Cinetalk: Petualangan Mahasiswi Film yang Kurang Kenal Film S1/E2

Bukan berarti saya anti film 'indie', oh tidak. Counterpart Mas Anggi Noen, B.W. Purba Negara, bisa jadi adalah salah satu idola saya. Sekali lagi, masalah saya adalah pada cara tutur yang abstrak juga bertele-tele. Cara tutur yang membuat kami harus meraba-raba, menerawang seolah mencari tanda uang palsu. Bertelepati dengan kreatornya. Cara tutur yang sangat digemari dosen kami yang satu itu dan sutradara Babi Buta (2008) itu.

Apakah metode mereka valid? Oh, tentu. Apa, sih, yang bisa disalahkan dalam dunia penyutradaraan? Bahasa audiovisual begitu subjektif, begitu eksploratif, sehingga tak heran apabila banyak yang berusaha menembus batas, mendobrak, dan menjotosnya. Masalahnya ada pada penonton, bagaimana resepsi kita terhadap film-film yang depresif tanpa muatan depresi itu?

Mas Anggi berkali-kali memproklamasikan manifestonya tentang “membuat film yang membuat penonton berpikir”, “film yang baru dimulai setelah selesai”, “untuk apa membuat film yang renyah tapi isinya cuma angin”, dan sebagainya. He’s got a point. Film seperti Vakansi yang Janggal dan Penyakit-penyakit Lainnya (2012) yang saya tonton seraya terkantuk-kantuk itu, contohnya, membuat saya merenung selama sekian mingggu.

Mengapa orang menganggap film ini bagus, adalah salah satu bahan renungannya.

Saya serius. Ketidak pahaman bukan selalu berarti ketidak sampaian logika, tetapi bisa juga berasal dari kemiskinan konteks. Vakansi dan saya adalah kasus kedua. Setelah menonton dan meninjaunya ulang dengan review dari mereka yang beranah Jawa, barulah saya mendapatkan momen “Oh …”. Begini toh. Kreatif, ya? Hebat, deh. Oke, argumen valid. Anda berhak membuat film yang begini. Tetapi kini, biarkan saya berargumen.

Pelukis mooi indie Indonesia Basuki Abdullah pernah mengatakan, apalah gunanya menciptakan karya abstrak kalau tidak ada yang bisa menikmatinya. Saya pikir, oh, betapa bijak. Abdullah mengatakan kalau masyarakat kita belum cukup dewasa untuk mencerna karya yang demikian. Saya pikir, oh, betapa sakit. Tetapi, saya tidak akan menyangkal kebenarannya.

Mencoba mendidik penonton Indonesia yang malas dengan memaksa mereka untuk menjadi rajin bukan langkah yang efektif. Hal ini yang membuat film-film seperti Vakansi memiliki penonton yang sangat tersegmentasi. Memahami Vakansi seolah menjadi sanjungan intelektual. Yang pintar tambah pintar. Yang bodoh tidak berkesempatan mengejar, atau dianggap komersial.

Apakah salah bagi sineas-sineas ini untuk sekali-kali tidak terfokus pada poin mereka saja, tetapi bagaimana mengomunikasikannya kepada audiens seluas mungkin? Mengapa memilih penonton yang tersegmentasi saat bisa merambah ke penonton yang lebih luas?

Para sineas ini bagi saya seolah bermasturbasi. Bersusah-payah untuk kepuasan pribadi semata. Tidak ada usaha memuaskan partner (penonton) mereka, atau menghasilkan anak-anak berbentuk kemajuan paradigma, motivasi, dan sebangsanya. Mereka seolah melempar galah ke anjing, berharap anjing itu akan mengambil dan membawanya lagi.

Hal tersebut mungkin berhasil di negara dengan tingkat pendidikan yang sangat maju, macam Jerman. Tetapi, Indonesia penuh dengan anjing (krisis analogi yang lebih baik) ras unggul yang belum terlatih. Di sinilah peran sineas hadir. Kita diharapkan menyajikan intelektualitas, tetapi dengan cara yang disesuaikan. Cara tersebut adalah penuturan populer.

Masalahnya, ketika dihadapkan dengan pemikiran 'penuturan populer', 'narasi yang bercerita', para idealis ini langsung mendesah, “Kita kan bisa lebih!”, “Ini tidak baru!”, “Untuk apa membuat yang sudah ada?” Ini adalah racun para intelektual. Berusaha terlalu keras untuk mendistinguisasikan diri dari masyarakat awam ketimbang mencoba membangun jembatan. Hipster, adalah sebutan yang lebih tepat.

Berkarya untuk diri sendiri itu sah-sah saja, betul. Masturbasi itu sah. Tapi ingatlah untuk berkontribusi. Dengan kaliber sineas independen Indonesia yang unggul bahkan secara internasional, sudah saatnya membuat karya yang bisa disasarkan ke jajaran penonton yang sangat luas.

Ada tempat untuk karya eksperimental, ada pula karya yang membangun. Mengapa kedua jenis karya tersebut tidak dapat dihasilkan oleh orang yang sama? Mengapa harus dipertentangkan? Pertanyaan inilah yang sebaiknya dipertanyakan para sineas. Mereka yang larut dari eksplorasi perlu sesekali berhenti dan mempertanyakan kembali, apakah eksplorasi ini memberi manfaat baru, atau sekadar memuaskan diri dan dirasionalisasi?

Salam, mahasiswa-mahasiswi yang pegal dijejali fiksi tanpa narasi.

Oleh: Skolastika Lupitawina

Foto: https://media.giphy.com/media/5qmKIztSckNS8/giphy.gif,  https://media.giphy.com/media/KmZjJZBvqwr0k/giphy.gif