yang hilang, mungkin hanya teman minum Chongyang dan makan babi di Pecinan Semarang. Selebihnya, karyanya masih terus berbunyi.

“Ada yang bilang, usia 30-40 adalah tahun stamina kuda. Agaknya waktunya pas jika sekarang saya berada di lingkungan baru. Menjadi bukan siapa-siapa adalah awal yang baik. Kembali merasakan diremehkan oleh orang lain. Itu bisa memberitahumu apa yang perlu dipelajari. Saya kadang masih kikuk, minum bermacam-macam bir dan miras lainnya. Varian baks yang begitu banyaknya dan seolah-olah hidupnya hedon. Tapi ya begitu, di sini kerja keras. Pesta pun lebih keras. Sehingga hidupnya lumayan seimbang,” ceritanya panjang lebar.

Rasanya, kita semua yang membaca tulisan ini, harus bersyukur. Orang-orang dengan bensin bertangki penuh, selalu ada untuk mengobarkan perjalanan melakukan apa yang disukai. Musik, jadi medium yang memang selalu dihidupi. Semoga, yang direncanakan oleh Garna, bisa segera tiba di genggaman. (*)