Cinetalk: Teddy Soeriaatmadja Anggap Penonton Beralih dari Bioskop

Festival film mempunyai peran penting bagi Teddy Soeriaatmadja. Sebab, menurutnya, festival film tetap melestarikan pengalaman menonton film di bioskop dalam kondisi semakin terbiasanya penonton untuk menyaksikan film di layar yang lebih kecil, seperti di ponsel atau layar laptop.

"Itu yang saya appreciate dari Tokyo International Film Festival, Berlin International Film Festival ataupun Busan International Film Festival. Karena menonton film di bioskop pasti rasanya beda. Tentu saya mau film saya ditayangin di festival film yang bagus, supaya orang-orang bisa mendapatkan pengalaman menonton di bioskopnya," ujar Teddy di sela-sela jadwal padatnya saat menghadiri Tokyo International Film Festival (TIFF) 2016 pada Sabtu akhir bulan lalu di Roppongi Hills, Minato, Tokyo.

Pada akhir bulan lalu, tiga film karya Teddy, yakni Lovely Man (2011), Something in the Way (2013), dan About a Woman (2014) ini, diputar di seksi Crosscut Asia #03: Colorful Indonesia dalam TIFF. Oleh Programming Director Asian Future TIFF, Kenji Ishizaka, tiga film tersebut dibungkus dalam tema Trilogy of Intimacy.

Perkataan Teddy tentang rasa yang berbeda dari menonton film di bioskop mendapatkan buktinya. Saat pemutaran untuk publik di Tokyo tempo hari, cerita Teddy, ada orang yang menonton lagi Lovely Man, padahal dia sudah pernah menonton film yang dibintangi Raihaanun dan Donny Damara itu di Osaka Asian Film Festival 2012. "Kami juga kaget dia nonton lagi," ungkap Teddy.

Menurut pria kelahiran tahun 1975 ini, para penonton film sekarang tengah berada di dalam kondisi peralihan dari menonton di bioskop ke layar lebih kecil. Apalagi, kini sudah bermunculan berbagai layanan menonton film secara streaming yang legal.

"Saya melihatnya, cinema dalam 10 tahun mendatang bisa fade away, karena orang-orang sudah bisa menerima untuk menonton di device. Saya merasa penonton sudah mulai mengarah ke arah situ. Mereka oke menonton tidak di bioskop. Nah itu yang membahayakan sebenarnya," ujar nomine Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 2006 dan 2009 ini.

Kondisi penonton ini dianggap Teddy mirip dengan apa yang dialami banyak sutradara saat kamera digital mulai menjadi opsi utama untuk menggantikan film seluloid dalam proses pembuatan film beberapa tahun lalu. Kala itu, Teddy menolak keras. Ia bersikukuh ingin membuat film dengan memakai film seluloid. 

"Saya resistent banget. Tapi akhirnya saya sekarang shoot pakai kamera digital terus. Sekarang penonton dalam posisi yang sama, sekarang mereka sudah oke nonton film di iPad atau laptop," lanjutnya.

Teddy Soeriaatmadja sendiri tergolong sutradara yang sudah makan asam garam dalam industri film Indonesia. Dia mulai muncul dan berkarya di awal-awal menggeliatnya kembali perfilman Indonesia. Film pertamanya, Culik, dipinang Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2000.

Sejak itu, Teddy membuat film-film dengan genre berbeda yang tayang di bioskop-bioskop komersial, antara lain Banyu Biru (2004), Ruang (2006), Badai Pasti Berlalu (2007), Namaku Dick (2008). Namun, tiga film yang belakangan dibuatnya (Lovely Man, Something in the Way, About a Woman) dibuat dengan kamera digital dan memiliki bujet yang minim serta sedari awal memang tidak diniatkan untuk mencari untung.

"(Membuat tiga film) ini kayak melukis buat saya. Saya kan di Jakarta ngerjain iklan. Makanya saya harus bikin film. Kalau nggak, saya nggak happy dalam hidup. film ini. Nggak ada pemasukan signifikan juga dari pemutaran film-film ini," ucap Teddy, yang mengaku banyak belajar staging adegan secara otodidak dari film-film sineas legendaris Jepang, Akira Kurosawa.

Saat ini, Teddy tengah mempersiapkan proyek film terbarunya yang akan diproduseri Meiske Taurisia dan Edwin (duet produser-sutradara yang sudah membuat Babi Buta yang Ingin Terbang dan Postcards from the Zoo) serta Muhammad Zaidy (ko-produser film Athirah). Rencananya, film feature yang disebut Teddy sebagai "my first take on a teenage drama" ini bakal dibintangi Adipati Dolken dan melakukan shooting pada Januari 2017.

Apakah film terbaru ini kelak tayang secara komersial? "Saya nggak pernah mengklasifikasikan film harus komersial atau tidak, yang penting kita mau mencoba bikin film yang bagus saja," tutup Teddy.


Foto header: copyright Image.net