HariMusikNasional:SumbangsihSeniUntukMusik

March 09, 2018Qubicle Art
Mengenal tiga seniman wanita yang menyumbang karsa maupun karya bagi musik tanah air!

Hari ini bertepatan dengan Hari Musik Nasional. Saya mewawancari tiga wanita hebat yang sudah memberi sumbangan karsa dan karya bagi industri musik Nasional. Mereka adalah Rewinda Omar, Ruth Marbun dan Restu Ratnaningtyas.

Mereka bertiga dikenal sebagai seniman yang pernah terlibat dalam pembuatan cover album musisi-musisi lokal. Sejujurnya saya penasaran bagaimana mereka bertiga ini berproses saat mengerjakan sebuah karya – terkhusus cover album.

Buat kalian seniman muda atau yang berjiwa seni, simak deh obrolan saya dengan mereka. Banyak insight banget!

1. Ceritain dong gimana awal mula terlibat membuat cover album Barasuara 'Taifun', AriReda ‘Suara Dari Jauh’ dan Frau ‘Tembus Pandang’?

Rere: Awalnya dari Arian (vokalis Seringai) yang hubungi saya. Iga tanya ke Arian local conceptual artist. Arian kasih beberapa nama, salah satunya saya. Dari Arian Iga hubungi saya.

Ruth: Ya karena diajakin. Sebelumnya memang sudah pernah ikut terlibat membuat ilustrasi bersama beberapa teman lainnya untuk konser AriReda untuk Sapardi Djoko Damono di pertengahan 2016.

Restu: Sebetulnya album Tembus Pandang ini adalah kolaborasi antara Frau sebagai musisi dan saya sebagai seniman visual. Berawal dari sebuah acara gig musik kolaborasi musik-senirupa Lelagu (2015) , dimana saya dipasangkan bersama Frau. Kemudian berlanjut ke dalam bentuk album Tembus Pandang, Frau membuat 4 lagu dari 3 karya cat air saya. Sebetulnya bukan hanya cover sih tapi juga tampilan packaging secara keseluruhan: warna, bentuk, material hingga judul album.

2. Konsep awalnya apa?

Rere: Sebenarnya itu personal project saya. Foto-fotonya itu sudah ada sebelum terlibat pembuatan artwork album, kebetulan konsepnya sesuai yang Iga mau dan dia tertarik dengan karya saya. I do a research, saya banyak bertanya tentang album Barasuara ke Iga, tanya spesifik apa yang band mau, dengerin lagunya, nonton live mereka. I want the artwork and the album to have a connection, dari situ saya kasih Iga beberapa karya saya yang sesuai dengan album Taifun.

Ruth: Feeling-nya dari awal mendengarkan albumnya sudah tahu akan menjadi sesuatu yang lebih gelap dan abstrak. Sisanya dipercayakan pada intuisi. Jadi dalam prosesnya saya membebaskan diri membuat banyak artwork yang diseleksi kemudian. Mubazir? Tidak. Karena walaupun cukup banyak yang tidak terpakai, tetapi mereka tetap berperan serta dalam menemukan narasinya.

Restu: Ya konsep awalnya adalah kolaborasi. Di Lelagu saya membuat visual (dengan proyektor OHP) dari beberapa lagu Frau dan kemudian visual tersebut mengiringi perfomance-nya. Dan di album ini sebaliknya, Frau yang membuat lagu dari karya saya. Lalu kemudian saya yang memvisualkan wujud visualnya (cakram padat dan bungkusnya). Judul Tembus Pandang saya ambil karena dua hal: pertama tentang medium cat air yang sering saya gunakan yang bersifat tembus pandang, kedua tentang bagaimana sebuah karya itu bersifat tembus pandang karena ketika menikmati sebuah karya entah itu musik atau seni rupa, seseorang bisa merasakan apa yang dirasakan si penciptanya. Dan dalam album ini Frau mencoba mengupas lapisan lapisan dalam karya saya hingga tembus pandang dan kemudian membangun ulang dengan medium yang berbeda yaitu suara.

3. Gimana sih caranya mem-visualisasi-kan musik atau lirik ke dalam sebuah artwork?

Rere: Biasanya kalau lagi mentok ide denger lagu, baca buku atau nonton film pasti selalu muncul ide baru. Saya punya imajinasi sangat aktif di kepala, musik menempatkan saya di dunia baru, membawa saya pada perjalanan yang belum pernah saya kunjungi. Satu lagu memicu beragam emosi, memori dan inspirasi baru. Membayangkan ulang isi lagu tersebut. And try to express a similar feeling through my artwork. I think it’s the power of your expressions. The more I like the music; the better is the visual outcome.

Ruth: Kalau cara kerja gue adalah mendengarkan musiknya berulang-ulang kali dalam kegiatan keseharian sampai akhirnya menjadi bagian dari muscle memory. Dan eneg. Haha. Saat sudah terekam dalam sistem ingatan, saya berhenti mendengarkan sama sekali dan memulai proses visualnya. Sengaja diberikan jarak agar keduanya menciptakan ruangnya sendiri, karena visualisasi musik atau lirik tidak harus bersifat ilustratif dan buat saya yang lebih penting adalah pengalaman pribadi dan ikatan emosionalnya.

Restu: Setiap lirik kan punya makna, dan dalam musik terdapat emosi tertentu yang kadang mengingatkan pada peristiwa, kenangan, gambaran. Nah potongan potongan peristiwa, kenangan dan gambaran tersebut kemudian saya susun ulang menjadi bentuk baru sesuai dengan feel lirik atau musik tersebut. Tapi mungkin setiap seniman mungkin punya metode yang berbeda beda ya.

Kineruku.com

4. Bagi nasehat dong buat para seniman baru yang juga pengen buat artwork cover album band?

Rere: Dimulai dari personal project. Coba untuk ekspresikan dari musik favorit dulu, interpret visually. Semua cover artwork yang saya kerjakan itu karya personal dan hampir semua karya saya itu hasil interpretasi dari musik, film, buku favorit saya. It began with BLACK SABBATH!!! Cover pertama saya, Alice itu terinspirasi dari album Black Sabbath yang pertama. Opini dari band juga berguna dan yang paling penting adalah you have to love doing it.

Ruth: Banyak mendengarkan dan mulai membuat. Kalau belum ada tawaran atau ajakan, bikin aja personal project aja berdasarkan album atau lagu yang sudah ada dan memang disukai. Selalu mulai dengan sesuatu yang terdekat.

Restu: Percaya diri dan yakin dengan apa yang kita buat.


Oleh: Rowland Prichard T


Jangan lupa follow

IG: @retinaqube

FB: Retinaqube


Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Art

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US