Dance
DANCETRACTION

Interview dengan Sang Raja Bboy 

Bila bboy scene di Indonesia adalah sebuah negara, maka tidak diragukan lagi pria bernama Febian Sumaputra Hidranto atau yang juga dikenal luas oleh skena dunia dengan nama Kreate adalah raja terbesarnya. Bukan satu-satunya raja sepanjang sejarah, tapi dialah yang terbesar, bukan karena kekayaan, kekuasaan atau skill yang beberapa level diatas rata-rata bboy di Indonesia, namun dari apa yang sudah dia lakukan dan berikan untuk perkembangan breakin di Indonesia yang rasanya sulit untuk disamai oleh siapapun hingga saat ini.

Kisah perjalanannya untuk menjadi raja telah dimulai dari hampir tiga dekade lalu, layaknya kebanyakan raja, kisahnya bermula sejak usia dini. Febian yang lebih akrab disapa Bian lahir pada 4 Februari 1983 di Bandung, kota dimana dia pertama kali mengenal breakin. “Jaman SD kelas 1 atau 2 udah asal-asal bboyin. Ngelakuin gerakan helicopters atau front sweep karena liat sepupu gue yang lima tahun lebih tua dari gue nge-break sama teman-temannya”, ujarnya mengisahkan perkenalan pertamanya dengan tarian asal Bronx ini. Tahun 1995 Bian bersama keluarga pindah ke Virginia, Amerika Serikat. Disanalah Bian semakin tertarik dengan breakin. Tahun 1997 Bian melihat performance dari bboy crew bernama Lion of Zion di sebuah mall yang membuatnya terkagum-kagum dan memutuskan untuk serius mempelajari breakin.

Raja Richard I dari Inggris dijuluki Richard the Lionheart, Raja Louis XIV dari Perancis berjuluk Sun King, raja dari Bboyindo pun punya julukannya sendiri: Kreate. Adalah crew mate nya di Kurrupt Squad, crew pertamanya, yang menjuluki Bian dengan nama Kid Kreate. Nama itu disematkan karena Bian adalah satu-satunya di antara mereka yang selalu mencoba menciptakan gerakan dan gayanya sendiri alih-alih meniru gerakan yang sudah ada. “Awalnya itu ‘Kid Kreate’. Beberapa tahun kemudian gue ditarik sama Xeno da ri Flipside Kings, dia yang bilang ke gue untuk ngilangin kata ‘kid’”, Bian menjelaskan.

Raja tidak tumbuh menjadi raja yang hebat begitu saja tanpa mentor dan pemberi inspirasi. Raja kita yang satu ini mengaku terinspirasi oleh teman-teman dekatnya dan, tentu saja, raja-raja terdahulu. “Gue banyak terinspirasi sama teman-teman crew pertama gue di SMA, crew kedua gue Arrive to Deffy: Crisis, Noem, Xeno, Venus, Strife, Wigout dan Kraft dan pastinya Lion of Zion, yang original-nya: Ghost, Scrambles, Noob Saibot dan Golden Child, Sisaya my extended families di Lab Ratz Crew, 7$ dan Fresh Sox. Di luar itu gue suka Rock Steady Crew, New York City Breakers, Battle Squad, Boogie Brats dan Flipside Kings”, kisahnya panjang lebar. 

Ada kisah menarik saat Bian bersama beberapa temannya melakukan perjalanan ke New York demi berjumpa dengan Kmel dari Boogie Brats yang dikenal oleh bboy dan bgirl di seluruh dunia sebagai salah satu “raja” terbesar sepanjang sejarah. Bian menceritakan perjumpaannya dengan Kmel waktu itu: “Saat itu gue baru lihat Kmel di Battle Of The Year 1998. Seneng banget rasanya mau ketemu Kmel. Waktu ketemu ternyata Kmel sama temannya, namanya Megas, salah satu underground king. Setelah hari itu justru Megas ini yang style nya paling gue kagumin sampai sekarang”. Megas a.k.a Vengeance adalah bboy legendaris dari Boogie Brats Crew yang menciptakan gaya yang dinamakannya Origami Style yang hingga kini diadaptasi oleh banyak bboy di seluruh dunia.

Tahun 2003 Bian kembali ke tanah air, tepatnya ke ibukota, dan hal pertama yang ada di kepalanya adalah mencari bboy crew yang paling terkenal di seantero Jakarta. Rencana penaklukan sudah ada di dalam kepala sang calon raja sejak hari pertama kakinya menginjak tanah Indonesia. “Waktu itu gue cari info siapa bboy yang paling jago di Jakarta dan semua orang bilang: Galih dan Jakarta Breakin”, ujarnya. Bian mengaku ada perbedaan cara “berkenalan” bboy pada waktu itu dan masa sekarang: “Sebagai bboy yang baru datang ke daerah orang kita harus take over dan kenalan dengan mereka dengan cara battle. Bukan dengan nyapa mereka lewat email atau ngajak ketemu di tempat latihan. Cara gue kenalan dengan bboy-bboy yang jago juga selalu begitu, dengan share the chyper dengan mereka. Begitu juga yang gue lakukan waktu di Singapura dan Australia”, jelasnya panjang lebar. “Waktu itu gue mainnya sama anak-anak Senayan Breakers, karena cuma mereka yang balas komen gue di guest book Hihopindo waktu itu, jadi akhirnya gue nongkrong sama mereka. Akhirnya battle lawan Jakarta Breakin diset sama salah satu oldschool-nya Senayan Breakers yang bernama Indra Dagu. Kita battle lawan Jabreak selama 45 menitan lah hahahaha. Setelah itu gue mulai main sama anak-anak Jabreak dan sampai sekarang kita jadi teman baik”, tambahnya lagi.

Selepas battle melawan Jakarta Breakin yang akhirnya menjadi urban legend di scene, Bian memulai misinya untuk membangun skena di Indonesia. Pada waktu itu nama Kreate belum menggema di Jakarta, Bian pun berpikir untuk hal yang harus dilakukannya adalah mencari nama dan membuat orang tahu siapa dia. “Waktu itu gue ikut battle di Jakarta. Jurinya bboy-bboy nya Too Phat dan pengisi acaranya Too Phat sendiri. Gue bilang ke diri gue sendiri gue harus menangin ini dulu biar semua orang tahu siapa gue dan habis itu baru gue mau bangun scene di sini dari awal dan pelan-pelan. Dan gue menang di battle itu”, pemilik clothing line Urbain Inc ini menceritakan. Setelah itu Bian dipercaya untuk menjadi juri di acara Let’s Dance milik Global TV, yang memungkinkannya untuk berkeliling Indonesia dan bertemu dengan bboy-bboy di banyak kota. Kesempatan ini pun digunakannya sebaik mungkin untuk menularkan knowledge dan apapun yang dia miliki. Dia pun mengisahkan usahanya selama era Let’s Dance: “Waktu Let’s Dance itu kan kita keliling Indonesia. Setiap habis acara gue selalu minta bboy-bboy datang ke kamar gue buat copy video-video dan lagu-lagu, sekaligus untuk sharing. Gue mau bangun seluruh Indonesia dengan rata. Jangan Jakarta aja yang punya paling banyak source. Knowledge pun harus sama”.

Di era Let’s Dance lah Bian dinobatkan secara aklamasi dan tak tertulis sebagai “raja”-nya Bboyindo. Seiring dengan itu namanya kerap disebut dengan embel-embel yang berkonotasi agung: King Kreate dan Kreate The Great adalah dua yang paling jamak disebutkan.

Seorang raja yang baik tentulah memikirkan rakyatnya. Dengan alasan yang sama pula Bian pada tahun 2005 membuat acara yang disebutnya dengan Raw Materials, sebuah acara berkonsep jam yang mendatangkan bboy-bboy dari luar negeri ke Indonesia. Di tengah acara bboy-bboy mancanegara itu akan berhadapan dengan bboy-bboy lokal pilihan dalam exhibition battle. Bian menjelaskan tujuannya membuat acara Raw Materials: “Saat itu susah untuk orang di Indonesia untuk pergi ke luar negeri, apalagi   yang kebanyakan berasal dari middle class, dimana di seluruh dunia pun begitu. Butuh biaya yang banyak untuk ke luar negeri. Gue pikir kenapa gak gue ajak aja teman-teman gue dari luar untuk datang ke Indonesia dan share pengalaman mereka dengan bboy-bboy lokal. Dan gue sama sekali gak keluar uang untuk mereka. Gue cuma kasih tahu tujuan gue bikin acara ini dan mereka sangat support karena tahu tujuannnya emang murni dari hati untuk membangun scene di Indonesia”.

Toh niat paling baik pun selalu menemukan sandungan. “Raw Materials pertama itu rame banget. Sekitar 350 orang yang datang. Pihak venue awalnya deal untuk kasih tempat secara gratis tapi waktu hari H mereka liat banyak banget orang yang datang mereka minta yang masuk untuk bayar. Di situ gue kesel banget dan memutuskan untuk bayarin 200 orang pertama yang datang dari kantong gue sendiri karena gue gak mau ngecewain mereka yang udah datang. By the way, setelah acara itu venue iitu tutup karena bangkrut. Makan tuh kemarukan hahahaha”, Bian menjelaskan peristiwa saat itu sambil tertawa. Selanjutnya Raw Materials menjadi event tahunan dan menjadi salah satu yang paling ditunggu oleh bboy dan bgirl di Indonesia.

Tanpa mengesampingkan peran yang lain, Bian adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam membangun bboy scene di Indonesia sejak kepulangannya ke Indonesia dari Amerika hingga saat ini. Namun percayalah, menjadi raja tidak semudah dan senikmat kedengarannya dan Bian pasti tahu benar akan hal ini. Banyak naik turun yang dihadapinya. Kalian, seluruh bboy dan bgirl di Indonesia, harus tahu hampir semua yang kalian nikmati saat ini di skena saat ini: pengetahuan, pola pikir, acara-acara besar, franchise besar semacam Battle Of The Year dan R16 di Indonesia hingga juri-juri top mancanegara, tidak lepas dari sumbangsih dan kerja keras seorang pria bernama Febian Sumaputra Hidranto. Dan kalian, seluruh bboy dan bgirl di Indonesia, yang telah selesai membaca tulisan ini, bagikanlah kepada teman kalian yang mungkin belum seberuntung kalian yang sudah membaca kisah singkat ini kemudian mari ucapkan bersama dalam hati: “Long live the king!”

(Arthur Garincha)