Cinetalk: Petualangan Mahasiswi Film yang Kurang Kenal Film S2/E1

Awkward adalah saat adikmu yang masuk dalam demografi penggila My Little Pony dan Minecraft menghampirimu dengan wajah polos dan bertanya, “Cici Tika kenal Chandraliow?” Ah, tidak. Awkward adalah mendengar adikmu berujar, “Teman-temanku lebih tertarik nonton Single daripada Star Wars VII.” Yah, nggak ada yang lebih sobering dari fakta bahwa budaya populer lokal sudah mampu mengalahkan fenomena cult yang lebih tua dari Chris Hemsworth.

Di satu sisi, yeay! Ada animo besar dan tulus buat produk budaya populer lokal. Tulus, dalam arti benar-benar suka dan bukan menonton 'karya anak bangsa' demi dapat pahala entah apa dari mendukung produk lokal di platform kapitalis. Di sisi lain, what? What ini bukan berarti saya nggak setuju Chandraliow beken. Saya, sih, senang banget Chandraliow beken, wong anaknya pekerja keras banget. What ini lebih karena saya nggak sadar teman kuliah saya adalah fenomena dunia maya.

Ya, mungkin karena anaknya jarang kelihatan juga.

Saya rasa, sih, fenomena seleb dunia maya di Indonesia sudah ada sejak Raditya Dika. Dulu blog, sekarang lebih multimedia. Tiba-tiba, seleb dunia maya sudah berjamuran di mana-mana. Adalah komunitas YouTuber Indonesia, adalah Indovidgram, adalah buzzers di Twitter, Instagram, dan Ask.fm. Mantapnya, generasi penerus seleb-seleb ini nemplok di kampus saya.

Saya sudah pernah membahas mengenai adanya aura-aura tersendiri dari dosen-dosen saya. Aura yang mengharapkan kami untuk jadi filmmaker festival atawa bioskop. Masalahnya, forgive me for sounding so uncultured, kami bukan penonton film. Kami konsumen new media, konsumen Disney/Pixar/Fox franchises, anak-anak yang scrolling media sosial sesering nyemil cimol. Secara alami, kecenderungan teman-teman mahasiswa saya bukanlah pergi ke JAFF dan sebagainya, tetapi menjadi muka-muka yang dipelototin adik saya sebelum pergi Kumon.

(Bersambung)

Oleh: Skolastika Lupitawina

Foto: Dokumentasi Istimewa