AnakMudaHarusMengunjungiPameranTetapGaleriNasional

August 07, 2018Qubicle Art
Pameran Tetap di Galeri Nasional Mengajak Generasi Muda Memahami Lini Masa Dunia Seni

Kami pernah mendengar salah satu pepatah kuno yang bilang, bahwa ada baiknya kita selalu kembali ke tanah air; akar kita sebagai orang Indonesia. Penerapannya mungkin engga mudah dalam kehidupan atau pergaulan sehari-hari. Tapi, kami yakin semua bisa menerapkannya perlahan-lahan, lewat ketertarikan-ketertarikan kita, lewat romantisme passion yang sering kita sebut-sebut itu.

Siapa yang engga sadar, bahwa anak muda saat ini banyak yang tertarik dengan karya-karya perupa lokal dan internasional? Saat ini, banyak acara-acara annual atau pameran-pameran tematik yang digarap di venue beragam. Beberapa kali kami sempat menengok ke sudut-sudut pameran per tahun yang cukup hype di kalangan anak muda. Buncahnya apresiasi ke perupa kontemporer muda sering membuat kami optimis akan perkembangan budaya dan moral di negeri ini. Namun, rasanya ada yang kurang jika lagi-lagi akar kuat kita dilupakan.

Kami rasa, ihtiar untuk menelaah hikayat kesenian tanah air bisa kita lakukan melalui kunjungan ke Pameran Tetap yang berada di Galeri Nasional. Pameran Tetap adalah satu dari tiga pameran yang hadir di Galeri Nasional selain Pameran Temporer dan Pameran Keliling. Pameran Tetap disajikan dengan penataan berdasarkan periodisasi perjalanan seni rupa Indonesia dilengkapi teks informasi (cetak dan multimedia).  Pengunjung dapat mengakses Pameran Tetap setiap hari Selasa hingga Minggu (kecuali libur nasional), pukul 09.00 – 16.00 WIB.

  Ruang Pamer Tetap di lantai 2 (foto: Qubicle)  

Pameran Tetap ini pernah kehilangan popularitasnya pada tahun-tahun silam. Namun, pada tahun 2013, akhirnya para pengelola memulai renovasi dan revitalisasi pada Pameran Tetap selama dua tahun. Dibuka kembali pada Oktober 2017, kali ini, engga mau kalah dengan pameran-pameran temporer dan keliling, fasilitas Pameran Tetap dimaksimalkan penataannya. Menggunakan pendekatan artistik, edukatif dan informatif, menurut Tubagus ‘Andre’ Sukmana selaku Kepala Galeri Nasional Indonesia, ia berharap Pameran Tetap ini mendapatkan pengunjung yang lebih banyak, tentunya anak muda.

Letak Pameran Tetap Galeri Nasional ini ada di tengah sebelah kiri setelah kita masuk, di Gedung B lantai 2. Saat masuk, kita akan dipertemukan oleh meja resepsionis dan wajib menitipkan semua barang bawaan mulai dari tas hingga jaket. Kemudian setelah menuliskan nama di buku tamu, si resepsionis akan mengingatkan untuk engga memotret menggunakan flash dan untuk tetap menjaga jarak dengan karya, minimal setengah meter atau satu ubin dari karya. 

Baru kemudian, kita diarahkan untuk naik tangga dan dihadapkan oleh dua ruangan: Galeri 1 dan Galeri 2. Ruangan-ruangan ini ditata berdasarkan periodisasi perjalanan seni rupa Indonesia secara garis besar yang telah dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo dan Citra Smara Dewi.

Galeri 1 terisi dengan Seni Rupa Modern Indonesia dan beberapa karya Internasional, letaknya ada di sebelah kiri tangga. Di dalam sini, kita bisa menikmati sejarah seni rupa modern dari era Raden Saleh (dimulai pada tahun 1820) hingga era Akademi Seni Rupa Modern (tahun 1970-an). Di setiap ruangan, kita dapat menggunakan sebuah device responsif yang membantu kita untuk mengerti karya lebih dalam lagi.

Salah satu bagian dari Galeri 1 (foto: Qubicle)
Pembagian  berdasarkan era  di Galeri 1 (foto: Qubicle)
"Open Your Mouoth" karya Fx. Harsono (foto: Qubicle) 

Alur dari perjalanan di Galeri 1 mengarah dari terbaru ke lampau, walau di ujung ruangan pada akhirnya dipamerkan karya-karya seniman Internasional, termasuk karya Edouard Pignon (Voilier Au Port, 1949). Menurut kami, ruangan yang istimewa di galeri yang ini jelas Raden Saleh yang diberi apresiasi satu ruangan sakral penuh dengan karyanya. Di dalam sini juga, kita bisa melihat dan mengerti alur perkembangannya lewat sekat-sekat dan tatanan yang membuat kita lebih mudah mengerti perjalanan sejarahnya. It’s a thrilling show!

Salah satu ruangan Galeri 1  bagian seniman Internasional (foto: Qubicle)
"La Cena" karya Belkis Ayon Manso" (foto: Qubicle)

Kemudian setelah hampir 40 menit berjalan-jalan di Galeri 1, saya memutuskan beranjak ke Galeri 2 yang terisi penuh dengan karya-karya dari gerakan seni rupa baru dan seni rupa kontemporer Indonesia (dibagi menjadi empat ruangan). Engga sebesar galeri sebelumnya, di sini kita bisa menikmati seni instalasi Heri Dono, Anusapati dan Krisna Murti, nama-nama seniman besar di era kontemporer. Setelah berkunjung ke Galeri 1, kita dapat merasakan perbedaan gaya dan suasana yang sangat pekat. Koleksi karya di Galeri 2 yang telah dikurasi berhasil melambangkan era kontemporer dan sejarah yang bersangkutan dari galeri sebelumnya. *merinding*

Kumpulan foto para perupa  dari gerakan seni rupa baru Indonesia (foto: Qubicle)
Bagian ruangan  di Galeri 2 (foto: Qubicle)
"The Flag of Red and White" karya Bonyong Munni Ardhi (foto: Qubicle)
"The  Fire Eaters" karya Mella Jaarsma (foto: Qubicle)

Pada akhirnya, kami berkesimpulan bahwa mengunjungi Pameran Tetap di Galeri Nasional adalah salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk mengingat akar nasional kita lewat seni rupa Indonesia. Galeri Nasional tidak memberikan tarif sepeserpun bagi para pengunjungnya. Maka itu, sebagai anak muda yang datang dari generasi yang sangat amat jauh dari perupa era tersebut, moral dan budaya bangsa yang kental dapat kita rasakan saat berkunjung ke Pameran Tetap ini. Sempatkanlah waktumu barang 30-60 menit menikmati koleksinya yang jelas engga kalah penataan dan fasilitasnya dengan galeri Pameran Temporernya. Jangan lupa untuk mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. Selamat menikmati Pameran Tetap di Galeri Nasional.


Penulis: Risangdaru

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Art

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US