Fave Team, Membuat Mural Apa Saja di Mana Saja (Bagian 1 dari 2)

Bidang gambar tim Fave kali ini agak tak biasa. Sederet tangga yang menghantar siapapun naik dari lantai satu ke lantai dua. Di dua deret anak-anak tangga itulah, di kantor inkubator bisnis sebuah bank di Blok M, Jakarta, selama berhari-hari tim fave jongkok dan bersila melototin lantai untuk bikin mural. Ketika ditemui pada Jumat malam 31 Maret lalu, terhitung sudah empat hari mereka bekerja melukis lantai.


Sebelum memulai pengerjaan, tim Fave, yang pada hari itu terdiri dari Agrawatya alias Agra, M. Abdillah atau Abdi, R. Bayu Suwandito, dan Adika Hernandi meminta satu syarat yang harus dipenuhi. “Tangganya enggak boleh dilewatin sampai cat benar-benar kering,” kata Dika yang berperan sebagai manajer Fave.

Masalahnya itu tangga adalah satu-satunya jalan di kantor itu untuk naik ke lantai dua. Lalu bagaimana caranya agar gambar bisa jalan sekaligus orang-orang yang berkantor di situ juga bisa bekerja seperti biasa? Jawabnya, tak bisa kedua-duanya dipenuhi. Si manajer kantor mengambil pilihan yang rada nyeleneh cenderung ekstrim. “Akhirnya kantor diliburkan selama mural dikerjakan," kata Dika

Mural di tangga kantor bank tersebut adalah proyek ke-29 Fave, tim mural yang dibentuk secara kolektif oleh para desainer dan ilustrator jebolan Itenas, Bandung. Fave resminya punya lima anggota. Satu lagi yang tak hadir malam itu adalah Elfandiary Deniharza, ilustrator yang terkenal di instagram berkat kepiawaiannya melukis figur-figur manga dengan cat air. “Dia lagi ada proyek ngegambar di Bandung,” kata Dika menjelaskan absennya Elfan.

Fave dibentuk resminya pada 2013. Itu adalah pertama kali mereka membuat mural dengan memakai nama Fave. Tim itu berkembang secara organik saja. Lama-kelamaan, seiring bertambahnya pesanan proyek mural, dirasa perlu menambah orang dan membenahi manajemen sehingga produksian bisa lebih terukur, efektif, dan efisien.Dari tahun ke tahun selalu ada saja hingga akhirnya Fave bisa bertahan sampai lebih dari empat tahun.

Satu hal yang digadang-gadang tiap bertemu klien adalah kemampuan tim fave memindahkan apapun gambar di kertas ke tembok tanpa ada distorsi sedikit pun. “Sebisa mungkin apa yang kami buat di tembok itu sama dengan apa yang ada di gambar kertas,” kata Dika. Pun menurut Agra, semua gambar yang dibikin di kertas atau kanvas dengan cat apapun sebenarnya bisa dipindah ke tembok. “Tekniknya memang beda, tapi bisa kok,” kata dia.

Elfan, Agra, Abdi, dan Bayu sebagai desainer dan ilustrator punya kekuatan masing-masing. Elfan kekuatannya pada gambar-gambar dengan tekstur cat air, menggambar portrait, serta figur dan warna-warna manga. Abdi kuat pada gambar-gambar dengan latar surealis dengan warna-warna mencolok. Agra, kata Dika, kekuatannya terletak pada perhatian atas detail. Agra doyan meladeni detail yang kecil-kecil dan njlimet. Sementara Bayu adalah ilustrator yang paling update dengan tren-tren terkini.

Di tahap eksekusi, porsi kerja tiap orang disesuaikan dengan kekuatan masing-masing. Untuk urusan detail-detail, misalnya, banyaknya diserahkan pada Agra. Untuk yang tekstur dan gradasi cat air, diserahkan pada Elfan. Tapi tak selamanya harus selalu seperti itu. Lebih sering, kata Agra, mereka semua saling belajar dan mengajarkan. (Lihat tulisan kedua Saling Belajar dan Mengajari ala Fave Team)



Penulis: Ananda Badudu