Cinetalk: Petualangan Mahasiswi Film yang Kurang Kenal Film S2/E2

Saya nggak heran sama sekali kalau teman-teman kuliah saya berbondong-bondong membuka kanal YouTube dan social media empire mereka sendiri. Tiga hal yang cukup memotivasi dalam menjadi seleb maya: it’s huge, it’s lucrative, and it’s fun.

It’s huge, indeed. Kami tahu karena kami adalah konsumen media sosial. Kami tahu potensi-potensi fandom yang bisa kami raih di luar sana. Young Indonesians are craving for role models, dan tampaknya mereka menemukan itu dari senpai-senpai mereka di media sosial terdekat. Kami melihat teman-teman kami yang sudah berhasil membangun empire mereka, sehingga sukses terlihat sangat memungkinkan.

Kami tahu kesuksesan itu akan berbuah hasil, hasil satu-satunya yang dianggap di dunia kapitalis ini: uang. It’s lucrative. Dengan berkembangnya content marketing dan strategi-strategi baru lainnya, pemasaran dengan endorsement seleb mayamenjadi metode yang sering sekali ditempuh. Terjadilah simbiosis mutualisme antara merek dan seleb. Moda bisnisnya checks out. It works.

Dan, yang paling penting, it’s fun. Kami nggak perlu bertanggung jawab pada bos yang aneh-aneh. Brand bisa dikelola secara personal. Kalau ada pekerjaan yang sebebas ini, untuk apa lagi membanting tulang di kantor? Untuk apa bikin film pendek untuk festival kalau kami nggak tahu ataupun peduli tentang isu-isu kemanusiaan yang dijunjung tinggi banget di ajang-ajang itu? Lebih baik bikin sesuatu yang kami minati, untuk orang-orang yang meminati kami, di ajang yang paling aksesibel di dunia.

Karena jujur saja, sebesar apa pengaruh filmmaker yang nggak punya follower?

(Bersambung)

Oleh: Skolastika Lupitawina

Foto: Dokumentasi Istimewa