Jelajah Nusantara - Tari Rangda yang Memakan Korban

Rangda atau Janda.

Begitu banyak tarian tradisional baik yang masih dipentaskan secara orisinil maupun yang sudah dikembangkan di Indonesia. Namun sayangnya, kebanyakan pemuda pemudi Indonesia tidak banyak yang memiliki minat untuk mempelajari, mengembangkan atau pun hanya untuk mengenalnya. Apa jadinya sebuah Negara apabila kehilangan budayanya? Akankah kita biarkan Indonesia kehilangan identitas dan harta budayanya?

Untuk itu kami akan mengajak kalian untuk mengenal budaya sendratari Indonesia, sedikit demi sedikit. Dan jelajah pertama kita adalah Tari Rangda dari Pulau Dewata.

Rangda adalah sebuah karakter dari mitologi Bali yang merupakan ratu dari para leak. Makhluk Rangda ini digambarkan sebagai sesosok wanita dengan rambut panjang yang kusut, mata membelalak, bertaring besar, berkuku panjang, lidah menjulur dan payudara yang panjang. Pada budaya Bali, diceritakan bahwa makhluk ini sering menculik dan memakan anak kecil. Karakter ini pun memimpin pasukan nenek sihir jahat untuk melawan Barong –dimana ternyata barong merupakan simbol kekuatan baik-

Menurut etimologinya, kata Rangda berasal dari Bahasa Jawa kuno yang artinya adalah, Janda yang berasal dari golongan Tri Wangsa; Waisya, Ksatria dan Brahmana. Rangda ini merupakan gambaran wujud yang menurut istilah orang Bali adalah ‘aeng’ atau seram dan juga identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri atau dikenal dengan istilah pengiwa.

Cerita ini mengisahkan Ratu Mahendradatta yang ingin membalas dendam kepada Raja Dharmodayana karena telah diasingkan. Untuk membalas dendam, Ratu Mahendradatta ini, membantai setengah dari rakyat kerajaan tersebut.

Kisah inilah yang diangkat dalam kesenian tari Barong yang menjadi bagian dari drama “Calon Arang”. Tari Barong ini memiliki berbagai macam versi dan salah satu versi yang sederhana dan singkat adalah Tari Barong Rangda ini, dimana dipentaskan secara rutin di panggung Amphiteater kompleks Garuda Wisnu Kencana. Tarian ini juga dianggap sebagai pengantar bagi masyarakat awam untuk memahami konsep rwa bhineda yang merupakan bagian dari prinsip hidup masyarakat Bali.

Rwa Bhineda mengajarkan bahwa dua hal yang bertolak belakang sesungguhnya saling menyeimbangkan satu dengan yang lain agar kehidupan berjalan harmonis. Karena itulah masyarakat Bali memandang perbedaan bukan sebagai penghalang yang harus dihilangkan melainkan dibuat agar selaras. Jadi dapat disimpulkan bahwa, Rwa bhineda adalah konsep hidup dimana alam semesta ini diciptakan berpasang-pasangan namun, memiliki sifat yang bertolak belakang.

Namun ada juga mitologi yang menggambarkan barong sebagai pendamping Raja Airlangga –pewaris takhta Raja Dharmodayana- untuk mengalahkan Rangda-. Dengan kekuatan yang berimbang antara Rangda dan Barong ini yang menyebabkan keduanya yang memiliki keabadian ini bertempur tiada habisnya.

Tarian Nusantara yang memakan korban

Pada bulan Maret lalu di Rumah Topeng dan Wayang Setiadharma Ubud, Bali, diadakan seminar Tari Rangda. Alasan diselenggarakannya seminar ini adalah mulai munculnya keresahan di antara para seniman tari dan perkumpulan seni tradisi atas peristiwa jatuhnya korban saat membawakan sendratari yang menjadi bagian dari drama Calon Arang ini.

Sedikitnya telah ada 2 korban yang jatuh sepanjang tahun 2015, di Karangasem dan Jembrana. Mereka tewas akibat tergores keris disaat adegan ngurek atau menusuk diri mereka sendiri dengan keris.

Menurut penari senior Calon Arang, Ketut Kodi, tarian Barong Rangda ini memang banyak mengandung unsur magis, malah terkadang tarian ini digunakan sebagai medan perang orang-orang yang mempelajari ilmu Pengiwa atau ilmu pengleakan. Secara spiritual, tarian ini mengandung unsur pemujaan Bethari Durga, sehingga semestinya tarian ini hanya dipentaskan di Pura Dalem, tempat bersemayamnya sang Bethari.

Hal lain yang disampaikan dalam seminar tersebut adalah dibutuhkanya penari khusus yang sudah diupacarai dan diberi kekuatan magis agar mampu taksu dari topeng rangda atau dengan kata lain hanya para penari yang dipilih sendiri oleh para dewa lah yang akan mampu menarikan tarian ini dengan baik. Setiap penari khusus tari Rangda harus melakukan upacara mawinten atau pembersihan diri sekalipun upacara ini dilakukan dengan cara yang paling sederhana.

Hal lain yang disampaikan dalam seminar ini adalah ketidaksetujuan para senior terhadap adegan bang-bangkean –membawa mayat ke kuburan- yang saat ini justru paling diminati oleh masyarakat dalam rangkaian Calon Arang.

Sayangnya seminar ini belum bisa merumuskan kesepakatan, dan berakhir hanya merekomendasikan perumusan etika dan pakem dalam melakukan Tari Rangda.

Nah itu salah satu tarian Indonesia yang penjoged telah perkenalkan untuk kalian. Ikuti terus jelajah nusantara bersama penjoged hanya di Dancetraction. Kenalilah budaya kamu sendiri. Jika kalian penasaran akan sebuah tarian jangan segan-segan meninggalkan komen. Kita akan coba membahasnya untuk kalian.

Penjoged