Travel
ESCAPADE

Jangan Biarkan Hipotermia Merenggut Nyawamu

Teks & Foto oleh Iyos Kusuma

Salah satu musuh yang mengancam keselamatan para pendaki saat musim hujan ialah pakaian yang basah. Jangan anggap remeh. Pakaian basah yang Anda kenakan di lingkungan bersuhu rendah bisa membuat Anda mengalami penurunan suhu tubuh dan berujung kematian. Kondisi ini disebut hipotermia.

Saya ingat betul bagaimana senior-senior saya di kampus selalu cerewet mengingatkan para mahasiswa baru untuk mengganti setiap komponen pakaian kami yang basah ketika masa orientasi dan pengenalan kampus dilakukan di luar ruangan. Kala itu, curah hujan di tempat kami mengikuti ospek cukup tinggi. Hujan turun beberapa kali dalam sehari.

Para anggota tim medis kampus selalu mengingatkan agar baju, celana, pakaian dalam, dan kaus kaki yang basah tidak digunakan. Awalnya, saya anggap kekhawatiran mereka berlebihan. Ternyata tidak. Bahaya hipotermia baru saya pelajari ketika saya bertugas sebagai anggota tim medis untuk kegiatan pengenalan kampus pada tahun berikutnya.

Hipotermia adalah masalah serius. Medical Center University of Maryland Amerika Serikat mencatat, mayoritas korban jiwa akibat hipotermia adalah mereka yang berusia di atas 65 tahun. Eits, tapi jangan lega dulu, karena orang berusia muda pun tak lolos dari cengkeraman maut hipotermia. Hipotermia bisa menyerang siapa saja. Maka, sebelum berhadapan dengan hipotermia di jalur pendakian, bekalilah pengetahuan dasar tentang pencegahan dan penanganannya.

Pencegahan Hipotermia

Pertama, saya tidak akan bosan mengingatkan. Jangan kenakan pakaian yang basah. Terutama pada saat mendaki gunung. Saya paham, betapa merepotkannya jika kita harus mengganti pakaian di tengah jalur pendakian. Padahal hujan turun tak menunggu kita selesai mendirikan kemah.

Bagian dari pakaian yang mudah basah ketika mendaki di tengah hujan adalah kaus kaki, sepatu, atau bagian bawah celana. Segera ganti pakaian yang basah selama pendakian. Jika kaus kaki dan sepatu Anda basah, ganti dengan kaus kaki kering dan bungkus kaki Anda dengan kantong plastik sebelum memakai sepatu yang masih basah. Ketika tiba di kemah, terutama jika Anda merasa dingin, segera kenakan pakaian yang bisa menghangatkan badan. Jangan malas mengganti pakaian basah ketika tidur. Lindungi juga bagian-bagian tubuh tertentu, seperti leher dan telapak kaki, dari udara atau angin dingin.

Kedua, kenali gejala orang yang mengalami hipotermia. Jangan tinggalkan teman Anda yang tertawa-tawa sendiri dan bicara melantur ketika Anda berada di atas gunung. Alih-alih menganggap ia kesurupan, bisa saja ia mengalami hipotermia.

Salah satu gejala hipotermia ialah pengurangan kesadaran berpikir, seperti berhalusinasi dan bicara melantur. Secara bertahap, orang yang mengalami hipotermia akan merasa kedinginan dan menggigil. Ini adalah respons alami tubuh untuk bergerak dan menghasilkan panas tubuh. Selanjutnya, ia akan nampak seperti orang linglung atau kebingungan. Kesadaran berpikir dan ingatan akan mulai berkurang pada tahap ini sebelum masuk ke tahap berikutnya, yakni kontraksi pada otot-otot tubuh. Tahapan berikutnya, setengah koma dan berlanjut koma. Jika pertolongan tidak juga dilakukan, denyut nadi dan napas akan semakin melemah, tubuh mulai pucat, dan ujung-ujungnya nyawa pun bisa melayang.

Pertolongan Hipotermia

Maksud baik saja tidak cukup untuk menyelamatkan teman Anda yang sedang mengalami hipotermia. Salah mengambil langkah penyelamatan bisa membawa risiko terhadap nyawa orang lain. Masih mengutip Medical Center University of Maryland, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan terhadap orang yang mengalami hipotermia. Pertama, tidak boleh mengurut kaki atau tangan korban. Kedua, dilarang memberi korban rokok atau minuman yang mengandung kafein dan alkohol dengan alasan membuat korban merasa hangat. Kedua hal ini disebut justru dapat membuat kondisi korban menjadi kian buruk.

Untuk menangani korban hipotermia, pertama, pastikan semua pakaian korban kering. Jika ada pakaian yang basah, segera ganti dengan pakaian hangat yang tebal dan lindungi tubuh korban dengan selimut. Jangan biarkan korban tertidur. Pada beberapa kasus yang ditemui, korban hipotermia akan merasa mengantuk. Anda bisa terus mengajak korban berbicara untuk tetap menjaga agar dia tetap sadar. Anda juga bisa meminta korban untuk melakukan heat escape lessening position (HELP), yaitu posisi duduk sambil memeluk paha dan betis yang direkatkan. Jika kondisi tidak kunjung membaik, sambil menunggu tim medis datang, antarkan panas tubuh Anda ke tubuh korban dengan metode skin to skin, yakni menempelkan tubuh Anda ke tubuh korban dan memeluknya.

Pencegahan Alternatif

Cara lain yang bisa dilakukan untuk mencegah diri Anda menjadi korban hipotermia adalah menjaga asupan makanan. Mengonsumsi rempah-rempah yang bersifat panas seperti jahe dan bawang putih, disebut bisa membantu mencegah seseorang menjadi korban hipotermia. Ketika Anda sudah berada di tempat perkemahan dan bisa leluasa memasak, cobalah untuk memasak sup dengan sayur-sayuran segar. Saya sarankan Anda untuk mampir ke pasar tradisional terdekat pada pagi hari sebelum Anda mulai pendakian untuk mendapat bahan-bahan makanan segar.