Cinetalk: Petualangan Mahasiswi Film yang Kurang Kenal Film S2/E3

Tahukah Anda, siapa yang tidak peduli jumlah follower? Kampus. Kami punya pemahaman yang sangat berbeda, rupanya. Tentu saja ini tidak salah, kampus memang bukan tempat ideal untuk adu popularitas, tetapi tempat bagi mahasiswa untuk menguasai konsep-konsep dasar produksi film.

Saya paham itu.

Hal yang kurang saya pahami adalah bagaimana kampus saya hanya berfokus pada sedikit sekali moda industri film. Memang, di kampus-kampus lain, program studi (prodi) mereka adalah film. Kampus saya pun akan membuat prodi film. Namun bicara kini, prodi saya bernamakan digital cinematography. Secara pribadi, kurang sreg rasanya kalau ada jenis konten digital yang dianaktirikan, terutama yang paling kami kenal.

Apalagi, saat kurikulum kami adalah kurikulum produksi umum, tanpa peminatan seperti penyutradaraan dan penyuntingan. Semua mahasiswa memiliki kecakapan mengonsep hingga mengeksekusi. Kemampuan-kemampuan yang berkaitan erat dengan apa yang dianggap Ze Frank sebagai “masa depan produksi konten”.

Apakah masa depan produksi konten menurut Ze Frank? Tiga prinsip: cepat, murah, viral. Tentu saja beliau menekankan bahwa ini adalah tentang produksi dan bukan tentang konten. Prinsip ini sudah dia terapkan di divisi Buzzfeed-nya dan sudah mendarah daging di hati kami, konsumennya.

Mentalitas produksi konten ala Buzzfeed (dan YouTube pada umumnya) ini terbawa ke kampus. Akhirnya, kami membuat apa yang biasa kami lihat. Kualitas produksi dan menjadi lebih penting daripada memikirkan konsep secara matang. Kami fokus membuat konten yang viral, bukan kontemplatif. Bahkan saat kami berusaha menyesuaikan gaya kami dengan alternatif yang lebih artsy, hasilnya gagal.

Maklum, artsy bukanlah jenis konten yang paling mengena di hati.

Oleh: Skolastika Lupitawina