IniAlasanMengapaAceMartAkhirnyaDitutup

June 11, 2018Qubicle Art
Sedih, Ace Mart Tutup

Tahun ini ada yang berbeda ketika datang ke jalan Mangkuyudan nomor 41, Yogyakarta. Terlihat sepi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang ramai selama 24 jam karena adanya Ace Mart. Ace Mart merupakan proyek seni yang diadakan oleh Ace House Collective, sebuah kolektif seni berbasis di Jogja berisi seniman muda yang melakukan praktik kerja kreatif melalui pendekatan budaya popular secara teori maupun praktek, kontekstual dan konseptual. Di Ace Mart kalian bisa merasakan sebuah pengalaman baru menonton pameran seni. Biasanya jika kita datang ke sebuah galeri seni rupa hanya untuk melihat karya seni saja, di sini kalian bisa membelinya secara langsung.

Suasana Pameran Ace Mart

Konsep proyek seni yang sudah berlangsung dari tahun 2015 di setiap Jogja Art Week ini, dibuat menyerupai toko kebutuhan harian. Karya seni di-display di atas rak-rak yang tersedia, juga dituliskan harga dan nama senimannya. Lucunya tidak hanya karya seni yang ada dijual tapi juga bermacam produk kebutuan sehari-hari seperti alat mandi dan juga sembako. Hal tersebut memang sengaja diciptakan untuk menghilangkan ‘jarak’ yang terasa ketika karya seni dipresentasikan di ruang galeri. Sehingga membuat siapa saja bisa terlibat dalam proyek seni ini, bukan hanya seniman dan publik seni, namun juga warga sekitar.

Survey yang Dilakukan
Nama-nama Seniman yang Sudah Mengikuti Ace Mart

Pada awalnya Ace Mart bertujuan untuk mengkritik pasar seni Indonesia khususnya Jogja. Namun di tahun ketiga, Ace House Collective merasa proyek seni ini malah berada di dalam arus pasar seni tersebut. Mereka menganggap hal tersebut menjadi tidak relevan lagi. “Analoginya kan kalau Ace Mart itu ‘gojekan’ (bercandaan). Kalau gojekan terus menerus diulang jadinya garing, ga lucu lagi. Jadi kita mutuskan ya udah project nya dihentikan aja, diakhiri di tahun ini.”, jelas Hehe , seniman yang tergabung dalam Ace House Collective, berkarya melalui lukisan, drawing dan juga mainan resin, ketika kami wawancarai.

Data-data yang Dipamerkan
Data-data yang DIpamerkan
Data-data yang Dipamerkan 
Kegitatan Ace Mart

Respon dari proyek seni ini memang sangat positif, baik dari publik seni maupun para seniman. Seniman muda bisa menjadikan Ace Mart sebagai wadah baru untuk mereka berkarya. Mereka bisa menitipkan karya seni mereka untuk dijual dengan harga minimum dan maksimal yang telah ditetapkan oleh Ace Mart. Selain itu, proyek seni ini sudah menciptakan sebuah ruang sosial baru, namun pada tahun ini mereka merasa Ace Mart sudah cukup. “Secara gak sadar jadi ruang sosial baru terus jadi ruang alternatif buat berjualan seniman-seniman lebih muda ya kita otomatis jadi beban. Tapi ya gimana lagi maksudku ada yang lebih kompleks ga hanya sekedar nyari temen nyari ruang. Gimana pun juga ini projectnya si Ace House itu sendiri, maksudku ini biar ga bias project ini dengan rutinitas yang ada setiap tahunnya.”, tambah Hehe.

Judul Pameran
Trophy kemenangan Proyek Seni Favorit

Ace Mart ditutup dengan statement Enlightenment: There’s No Art Only Market’, ditambah dengan tulisan dari Arham yang mengkritik pasar seni. Dan juga ada beberapa kuisioner yang bisa diisi oleh pengunjung. Adanya data-data penjualan serta nama-nama seniman yang sudah mengikuti proyek seni ini.

Sedih sih Ace Mart sudah tutup, tapi kami percaya kalo Ace House Collective bisa menghadirkan kembali proyek seni lain yang berbeda dan lebih mengejutkan dari Ace Mart.    


Jangan lupa juga untuk follow akun sosial media kami di:

IG: @retinaqube

FB: Retinaqube

Dokumentasi Foto: Retina Qube

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Art

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US