KampungBaduy:MelihatdanMengenalLebihDekat

August 11, 2018Qubicle Travel
Kampung Baduy dikenal tertutup dengan perkembangan zaman, tapi ternyata kampung Baduy memiliki potensi besar dibaliknya. Simak ulasan kami

Indonesia yang memiliki beragam suku adat budaya yang kaya sudah tentu menjadi magnet bagi wisatawan untuk menelisik wisata budayanya. Salah satunya suku Baduy. Desa Baduy sudah menjadi tempat yang wajib untuk kamu datangi buat yang ingin tahu tentang bagaimana kultur kehidupan suku yang terkenal tertutup terhadap kemajuan teknologi tersebut. Namun disisi lain, kami juga menemukan fakta yang jarang diketahui oleh publik kalau ternyata desa Baduy menyimpan potensi hasil alam yang sangat luar biasa.  


    Patung selamat datang di desa Ciboleger (Foto: Qubicle)    
  Suasana kampung Baduy (Foto: Qubicle)     

Untuk mendatangi Desa Baduy kamu bisa menggunakan KRL Commuter Line dari stasiun Tanah Abang menuju Rangkas Bitung, lalu bisa kamu lanjutkan dengan menyewa kendaraan yang banyak ditawarkan di sana. Setelah tiba di desa Ciboleger itu artinya kamu sudah sampai. Kami sarankan jangan lupa untuk buat janji lagi sama driver-nya untuk kendaraan pulang kamu nanti.   


  Tempat tinggal di kampung Baduy Luar (Foto: Qubicle)  

Mengenal kehidupan suku Baduy

  Penampilan wanita Baduy luar sehari-hari (Foto: Qubicle)  

Mulanya nama Baduy muncul di masa pemerintahan Hindia Belanda karena pada waktu itu para peneliti menyamakannya suku Baduy dengan kelompok Badui di jazirah Arab yang kental dengan hidup nomaden dan terpencil. Namun ada juga nih sumber lain yang mengaitkan kata Baduy dengan nama sebuah bukit di wilayah Kanekes, oleh karena itu pula orang Baduy sebenarnya lebih suka disebut sebagai orang Kanekes.


Ciri khas masyarakat Suku Baduy

   Penampakan kampung Baduy luar (Foto: Qubicle)    
    Ciri khas cara berpakaian orang Baduy dalam dengan ikat kepala putih (Foto: Qubicle)    


Masyarakat Baduy atau Urang Kanekes sendiri dibagi menjadi dua yaitu Urang Tangtu (Baduy Dalam) dan Urang Panamping (Baduy Luar). Masyarakat suku Baduy dalam tidak diperbolehkan memakai alas kaki dan menggunakan alat transportasi, mereka diharuskan berjalan kaki saat melakukan aktivitasnya. Berbanding terbalik dengan keadaan suku Baduy luar. Ya, masyarakat kampung Baduy luar lebih terbuka terhadap perkembangan zaman dibanding masyarakat kampung Baduy dalam.


    Sekumpulan orang Baduy luar dengan ciri khas ikat kepala biru (Foto: Qubicle)    

Durian menjadi komoditi di Kampung Baduy


Mata pencaharian masyarakat kampung Baduy mayoritas bertani dan berladang untuk memenuhi kebutuhan hidup. FYI, setiap musim panen masyarakat Baduy memberikan hasil alamnya kepada Gubernur Banten yang terkenal dengan nama “Upacara Seba“.
Hasil alam kampung Baduy menghasilkan buah-buahan seperti, pisang, manggis, rambutan bahkan durian. Dari hasil hutan, durian menjadi komoditi utama suku Baduy yang dapat menghasilkan banyak keuntungan terutama di puncak musim panen. Rata-rata harga durian di Baduy dalam seharga Rp7.000 - Rp15.000. Namun di pasar terdekat yang berjarak 15 km harga-harga durian ini bisa melangit hingga Rp20.000 - Rp40.000. Untuk satu keluarga di kampung Baduy dalam yang mewarisi sekitar 40 pohon, dapat menghasilkan 200 buah pertahun, asumsi harga dasar durian seharga 7.000 maka satu keluarga Baduy dalam bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 56.000.000 per tahun atau dengan kata lain Rp4.650.000 untuk setiap bulannya.

Sayangnya dengan hasil hutan yang mereka miliki, masyarakat Baduy masih dikategorikan kedalam 14 kriteria masyarakat miskin menurut Badan Pusat Statistik, hanya karena lantai rumahnya bukan semen, dindingnya bukan tembok, tidak ada listrik, tidak ada toilet, tidak sekolah dan kriteria miskin lainnya menurut negara.  



Adat istiadat yang terjaga

  Sungai yang mengalir di desa Adat Baduy Luar (Foto: Qubicle)  

Saat kita berada di Desa Baduy, kita harus taat dengan aturan adatnya, beberapa diantaranya dilarang menggunakan sabun, shampoo dan pasta gigi karena dianggap bisa mengotori sumber mata air mereka. Biasanya orang Baduy dalam memanfaatkan tanaman lokal seperti daung cicaang dan honje sebagai pengganti sabun dan shampoo serta menggunakan sabut kelapa untuk menggosok gigi, hal ini terus dilakukan oleh masyarakat kampung Baduy dalam menjaga sumber mata air dan sungai yang merupakan sumber kehidupan bagi mereka.

Mungkin anggapan-anggapan yang melekat pada suku Baduy bahwa mereka tertinggal dan bahkan miskin, sejatinya karena orang-orang tidak mengenal mereka lebih dekat. Yang pasti, kalau kalian datang ke Desa Baduy kalian akan mendapatkan sebuah pengalaman menarik serta pelajaran tentang sebuah kesederhanaan. 

Like what you read? Give Qubicle Travel your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Travel

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US